Takdir Kedua

Takdir Kedua
34


__ADS_3

Afnan yang mendengar ucapan Nayya yang dingin itu pun terdiam saja dan dia mengerti kenapa Nayya melakukan itu. Dia juga sudah menduga hal ini sebelum memutuskan untuk datang ke sini. Dia sudah menyiapkan diri nya untuk hal ini. Tapi ternyata setelah melihat dan mendengar langsung dari bibir Nayya membuat nya sedikit merasa tidak nyaman di hati nya.


Papa Imran dan mama Fara yang menyadari suasana canggung yang tercipta pun akhir nya mencoba mencairkan suasana, “Nak, kamu baru saja pulang memeriksa tokomu pasti lelah. Ayo masuk dulu.” Ajak mama Fara langsung menggandeng putri sulung nya itu masuk.


Sementara papa Imran pun segera meminta ketiga cucu nya untuk masuk kembali ke dalam lalu dia juga mengajak Afnan untuk masuk kembali, “Maafkan perkataan nya nak. Tolong maklumi dia. Dia pasti tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu.” Ujar papa Imran kepada Afnan.


Afnan yang mendengar itu pun tersenyum, “Saya baik-baik saja kok pah. Saya tahu karakter Nayya memang keras. Tidak masalah. Saya juga memang sudah menduga hal ini akan terjadi dan sudah menyiapkan mental untuk keadaan ini.” balas Afnan.


Papi Imran yang mendengar itu pun tersenyum dan menepuk pundak Afnan. Pria ini yang dulu nya dia tidak begitu sukai saat lamaran datang saat itu bersama lamaran Risam. Dia dan istri nya lebih memilih Risam karena tahu bahwa putri mereka sudah terlanjur sakit hati dengan Afnan. Tapi siapa sangka kini takdir mendekatkan mereka lagi seperti ini. Untuk takdir ke depan nya serahkan saja kepada yang di atas hasil akhirnya akan seperti apa. Jalani saja dulu.


“Mah … pah … aku ke kamar dulu. Mau istirahat. Lelah.” Ucap Nayya menolak untuk bergabung duduk di ruang tamu.


Mama Fara dan papa Imran pun hanya bisa mengangguk menyetujui karena mereka memang tidak ingin memaksa putri mereka itu.


Nayya pun segera menuju kamar nya di susul oleh ketiga buah hati nya yang juga ikut masuk, “Maafkan dia nak.” ucap mama Fara kepada Afnan.


Afnan menggeleng, “Tidak perlu meminta maaf. Tidak ada yang salah di sini. Saya juga datang ke sini memang tidak bermaksud memaksa. Saya tahu bagaimana dia mencintai mendiang suami nya. Hati wanita seperti Nayya pasti jika sudah mencintai seseorang maka pasti akan sulit untuk dia lupakan. Apalagi jika sosok suami seperti Risam yang sangat menyayangi nya.” ucap Afnan.


Mama Fara dan papa Imran yang mendengar ucapan Afnan pun hanya bisa saling memandang satu sama lain dan hanya bisa menemani Afnan berbincang saja sampai pria itu pulang.


“Kasihan dia, pah. Apa Nayya tidak akan memberikan kesempatan sekali pun kepada nya.” ucap mama Fara memandangi kepergian Afnan yang pulang setelah beberapa waktu bicara dengan mereka.


Papa Imran yang mendengar ucapan istri nya pun hanya bisa menarik nafas panjang, “Tapi kita juga tidak bisa memaksa putri kita, mah. Ini adalah keputusan nya. Dia berhak untuk mengambil keputusan sendiri untuk hidup nya itu. Walaupun kita sebagai orang tua nya tapi tidak bisa memaksa nya. Biarkan saja dia tenang.” Ucap papa Imran.


“Walaupun kita tahu mendiang menantu kita membuat nya berjanji menikah dengan Afnan. Tapi kita tetap tidak bisa memaksa nya hanya karena itu bukan?” sambung papa Imran.


Mama Fara pun yang mendengar ucapan sang suami hanya bisa menghela nafas dan memilih masuk ke dalam rumah.


***


Sementara di kamar nya, Nayya melihat kepergian mobil Afnan itu dari kaca jendela kamar nya. Nayya pun menarik nafas panjang dan menatap buku di hadapan nya. Buku yang masih kosong belum di tulis apapun.


Nayya membuka lembar demi lembar buku yang masih kosong itu, “Apakah aku bisa membuka bab baru ini tanpa membawa bab lama dalam hidupku? Tanpa terikat dengan apa yang terjadi di masa lalu? Aku mana bisa melakukan nya. Sungguh, langkahku sudah stuck di tengah jalan.” Batin Nayya.


“Bunda!” panggil Xander yang tiba-tiba saja sudah ada di sisi nya dan menggenggam tangan nya.


Nayya pun menatap lekat putra nya itu, “Ada apa? Kenapa tidak ikut istirahat dengan mereka?” tanya Nayya melirik sekilas putri dan putra nya yang lain yang kini tidur di ranjang nya itu.

__ADS_1


Xander hanya menggeleng dan tetap menggenggam tangan Nayya, “Bunda, jika kau ingin menikah lagi atau mungkin menikah dengan uncle Afnan. Katakan saja pada kami. Kami akan mendukung keputusanmu itu. Uncle Afnan seperti nya orang baik. Dia bisa jadi suami bunda. Dia pasti akan menyayangi bunda. Kami juga cukup menyukai nya.” ucap Xander.


Nayya yang mendengar penuturan putra nya yang biasa nya hanya diam tidak ikut bicara itu pun tersenyum karena seperti nya ini adalah kalimat panjang yang dia dengar dan di ucapkan oleh putra nya itu selama dia sudah bisa bicara sampai saat ini.


“Mungkin saja benar dia akan menyayangi bunda dan akan menjadi suami terbaik bunda. Tapi bukan kah bunda punya kalian, bunda tidak akan menikah dengan siapa pun jika dia tidak akan menyayangi kalian. Bila perlu bunda tidak akan menikah lagi. Ayah kalian adalah suami terbaik bunda dan tidak akan tergantikan oleh siapa pun. Bunda tidak akan menikah jika calon suami bunda nanti hanya menyayangi dan menginginkan bunda saja dan tidak dengan kalian. Jika seperti itu lebih baik bunda hidup sendiri bersama kalian.” ucap Nayya.


“Tapi bunda pasti kesepian. Ayah berpesan pada kami agar tidak membuat bunda kesepian. Dia akan sedih nanti jika melihat bunda kesepian. Bunda itu adalah kesayangan nya.” ucap Xander.


“Dan kalian adalah kesayangan bunda. Bunda tidak akan bisa terima jika kalian nanti tidak bahagia. Kebahagiaan kalian adalah hal utama untuk bunda saat ini. Tidak perlu mengkhawatirkan bunda. Bunda sudah baik-baik saja. Bunda bahkan sudah tidak takut lagi dengan jarum suntik. Bukan kah itu berarti bunda sudah baik-baik saja. Jadi tidak perlu khawatir lagi.” Ucap Nayya.


“Tapi bun--”


“Stttss, bunda tidak ingin mendengar apapun lagi. Bunda ingin kalian fokus dengan belajar kalian. Tidak perlu memikirkan bunda kesepian atau tidak karena selama kalian ada bunda tidak akan pernah kesepian sama sekali. Kalian itu yang terbaik untuk bunda. Kalian ada kesayangan bunda.” Ucap Nayya memotong ucapan putra nya itu dan membawa putra nya ke dalam pelukan nya.


“Mas, apa yang sudah kau katakan pada anak-anak sebelum kau pergi? Kenapa mereka seolah mendorongku untuk menikah lagi. Apa kau juga mengatakan bahwa Afnan akan jadi ayah mereka. Jika itu yang kau katakan pada mereka maka aku tidak habis pikir denganmu mas. Apa ada seorang suami yang memberikan istri nya dan anak-anak nya kepada orang lain seperti itu.” batin Nayya.


***


Di sisi Afnan, kini dia mengendarai mobil nya itu kembali ke rumah nya yang memang hanya berjarak cukup dekat dengan kediaman Nayya.


“Ayu!” panggil Afnan menyapa Ayu dengan menurunkan kaca mobil nya.


Ayu yang mendengar seseorang memanggil nama nya pun segera menoleh dan tersenyum melihat Afnan.


“Kaak Afnan!” sapa nya balik.


Afnan pun memutuskan untuk keluar dari mobil nya, “Apa ini--” tebak Afnan.


“Ini kekasihku kak. Panggil saja dia Raja. Itu nama nya.” ucap Ayu memperkenalkan kekasih nya itu kepada Afnan. Ayu tidak merasa canggung sama sekali memperkenalkan Raja kepada mantan pria yang di jodohkan dengan nya itu.


Afnan pun tersenyum mengangguk lalu kedua nya segera saling menyalami satu sama lain. Afnan bisa melihat kedua nya saling mencintai satu sama lain. Ayu rela tidak di akui oleh orang tua nya demi pria itu dan pria itu pun seperti nya sangat menyayangi Ayu. Dia pun akhirnya bisa lega karena tidak perlu merasa bersalah kepada Ayu lagi atas pembatalan pertunangan mereka. Harus dia akui dia juga bersalah dengan apa yang terjadi pada mereka.


“Kita bisa bicara di sana sebentar.” Tawar Afnan.


Ayu dan Raja pun saling memandang satu sama lain lalu mereka pun mengangguk dan ketiga orang itu pun segera menuju kedai makan di dekat sana.


“Apa kalian memutuskan pulang ke sini?” tanya Afnan hati-hati.

__ADS_1


“Hum, rencana awal nya seperti itu. Kami ingin pulang ke sini tapi seperti yang sudah bisa kak Afnan duga memang itu lah yang terjadi. Kami di tolak. Jadi hanya bisa mengandalkan diri sendiri dan memikirkan apa yang harus di lakukan ke depan nya.” ucap Ayu.


“Maafkan aku. Ini semua karena aku hingga kau dan orang tuamu bisa seperti ini. Jika bukan aku mungkin kau tidak akan mengalami hal ini.” ucap Afnan.


Ayu menggeleng, “Ini bukan salahmu kok kak. Memang ibu dan ayah saja yang tidak bisa menerima kenyataan. Mereka selalu saja melihat orang lain dari status nya. Tanpamu pun aku yakin dia tetap tidak akan bisa menerima kami. Jadi tidak perlu merasa bersalah begitu. Ini memang tidak ada hubungan nya denganmu. Kita di pertemukan dalam perjodohan yang tidak kita kehendaki satu sama lain karena memiliki perasaan untuk orang lain. Aku juga tidak merasa bersalah karena sudah lari dari pertunangan kita itu. Itu adalah keputusan pertama yang ku buat dalam hidupku karena selama ini aku hanya ikut keputusan mereka. Dan seperti nya itu tidak terlalu menakutkan karena dengan begitu aku bisa bersama dengan orang yang ku cintai dan tidak akan hati yang tersakiti.” Ucap Ayu tersenyum.


Afnan yang mendengar itu pun ikut tersenyum, “Harus aku akui kau mengambil keputusan yang hebat dalam hidupmu. Aku perlu belajar darimu untuk hal itu.” ucap Afnan.


Ayu pun tersenyum, “Ohiya, aku dengar suster Nayya sudah selesai dengan masa iddah nya. Apa kak Afnan sudah memikirkan rencana ke depan nya?” tanya Ayu.


Afnan yang mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Ayu pun tersenyum, “Aku baru saja dari kediaman nya barusan ini. Tapi ya begitu lah.” Ucap Afnan.


Ayu dan Raja yang mendengar itu pun tersenyum, “Saya dengar dari Ayu bahwa wanita yang anda cintai itu dulu nya adalah kekasih anda juga. Saya yakin sama seperti diri nya yang mungkin sangat mencintai mendiang suami nya saat ini dan mungkin akan sulit melupakan nya dan memilih menyimpan nya dalam hati nya. Maka kemungkinan nya juga dia melakukan hal yang sama saat kalian berpisah saat itu. Mungkin saja di sudut hati terdalam nya itu ada anda. Hanya saja saat ini sedang tertutup oleh perasaan nya kepada mendiang suami nya. Tapi walaupun begitu pasti ada celah untuk membangkitkan rasa itu kembali.” Ucap Raja.


Afnan yang mendengar itu pun tersenyum dan mengangguk-ngangguk, “Mungkin saja memang seperti itu. Tapi sebenar nya hal itu tidak juga penting. Kami bukan lagi di tahap seperti itu.”


“Aku hanya ingin jadi pelindung nya dan juga pelindung untuk ketiga anak nya itu. walaupun aku yakin tanpa siapa pun dia bisa menjaga dan melindung diri sendiri dan juga ketiga buah hati nya itu. Siapa yang tidak kenal dia. Dia adalah wanita karir yang sukses baik 7 tahun lalu maupun sekarang. Baik dia masih menjadi seorang gadis maupun sekarang dengan status baru nya. Dia tetap lah Nayyara yang hebat. Tapi aku tetap menginginkan nya untuk aku lindungi. Mungkin karena nama nya yang sudah memenuhi ruang hatiku. Aku tidak masalah jika dia mencintai suami nya atau tidak. Aku hanya menginginkan dia dalam penjagaanku. Aku ingin menepati janji yang di buat olehku kepada mendiang suami nya.” sambung Afnan lalu menyeruput minuman di hadapan nya itu.


“Apa mendiang suami nya itu membuat anda berjanji?” tanya Raja.


Afnan pun mengangguk, “Yah, seperti itu lah. Saat itu aku juga kaget dengan permintaan nya itu. Mana ada suami yang rela membagi istri nya dengan yang lain. Tapi dia adalah laki-laki yang tulus mencintai istri nya dengan cinta yang besar dan dalam hingga melakukan hal seperti itu. Jujur saja aku merasa rendah jika di bandingkan dengan suami nya itu yang bisa segala hal. Hampir sempurna sama dengan Nayya. Mereka adalah pasangan yang sepadan dan sempurna hanya saja takdir tidak begitu baik pada mereka hingga membuat pasangan itu terpisah.” Ucap Afnan.


Setelah mengatakan itu pun Afnan tertawa, “Maaf aku jadi curhat pada kalian. Sudah lah. Tidak perlu bahas aku. Kalian apa akan memutuskan menikah setelah ini?” tanya Afnan.


“Menikah? Mungkin saja. Kami masih ingin memperjuangkan restu dulu.” Ucap Raja.


“Semoga saja kalian akan segera mendapatkan nya.” ucap Afnan tulus.


“Doa yang sama untukmu juga kak. Aku yakin pasti akan ada takdir yang baik untukmu.” Ucap Ayu.


Afnan pun tersenyum, “Kami doakan agar semua yang kau rencanakan itu tercapai.” Sambung Raja.


“Aamiin. Makasih. Jika nanti aku menikah dengan nya. Kalian harus hadir di pernikahan kami.” ucap Afnan.


“Hum, tentu saja kami akan datang.” jawab Ayu dan Raja.


Afnan pun mengangguk dan tersenyum. Lalu setelah itu ketiga orang itu pun berbincang sebelum mereka memutuskan untuk melanjutkan tujuan mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2