
“Aduh, kelamaan patah hati jadinya kerjaanku banyak yang salah.” Keluh
Aleeya.
Nadia datang tanpa diminta.
“Al, laporan aman?”
“Mungkin sebaiknya aku mundur dari pekerjaan ini ya, Nad?
“Oh tidak bisa! Data administrasi berbagai kegiatan dinas ada sama
kamu.”
Aleeya meringkuk di kursinya.
“Paling tidak sebelum kamu mau keluar dari kantor ini, kamu harus
bilang dulu. Terus kantor nyari orang yang gantikan kamu. Kalau udah ketemu,
masih perlu diajari. Kalau udah clear, baru deh bisa keluar dari sini.” Jelas
Nadia.
“Bilang saja kamu nyuruh aku memperbaiki laporan dan menghadap pada
leader kita!”
“Iya.” Nadia cengengesan.
“Dengar-dengar pimpinan kita yang baru ini single loh. Palingan Cuma
beda 3 atau 4 tahun dari kita.” Bisik Nadia.
“Oh. Mudah-mudahan berjodoh.” Balas Aleeya cekikikan.
“Kamu suka pak Andi?”
“Siapa tu pak Andi?” Bisik Aleeya lagi.
“Pimpinan kita yang baru. Dengar-dengar sih dia baru lulus pasca
sarjana.”
“Oh. Idaman. Hahahhah.” Aleeya masih bercanda.
“Aku yakin kamu udah kenal orangnya.” Nadia masih berbisik. Padahal
tidak ada orang di sekitar mereka.
“Belum. Kan aku kerjanya di belakang layar.”
“Oke, sekarang kamu yang ngantar perbaikan laporan ya.”
“Eh, kok aku?”
“Sebenarnya pak Andi udah nyuruh orang yang mengerjakan laporan yang
harus mempertanggungjawabkannya.” Jawab Aleeya sambil menyerahkan hasil cetakan
dokumen dan USB pada Aleeya.
Aleeya mendengus. Hampir setengah tahun ia bekerja, ia tak pernah
mengantar laporan. Hanya mengirim lewat email dan menitip pada Nadia. Aleeya
masuk ke ruangan yang ia takuti, Bos.
“Selamat siang, Pak.” Aleeya gugup dan masih berdiri.
“Siang, silahkan masuk.” Jawab Andi dari balik pintu. Ia sedang
mengambil buku di lemari dekat pintu.
“Ini laporannya, pak.” Aleeya meletakkan laporannya dan ingin berlari
keluar.
“Tunggu. Kamu harusnya menjelaskan dulu, isi laporan yang kamu perbaiki
ini.” Perintah Andi.
“Gak disilahkan duduk dlu, pak?” Tanya Aleeya gugup.
“Oh iya, silakan duduk.” Andi duduk di kursinya.
“Data program kerja Sub Bagian Kerjasama dan Penataan Wilayah?” Andi
bersikap sok membaca data
“Iya, pak. Apa ada yang perlu saya perbaiki lagi?” Tanya Aleeya.
Aleeya memperhatikan wajah pimpinan baru mereka. Ia mengingat-ingat
sesuatu.
“Aduh, si penguntit yang aku tuduh itu ternyata pimpinan kantor ini.
__ADS_1
Semoga dia tidak memecatku. Eh bukannya itu bagus.” Aleeya bicara dalam hati.
“Aleeya?” Tanya Andi ketika melihat orang yang diajak bicara
mengurut-urut dahinya.
“Iiiya, Pak?”
“Sudah selesai. Kamu boleh keluar.”
“Oke, Pak. Selamat siang.”
Aleeya keluar dari ruangan itu dengan hati kacau.
“Pantesan dia mmperhatikan aku kemaren-kemaren. Apa dia merasa
kerjaanku kurang beres. Terus segan untuk menegur. Ya ampuuun, aku malah nuduh
dia penguntit.” Aleeya bicara sendiri.
Jam kerja habis tepat pukul 4 sore. Aleeya belanja kebutuhan dapur. Ia
sempat mampir ke toko pakaian dan jam tangan untuk laki-laki. Satu persatu ia
memperhatikan model jam tangan. Setiap ia melihat harga barang, secepat kilat
ia meletakkan jam itu ke tempatnya, mahal.
“Kalau begini, hadiah apa yang cocok untuk dia, ya?” Aleeya menyungut.
Tanpa ia sadari sudah berpapasan dengan Andi. Kakinya ke kiri, orang
yang di hadapannya itu berdiri. Kakinya ke kanan, jua diikuti.
“Permisi, saya mau lewat.” Aleeya masih menunduk dan kembali
melanjutkan langkah kakinya.
“Iya, hati-hati di jalan. Awas nabrak orang.” Balas Andi. Ia berharap
gadis yang lewat tadi menyadari kehadirannya.
“Tenang!” Aleeya terkejut ketika mengangkat kepalanya.
“Pak Andi! Bapak suka ngikuti saya, ya?” Wajah Aleeya tampak tidak
senang.
“Enak aja! Saya ke sini ya mau belanja.”
“Gak mungkin! Karena perasaan saya, Bapak selalu ada di sekeliling saya
diperhatikan oleh Andi.
“Kan kita sekantor, wajar dong kalau ketemu. Haaa…. Kalau sering
bertemu, jangan-jangan kita berjodoh.” Ujar Andi tak ingin kalah. Sekalian
mengutarakan isi hatinya.
Aleeya menepuk dahinya.
“Kenapa? Kamu demam, Al?”
“Nggak, Pak. Saya Cuma heran, kenapa kata-kata jodoh itu mudah
diucapkan.” Aleeya menyandar di dinding toko.
“Kamu juga ngomong kata-kata itu tadi, kan?” Andi ikut bersandar.
Tetapi menghadap Aleeya.
“Kan bener, bapak memata-matai saya.” Aleeya kesal.
“Kan saya lewat di depan meja kamu saat bisik-bisik tetangga dengan
Nadia.” Andi bertingkah lucu, ia memonyongkan bibirnya.
“Iya-iya. Saya gosipin bapak tadi.”
Sejenak mereka berdua terdiam. Aleeya mengajak bosnya itu ke kafe kopi
yang ada di mall.
“Makasih.”
“Saya yang harusnya bilang makasih karena kamu traktir.” Ujar Andi
sambil menunjukkan secangkir kopi.
“Saya berterima kasih karena bapak masih baik sama saya. Padahal saya
udah nuduh bapak penguntit. Sekali lagi, maaf ya pak.” Wajah Aleeya memelas.
Andi tersenyum.
“Maksud kamu soal ngomongin jodoh itu mudah, apa?” Andi mencoba
__ADS_1
mengulang pembahasan yang tak terbahas.
“Oo itu. Aneh aja. Kemaren ada temen bilang jadi suami, ke saya.”
“Terus?” Andi ingin tau apakah ia memiliki saingan.
“Terus saya diam. Karena bagi saya ucapannya bercanda.”
“Jadi menurut kamu, saya tadi juga bercanda?” Andi serius.
Aleeya mengangguk.
“Kalau serius?”
Aleeya terkejut. Ia hanya mencari jawaban pada tatapan mata Andi yang
tak berkedip sedikitpun.
“Mana mungkin, pak! Saya tidak berani menganggap serius ucapan seperti
itu.” Aleeya menunduk.
Andi tak melanjutkan obrolan. Ia tau kalau ia terlalu cepat
mengungkapkan isi hatinya. Mereka berpisah. Aleeya menolak diantar. Ia
beralasan ingin mencari hadiah untuk temannya.
“Andai yang ngomong soal jodoh dan menjadi suami itu Mas Rian.” Gumam
Aleeya.
“Sadar Al, sadaar. Mas Rian juga sering ngomong kek gitu. Harus move on
Aleeyaaaa…” Aleeya bicara pada dirinya sendiri.
****
“Chan, Mamanya Intan ngajak kita makan siang besok setelah acara
wisuda.” Ujar Jogi, Mamanya Chandra duduk di depan tv.
“Terus mama menolak, kan?” Chandra menghentikan setrikaannya.
“Mama bilang, iya.”
“Aduh, kenapa, Ma?”
“Itu saat yang tepat kamu jelasin hubungan kamu dengan Intan seperti
apa. Mama nggak mau Intan terus-terusan menelpon dan kamu reject. Kamu harus
berani.”
Chandra mendekat. Sejak kapan mamanya itu tau isi hati anaknya.
“Oke. Ma, besok ajak Aleeya, ya.”
Tante Jogi mengangguk. Ia tahu anak semata wayangnya itu menyukai
Aleeya. Chandra masuk kamar dan menelpon perempuan yang entah sampai kapan ia
sendirimbisa ungkapkan isi hatinya.
“Hadiah untuk orang yang mau wisuda besok udah disiapkan?”
“Sejak kapan kamu gak tau malu gini, Chan?” Aleeya heran.
“Hahahah…” Chandra tertawa mendengar jawaban Aleeya.
“Wey, udah sakit ya?”
“Al. Aku bahagia bangeeet.” Suara Chandra berubah menjadi serius. Ia
meletakkan tangannya di dadanya.
“Bahagia karena?” Suara Aleeya berubah, terdengar manja.
“Ada deh. Besok kamu juga tau karena apa.”
“Yee,,, jangan bikin penasaran. Bahagia karena apa?!” Tanya Aleeya
membentak.
“Udah dulu ya. Besok siap-siap, aku jemput.”
“Ha?”
“Dah, Assalamu’alaikum.” Chandra membiarkan Aleeya bingung di
kontrakannya sana sendirian. Telpon ia matikan.
bersambung...
Hi gud reades and other authors, like, comment and vote yaa....
Perhatian kalian membuatku semangat berimajinasi..
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi umat muslim