
Cinta menyerbu relung hati. Keindahan surga pun terasa hadir di dalam
jiwa. Menyuburkan rasa yang sudah lama hampa. Memetik kebahagiaan yang sudah
lama didamba. Angin rindu berhembus lembut memenuhi setiap ruang hati dan
bertemu adalah obatnya. Pria itu duduk di bawah rembulan yang mulai bebas dari
kawanan awan hitam. Siap menerangi malam insan yang sedang merindu. Angin malam
pun diharapkan turut mengabarkan kerinduan hati pada sang kekasih. Apa dia
rindu seperti rindu yang aku miliki?
Sudah 3 hari Chandra tak bertemu Aleeya. Waktu dirasa berputar seperti
siput berjalan. Besok adalah hari di mana ia akan bertemu dengan kekasih hati.
Tak sabar rasanya melihat lingkaran kecil menghias jari manis sang gadis.
Sementara itu, di jalan sepi beraspal, Andi menancap gas kendaraannya.
Perjalanan pekerjaan seperti perjalanan bulan madu, indah, seindah hatinya
selama 3 hari ini. Perjalanan pekerjaan itu membuat dirinya setiap hari bertemu
bahkan dekat dengan Aleeya. Semakin bertambah kekaguman pria itu melihat
keuletan gadis yang membuat hari-harinya seperti sedang di taman bunga.
“Mungkin jam 10 malam nanti kita sampai.” Andi membuka pembicaraan.
Hampir satu jam perjalanan, mereka membisu. Sibuk dengan pikiran
masing-masing. Andi sibuk dengan flashbacknya bersama Aleeya. Sedangkan Aleeya
masih teringat ucapan Chandra soal
hatinya tersiksa jika ia bersama laki-laki lain.
“Apa Chandra ingin melamar besok?
Pulang ke rumah bareng dia? Jari manis? Kenapa Chandra bilang itu semua tadi?” Aleeya masih terus mengartikan maksud ucapan Chandra via telpon sebelum ia
berangkat.
“Aleeya?” Andi mengganggu lamunannya.
“Iya, Pak?”
“Kamu capek? Kamu bisa tidur kok. Biar saya cari tempat penginapan.”
“Kita langsung pulang saja, Pak.” Aleeya menjawab sambil merapikan
tempat duduknya.
Tak berapa lama sebuah motor melaju dan menghadang jalan mereka. Andi
mencoba menghindar dan terus menambah kecepatan lari mobil.
“Kenapa orang itu mengejar kita, Pak? Sebaiknya kita minta tolong.”
Aleeya ketakutan. Tangannya mengggenggam erat safety belt.
“Masih jauh dari keramaian. Saya tetap melaju, Al, kamu pegangan yang
kuat.” Andi menenangkan Aleeya.
Motor si orang asing itu terus mengikuti dan mencoba merusak kaca
mobil. Sekali, dua kali gagal karena Andi menghindar ke kiri dan ke kanan.
Namun yang ke tiga kalinya, kayu si orang asing itu menyambangi jendela mobil
hingga melukai Andi. Kendaraan yang Aleeya tumpangi itu pun terhenti akibat si
pengemudi kesakitan.
__ADS_1
“Pak, pak, sadar, Pak! Pak Andi!” Aleeya menyadarkan Andi.
“Tolooong!!!” Teriak Aleeya.
“Tidak ada orang yang akan datang menolong mu, gadis manis!” Bentak si
orang asing.
1 dari orang jahat itu membantai Andi hingga laki-laki itu tak berdaya
untuk menolong Aleeya. Wajahnya memar, bibir dan hidung mengeluarkan darah
sedangkan kakinya dipukul menggunakan kayu. Ia merangkak guna mengejar Aleeya
yang sudah diseret 2 pria bertubuh besar dan sangar itu.
“Jangan ganggu saya!” Aleeya memohon.
Lengan baju gadis itu dirobek agar kulit putihnya menambah nafsu biadab
2 laki-laki itu. Sementara itu seorangnya lagi mencoba menelanjangi Aleeya dengan
mencoba membuka celananya. Sebelum tangan kotor si penjahat sampai, Aleeya
menendangnya tepat di bagian alat vitalnya.
“Kurang Ajar!” Teman si penjahat itu menampar keras Aleeya hingga gadis
itu terpental ke jalanan.
“Aleeyaaaaa!!!” Teriak Andi.
Andi berhasil menghubungi polisi, kemudian laki-laki itu bersusah payah
untuk berdiri dan menyelamatkan Aleeya yang sudah terjatuh ke jalan. Penjahat
yang ditendang Aleeya tak terima dan ingin memukul gadis tak berdaya itu.
Seiring dengan si penjahat mengayunkan kayu ke tubuh Aleeya, Andi menghamburkan
penjahat. Andi ambruk dan terjatuh di dekat Aleeya yang masih tak sanggup
bergerak. Sontak Aleeya terkejut .
“Pak Andi. Maafin Al.” Tangis Aleeya. Jiwanya tak bisa menahan sakit
lagi hingga akhirnya ia pun tak sadarkan diri.
****
Tangisan pilu Chandra tak terbendung di luar ruangan Aleeya dirawat. Ia
tak tahan melihat cintanya tak sadarkan diri.
“Seharusnya hari ini adalah hari bahagianya. Harusnya hari ini adalah
hari aku memakaikan cincin ke jari manisnya. Seharusnya 4 hari yang lalu aku
melarang keberangkatannya.” Ada banyak “seharusnya” yang Chandra teriakkan
dalam hati.
Chandra bergegas ke kantor polisi untuk mengusut kasus yang dialami
calon istrinya itu. Polisi belum menemukan keberadaan 2 orang pelaku, hanya
saja pihak polisi sudah mendapat keterangan pelaku melalui sidik jari yang ada
di kayu pemukul korban.
Chandra kembali ke ruangan Aleeya. Ia melihat sudah ada calon mertuanya
dan Mamanya. Chandra beralih ke kamar Andi. Laki-laki yang mengorbankan jiwa
dan raganya untuk perempuan yang sama-sama mereka cintai. Chandra duduk dan
mulai berkomunikasi meski si pendengar tak mendengar. Entahlah, kata orang
__ADS_1
pendengaran orang yang sedang koma masih berfungsi. Hanya saja mereka tak
membuka mata, namun hati masih merasa.
“Terima kasih, Bang. Terima kasih karena melindungi Aleeya.” Chandra menahan air matanya.
“Aku tau, Bang. Abang juga mencintai perempuan yang aku cintai. Tapi,
aku tak mau menyerahkan dia. Aku yakin Abang akan bertemu dengan perempuan
lain.” Laki-laki itu berdiri.
“Pengorbananmu luar biasa untuk Aleeya. Terima kasih seumur hidupku
takkan cukup untuk membalasnya.”
Chandra berlalu. Hatinya juga sakit karena seharusnya dia yang
menyelamatkan Aleeya, bukan laki-laki lain. Tiba-tiba teriakan dari ruangan
Aleeya mengejutkan Chandra dan membuat laki-laki itu berlari menuju asal suara.
“Jangan ganggu sayaaaaa!” Teriak Aleeya.
Bantal dan selimut gadis itu sudah berantakan di lantai. Chandra datang
dan ingin memeluk gadis yang menangis histeris itu.
“Toloongg! Jangan ganggu saya!” Teriakan Aleeya semakin keras ketika
melihat Chandra di dekatnya.
Melihat Aleeya menghindarinya, Chandra mengerti bahwa gadis itu trauma.
Dengan hati seperti diiris secara kejam dengan pisau, Chandra keluar ruangan
dan menemui dokter.
“Aleeya masih trauma, Pak Chandra. Untuk sementara waktu jangan dekat
atau bahkan jangan menampakkan diri di depannya.”
“Sampai kapan kondisi seperti ini, dokter?”
“Sampai Aleeya bisa menerima ketakutan yang ia hadapi.”
Chandra mengangguk.
“Selamatkan dia, dok. Sembuhkan dia. Saya tetap akan menikahinya meski
Aleeya sudah dilecehkan laki-laki biadab itu.” Chandra berurai air mata.
“Maksud bapak?” dokter Nabil bingung. Chandra hanya menunduk dan
menggenggam kedua tangannya karena geram saat teringat dengan si penjahat.
“Syukurnya pelecehan belum sempat terjadi, Pak.” Lanjut dokter Nabil.
Ucapan dokter itu seolah menjadi pelita di kegelapan. Masih ada kata
syukur untuk kondisi Aleeya.
“Hasil pemeriksaan tidak menemukan pelecehan.” Dokter Nabil
meninggalkan Chandra yang masih terdiam dengan senyuman singkatnya.
Intan menyapa Chandra dengan senyuman sumringahnya setibanya Chandra di
depan kamar Aleeya.
“Apa maksud kamu? Kenapa kamu bilang Aleeya sudah dilecehkan?” Chandra
membentak gadis cantik itu.
bersambung..
odor baru sempat ngirim. Perhatian pembaca kayak komen, like and vote sangat diperlukaaannn. tengkyuuu banyak-banyak. ^_^
__ADS_1