Takdir Kedua

Takdir Kedua
Episode 11


__ADS_3

Cinta menyerbu relung hati. Keindahan surga pun terasa hadir di dalam


jiwa. Menyuburkan rasa yang sudah lama hampa. Memetik kebahagiaan yang sudah


lama didamba. Angin rindu berhembus lembut memenuhi setiap ruang hati dan


bertemu adalah obatnya. Pria itu duduk di bawah rembulan yang mulai bebas dari


kawanan awan hitam. Siap menerangi malam insan yang sedang merindu. Angin malam


pun diharapkan turut mengabarkan kerinduan hati pada sang kekasih. Apa dia


rindu seperti rindu yang aku miliki?


Sudah 3 hari Chandra tak bertemu Aleeya. Waktu dirasa berputar seperti


siput berjalan. Besok adalah hari di mana ia akan bertemu dengan kekasih hati.


Tak sabar rasanya melihat lingkaran kecil menghias jari manis sang gadis.


Sementara itu, di jalan sepi beraspal, Andi menancap gas kendaraannya.


Perjalanan pekerjaan seperti perjalanan bulan madu, indah, seindah hatinya


selama 3 hari ini. Perjalanan pekerjaan itu membuat dirinya setiap hari bertemu


bahkan dekat dengan Aleeya. Semakin bertambah kekaguman pria itu melihat


keuletan gadis yang membuat hari-harinya seperti sedang di taman bunga.


“Mungkin jam 10 malam nanti kita sampai.” Andi membuka pembicaraan.


Hampir satu jam perjalanan, mereka membisu. Sibuk dengan pikiran


masing-masing. Andi sibuk dengan flashbacknya bersama Aleeya. Sedangkan Aleeya


masih teringat ucapan Chandra  soal


hatinya tersiksa jika ia bersama laki-laki lain.


“Apa Chandra ingin melamar besok?


Pulang ke rumah bareng dia? Jari manis? Kenapa Chandra bilang itu semua tadi?” Aleeya masih terus mengartikan maksud ucapan Chandra via telpon sebelum ia


berangkat.


“Aleeya?” Andi mengganggu lamunannya.


“Iya, Pak?”


“Kamu capek? Kamu bisa tidur kok. Biar saya cari tempat penginapan.”


“Kita langsung pulang saja, Pak.” Aleeya menjawab sambil merapikan


tempat duduknya.


Tak berapa lama sebuah motor melaju dan menghadang jalan mereka. Andi


mencoba menghindar dan terus menambah kecepatan lari mobil.


“Kenapa orang itu mengejar kita, Pak? Sebaiknya kita minta tolong.”


Aleeya ketakutan. Tangannya mengggenggam erat safety belt.


“Masih jauh dari keramaian. Saya tetap melaju, Al, kamu pegangan yang


kuat.” Andi menenangkan Aleeya.


Motor si orang asing itu terus mengikuti dan mencoba merusak kaca


mobil. Sekali, dua kali gagal karena Andi menghindar ke kiri dan ke kanan.


Namun yang ke tiga kalinya, kayu si orang asing itu menyambangi jendela mobil


hingga melukai Andi. Kendaraan yang Aleeya tumpangi itu pun terhenti akibat si


pengemudi kesakitan.

__ADS_1


“Pak, pak, sadar, Pak! Pak Andi!” Aleeya menyadarkan Andi.


“Tolooong!!!” Teriak Aleeya.


“Tidak ada orang yang akan datang menolong mu, gadis manis!” Bentak si


orang asing.


1 dari orang jahat itu membantai Andi hingga laki-laki itu tak berdaya


untuk menolong Aleeya. Wajahnya memar, bibir dan hidung mengeluarkan darah


sedangkan kakinya dipukul menggunakan kayu. Ia merangkak guna mengejar Aleeya


yang sudah diseret 2 pria bertubuh besar dan sangar itu.


“Jangan ganggu saya!” Aleeya memohon.


Lengan baju gadis itu dirobek agar kulit putihnya menambah nafsu biadab


2 laki-laki itu. Sementara itu seorangnya lagi mencoba menelanjangi Aleeya dengan


mencoba membuka celananya. Sebelum tangan kotor si penjahat sampai, Aleeya


menendangnya tepat di bagian alat vitalnya.


“Kurang Ajar!” Teman si penjahat itu menampar keras Aleeya hingga gadis


itu terpental ke jalanan.


“Aleeyaaaaa!!!” Teriak Andi.


Andi berhasil menghubungi polisi, kemudian laki-laki itu bersusah payah


untuk berdiri dan menyelamatkan Aleeya yang sudah terjatuh ke jalan. Penjahat


yang ditendang Aleeya tak terima dan ingin memukul gadis tak berdaya itu.


Seiring dengan si penjahat mengayunkan kayu ke tubuh Aleeya, Andi menghamburkan


penjahat. Andi ambruk dan terjatuh di dekat Aleeya yang masih tak sanggup


bergerak. Sontak Aleeya terkejut .


“Pak Andi. Maafin Al.” Tangis Aleeya. Jiwanya tak bisa menahan sakit


lagi hingga akhirnya ia pun tak sadarkan diri.


****


Tangisan pilu Chandra tak terbendung di luar ruangan Aleeya dirawat. Ia


tak tahan melihat cintanya tak sadarkan diri.


“Seharusnya hari ini adalah hari bahagianya. Harusnya hari ini adalah


hari aku memakaikan cincin ke jari manisnya. Seharusnya 4 hari yang lalu aku


melarang keberangkatannya.” Ada banyak “seharusnya” yang Chandra teriakkan


dalam hati.


Chandra bergegas ke kantor polisi untuk mengusut kasus yang dialami


calon istrinya itu. Polisi belum menemukan keberadaan 2 orang pelaku, hanya


saja pihak polisi sudah mendapat keterangan pelaku melalui sidik jari yang ada


di kayu pemukul korban.


Chandra kembali ke ruangan Aleeya. Ia melihat sudah ada calon mertuanya


dan Mamanya. Chandra beralih ke kamar Andi. Laki-laki yang mengorbankan jiwa


dan raganya untuk perempuan yang sama-sama mereka cintai. Chandra duduk dan


mulai berkomunikasi meski si pendengar tak mendengar. Entahlah, kata orang

__ADS_1


pendengaran orang yang sedang koma masih berfungsi. Hanya saja mereka tak


membuka mata, namun hati masih merasa.


“Terima kasih, Bang. Terima  kasih karena melindungi Aleeya.” Chandra menahan air matanya.


“Aku tau, Bang. Abang juga mencintai perempuan yang aku cintai. Tapi,


aku tak mau menyerahkan dia. Aku yakin Abang akan bertemu dengan perempuan


lain.” Laki-laki itu berdiri.


“Pengorbananmu luar biasa untuk Aleeya. Terima kasih seumur hidupku


takkan cukup untuk membalasnya.”


Chandra berlalu. Hatinya juga sakit karena seharusnya dia yang


menyelamatkan Aleeya, bukan laki-laki lain. Tiba-tiba teriakan dari ruangan


Aleeya mengejutkan Chandra dan membuat laki-laki itu berlari menuju asal suara.


“Jangan ganggu sayaaaaa!” Teriak Aleeya.


Bantal dan selimut gadis itu sudah berantakan di lantai. Chandra datang


dan ingin memeluk gadis yang menangis histeris itu.


“Toloongg! Jangan ganggu saya!” Teriakan Aleeya semakin keras ketika


melihat Chandra di dekatnya.


Melihat Aleeya menghindarinya, Chandra mengerti bahwa gadis itu trauma.


Dengan hati seperti diiris secara kejam dengan pisau, Chandra keluar ruangan


dan menemui dokter.


“Aleeya masih trauma, Pak Chandra. Untuk sementara waktu jangan dekat


atau bahkan jangan menampakkan diri di depannya.”


“Sampai kapan kondisi seperti ini, dokter?”


“Sampai Aleeya bisa menerima ketakutan yang ia hadapi.”


Chandra mengangguk.


“Selamatkan dia, dok. Sembuhkan dia. Saya tetap akan menikahinya meski


Aleeya sudah dilecehkan laki-laki biadab itu.” Chandra berurai air mata.


“Maksud bapak?” dokter Nabil bingung. Chandra hanya menunduk dan


menggenggam kedua tangannya karena geram saat teringat dengan si penjahat.


“Syukurnya pelecehan belum sempat terjadi, Pak.” Lanjut dokter Nabil.


Ucapan dokter itu seolah menjadi pelita di kegelapan. Masih ada kata


syukur untuk kondisi Aleeya.


“Hasil pemeriksaan tidak menemukan pelecehan.” Dokter Nabil


meninggalkan Chandra yang masih terdiam dengan senyuman singkatnya.


Intan menyapa Chandra dengan senyuman sumringahnya setibanya Chandra di


depan kamar Aleeya.


“Apa maksud kamu? Kenapa kamu bilang Aleeya sudah dilecehkan?” Chandra


membentak gadis cantik itu.


bersambung..


odor baru sempat ngirim. Perhatian pembaca kayak komen, like and vote sangat diperlukaaannn. tengkyuuu banyak-banyak. ^_^

__ADS_1


__ADS_2