Takdir Kedua

Takdir Kedua
Episode 7


__ADS_3

“Aduh, kelamaan patah hati jadinya kerjaanku banyak yang salah.” Keluh


Aleeya.


Nadia datang tanpa diminta.


“Al, laporan aman?”


“Mungkin sebaiknya aku mundur dari pekerjaan ini ya, Nad?


“Oh tidak bisa! Data administrasi berbagai kegiatan dinas ada sama


kamu.”


Aleeya meringkuk di kursinya.


“Paling tidak sebelum kamu mau keluar dari kantor ini, kamu harus


bilang dulu. Terus kantor nyari orang yang gantikan kamu. Kalau udah ketemu,


masih perlu diajari. Kalau udah clear, baru deh bisa keluar dari sini.” Jelas


Nadia.


“Bilang saja kamu nyuruh aku memperbaiki laporan dan menghadap pada


leader kita!”


“Iya.” Nadia cengengesan.


“Dengar-dengar pimpinan kita yang baru ini single loh. Palingan Cuma


beda 3 atau 4 tahun dari kita.” Bisik Nadia.


“Oh. Mudah-mudahan berjodoh.” Balas Aleeya cekikikan.


“Kamu suka pak Andi?”


“Siapa tu pak Andi?” Bisik Aleeya lagi.


“Pimpinan kita yang baru. Dengar-dengar sih dia baru lulus pasca


sarjana.”


“Oh. Idaman. Hahahhah.” Aleeya masih bercanda.


“Aku yakin kamu udah kenal orangnya.” Nadia masih berbisik. Padahal


tidak ada orang di sekitar mereka.


“Belum. Kan aku kerjanya di belakang layar.”


“Oke, sekarang kamu yang ngantar perbaikan laporan ya.”


“Eh, kok aku?”


“Sebenarnya pak Andi udah nyuruh orang yang mengerjakan laporan yang


harus mempertanggungjawabkannya.” Jawab Aleeya sambil menyerahkan hasil cetakan


dokumen dan USB pada Aleeya.


Aleeya mendengus. Hampir setengah tahun ia bekerja, ia tak pernah


mengantar laporan. Hanya mengirim lewat email dan menitip pada Nadia. Aleeya


masuk ke ruangan yang ia takuti, Bos.


“Selamat siang, Pak.” Aleeya gugup dan masih berdiri.


“Siang, silahkan masuk.” Jawab Andi dari balik pintu. Ia sedang


mengambil buku di lemari dekat pintu.


“Ini laporannya, pak.” Aleeya meletakkan laporannya dan ingin berlari


keluar.


“Tunggu. Kamu harusnya menjelaskan dulu, isi laporan yang kamu perbaiki


ini.” Perintah Andi.


“Gak disilahkan duduk dlu, pak?” Tanya Aleeya gugup.


“Oh iya, silakan duduk.” Andi duduk di kursinya.


“Data program kerja Sub Bagian Kerjasama dan Penataan Wilayah?” Andi


bersikap sok membaca data


“Iya, pak. Apa ada yang perlu saya perbaiki lagi?” Tanya Aleeya.


Aleeya memperhatikan wajah pimpinan baru mereka. Ia mengingat-ingat


sesuatu.


“Aduh, si penguntit yang aku tuduh itu ternyata pimpinan kantor ini.

__ADS_1


Semoga dia tidak memecatku. Eh bukannya itu bagus.” Aleeya bicara dalam hati.


“Aleeya?” Tanya Andi ketika melihat orang yang diajak bicara


mengurut-urut dahinya.


“Iiiya, Pak?”


“Sudah selesai. Kamu boleh keluar.”


“Oke, Pak. Selamat siang.”


Aleeya keluar dari ruangan itu dengan hati kacau.


“Pantesan dia mmperhatikan aku kemaren-kemaren. Apa dia merasa


kerjaanku kurang beres. Terus segan untuk menegur. Ya ampuuun, aku malah nuduh


dia penguntit.” Aleeya bicara sendiri.


Jam kerja habis tepat pukul 4 sore. Aleeya belanja kebutuhan dapur. Ia


sempat mampir ke toko pakaian dan jam tangan untuk laki-laki. Satu persatu ia


memperhatikan model jam tangan. Setiap ia melihat harga barang, secepat kilat


ia meletakkan jam itu ke tempatnya, mahal.


“Kalau begini, hadiah apa yang cocok untuk dia, ya?” Aleeya menyungut.


Tanpa ia sadari sudah berpapasan dengan Andi. Kakinya ke kiri, orang


yang di hadapannya itu berdiri. Kakinya ke kanan, jua diikuti.


“Permisi, saya mau lewat.” Aleeya masih menunduk dan kembali


melanjutkan langkah kakinya.


“Iya, hati-hati di jalan. Awas nabrak orang.” Balas Andi. Ia berharap


gadis yang lewat tadi menyadari kehadirannya.


“Tenang!” Aleeya terkejut ketika mengangkat kepalanya.


“Pak Andi! Bapak suka ngikuti saya, ya?” Wajah Aleeya tampak tidak


senang.


“Enak aja! Saya ke sini ya mau belanja.”


“Gak mungkin! Karena perasaan saya, Bapak selalu ada di sekeliling saya


diperhatikan oleh Andi.


“Kan kita sekantor, wajar dong kalau ketemu. Haaa…. Kalau sering


bertemu, jangan-jangan kita berjodoh.” Ujar Andi tak ingin kalah. Sekalian


mengutarakan isi hatinya.


Aleeya menepuk dahinya.


“Kenapa? Kamu demam, Al?”


“Nggak, Pak. Saya Cuma heran, kenapa kata-kata jodoh itu mudah


diucapkan.” Aleeya menyandar di dinding toko.


“Kamu juga ngomong kata-kata itu tadi, kan?” Andi ikut bersandar.


Tetapi menghadap Aleeya.


“Kan bener, bapak memata-matai saya.” Aleeya kesal.


“Kan saya lewat di depan meja kamu saat bisik-bisik tetangga dengan


Nadia.” Andi bertingkah lucu, ia memonyongkan bibirnya.


“Iya-iya. Saya gosipin bapak tadi.”


Sejenak mereka berdua terdiam. Aleeya mengajak bosnya itu ke kafe kopi


yang ada di mall.


“Makasih.”


“Saya yang harusnya bilang makasih karena kamu traktir.” Ujar Andi


sambil menunjukkan secangkir kopi.


“Saya berterima kasih karena bapak masih baik sama saya. Padahal saya


udah nuduh bapak penguntit. Sekali lagi, maaf ya pak.” Wajah Aleeya memelas.


Andi tersenyum.


“Maksud kamu soal ngomongin jodoh itu mudah, apa?” Andi mencoba

__ADS_1


mengulang pembahasan yang tak terbahas.


“Oo itu. Aneh aja. Kemaren ada temen bilang jadi suami, ke saya.”


“Terus?” Andi ingin tau apakah ia memiliki saingan.


“Terus saya diam. Karena bagi saya ucapannya bercanda.”


“Jadi menurut kamu, saya tadi juga bercanda?” Andi serius.


Aleeya mengangguk.


“Kalau serius?”


Aleeya terkejut. Ia hanya mencari jawaban pada tatapan mata Andi yang


tak berkedip sedikitpun.


“Mana mungkin, pak! Saya tidak berani menganggap serius ucapan seperti


itu.” Aleeya menunduk.


Andi tak melanjutkan obrolan. Ia tau kalau ia terlalu cepat


mengungkapkan isi hatinya. Mereka berpisah. Aleeya menolak diantar. Ia


beralasan ingin mencari hadiah untuk temannya.


“Andai yang ngomong soal jodoh dan menjadi suami itu Mas Rian.” Gumam


Aleeya.


“Sadar Al, sadaar. Mas Rian juga sering ngomong kek gitu. Harus move on


Aleeyaaaa…” Aleeya bicara pada dirinya sendiri.


****


“Chan, Mamanya Intan ngajak kita makan siang besok setelah acara


wisuda.” Ujar Jogi, Mamanya Chandra duduk di depan tv.


“Terus mama menolak, kan?” Chandra menghentikan setrikaannya.


“Mama bilang, iya.”


“Aduh, kenapa, Ma?”


“Itu saat yang tepat kamu jelasin hubungan kamu dengan Intan seperti


apa. Mama nggak mau Intan terus-terusan menelpon dan kamu reject. Kamu harus


berani.”


Chandra mendekat. Sejak kapan mamanya itu tau isi hati anaknya.


“Oke. Ma, besok ajak Aleeya, ya.”


Tante Jogi mengangguk. Ia tahu anak semata wayangnya itu menyukai


Aleeya. Chandra masuk kamar dan menelpon perempuan yang entah sampai kapan ia


sendirimbisa ungkapkan isi hatinya.


“Hadiah untuk orang yang mau wisuda besok udah disiapkan?”


“Sejak kapan kamu gak tau malu gini, Chan?” Aleeya heran.


“Hahahah…” Chandra tertawa mendengar jawaban Aleeya.


“Wey, udah sakit ya?”


“Al. Aku bahagia bangeeet.” Suara Chandra berubah menjadi serius. Ia


meletakkan tangannya di dadanya.


“Bahagia karena?” Suara Aleeya berubah, terdengar manja.


“Ada deh. Besok kamu juga tau karena apa.”


“Yee,,, jangan bikin penasaran. Bahagia karena apa?!” Tanya Aleeya


membentak.


“Udah dulu ya. Besok siap-siap, aku jemput.”


“Ha?”


“Dah, Assalamu’alaikum.” Chandra membiarkan Aleeya bingung di


kontrakannya sana sendirian. Telpon ia matikan.


bersambung...


Hi gud reades and other authors, like, comment and vote yaa....


Perhatian kalian membuatku semangat berimajinasi..

__ADS_1


Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi umat muslim


__ADS_2