
Waktu berputar cepat seperti permintaan Chandra. Semalaman ia tidak
nyenyak. Di pikirannya hanya Aleeya dan kebahagiaannya. Ia memakai kemeja putih
dan berhias ala pria tampan. Kemudian ia mengeluarkan 2 kotak perhiasan. Kotak
pertama adalah kalung bertuliskan huruf “CA” menjuntai indah. Chandra
menyiapkan kalung itu ketika melihat Aleeya sudah tak memakai kalung berhuruf “R”.
Juga ia melihat Aleeya menilik souvenir kalung dari ukiran bintang laut saat di
pantai. Chandra mengeluarkan kotak yang ke 2 yang berisi kalung bintang laut
kecil yang diukir dan bertuliskan huruf yang sama dengan kalung yang pertama.
Suasana wisuda sangat ramai meski matahari sudah di atas kepala. Sidang
senat terbuka tempat Chandra kuliah selesai. Tinggal acara berfoto dengan keluarga.
Chandra menarik tangan Aleeya untuk berfoto dengannya dan mamanya. Aleeya
menurut saja. Posisi Chandra di tengah dan dua perempuan di kanan dan kirinya.
Selesai berfoto, Tante Jogi sengaja keluar dari tempat foto hingga membuat
Aleeya merasa canggung.
“Kamu berdiri di sini.” Chandra menunjuk ke depan. Seikat bunga ia
pegang sementara Aleeya memegang tanda kelulusan Chandra. Aleeya sempat melihat
ke arah Chandra yang berdiri dekat dan di belakangnya.
“Kenapa harus begini? Malu dilihat orang.” Protes Aleeya.
“Ini hari bahagia aku. Please, do this one for me.” Chandra
mengeluarkan jurus wajah memelas.
Aleeya mengangguk. Ia tersenyum dan mengangkat tangan kanannya ke depan
yang memegang tanda kelulusan Chandra sedangkan Chandra memeluknya dari
belakang dan menyandarkan dagunya ke bahu Aleeya, tangan kirinya juga ikut
menunjukkan bunga sementara tangan kanannya melingkar di pinggang Aleeya. Jantung
Aleeya berdetak lebih kencang ketika Chandra memeluk dan melingkarkan
tangannya. Ia sempat terbengong sebelum ia disuruh fotografer tersenyum.
Tak cukup mengambil satu foto, Chandra membuka topi toga dan
memakaikannya pada Aleeya, ketika itu juga fotografer mengambil gamber mereka.
Sungguh terlihat romantis. Kebahagiaan insan tanpa mengungkapkan isi hati itu
diperhatikan seseorang dari kejauhan.
Intan menyapa setelah Chandra dan keluarganya kembali ke mobil yang
terparkir.
“Hai, Tante. Mama udah nunggu.”
“Oh iya, tunggu ya, Tante panggil Chandra dulu. Tadi dia di belakang
fakultas.”
Di belakang fakultas, Chandra menagih hadiah dari Aleeya.
“Hadiahnya mana?” Chandra meminta namun tangannya dipukul Aleeya.
“Ada di kontrakan.”
“Beneran ada? Alhamdulillah. Ntar aku ambil.”
Chandra merogoh kantong celananya. Ia tak menemukan kotak yang berisi
kalung dari bintang laut.
“Ada apa, Chan?” Aleeya bingung.
“Mana, ya?”
“Apa?”
“Ada deh.”
“Penting?”
Chandra mendengus dan kembali menatap Aleeya.
“Penting, sangat penting. Untuk seseorang yang sangat penting juga.”
__ADS_1
“Untuk siapa?” Aleeya mengecilkan matanya karena panas.
“Untuukk…” Ucapan Chandra terpotong.
“Chan, Tante Linda udah nunggu. Tadi Intan datang. Yok, ini saatnya
kamu ungkapkan semuanya.”
“Iya, Ma. Yuk. Al.” Chandra menggenggam tangan Aleeya. Aleeya mengikut
saja dengan segala pikiran yang menguras tenaga. Tatapannya kosong walau
tangannya digenggam Chandra.
“Semalam Chandra bilang dia bahagia banget. Juga bilang ada sesuatu
untuk seseorang yang sangat penting, dan di saat yang bersamaan Intan dan
keluarganya sedang menunggu Chandra. Apa ini pertemuan menentukan tanggal pernikahan?”
Hati Aleeya menciut dengan segala spekulasinya.
****
Di meja makan sebuah restaurant mewah, Papa dan Mama Intan duduk, di
seberangnya ada Tante Jogi. Aleeya duduk diantara Chandra dan Intan. Jantung
Aleeya masih bergetar. Ia masih mencoba membuat perkiraan, pertemuan apa
kiranya yang sedang ia hadapi.
Selesai makan, Reno, Papanya Intan memulai pembicaraan.
“Setelah lulus, kamu berencana apa, Chan?”
“Saya mau nikah dan buka usaha sesuai jurusan saya, Om.”
“Kamu, Tan?” Pak Reno beralih orang untuk ditanyai.
“Intan mau menikah dengan Chandra, Pa.” jawab Intan mantap. Sekalian ia
menatap tajam ke arah Aleeya.
Suasana hening. Chandra sudah menebak maksud Intan mengundangnya dengan
membawa keluarganya.
“Wah, bagus itu. Kapan kita bisa nentukan tanggalnya, Bu Jogi?” Linda,
Aleeya menyaksikan dua keluarga itu dengan tatapan pasrah. Ia tak mau
ikut campur. Meski hatinya sakit. Ia menyadari kalau ia sudah menyukai Chandra
sejak laki-laki itu menghiburnya saat ia patah hati. Saat ia digendong ke
pantai, saat ucapan menjadi suaminya dan terlebih lagi saat berfoto yang baru
saja terjadi. Gadis itu memahami setiap detakan jantungnya, detakan itu
perasaan jatuh cinta. Namun ia tak ingin memaknai perasaannya terlalu dalam
karena ia trauma.
“Boleh Saya bicara?”
Semua mengangguk.
“Saya memang mau menikah. Tapi, maaf om, tante, Saya mau menikah dengan
gadis yang Saya cintai.”
“Maaf? Maksudnya?” Intan terkejut.
“Maaf semuanya. Hubungan saya dengan Intan cuma teman. Intan, kita
sudah bicara soal ini, kan?” Chandra menatap tajam Intan.
“Tapi aku yakin kamu nggak serius, Chan.” Intan mulai menampakkan
kesedihannya.
“Terima kasih, Om, Tante. Saya menghargai kebaikan hati kalian karena
sudah mengajak kami makan siang. Acara makan sudah selesai, kami mau pamit
dulu.”
“Maaf, Mama dan Papanya Intan. Saya hanya mendukung perasaan anak
saya.”
Mama Chandra, Chandra dan Aleeya berdiri serentak. Papa dan Mama Intan menerima lapang dada apa yang dikatakan
Chandra. Namun sebelum tamu mereka itu pergi, Intan bersuara.
__ADS_1
“Apa perempuan ini, orang yang kamu cintai?” Intan menunjuk Aleeya.
“Dia Aleeya!” Jawab Chandra ketus.
Orang yang namanya disebut terkejut. Ucapan ambigu Chandra
membingungkan.
“Aku tak peduli siapa namanya, apa dia orangnya?” Intan semakin meninggikan
suaranya.
“Dia, Aleeya!” Jawaban Chandra bernada ambigu. Antara menjelaskan nama
perempuan yang ditunjuk Intan atau menjelaskan nama gadis yang ia cintai.
“Saya, Aleeya. Bukan si ini itu yang tidak punya nama.” Sahut Aleeya.
matanya menantang Intan. Lalu ia menarik tangan Tante Jogi dan Chandra. Secara
bersamaan Aleeya menunduk kepada kedua orang tua Intan tanda pamit.
Di bibir meja, Aleeya menunduk tampak tak semangat bekerja. Pikirannya
masih melayang pada kejadian 2 hari lalu. Ia masih mencoba mengartikan
kata-kata Chandra ketika ditanya Intan soal perempuan yang laki-laki jangkung
itu cintai. Aleeya tidak menyangka kalau Chandra benar-benar memutuskan
hubungan dengan Intan bahkan di depan kedua orang tua gadis itu.
“Dia, Aleeya! Maksudnya mau ngasih tau nama ku atau ngasih tau nama
orang yang dia cintai?” Aleeya berbisik.
“Kenapa aku berharap perempuan itu aku?” Aleeya menggeleng-geleng.
Hingga Aleeya tak menyadari di depan mejanya sudah hadir pria ganteng
dan tampak berwibawa dengan kemeja biru dan kacamata baca yang terkadang ia
pakai terkadang ia copot, Andi.
“Siang nanti, makan bareng?” Andi mengejutkan.
“Ha?” Aleeya bengong.
“Aleeya, kamu bisa makan siang dengan aku nanti?”
“Kenapa, Pak?”
“Ada yang ingin saya sampaikan.”
“Oh. Oke.”
Andi kembali ke ruangannya. Aleeya kembali duduk. Tiba-tiba whatsapp
dari Chandra muncul.
“Al, hari ini waktumu untukku. Tidak menerima penolakan.” Pesan
Chandra.
“Untuk apa? Aku ada janji sama teman. Sorry.” Balas Aleeya.
Siang itu langit mendung, gerimis pun mulai turun. Aleeya tetap
memenuhi janjinya untuk datang ke kafe dekat kantor.
“Aleeya, tunggu!” Aleeya menoleh ke belakang. Andi mengembangkan payung
dan berbagi dengan Aleeya yang sudah kena gerimis.
“Pak, tau nggak kita ini sedang apa?”
Mereka tetap berjalan. Gerimis melanda hati Andi. Gadis yang ia sukai
sejak pertama bekerja di tempat barunya itu. Senyum ikhlas tanpa dibuat-buat
membuat ia jatuh hati pada gadis itu.
“Pak? Bapak dengar saya?” Aleeya mengejutkan Andi, pria itu tersenyum
sendiri.
“Tau, kita sedang jalan mau makan siang.” Jawab Andi polos.
“Bukan-bukan. Tapi sedang ngikuti drama korea. Berpayung saat gerimis.”
Ujar Aleeya lalu ia tertawa begitu juga Andi.
bersambung...
Selamat membaca kisah ini pemirssaaa...
__ADS_1