
Hari berlalu dengan cepat, tidak terasa ketiga buah hati Nayya itu baru saja menyelesaikan semester pertama mereka di kelas satu itu. Kini ketiga buah hati Nayya itu tinggal menunggu waktu untuk pembagian hasil belajar mereka selama kurang lebih 6 bulan ini.
“Bunda!” panggil Qalessa saat menyadari bahwa bunda mereka itu sedang melamun.
Nayya yang mendengar itu pun segera tersadar lalu mengucap istiqfar karena lagi-lagi dia melamun dan larut dalam pikiran nya, “Ada apa nak?” tanya Nayya memandangi ketiga buah hati nya itu.
Qalessa menggeleng, “Kami gak apa-apa bunda. Tapi bunda yang kenapa. Kenapa suka sekali melamun.” Ucap Qalessa yang di angguki oleh kedua putra nya itu.
Nayya pun terdiam, “Maafkan bunda. Entah kenapa bunda merasa tidak tenang. Bunda merasa ada sesuatu yang terjadi hari ini. Sesuatu yang besar tapi bunda tidak bisa menebak nya.” ujar Nayya.
Xander segera menggenggam tangan Nayya, “Bunda jangan khawatirkan apapun. Bunda jangan takut. Kami akan selalu bersama bunda.” Ucap Xander.
“Bunda tahu itu nak. Tapi bunda tetap khawatir.” Balas Nayya.
Mendengar balasan ucapan sang bunda, triplets pun segera memeluk Nayya erat.
Nayya pun tersenyum, “Kenapa aku merasa seperti mendapat firasat seperti hari itu. Yah, hari itu--”
***
Singkat cerita, kini Nayya baru saja melakukan sholat magrib nya dan entah kenapa perasaan nya semakin tidak menentu. Firasat yang dia rasakan itu semakin jelas dan membuat nya takut. Dia takut jika apa yang dia pikirkan itu akan terjadi.
Nayya pun memutuskan berdzikir dan bersholawat saja untuk menghalau semua pemikiran nya itu. Dia berharap bahwa apa yang dia khawatirkan dan takutkan itu tidak terjadi. Nayya melakukan hal itu sampai isya. Dia bahkan melewatkan makan malam bersama karena fokus dengan apa yang dia lakukan itu.
Hingga selepas isya selesai dengan hati yang lumayan tenang walaupun tidak benar-benar hilang. Dia masih saja takut dan mengkhawatirkan yang akan terjadi nanti karena firasat nya itu masih ada.
Nayya pun yang hanya memakai daster panjang nya di tambah hijab instan milik nya sebatas dada keluar dari kamar nya itu bermaksud untuk makan malam karena perut nya sudah merasa lapar.
Nayya segera menuju dapur dan melewati mama, papa dan ketiga buah hati nya itu yang sedang menonton di depan tv.
__ADS_1
“Apa sudah selesai sholat nak?” tanya papa Imran.
“Sudah pah.” Jawab Nayya sambil mengangguk dan tetap terus menuju dapur.
“Tentu saja dia sudah sholat pah. Dia itu putri sulung kita yang taat dengan sholat nya.” timpal mama Fara.
“Papa hanya bertanya saja mah untuk memastikan nya. Dia sudah melewatkan makan malam. Jadi papa pikir dia tertidur dan belum menunaikan ibadah nya itu.” bela papa Imran. Mama Fara pun hanya mendelik saja lalu dia pun segera menyusul putri nya itu ke dapur untuk menemani Nayya makan agar tidak sendiri.
“Mama kenapa ke sini?” tanya Nayya yang sudah duduk di meja makan dan mulai mengambil makanan di sana.
“Tentu saja menemanimu makan nak. Emang apa lagi coba?” balas mama Fara. Nayya pun hanya tersenyum saja mendengar ucapan mama nya itu.
“Mah, apa anak-anak sudah makan?” tanya Nayya kepada mama nya itu.
Mama Fara pun mengangguk lalu Nayya pun segera memulai makan nya dan mungkin baru sekitar lima menitan Nayya makan tiba-tiba ada yang membunyikan bel kediaman itu.
Nayya dan mama Fara masih saling memandang lalu setelah sadar Nayya pun menyeruput air minum dan mengusap wajah nya, “Ada apa nak? Kena--”
Mama Fara tidak melanjutkan perkataan nya itu begitu melihat papa Imran sudah ada di dekat mereka, “Siapa?” tanya mama Fara.
Papa Imran tidak langsung menjawab tapi melihat Nayya terlebih dahulu, “I-itu--”
“Apa itu keluarga Afnan?” potong Nayya menatap papa nya.
Papa Imran yang mendengar ucapan sang putri pun dengan perlahan mengangguk. Mama Fara yang melihat itu pun hanya bisa menganga, “Apa iya?” tanya mama Fara memastikan masih dengan wajah terkejut nya.
“Iya mah. Untuk apa coba papa bohong.” Ujar papa Imran.
“Sudah sana papa dan mama ke sana dulu. Tanyakan tujuan mereka datang.” ucap Nayya berdiri dari duduk nya itu.
__ADS_1
“Biar Nayya yang buat minum. Pah, berapa jumlah mereka?” lanjut Nayya menatap sang papa.
“Lima.” Jawab papa Imran singkat.
Nayya pun mengangguk lalu papa Imran dan mama Fara segera ke depan menemui tamu mereka yang datang tanpa pemberitahuan itu.
Sementara Nayya dia pun segera menyimpan makan nya itu dan segera menuju tempat di mana minuman berada. Nayya segera membuat orange jus walaupun dengan kekhawatiran melanda nya.
Di ruang tamu, mama Fara dan papa Imran pun segera duduk di hadapan tamu mereka itu.
“Maaf lama.” Ucap papa Imran.
“Ahh tidak masalah Imran.” Balas papi Riyad tersenyum.
Papa Imran pun mengangguk, “Ohiya, jika bisa aku tahu tujuan kalian datang ke sini apa ada sesuatu hal?” tanya papa Imran to the point.
Papi Riyad pun tersenyum mendengar pertanyaan papa Imran, “Baiklah, karena kau sudah menyinggung hal ini maka mari kita selesaikan dengan baik. Ini bukan kali pertama kami datang ke sini. Ini sudah kedua kali nya dan masih dengan niat yang sama seperti tujuh tahun lalu. Melamar putri sulungmu Nayya menjadi istri putra sulung kami Afnan.” Ucap papi Riyad to the point juga.
Papa Imran pun terdiam sebentar. Dia sudah menduga hal ini namun mendadak dia juga jadi gugup tidak tahu mau menanggapi nya seperti apa, “Ini sudah kedatangan kami yang kedua kali nya setelah tujuh tahun berlalu dan masih dengan niat yang sama. Kami berharap untuk kali ini jawaban yang akan kami terima berbeda dengan tujuh tahun lalu.” Sambung mami Rana.
Papa Imran dan mama Fara saling menatap satu sama lain, “Sama seperti tujuh tahun lalu di mana Nayya yang mengambil keputusan maka untuk sekarang pun sama. Semua keputusan ada pada nya.” ucap papa Imran.
Tidak lama Nayya datang dengan minuman di nampan. Nayya segera menyajikan nya lalu dia segera ikut duduk begitu papa Imran meminta nya untuk duduk.
“Nak, mereka datang dengan tujuan untuk memintamu menjadi istri Afnan.” Ucap papa Imran menjelaskan kepada sang putri.
Nayya pun tersenyum menatap sang papa lalu dia melirik sekilas ke arah Afnan lalu dia menatap papi Riyad dan mami Rana.
“Maaf, Nayya tidak bisa--”
__ADS_1