Takdir Kedua

Takdir Kedua
Episode 10


__ADS_3

Senyum Aleeya masih mengembang. Gadis itu memperhatikan meja belajar


sekaligus meja kerja Chandra. Foto-foto wisuda sudah tergantung di dinding.


Aleeya memperhatikan foto itu. Foto yang diambil dengan gaya Chandra memeluknya


dari belakang.


“Apa aku sudah cinta sama Chandra?” gumam Aleeya. Ia merasakan detakan


jantungnya.


Tangan Aleeya menyentuh kotak kecil di sudut meja lalu membukanya. Sapu


tangan putih bersulam huruf AL, seketika ia ingat kalau itu sapu tangan miliknya.


“Dari mana Chandra mendapat ini?”


Aleeya menyembunyikan sapu tangan itu di kantong baju tidurnya lalu keluar


dan mencari Chandra. Ternyata orang yang dicari ada di dapur. Aleeya


mengejutkan namun Chandra tetap fokus pada masakannya. Aleeya mengikuti kemana


kaki Chandra melangkah. Tetap saja Chandra tak menghiraukan.


“Marah?” Aleeya merentangkan tangannya ke hadapan Chandra agar Chandra


berhenti sok sibuk dengan makanannya.


“Maaf kalau aku nuduh kamu mesum.” Aleeya menunduk, tangannya ia


turunkan.


Bukannya menjawab, orang yang ditanyai malah menggendong gadis kecil


itu dan membawanya ke meja makan.


“Duduk! Makan! Nanti masuk angin, aku yang repot!” Chandra menjadi


cerewet.


Rintik hujan tak juga reda. Padahal waktu sudah hampir pukul 10 malam.


Orang yang Aleeya tunggu kedatangannya tak kunjung datang. Aleeya duduk di


teras rumah, ia sengaja memilih ruangan terbuka. Bagaimana pun ia takut


berduaan dengan laki-laki. Ia sanggup menahan kantuk asal tidak kehilangan


kesadarannya. Jarang ada laki-laki yang membuang kesempatan jika melihat


perempuan tertidur dan sendirian. Begitu pikirnya. Meski ia percaya Chandra


takkan sehina itu, tapi bisikan setan terlalu sering didengarkan oleh manusia.


(penulis: setan lagi yang kena)


“Chan. Dari mana kamu dapat ini?” Aleeya mengeluarkan sapu tangan dari


sakunya.


Chandra tersenyum.


“Ini milik kamu.”


Chandra mulai bercerita panjang lebar pertemuannya dengan Aleeya.


“Jadi kamu anak laki-laki yang terjatuh di depan kampus dulu? Wah, kamu


masih ingat aku?” Aleeya tampak senang ketika tau Chandra masih mengingatnya.


“Iya. Tapi kamu sama sekali nggak ingat aku, kan?”


“Sorry. Kakak kan udah tua. Jadi ingatannya cepat kabur.” Aleeya


cekikikan.


“Kakak? Duluan aku lahir, masa mau manggil kamu kakak.” Celoteh


Chandra. Aleeya tertawa renyah diikuti Chandra.


“Al, kamu yakin takdir? Orang yang ditakdirkan bersama, maka sejauh


apapun ia pergi, selama apapun di menghilang, akan tetap kembali.” Chandra


menjadi puitis.


“Karena cinta sejati pasti akan kembali.” Sahut Aleeya spontan.


Chandra sumringah mendengar ucapan yang tak ia sangka keluar dari mulut


Aleeya. Si gadis yang berbahasa puitis itu masih memandang Chandra tak


berkedip. Ia tak menyangka pertemuan yang menurutnya seperti angin lewat,


ternyata bagi seseorang adalah pertemuan yang berharga.


“Aku yakin pertemuan kita yang kedua ini adalah takdir.” Lanjut


Chandra. Ia melayangkan senyuman manisnya.


“Al, kamu dengar aku?” Chandra menepuk meja membuyarkan lamunan Aleeya.


“Percaya. Aku nggak tuli, Chan. Terus, kenapa kamu nggak bilang kalau


kita udah pernah kenal dulu?”


“Nggak perlu, yang penting udah bersama kamu.”


Deg! Jantung Aleeya bergetar hebat. Kembali mereka terjebak situasi


canggung. Dulunya Aleeya tak pernah mengatur ucapannya pada Chandra, sekarang


ia malah mematung.

__ADS_1


“Semoga Aleeya menangkap maksud


kata-kataku. Semoga dia  nggak menganggap


ini candaan. Semoga dia tau perasaanku tanpa harus kuungkapkan.” Chandra


berisik sendiri dalam hatinya.


“Apa ini artinya Chandra menyukai


aku? Dih kenapa jantungku akhir-akhir ini suka bergetar keras kalau ngeliat


Chandra? Bodo ah.” Aleeya juga bertengkar dalam hatinya.


Setelah lama bercengkerama dalam hati masing-masing, Aleeya mulai tak


bisa menahan matanya untuk tertidur. Jam sudah menunjukkan pukul hampir 12


malam. Dering Handphone Chandra berbunyi.


“Chan, hujan masih awet. Nggak usah jemput mama. Mama nginap di rumah


tante Erin. Jangan keluyuran. Besok mama pulang.” Pesan mama Chandra secepat


kilat.


“Tapi ma, Aleeya ada di rumah. Dia takut kalau cuma kami berdua disini.


Halo ma, Ma?” Chandra melihat sambungan telponnya sudah dimatikan.


Chandra menghirup udara dingin malam bercampur hujan deras. Ia menoleh


ke arah Aleeya. syukur, gadis itu tak mendengar percakapannya.


“Aleeya aleeya. Kamu takut aku ganggu kamu? Cintaku tak sehina itu,


Al.” Ujar Chandra sambil menggendong tubuh kecil itu.


****


Pagi cerah nan berisik, kota seolah-olah ikut sibuk dengan berbagai


kegiatan manusia. Di pagi cerah itu Chandra menunggu sepupunya datang. Chandra


sengaja memilih lokasi dekat kantor Andi agar laki-laki yang ia rasa saingannya


itu tak repot mengatur waktu dan tempat. Chandra ingin memastikan bahwa Andi


takkan mendekati Aleeya. Orang yang ditunggu datang.


Dua cangkir kopi hangat tersaji setelah sarapan disantap habis. Chandra


melihat kiri dan kanan.


“Gimana kabarnya tante, Chan?”


“Baik. Aku juga baik. Bang, aku mau bilang sesuatu.”


“Soal Aleeya?”


“Hari ini juga aku akan melamar Aleeya.” Lanjut laki-laki itu semakin


serius


Andi menghirup nafas dengan berat. Ia yakin kalimat itu yang akan


Chandra katakan. Namun sebelum janur kuning menghias di jalan orang yang sedang


berpesta, rasanya sah-sah saja merebut hati hati seseorang.


“Kalau aku juga melamar Aleeya?” Andi menantang.


“Coba saja! Aleeya takkan menerimamu.” Chandra merubah posisi duduknya.


“Kita bersaing secara sehat dan jantan. Sorry, sudah waktunya menerima


laporan dari Aleeya.” balas Andi kemudian pergi meninggalkan Chandra bermuka


masam melihat kepergiannya. Hatinya kacau.


Andi memerintahkan Aleeya untuk ikut dengannya rapat ke luar kota.


Gadis itu menurut karena sudah menjadi tugasnya. Sebelum makan siang, Aleeya


sudah boleh pulang karena harus mempersiapkan keperluan pribadi dan kantor


selama perjalanan. Ia pulang disambut dengan wajah cemberut Chandra di depan


kontrakan.


“Aku yakin, kunci hilang akal-akalan kamu aja.” Aleeya menepuk pundak


Chandra kemudian masuk diikuti Chandra.


“Al, kita harus pulang kampung.”


Aleeya menghentikan kegiatannya memasukkan pakaian ke koper.


“Chan, keluar dulu dari kamar aku. Aku nggak mau ada fitnah.” Aleeya


mendorong dan mengunci kamarnya.


“Oke, kalau kamu udah selesai beresin baju, kita bicara.” Chandra tak


tenang.


Tak berapa lama pintu terbuka.


“Maksudnya pulang kampung apa?” Aleeya bingung.


“Hmm,,, Ibu kamu sakit. Tadi malam aku mau bilang sama kamu, tapi kamu


udah tidur.”


“Ibu sakit? Tumben gak ngabari?” Aleeya mengeluarkan gawainya dari tas.

__ADS_1


Chandra merebut benda pipih itu kemudian ia pura-pura menelpon ibunya


Aleeya.


“Assalamu’alaikum, Bu. Aleeya bilang bentar lagi berangkat. Ibu jangan


lupa minum obat, ya.”


“Sini, aku mau ngomong.” Aleeya mencoba merebut alat komunikasi itu.


“Sudah mati.” Chandra memasukkan hape Aleeya ke sakunya.


“Kembalikan hapenya, Sinchaaaaannn!” Teriak Aleeya.


“Sudah siap? Kamu mau ibu nunggu lama?”


“Tapi aku menghubungi Pak Andi. Ini penting.”


Chandra akhirnya memberikan si pipih itu, dan telpon tersambung.


“Assalamu’alaikum, Pak.”


“Wa’alaikum salam. Iya, Al? Saya jemput kamu ya?”


“Maaf, Pak. Saya nggak bisa ikut. Karena ada urusan mendadak di rumah.”


“Jadi Chandra sudah memulai


perangnya?” Batin Andi


“Iya, iya. Rumah kamu di mana, Al? Saya ingin ke sana juga.”


“Nggak usah repot-repot pak.”


“Pasti Chandra yang ngajak kamu pulang, kan?”


“Loh, Bapak kok tau?” Aleeya melirik Chandra dengan muka masam.


“Tentu saya tau, Chandra bilang kalau dia nggak biarin kamu pergi


dengan saya. Entah apa mau anak itu.” Andi tersenyum di seberang sana.


“Oh, begitu, Pak. Saya mengerti.”


Usai telpon dimatikan. Aleeya menatap tajam pada Chandra.


“Al, kenapa?” Chandra mundur. Ia tau persis karakter gadis yang ia


cintai itu. Pasti sedang marah.


“Chan, kamu bohong, kan? Kamu bohong bilang ibu aku sakit?” Aleeya tak


terima dan menendang kaki Chandra.


Chandra semakin terpojok ke pintu hingga membuat pintu tertutup.


“Maaf karena bohongi pake ibu. Tapi kita harus ke sana, Al.” Wajah


Chandra memelas. Ia tak tau cara memberitahu perasaannya. Dan hanya dengan


melamarnya di depan orang tua gadis itu yang bisa ia lakukan.


“Kenapa? Penting soal apa?”


Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, Chandra berbalik berjalan


mendekati Aleeya dan gadis itu yang berjalan mundur.


“Karena ini soal perasaan. Aku nggak mau dia duluan.”


“Perasaan? Dia? Maksudnya? Kamu ngomong yang jelas!” Aleeya berhenti


dari jalan mundurnya.


Chandra meraih kedua tangan Aleeya. Ia menatap dalam gadis itu. Hatinya


ingin berteriak dan mengatakan “Aku mencintaimu, Aleeya.”


“Al, kamu rasakan detakan jantungku.” Ia meletakkan tangan Aleeya ke


dadanya.


“Chan, kamu kee…” ucapan Aleeya terpotong.


“Aku ingin kamu tau bahwa tersiksanya aku melihatmu berduaan dengan


pria lain.”


Aleeya diam dan hanya membalas tatapan mata Chandra. Tatapan yang


menghangatkan dan membuat hatinya tenang.


“Kenapa bisa begitu?” Aleeya akhirnya sok tak tau. Ia tak ingin cepat


luluh karena dulu ia juga cepat percaya setiap ucapan Rian.


“Aleeya kamu kok belum ngerti


juga. Emang udah seharusnya dilamar nih, kalau ngomong cinta dia nggak bakal


percaya.” Chandra memejamkan matanya dan berbicara pada dirinya sendiri.


“Karena Aku nggak mau kamu, kamu dibawa lari orang. Kalau diculik,


gimana?” Chandra tertawa kikuk.


“Aneh! Udah keluar! Aku mau berangkat!” Aleeya mendorong Chandra hingga


keluar dari kontrakannya.


“Setelah kembali dari sana, kita ke rumah orangtuamu.” Pesan Chandra.


bersambung...


Kalau kamu jadi Aleeya, lamaran orang kamu terima? terima dong. ok, sah? sah!

__ADS_1


odor ngelantur soalnya habis lebaran yang ditanya-tanya itu soal nikah, nikah dan nikah. jadi curcol


__ADS_2