Takdir Kedua

Takdir Kedua
27


__ADS_3

Kini Nayya sudah di pindahkan ke kamar Risam di kediaman mami Vega dan papi Lutfi itu. Mami Vega segera memberikan aromaterapi kepada Nayya itu yang terasa dingin.


“Mih, kita telpon saja mama Fara. Mereka harus tahu kondisi Nayya.” Ucap Adiba yang masih saja takut karena melihat Nayya yang tidak sadarkan diri dan terbaring di atas makam Risam.


Mami Vega pun mengangguk. Adiba segera turun untuk mengambil ponsel, “Kita bawa saja dia ke rumah sakit mih. Kita jangan mengambil resiko untuk ini.” ucap papi Lutfi.


Mami Vega pun kembali mengangguk menyetujui. Papi Lutfi segera menyiapkan mobil.


***


Di sisi lain, kini di kediaman Ayu terjadi kehebohan karena mempelai perempuan tidak ada di kediaman. Bisa di pastikan bahwa mempelai perempuan lari dari pertunangan nya.


“Ada apa jeng?” tanya mami Rana kepada ibu Luvia yang mendadak pucat dan marah sekaligus setelah tahu bahwa Ayu tidak berada di kamar nya.


Dia tidak menyangka bahwa Ayu akan melakukan hal ini. Melakukan hal yang membuat malu keluarga.


“Apa Ayu lari dari pertunangan ini?” tanya Ivana sinis.


“Jika memang iya maka harus akui akui bahwa Ayu adalah gadis cerdas yang tidak ingin terikat dengan aturan perjodohan aneh hanya demi sebuah kehormatan.” Sambung Ivana.


Ibu Luvia yang bisa mendengar perkataan Ivana itu pun hanya bisa menahan kemarahan nya itu dengan mengepalkan tangan nya erat. Dia sudah malu dengan apa yang di lakukan oleh Ayu itu. Dia bersumpah akan menghukum anak itu jika kembali.


“Sudah lah kak Afnan, jika memang mempelai wanita nya tidak ada di sini maka lebih baik kita pulang saja. Untuk apa melanjutkan pertunangan ini. Ohiya satu lagi pertunangan ini juga batal karena mempelai perempuan tidak ada di sini yang sudah jadi bukti bahwa dia tidak menginginkan pertunangan ini sama seperti kak Afnan. Jadi untuk apa memaksakan sesuatu yang memang tidak di inginkan.” Ucap Ivana lagi.


“Sudah dek. Diam. Jangan bicara lagi.” Ucap Afnan.


“Tante, apa Ayu memang benar pergi?” tanya Afnan lembut menatap ibu Luvia itu penuh hormat.


“Ini yang kamu mau bukan? Apa kamu yang memaksa nya melarikan diri karena kau juga tidak menginginkan pertunangan ini. Ahh bukan atau mungkin saja kau yang sudah menculik nya dan menyembunyikan nya di suatu tempat.” Tuduh ibu Luvia kesal.


“Jangan sembarangan menuduh putraku Luvia. Dia bertanya baik-baik. Kami tidak tahu menahu terkait Ayu. Kami datang ke sini murni untuk melanjutkan pertunangan antara anak kita. Memang tidak kami pungkiri bahwa kami menginginkan pembatalan perjodohan tapi saat kau menolak hal itu dan kita sepakat lagi untuk melanjutkan perjodohan maka kami mengikuti semua nya dan kami tidak akan melakukan hal yang bisa membuat malu keluarga kita.” Ucap mami Rana tidak terima putra nya di tuduh begitu saja.


Mereka menjadi tontonan para tamu undangan yang mulai berbisik sana dan sini. Seperti nya pertunangan kali ini akan jadi bahan gosip ibu-ibu nanti. Pertunangan yang penuh drama dan dapat di pastikan bahwa perjodohan di antara mereka pun gagal karena semua nya sudah tidak ada harapan lagi. Kedua keluarga sudah saling berlawanan satu sama lain.


Jika di pelaminan yang di sediakan sedang terjadi perdebatan antara pihak keluarga Ayu dan pihak keluarga Afnan. Maka lain hal nya yang terjadi pada mama Fara yang hanya jadi penonton saja dan mendengarkan ibu-ibu yang mulai bergosip.


“Apa ini adalah kesempatan yang di berikan takdir untuk kalian nak?” batin mama Fara tersenyum tipis memikirkan Nayya dan Afnan yang mungkin bisa bersatu lagi. Memang sangat jahat memang pikiran mama Fara tapi tidak dia pungkiri bahwa dia menginginkan akan ada takdir kedua untuk kebahagiaan putri nya.


Di tengah lamunan nya, ponsel mama Fara berdering. Mama Fara pun segera mengambil ponsel nya dari tas nya itu lalu dia mengerutkan kening melihat siapa yang memanggil.


“Siapa mah?” tanya papa Imran.


“Adiba pah.” Jawab mama Fara.


“Jawab mah. Mungkin penting. Tidak biasa nya Adiba menelpon kita jika bukan sesuatu yang penting.” ucap papa Imran.


Mama Fara pun mengangguk dan segera menjawab panggilan Adiba itu.


“Halo, Assalamu’alaikum nak!” salam mama Fara.


“Wa’alaikumsalam mama Fara. Ini Diba. Diba hanya mau mengatakan bahwa Nayya pingsan di makam Risam. Kini papi dan mami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Nayya terlihat dingin.” Jelas Adiba to the point dengan suara yang bergetar karena takut dan khawatir.


“Apa? Nayya pingsan. Ahh mama akan ke sana nak. Tolong usahakan yang terbaik untuk nya.” teriak mama Fara kaget dan hampir saja dia terjatuh tapi untung saja papi Imran menahan beban mama Fara.


Sambungan telepon segera terputus, “Pah, Nayya. Kita ke rumah sakit sekarang.” Ucap mama Fara menatap sang suami.

__ADS_1


Papa Imran hanya mengangguk saja lalu dia segera menggandeng mama Fara keluar dari lokasi pertunangan itu dan mereka segera menuju mobil.


Afnan di sana di pelaminan yang memang tidak mengalihkan pendengaran nya dari mama Fara dan papa Imran sejak tadi pun mendengar apa yang di bicarakan mama Fara. Afnan segera turun dari pelaminan bahkan dia mengabaikan teriakan keluarga nya. Dia segera menuju mobil nya dan segera mengikuti mobil mama Fara.


“Kakakmu mau kemana Ivana?” tanya mami Rana memandang ke arah putri nya itu.


Ivana menggeleng tidak tahu tapi kemudian dia menatap ke arah tempat duduk di mana mama Fara dan papa Imran tadi duduk. Ivana juga melihat mobil mama Fara dan papa Imran yang sudah tidak ada. Kini dapat dia pastikan bahwa kakak nya itu pergi menyusul mereka. Entah apa yang sudah terjadi hingga kakak nya itu pergi dan meninggalkan perdebatan pertunangan nya yang belum selesai.


Tidak lama setelah itu pun mami Rana dan papi Riyad sekeluarga segera pulang meninggalkan kediaman Ayu. Mereka pergi setelah memastikan bahwa perjodohan batal. Para tamu undangan pun sudah pada pergi dengan membawa kegagalan pertunangan hari ini tentu nya.


“Kakak kemana Ivana?” tanya Efnan yang kini semobil dengan orang tua mereka.


“Mungkin saja ada yang terjadi dengan kak Nayya. Bukan kah kita melihat kedua orang tua kak Nayya tadi pergi terburu-buru bahkan tidak pamit.” Jawab Ivana.


“Hubungi kakak kalian itu Ivana.” Perintah mami Rana setelah mendengar ucapan putri nya itu.


Ivana pun mengangguk dan segera menelpon kakak sulung nya itu yang panggilan pertama dan kedua tidak di jawab. Baru lah panggilan ketiga di jawab.


“Halo, Assalamu’alaikum kak!” ucap Ivana.


“Wa’alaikumsalam dek. Kakak tahu kenapa kau menelpon. Kakak sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Sampaikan kepada mami dan papi seperti itu. Sampaikan juga maaf kakak yang pergi begitu saja sebelum masalah selesai. Tapi ini penting. Ini terkait Nayya. Kakak tidak akan bisa memaafkan diri kakak jika ada yang terjadi pada Nayya.” Ucap Afnan menjelaskan semua nya lalu setelah itu sambungan telepon pun segera terputus.


“Ada apa dengan Nayya?” tanya mami Rana.


Ivana pun menggeleng, “Tidak tahu mih. Kakak juga seperti nya tidak tahu. Sudah lah biarkan saja kakak melihat kak Nayya. Biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan. Lagi pula perjodohan dengan Syu pun sudah batal. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi. Kita tinggal menunggu kak Nayya menyelesaikan masa iddah nya saja.” ucap Ivana.


***


Di sisi Nayya, kini dia sedang dalam perjalanan di mobil dengan mami Vega yang mencoba menghangatkan tubuh Nayya yang dingin.


“Ada apa denganmu nak? Kenapa kau bisa pingsan di makam Risam? Apa kau sangat merindukan nya. Risam jika memang kau melihat keberadaan istrimu saat ini, mami mohon tolong jangan ganggu dia. Kasihan dia nak.” ucap mami Vega.


Setengah jam kemudian, akhirnya mereka tiba di rumah sakit dan di sana sudah ada Diaz yang menunggu karena memang mama Fara sudah menghubungi menantu nya itu. Mama Fara juga sudah menghubungi mami Vega sehingga mereka juga membawa Nayya ke rumah sakit di mana Diaz berada.


Perawat segera mengambil alih Nayya dan mereka segera membawa Nayya menuju unit gawat darurat untuk mendapatkan penanganan cepat.


“Diaz, apa dia akan baik-baik saja nak?” tanya mami Vega khawatir.


Diaz tersenyum melihat kekhawatiran di wajah mami Vega itu. Dia tidak menyangka bahwa keluarga suami kakak ipar nya itu tidak menyalahkan Nayya dan justru menyayangi Nayya walaupun putra mereka sudah tiada.


“Ibu tenang saja. Kak Nayya pasti akan baik-baik saja. Dia seperti nya hanya mengalami gejala hipotermia. Untung saja ibu sudah membungkus tubuh kak Nayya dengan baik.” ucap Diaz.


“Lakukan yang terbaik untuk nya nak.” timpal papi Lutfi. Diaz pun hanya mengangguk dan tersenyum.


Tidak lama mama Fara dan papa Imran juga tiba bertepatan dengan dokter dan perawat yang keluar dari ruangan UGD itu.


“Bagaimana dokter keadaan putri kami?” tanya mama Fara khawatir.


“Tenang saja nyonya. Putri anda baik-baik saja. Dia mengalami hipotermia. Kini suhu tubuh nya sedang di jaga. Dia juga akan menjalani donor darah. Kami akan melakukan nya jika tuan dan nyonya mengizinkan.”


“Lakukan saja yang terbaik dokter.” Ucap papa Imran.


“Tentu. Tapi masalah nya golongan darah yang cocok untuk putri kalian itu masih kosong.” Ucap dokter itu.


“Golongan darah nya apa dokter?” tanya Diaz.

__ADS_1


“A rhesus negative.” Jawab dokter.


Mama Fara menatap sang suami yang memang memiliki golongan darah yang sama dengan putri sulung mereka itu. Hanya Nayya yang mengikuti golong darah papa Imran. Rayya dan Zayya memiliki golongan darah yang sama dengan nya yaitu B.


“Jika begitu ambil darah saya saja dokter.” Ucap papi Imran.


“Tidak bisa pah. Papa tidak bisa mendonorkan darah untuk kakak ipar.” Ucap Diaz.


“Tidak apa-apa Diaz. Nayya harus sembuh.” Ujar papa Imran.


“Biar saja saja papa Imran.” Ucap Afnan yang tiba-tiba sudah berada di sana.


“Ambil darah saya saja dokter. Berapa pun yang di butuhkan ambil saja. Saya sehat dan golongan darah saya sama dengan nya. A rhesus negative.” Sambung Afnan menatap dokter.


“Baiklah. Anda ikut perawat dulu untuk melakukan pengecekkan.” Ucap dokter itu. Afnan pun segera mengangguk dan mengikuti perawat.


“Dia akan di pindahkan ke ruang perawatan. Tidak perlu khawatir. Suhu tubuh nya saja yang di jaga agar tetap hangat.” Ucap dokter itu.


“Terus kenapa dia bisa pingsan dokter?” tanya mami Vega penasaran.


Nayya selama ini selalu sehat dan tidak pernah pingsan. Dia selalu tangguh merawat Risam selama ini. Banyak usaha yang di lakukan Nayya untuk kesembuhan Risam selama ini.


“Itu di sebabkan oleh suhu tubuhnya yang kurang dan juga tekanan darah nya yang rendah. Selain itu juga di picu dengan pikiran nya yang kemungkinan besar memikirkan hal yang berat.” Ucap dokter.


“Apa tidak ada yang membahayakan untuk nya?” tanya mama Fara khawatir.


Dokter pun tersenyum, “Tenang saja tidak ada yang perlu di takutkan.” Jawab dokter. Lalu setelah menjelaskan semua nya dokter pun segera pamit ke ruangan nya.


***


Tidak lama setelah itu juga Nayya segera di pindahkan ke ruang perawatan.


“Terima kasih jeng sudah membawa Nayya ke rumah sakit.” Ucap mama Fara kepada besan nya itu.


“Tidak perlu berterima kasih. Dia juga masih putri kami. Menantu kami yang kami sayangi. Untung saja Diba datang untuk melihat nya. Jika tidak mungkin kami tidak tahu dia pingsan di sana.” Ucap mami Vega.


“Pantas saja dia terlihat tadi. Mungkin saja ini firasat burukku pah. Aku merasa sangat khawatir tadi saat dia pamit untuk ke makam Risam.” Ucap mama Fara menatap sang putri yang juga masih belum sadar karena pengaruh obat yang di berikan pada nya.


Tidak lama perawat datang dengan satu kantong darah dan dia pun segera mengganti cairan infus dengan darah.


“Suster, di mana laki-laki tadi?” tanya mama Fara.


“Saya di sini mah.” ujar Afnan masuk ke dalam ruang perawatan Nayya itu.


“Nak duduklah. Kau baru saja mendonorkan darahmu untuk nya. Kenapa sudah berjalan ke sini. Ayo duduk.” Ucap papa Imran.


Afnan pun menurut dan duduk di kursi yang ada di sana. Afnan menatap kedua orang mertua Nayya itu dan tersenyum canggung. Mami Vega dan papi Lutfi pun tersenyum juga membalas nya.


“Terima kasih nak sudah mendonorkan darah untuk Nayya.” Ucap mama Fara.


“Tidak perlu berterima kasih. Saya senang bisa mendonorkan darah untuk nya.” ucap Afnan.


Mama Fara pun tersenyum saja dan menatap putri nya yang masih setia menutup mata nya.


Setelah itu mami Vega dan papi Lutfi pamit pulang setelah menunggu cukup lama dan Nayya masih juga belum bangun.

__ADS_1


“Nak, kau pulang lah dulu. Kasihan acaramu batal dengan kepergianmu ke sini.” Ucap mama Fara.


“Ini tidak berhubungan dengan Nayya. Itu memang sudah kehendak nya untuk batal.” Timpal Afnan.


__ADS_2