
Nayya yang mendengar ucapan papa nya itu pun mendadak menatap sang papa, “Pah, apa menurutmu aku harus menikah lagi hingga mereka akan memiliki ayah lagi dan mereka tidak kesepian?”
Papa Imran tersentak mendengar ucapan putri nya itu. Dia menatap lekat wajah sang putri, “Nak, mungkin mereka akan kesepian dan mencari sosok ayah. Tapi papa juga tidak ingin kau menerima seorang suami lagi hanya dengan alasan membuat anak-anakmu tidak kesepian. Siapkan dulu hati dan fisikmu sebelum mengambil keputusan itu. Yakinkan hatimu apa kau bisa mencintai seorang pria lagi sebagai suamimu. Memang cinta bukan segala nya tapi percaya lah tanpa cinta batinmu akan terluka. Papa tidak ingin melihatmu terpaksa dalam menjalani pernikahanmu.”
“Lakukan apapun yang kamu inginkan nak. Jangan pikirkan apa yang di katakan mamamu atau mungkin di katakan orang di luaran sana nanti. Kamu tetap lah putri kami.” sambung papa Imran lembut.
Nayya pun terharu mendengar ucapan papa nya itu. Dia pun menyandarkan kepala nya itu di bahu sang papa. Hal yang dia lakukan saat dia belum menikah dulu ketika resah dan curhat dengan papa nya itu. Lalu semenjak menikah hal itu di gantikan oleh sang suami dan kini hal itu kembali lagi. Dia kembali dengan cinta pertama nya.
“Pah, terima kasih sudah membuat keresahanku itu menghilang. Aku terikat janji yang di buat mas Risam untukku saat dia meninggal. Tapi bagaimana mungkin pah, aku mencintai suamiku itu dan menikah dengan orang lain lagi. Aku menginginkan bersatu dengan nya kelak. Tapi dia justru memintaku menikah lagi dengan ahh aku pusing pah.” Ucap Nayya.
Papa Imran pun membelai kepala putri sulung nya itu dengan lembut, “Tidak perlu di pikirkan. Kamu jalani saja hidupmu nak sesuai keinginanmu. Semua serahkan saja pada takdir ke depan nya akan bagaimana. Kami tidak akan memaksamu untuk menikah lagi. Jika kau memutuskan untuk sendiri sampai akhir maka tidak masalah. Kami akan mendukung keputusan yang kau ambil itu. Tidak perlu mengkhawatirkan apapun.” Ucap papa Imran.
__ADS_1
Nayya pun hanya mengangguk saja dan mengami apa yang di di lakukan oleh ketiga buah hati nya itu, “Bunda … sangat nikmat.” Ucap Xavier berlari mendekati nya.
Nayya pun menyambut putra nya itu, “Jika nikmat maka harus mengucapkan apa?” tanya Nayya.
“Alhamdulillah.” Jawab Xavier tersenyum.
“Hebat anak bunda.” Puji Nayya lalu memeluk putra nya itu. Putra yang memang tidak jaim untuk bermanja pada nya.
***
Sementara di sisi lain, di kediaman Afnan kini di sana terjadi musyawarah besar.
__ADS_1
“Kak, kau yakin akan melamar nya minggu depan?” tanya Efnan bertanya menatap sang kakak.
Afnan pun tersenyum lalu mengangguk, “Untuk apa menunda maksud baik.” balas Afnan.
“Aku tidak ingin ada kesalahan lagi. Aku tidak ingin mengulang hal yang sama lain. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan lagi.” Sambung Afnan.
“Lalu bagaimana jika Kak Nayya menolak kak?” kali ini Ivana yang bertanya.
“Jika dia menolak nya maka coba sekali lagi. Bukan kah aku sudah pernah di tolak nya sekali maka jika di tolak untuk kedua kali tidak masalah bukan. Masih ada kesempatan ketiga, bukan?” Ucap Afnan.
Ivana dan Efnan pun terdiam mendengar ucapan kakak mereka itu yang di nilai benar. Bukan kah cinta memang butuh perjuangan.
__ADS_1