Takdir Kedua

Takdir Kedua
Episode 4


__ADS_3

“Semoga kamu sempat melihat aku bahagia, Mas. Akan aku tunjukkan kalau


aku bisa bahagia tanpamu.” Tangis Aleeya dalam hati.


Kicau burung di atas sawah membentang luas di area sekitar rumah


Aleeya. Nadanya terdengar sedih di telinga orang yang baru saja patih hati.


Selepas subuh, Aleeya bermain di sawah belakang rumahnya. Di tepi sawah ia


mencoba berpikir positif.


“Aku harus bangkit. Walau sakit, Aku harus tetap semangat.” Ucapnya


pada padi yang mulai menguning.


Hampir jam 7 pagi, Aleeya meninggalkan sawah untuk kembali ke


kontrakannya. Hitung-hitung bisa melupakan peristiwa pahit yang ia alami. Ditemani


sang Ibu, Aleeya berangkat memakai bus antar kota. Sepanjang perjalanan, tanpa


diharapkan memori tentang Rian terus berputar di pikirannya. Aleeya memejamkan


mata dan mendengarkan music. Semakin syahdu kenangan itu mengalir di ingatan.


“Mas janji tidak akan meninggalkan Al.” Suara Rian berbisik di telinga


Aleeya.


Astaghfirullah. Aleeya terbangun seketika mendengar kalimat Rian ketika


merayakan ulang tahunnya.


“Pembohooooong!” Aleeya berteriak hingga mengganggu penumpang yang


lain.


“Maaf, pak, buk.”


“Semoga kamu nggak merasakan apa yang aku rasakan, Mas.” Tangis Aleeya


dalam hati.


****


Pagi itu terasa melelahkan. Setelah sampai ke kontrakan pukul 4 sore,


Aleeya langsung merebahkan tubuhnya dan terbangun setelah adzan maghrib


berkumandang. Ia mandi, sholat dan mencoba kembali tidur. Meski sudah lelah,


Aleeya masih saja tak bisa tidur hingga pagi. Kalau bukan karena harus


memperbaiki laporan, ia takkan mau keluar dari tempat huniannya.


Si patah hati itu memperhatikan kembali wajahnya. Wajah pucat, mata


bengkak, dahi memar dihiasi perban kecil. Ia menutupi dahinya menggunakan


rambut. Setelah berhias ia berangkat. Kantor masih sunyi, waktu yang tepat


untuk Aleeya bekerja. Secepat kilat tangannya membuka dan mengotak-atik


laporan. Hampir satu jam menatap layar, Aleeya membuka kacamatanya.


“Cepat banget selesainya, Al. Daebak!” Seru Nadia. Sudah setengah jam


yang lalu teman kerjanya itu memperhatikan sikap serius Aleeya bekerja.


“Aku sudah selesai. Sisanya kamu yang antar.” Ujar Aleeya tersenyum.


Aleeya memegang perban kecil di dahinya. Kepalanya terasa pusing, gadis


itu mengucek-kucek mata karena pandangan matanya mulai kabur. Nadia bingung


dengan tingkah laku temannya itu. bruuukkkk!!!!


“Aleeyaaa!” Teriak Nadia tanpa sempat menangkapnya.


Aleeya dibawa ke klinik dekat kantor Aleeya bekerja. Dokter Cuma


meresepkan vitamin dan obat sakit kepala. Artinya tidak ada sakit serius yang

__ADS_1


Aleeya derita. Ia hanya menderita patah hati. Bahkan dokter dan dukun pun tak


sanggup mengobati kecuali si pemilik hati sendiri. “Eh kok jadi curhat ya.”


“Kata dokter kamu kelelahan dan kurang tidur makanya kamu juga pusing.


Maaf ya, Al, kalau aku nyuruh kamu kerja. Padahal kamu baru dari perjalanan.”


Nadia tampak merasa bersalah.


“Udah tugas aku, Nad. Malah aku mau bilang makasih, karena kamu


ngingatkan aku sama pekerjaan.” Balas Aleeya.


“Besok aku minta izin, kayaknya aku nggak sanggup masuk kerja besok.


Kalau ada yang penting, kabari aku ya.” Pinta Aleeya.


“Oke-oke. Sekarang kamu bisa pulang, tapi maaf aku gak bisa nganter.


Masih banyak kerjaan yang belum kelar. Gimana kalau aku suruh pak Andi yang


nganter?”


“Pak Andi?” Aleeya bingung.


“Pak Andi kepala dinas kita. Kayaknya dia naksir kamu.”


“Woy woy woy, jangan mengada-ada. Sudahlah, aku duluan ya.”


“Serius ni nggak mau diantar pak Andi?  Biar Aku telpon.” Nadia masih bercanda.


Aleeya mengacungkan tinjunya dari jarak jauh ke arah Nadia yang sedari tadi


cengengesan. Gadis itu berjalan lurus memandang ke depan tanpa memperhatikan


kiri dan kanannya. Tanpa ia sadari, ia sedang diperhatikan seseorang dari


samping jalan keluar kantor. Andi, pemuda yang diam-diam memperhatikan Aleeya.


Namun pemuda itu tidak ingin Aleeya mengetahuinya. Pernah sekali saat dia


memperhatikan Aleeya sedang menatap monitor laptopnya, Nadia mengejutkan. Saat


itu Nadia sudah curiga. Dengan penuh keingintahuan Nadia menelusuri profil


dinas itu sudah menikah atau belum. Biasanya orang yang memiliki jabatan yang


lebih tinggi, rata-rata sudah menikah. Mana ada teman yang tega melihat


temannya didekati laki-laki yang sudah beristri. Alhasil, investigasi Nadia berhasil.


Faktanya memang Andi masih lajang dan dalam usia mapan untuk menikah.


Aleeya menyadari sedang diperhatikan seseorang yang tidak ia kenal.


Sebagai pegawai baru, Aleeya memang kurang mengenal pegawai-pegawai lain selain


tim kerja bidang administrasi. Gadis melihat melalui kaca spion mobil yang di


depannya. Sosok laki-laki itu terlihat melalui spion itu. Tidak suka


diperhatikan, Aleeya membalik dan berjalan cepat guna menghampiri si pelirik.


Andi gelagapan, ia bingung harus pergi kemana karena Aleeya sudah di


depannya.


“Anda siapa? Kenapa memperhatikan saya dari belakang? Mau jambret?”


Bertubi-tubi Aleeya bertanya.


“Aaaa,,, saya tidak memperhatikan anda.” Kilah Andi.


“Jangan bohong! Pake mata untuk hal yang baik-baik! Bukan untuk melihat


anak gadis orang!” Aleeya emosi kemudian pergi.


Andi lega karena Aleeya tak menghukumnya. Tiba-tiba Nadia datang


megejutkan.


“Makanya, Pak, kalau suka tu dibilang aja langsung sama orangnya. Kalau

__ADS_1


begini kan bapak dikira penguntit.” Ledek Nadia.


Andi tertawa kecil. Ia sadar kesalahannya.


“Gimana caranya, Nad? Sedangkan Saya tidak berani mengenalkan diri saya


siapa ke Aleeya.” Andi duduk diikuti Nadia.


“Kalau mau mulai hubungan, tinggalkan kata-kata jabatan. Perempuan baik


gak melihat kedudukan laki-laki, pak.”


“Bukan itu maksud saya.” Andi mengerti pikiran Nadia.


“Maksud saya, menyapanya secara langsung, pun saya tak tau bagaimana.”


Nadia melotot. Ia heran dengan laki-laki di sampingnya itu. Sudah abad


ke berapa, memulai percakapan dengan seorang gadis pun tak bisa?


“Kalau soal itu, bapak yang mikirin jalannya sendiri deh. Saya ada


kerja, Pak. Saya duluan.” Nadia tak ingin masuk masalah pribadi orang terlalu


jauh.


****


Aleeya mulai kembali merasa pening yang tak tertahankan. Tetapi ia


terus berusaha membuka kunci kontrakannya. Entah kenapa membuka pintu rasanya


seperti memecahkan batu. Pintu susah dibuka karena si pembuka sudah tak melihat


jelas lubang kunci. Sakit kepala tak tertahankan membuat tubuh Aleeya kembali


terjatuh.


Perempuan lemah tak berdaya karena urusan cinta itu sadar. Ia memegang


kepalanya.


“Kenapa kepalaku masih sakit? Apa karena benturan waktu itu? mungkin


karena terlalu banyak mikirin Mas Rian.” Ucap Aleeya dalam hati.


Aleeya memperhatikan kiri dan kanan ruangan. Ia merasa asing. Tak


berapa lama, ibu kontrakan datang.


“Sudah bangun, Aleeya? Ini minum dulu.” Tante Jogi, pemilik kontrakan


Aleeya begitu perhatian.


“Tante, Kenapa Al bisa disini?”


“Ichan yang bawa kamu ke sini.”


Aleeya mengernyitkan dahi tanda bingung.


“Chandra, anak tante yang bawa Aleeya kesini. Ini rumah tante. Aleeya


sekarang ada di kamar anak tante.” Si tante Jogi tertawa saat menyebut kata


“kamar Chandra.”


“Chandra anak tante?” Aleeya terkejut kemudian Jogi mengangguk.


“Pantesan kemaren-kemaren dia bilang sebagai pemilik kontrakan. Kirain


bercanda.” Aleeya cengengesan.


“Anak tante ganteng, kan?” Tante Jogi mulai usil.


“Ganteng. Aku yakin banyak perempuan yang menyukainya.” Jawab Aleeya


bernada memuji. Pujiannya sebagai rasa terima kasih. (Yaa,, emang Chandra


ganteng: penulis)


“Tapi tante bingung, kenapa dia masih sendiri. Terakhir dia bawa Intan,


temannya. Katanya dia mau nikah, tapi Intan menolak. Alhasil gadis itu tak

__ADS_1


pernah Chandra bawa ke rumah ini lagi.” Panjang lebar tante Jogi cerita.


bersambung...


__ADS_2