
Senyum Aleeya masih mengembang. Gadis itu memperhatikan meja belajar
sekaligus meja kerja Chandra. Foto-foto wisuda sudah tergantung di dinding.
Aleeya memperhatikan foto itu. Foto yang diambil dengan gaya Chandra memeluknya
dari belakang.
“Apa aku sudah cinta sama Chandra?” gumam Aleeya. Ia merasakan detakan
jantungnya.
Tangan Aleeya menyentuh kotak kecil di sudut meja lalu membukanya. Sapu
tangan putih bersulam huruf AL, seketika ia ingat kalau itu sapu tangan miliknya.
“Dari mana Chandra mendapat ini?”
Aleeya menyembunyikan sapu tangan itu di kantong baju tidurnya lalu keluar
dan mencari Chandra. Ternyata orang yang dicari ada di dapur. Aleeya
mengejutkan namun Chandra tetap fokus pada masakannya. Aleeya mengikuti kemana
kaki Chandra melangkah. Tetap saja Chandra tak menghiraukan.
“Marah?” Aleeya merentangkan tangannya ke hadapan Chandra agar Chandra
berhenti sok sibuk dengan makanannya.
“Maaf kalau aku nuduh kamu mesum.” Aleeya menunduk, tangannya ia
turunkan.
Bukannya menjawab, orang yang ditanyai malah menggendong gadis kecil
itu dan membawanya ke meja makan.
“Duduk! Makan! Nanti masuk angin, aku yang repot!” Chandra menjadi
cerewet.
Rintik hujan tak juga reda. Padahal waktu sudah hampir pukul 10 malam.
Orang yang Aleeya tunggu kedatangannya tak kunjung datang. Aleeya duduk di
teras rumah, ia sengaja memilih ruangan terbuka. Bagaimana pun ia takut
berduaan dengan laki-laki. Ia sanggup menahan kantuk asal tidak kehilangan
kesadarannya. Jarang ada laki-laki yang membuang kesempatan jika melihat
perempuan tertidur dan sendirian. Begitu pikirnya. Meski ia percaya Chandra
takkan sehina itu, tapi bisikan setan terlalu sering didengarkan oleh manusia.
(penulis: setan lagi yang kena)
“Chan. Dari mana kamu dapat ini?” Aleeya mengeluarkan sapu tangan dari
sakunya.
Chandra tersenyum.
“Ini milik kamu.”
Chandra mulai bercerita panjang lebar pertemuannya dengan Aleeya.
“Jadi kamu anak laki-laki yang terjatuh di depan kampus dulu? Wah, kamu
masih ingat aku?” Aleeya tampak senang ketika tau Chandra masih mengingatnya.
“Iya. Tapi kamu sama sekali nggak ingat aku, kan?”
“Sorry. Kakak kan udah tua. Jadi ingatannya cepat kabur.” Aleeya
cekikikan.
“Kakak? Duluan aku lahir, masa mau manggil kamu kakak.” Celoteh
Chandra. Aleeya tertawa renyah diikuti Chandra.
“Al, kamu yakin takdir? Orang yang ditakdirkan bersama, maka sejauh
apapun ia pergi, selama apapun di menghilang, akan tetap kembali.” Chandra
menjadi puitis.
“Karena cinta sejati pasti akan kembali.” Sahut Aleeya spontan.
Chandra sumringah mendengar ucapan yang tak ia sangka keluar dari mulut
Aleeya. Si gadis yang berbahasa puitis itu masih memandang Chandra tak
berkedip. Ia tak menyangka pertemuan yang menurutnya seperti angin lewat,
ternyata bagi seseorang adalah pertemuan yang berharga.
“Aku yakin pertemuan kita yang kedua ini adalah takdir.” Lanjut
Chandra. Ia melayangkan senyuman manisnya.
“Al, kamu dengar aku?” Chandra menepuk meja membuyarkan lamunan Aleeya.
“Percaya. Aku nggak tuli, Chan. Terus, kenapa kamu nggak bilang kalau
kita udah pernah kenal dulu?”
“Nggak perlu, yang penting udah bersama kamu.”
Deg! Jantung Aleeya bergetar hebat. Kembali mereka terjebak situasi
canggung. Dulunya Aleeya tak pernah mengatur ucapannya pada Chandra, sekarang
ia malah mematung.
__ADS_1
“Semoga Aleeya menangkap maksud
kata-kataku. Semoga dia nggak menganggap
ini candaan. Semoga dia tau perasaanku tanpa harus kuungkapkan.” Chandra
berisik sendiri dalam hatinya.
“Apa ini artinya Chandra menyukai
aku? Dih kenapa jantungku akhir-akhir ini suka bergetar keras kalau ngeliat
Chandra? Bodo ah.” Aleeya juga bertengkar dalam hatinya.
Setelah lama bercengkerama dalam hati masing-masing, Aleeya mulai tak
bisa menahan matanya untuk tertidur. Jam sudah menunjukkan pukul hampir 12
malam. Dering Handphone Chandra berbunyi.
“Chan, hujan masih awet. Nggak usah jemput mama. Mama nginap di rumah
tante Erin. Jangan keluyuran. Besok mama pulang.” Pesan mama Chandra secepat
kilat.
“Tapi ma, Aleeya ada di rumah. Dia takut kalau cuma kami berdua disini.
Halo ma, Ma?” Chandra melihat sambungan telponnya sudah dimatikan.
Chandra menghirup udara dingin malam bercampur hujan deras. Ia menoleh
ke arah Aleeya. syukur, gadis itu tak mendengar percakapannya.
“Aleeya aleeya. Kamu takut aku ganggu kamu? Cintaku tak sehina itu,
Al.” Ujar Chandra sambil menggendong tubuh kecil itu.
****
Pagi cerah nan berisik, kota seolah-olah ikut sibuk dengan berbagai
kegiatan manusia. Di pagi cerah itu Chandra menunggu sepupunya datang. Chandra
sengaja memilih lokasi dekat kantor Andi agar laki-laki yang ia rasa saingannya
itu tak repot mengatur waktu dan tempat. Chandra ingin memastikan bahwa Andi
takkan mendekati Aleeya. Orang yang ditunggu datang.
Dua cangkir kopi hangat tersaji setelah sarapan disantap habis. Chandra
melihat kiri dan kanan.
“Gimana kabarnya tante, Chan?”
“Baik. Aku juga baik. Bang, aku mau bilang sesuatu.”
“Soal Aleeya?”
“Hari ini juga aku akan melamar Aleeya.” Lanjut laki-laki itu semakin
serius
Andi menghirup nafas dengan berat. Ia yakin kalimat itu yang akan
Chandra katakan. Namun sebelum janur kuning menghias di jalan orang yang sedang
berpesta, rasanya sah-sah saja merebut hati hati seseorang.
“Kalau aku juga melamar Aleeya?” Andi menantang.
“Coba saja! Aleeya takkan menerimamu.” Chandra merubah posisi duduknya.
“Kita bersaing secara sehat dan jantan. Sorry, sudah waktunya menerima
laporan dari Aleeya.” balas Andi kemudian pergi meninggalkan Chandra bermuka
masam melihat kepergiannya. Hatinya kacau.
Andi memerintahkan Aleeya untuk ikut dengannya rapat ke luar kota.
Gadis itu menurut karena sudah menjadi tugasnya. Sebelum makan siang, Aleeya
sudah boleh pulang karena harus mempersiapkan keperluan pribadi dan kantor
selama perjalanan. Ia pulang disambut dengan wajah cemberut Chandra di depan
kontrakan.
“Aku yakin, kunci hilang akal-akalan kamu aja.” Aleeya menepuk pundak
Chandra kemudian masuk diikuti Chandra.
“Al, kita harus pulang kampung.”
Aleeya menghentikan kegiatannya memasukkan pakaian ke koper.
“Chan, keluar dulu dari kamar aku. Aku nggak mau ada fitnah.” Aleeya
mendorong dan mengunci kamarnya.
“Oke, kalau kamu udah selesai beresin baju, kita bicara.” Chandra tak
tenang.
Tak berapa lama pintu terbuka.
“Maksudnya pulang kampung apa?” Aleeya bingung.
“Hmm,,, Ibu kamu sakit. Tadi malam aku mau bilang sama kamu, tapi kamu
udah tidur.”
“Ibu sakit? Tumben gak ngabari?” Aleeya mengeluarkan gawainya dari tas.
__ADS_1
Chandra merebut benda pipih itu kemudian ia pura-pura menelpon ibunya
Aleeya.
“Assalamu’alaikum, Bu. Aleeya bilang bentar lagi berangkat. Ibu jangan
lupa minum obat, ya.”
“Sini, aku mau ngomong.” Aleeya mencoba merebut alat komunikasi itu.
“Sudah mati.” Chandra memasukkan hape Aleeya ke sakunya.
“Kembalikan hapenya, Sinchaaaaannn!” Teriak Aleeya.
“Sudah siap? Kamu mau ibu nunggu lama?”
“Tapi aku menghubungi Pak Andi. Ini penting.”
Chandra akhirnya memberikan si pipih itu, dan telpon tersambung.
“Assalamu’alaikum, Pak.”
“Wa’alaikum salam. Iya, Al? Saya jemput kamu ya?”
“Maaf, Pak. Saya nggak bisa ikut. Karena ada urusan mendadak di rumah.”
“Jadi Chandra sudah memulai
perangnya?” Batin Andi
“Iya, iya. Rumah kamu di mana, Al? Saya ingin ke sana juga.”
“Nggak usah repot-repot pak.”
“Pasti Chandra yang ngajak kamu pulang, kan?”
“Loh, Bapak kok tau?” Aleeya melirik Chandra dengan muka masam.
“Tentu saya tau, Chandra bilang kalau dia nggak biarin kamu pergi
dengan saya. Entah apa mau anak itu.” Andi tersenyum di seberang sana.
“Oh, begitu, Pak. Saya mengerti.”
Usai telpon dimatikan. Aleeya menatap tajam pada Chandra.
“Al, kenapa?” Chandra mundur. Ia tau persis karakter gadis yang ia
cintai itu. Pasti sedang marah.
“Chan, kamu bohong, kan? Kamu bohong bilang ibu aku sakit?” Aleeya tak
terima dan menendang kaki Chandra.
Chandra semakin terpojok ke pintu hingga membuat pintu tertutup.
“Maaf karena bohongi pake ibu. Tapi kita harus ke sana, Al.” Wajah
Chandra memelas. Ia tak tau cara memberitahu perasaannya. Dan hanya dengan
melamarnya di depan orang tua gadis itu yang bisa ia lakukan.
“Kenapa? Penting soal apa?”
Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, Chandra berbalik berjalan
mendekati Aleeya dan gadis itu yang berjalan mundur.
“Karena ini soal perasaan. Aku nggak mau dia duluan.”
“Perasaan? Dia? Maksudnya? Kamu ngomong yang jelas!” Aleeya berhenti
dari jalan mundurnya.
Chandra meraih kedua tangan Aleeya. Ia menatap dalam gadis itu. Hatinya
ingin berteriak dan mengatakan “Aku mencintaimu, Aleeya.”
“Al, kamu rasakan detakan jantungku.” Ia meletakkan tangan Aleeya ke
dadanya.
“Chan, kamu kee…” ucapan Aleeya terpotong.
“Aku ingin kamu tau bahwa tersiksanya aku melihatmu berduaan dengan
pria lain.”
Aleeya diam dan hanya membalas tatapan mata Chandra. Tatapan yang
menghangatkan dan membuat hatinya tenang.
“Kenapa bisa begitu?” Aleeya akhirnya sok tak tau. Ia tak ingin cepat
luluh karena dulu ia juga cepat percaya setiap ucapan Rian.
“Aleeya kamu kok belum ngerti
juga. Emang udah seharusnya dilamar nih, kalau ngomong cinta dia nggak bakal
percaya.” Chandra memejamkan matanya dan berbicara pada dirinya sendiri.
“Karena Aku nggak mau kamu, kamu dibawa lari orang. Kalau diculik,
gimana?” Chandra tertawa kikuk.
“Aneh! Udah keluar! Aku mau berangkat!” Aleeya mendorong Chandra hingga
keluar dari kontrakannya.
“Setelah kembali dari sana, kita ke rumah orangtuamu.” Pesan Chandra.
bersambung...
Kalau kamu jadi Aleeya, lamaran orang kamu terima? terima dong. ok, sah? sah!
__ADS_1
odor ngelantur soalnya habis lebaran yang ditanya-tanya itu soal nikah, nikah dan nikah. jadi curcol