Takdir Kedua

Takdir Kedua
Episode 1


__ADS_3

Pindah tugas ke


daerah yang tak pernah dikunjungi menjadi beban buat gadis yang baru tamat


kuliah, Aleeya. Bekerja sendiri tanpa orangtua, saudara bahkan kekasih.


“Baru, Mbak?”


Tanya penjual warung. Perawakannya bulat dan rambutnya seperti barusaja dibonceng


Valentino Rossi, berantakan.


“Sendiri? Sudah


nikah?” tanyanya lagi.


“Iya, baru.


Belum nikah.” Balas Aleeya tersenyum tetapi singkat, padat dan jelas lalu


pergi.


Aleeya terus


berjalan menuju kontrakan. Ia  berlari


kecil seolah-olah si pejual tadi mengikutinya. Tiba-tiba “Brraaakkk!!!” tubuh


pendeknya terjatuh. Ia menabrak sosok tinggi. Idaman sekali! Tiang listrik?


Tidak-tidak. Laki-laki tampan penduduk asli tempat baru Aleeya tinggal.


Aleeya mencoba


bangkit dari kubangan becek akibat aspal yang berlobang. Laki-laki jangkung itu


membuka headphonenya.


“Oh my


Goodness!” teriak Aleeya kesal.


“I am sorry.


Tadi nggak kelihatan.” Ujar laki-laki itu khawatir lalu membolak-balik ke kiri


ke kanan tubuh Aleeya.


“Maksudnya aku


cewek kate? Pendek?” Aleeya tak terima.


“Bukan begitu.


Saya tadi memperbaiki letak headphone. Lagian saya kan jalan di tempat yang


seharusnya.” Jelas laki-laki itu lagi.


Aleeya menarik


nafas dalam-dalam. “Bukan saatnya bertengkar. Aku sudah dewasa, sudah besar.


Jadi hal sepele begini gak usah diperpanjang.” Nasehat Aleeya pada diri


sendiri.


“Kalau begitu


Aku minta maaf.” Jawab Aleeya. Ia memilih pergi dari perdebatan yang tak


penting.


Si jangkung, Chandra


menggeleng-geleng kepala sambil memperhatikan tubuh gadis di depannya basah.


*****


“Chan, ooo Sinchan!” Teriak perempuan setengah abad yang tak lain dan


tak bukan adalah ibu Chandra.


“Ichan dengar, Ma. Anaknya lagi kerja malah diganggu.” Gerutu Ichan,


begitu nama akrab laki-laki yang duduk di semester 8.


“Please, Help your Mummy.” Wajah perempuan yang dipanggil Mama itu


memelas. Namanya Jogi yang artinya cantik dalam bahasa Batak. Tapi ia lebih


suka dipanggil Angelina, nama depannya.


“Bantu apa, Ma?” Chandra merengut.

__ADS_1


“Itu loh, kontrakan kita yang di persimpangan jalan udah disewa. Tapi


si penyewa nelpon kalau lampu kamarnya mati. Please, fix this problem for me.”


“Aduh, Ma, ini udah jam 8 malam. Masa Ichan harus ke sana. Kan lumayan


jauh.”


“Sebagai seorang calon sarjana teknik, ini kesempatan anda untuk


praktek secara gratis.” Kalimat tersohor Mama Chandra akhirnya keluar, “sebagai


calon sarjana”.


Di depan pintu kontrakan, dengan malasnya Chandra mengetuk pintu.


“Assalamu’alaikum. Selamat malam.”


“Wa’alaikum salam.”


Aleeya membuka pintu dan mempersilakan masuk.


“Kamu teknisi kontrakan ini?” Aleeya terkejut dan diikuti tawa Chandra.


Bukan karena pertanyaannya melainkan rambut Aleeya yang berantakan dan kacamata


yang miring.


“Iya-iya aku ngerti. Sebagai anak muda yang masih muda walau wajah gak


terlalu muda, kita wajib rajin kerja.” Aleeya menyerocos. Ia menunjukkan


kamarnya.


“Jangan sempat punya istri kayak dia.” Bisik Chandra sambil memasang


lampu baru.


Tak sampai 5 menit, lampu terpasang. Chandra keluar seiring dengan


Aleeya yang hendak masuk kamar dengan gelas teh di tangannya. Dengan sigap


pemuda itu mengelak. Ia tak ingin perang adu mulut dengan gadis yang menurutnya


setengah sadar itu.


“Mau pulang?”


“Berapa biayanya? Eh sebelum pulang, minum dulu. Kakak nggak mau


membiarkan tamu pulang tanpa makan ataupun minum.”


“Terima kasih. Saya sudah digaji.” Chandra beralasan.


“Kalau gitu diminum dulu tehnya.” Ujar Aleeya. Ia menyodorkan teh


kepada Chandra.


Chandra baru sadar setelah memperhatikan gadis berantakan ini mengikat


rambutnya, cantik dan bening.


“Hei, hei. Wooy!” Aleeya membentak.


“Kenapa lihat-lihat? Aku cantik?” celoteh Aleeya bersikap kecentilan.


“Gak lah. Berantakan gitu.” Ujar Chandra gugup sambil menyeruput teh.


“Baguslah. Nanti kamu jatuh hati, kan repot.” Gurau Aleeya.


Laki-laki jangkung itu beranjak dibuntuti Aleeya.


 “Aleeya. Kamu?” Aleeya mengulurkan


tangan.


Meski laki-laki itu berdiri sejengkal di bawah teras, tingginya tetap


melebihinya.


“Chandra.”


****


Sudah sebulan pindah kerja, Aleeya tak mendapat kabar dari kekasih


hatinya, Rian. Kali ini ia menahan egonya. Tepat hari dimana ia pergi ke tempat


ia dipindahkan, Aleeya bertengkar dengan Rian. Ia meminta kejelasan hubungan


mereka namun Rian tak memberi kepastian. Laki-laki itu hanya diam dan mengantar


kekasih yang ia kenal sejak kuliah itu sampai ke kontrakan.

__ADS_1


Aleeya mengotak-atik akun media sosial Rian. Tidak ada tanda-tanda


aktif. Hatinya semakin kacau karena tak pernah diberi kabar. Kegalauan


menggerakkan jemarinya menekan nomor Rian. Tuutt, tersambung.


“Assalamu’alaikum, Mas.” Suara Aleeya bergetar.


“Wa’alaikumsalam. Iya, Al? Ada apa?”


“Aku rinduuu…” Bisik Aleeya


di seberang sana.


“Al minta maaf karena Al maksa Mas untuk nikahi Al.” Jelas Aleeya


sambil menahan tangis.


Hening. Lebih dari semenit tak ada jawaban. Setelah si gadis yang


sebenarnya cengeng itu memanggilnya, barulah Rian menjawab.


“Iya, Mas juga mau minta maaf. Mungkin ini akan menjadi komunikasi kita


yang terakhir. Maafkan Mas.”


Seketika langit terasa runtuh menimpa tubuh Aleeya.


“Kenapa, Mas?” tangisnya meledak.


“Ini yang terbaik buat kita, Al. Mas minta maaf. Mas sayang sama, Al.


Tapi sebagai teman.” Jelas Rian dengan lembut.


Tuutt…. Sambungan telepon mati. Ia tak sanggup mendengar kalimat yang


lebih menyakitkan lagi. Sepanjang malam ia habiskan unuk menangis dan mengenang


setiap detik kebersamaannya dengan cinta pertamanya, Rian.


Aleeya kembali membuka satu persatu akun media sosial milik Rian. Meski


menjalin hubungan, Aleeya tak pernah tahu password media sosial milik kekasihnya itu. Antara saling percaya dan tak peduli, beda


tipis. Tak satu pun ada kabar baru dari akun yang dia stalk. Malam itu berlalu dengan badai bergemuruh di hati gadis


bermata kecil itu, Aleeya.


Pagi cerah tak secerah wajah pasien penyakit cinta. Setelah minta izin tak


masuk kantor administrasi pemerintah daerah tempat ia bekerja, Aleeya


menyatukan seluruh tenaga yang ia punya. Rasanya seperti hilang nyawa, tak


berdaya. Cinta yang ia puja-puja, cinta yang membuatnya setiap hari bahagia


kini menghilang. Menghilang cintanya, hilang juga hidupnya. Terlalu mengabdi


pada perasaan cinta sementara, merana yang ia terima.


Aleeya berencana untuk menemui Rian. Pasti ada sebab kenapa ia


ditinggalkan. Pagi itu ia berjalan secepat mungkin untuk sampai ke terminal.


Aleeya memang tak memiliki kendaraan pribadi. Setiap hari ia pergi dan pulang


kerja menggunakan jasa angkutan umum. Suara klakson mobil mengejutkan, namun


gadis seperti tak tau arah itu tetap berjalan.


“Naik!” Perintah si pengemudi, Chandra.


“Tidak terima kasih. Jalan kita berbeda.” Jawab Aleeya.


Aleeya tahu Chandra akan pergi ke kampus yang jalan ke kota


kelahirannya berbeda dengan jalan yang akan dituju Chandra.


“Hari ini jalan kita sama. Sebagai pemilik kontrakan, aku mau berbaik


hati.” Pujuk Chandra.


“Tidak perlu!”


“Mama yang nyuruh. Kalau bukan karena Mama, untuk apa aku mau peduli.”


Chandra menggunakan ibunya sebagai alasan.


“Kalau begitu berhenti peduli!” Bentaknya kemudian melanjutkan


kecepatan kakinya melangkah.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2