
Chandra menarik paksa dan membawa Intan ke koridor rumah sakit.
“Jadi Aleeya masih perawan?” Intan tampak kesal.
Mendengar ucapan Intan, amarah Chandra naik.
“Jaga mulut kamu, Tan? Mana Intan dulu yang selalu elegan? Yang selalu
bersikap baik?” Bentak Chandra kemudian ia berbalik arah.
“Intan yang baik dan sopan itu sudah hilang seiring hilangnya cintanya!
Kamu yang bikin aku begini, Chan!” Kata-kata Intan membuat Chandra tak
melanjutkan langkahnya.
“Apa? You lose your mind!”
“Absolutely! Because of you!” Teriak Intan.
“Aku kira kamu akan simpati mendengar kabar ini. Ternyata kamu bahagia.
Aku nggak nyangka.” Chandra menggeleng.
“Aku tak sebaik itu, Chandra! Kalau perempuan itu sudah dilecehkan, aku
yakin kamu nggak bakal peduli sama dia lagi.”
Dengan penuh emosi Chandra melayangkan tangannya. Namun ia hentikan
saat tamparan sudah hampir ke wajah Intan.
“Kamu salah besar! Aku mencintai Aleeya apapun keadaannya. Dan Tuhan
masih melindungi cinta kami.”
Intan diam membisu begitu Chandra mengatakan kata cinta, kata cinta
yang bukan untuknya. Air matanya pun keluar tanpa izin.
****
Saat malam, Aleeya tak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Bayangan
saat Andi menggantikannya untuk menerima hantaman kayu keras masih jelas di
ingatan. Ia melihat wajah Andi berlumuran darah serta kaki yang dipaksakan
untuk berlari terasa sakit bagi Aleeya. Gadis itu bolak balik karena tak
tenang. Rasa hutang nyawa pada Andi menjadi beban pikirannya.
Sudah pukul 9 malam, kedua perempuan yang menjaga Aleeya sudah kembali
pulang. Tante Jogi dan Ibunya istirahat di rumah karena Chandra memintanya.
Chandra masuk dan mengejutkan Aleeya. Setelah beberapa mendapat perawatan luka
di wajah dan lengan, juga perawatan mental, Aleeya tak lagi takut bertemu
dengan laki-laki.
“Kenapa belum tidur?” Chandra duduk di samping Aleeya.
Gadis itu tak menghiraukan. Ia memunggungi Chandra kemudian menutup dirinya
dengan selimut. Air mata pun tak terbendung. Aleeya merasa bersalah pada
Chandra karena tak mendengar kata-kata laki-laki yang diam-diam ia cintai.
Aleeya tak bisa membayangkan andai penjahat itu berhasil memuaskan nafsu pada
dirinya. Apa lagi yang harus ia berikan pada Chandra, laki-laki yang ia
inginkan menjadi suaminya.
“Al, kita keluar sebentar?”
“Buat apa?” Jawab Aleeya usai menyeka air mata.
Chandra membuka selimut yang menutupi wajah Aleeya.
“Buat kita. Aku rindu kamu, Al.” Chandra mengelus pipi memar Aleeya.
Malam itu langit berlukiskan bintang-bintang. Bulan dikepung kelap
kelip bintang tampak indah dengan kilau cahayanya. Seolah benda langit
bercahaya ketika malam itu menyaksikan dua insan sedang melepas rindu. Chandra
membawa Aleeya ke taman kecil rumah sakit. Aleeya menyandarkan kepalanya ke
__ADS_1
bahu Chandra. Tak ayal, Chandra langsung memeluk gadis itu. Mereka melepaskan
rindu yang memuncak. Hembusan angin menambah syahdunya pelukan sepasang kekasih
itu. Deru detakan jantung bertemu. Mengungkapkan perasaan yang bersarang di
relung hati, Chandra akhirnya mencium kening Aleeya untuk pertama kalinya.
“Al, menikahlah denganku.” Ujar
Chandra usai melepaskan pelukannya.
Aleeya membisu. Ia yakin Chandra akan mengatakan kalimat yang ingin ia
impikan. Bahagia rasanya ketika orang yang ia cintai juga mencintainya. Namun
ada hal yang membuat gadis itu ragu. Bukan ragu pada perasaan cinta yang
dimiliki Chandra. Melainkan rasa bersalah dan hutang budinya pada Andi.
“Aku nggak bisa, Chan!” Aleeya menjauh dari sisi Chandra.
“Karena Andi?” laki-laki itu berdiri.
“Bukan. Karena aku tidak mencintaimu!”
“Bohong! Jangan tipu perasaanmu sendiri, Al!”
“Inilah kenyataannya!”
Chandra tak percaya sedikitpun. Ia tahu betul, cintanya tak bertepuk
sebelah tangan. Chandra berlutut di hadapan Aleeya yang masih duduk di bangku
taman.
“Kamu bohong, Al. Kamu juga mencintai aku. Aku yakin itu!”
“Lebih baik kamu pulang, Chandra!” Aleeya menarik tangan Chandra dari
lututnya.
“Aku tidak akan melepaskanmu.”
Bulir air mata dari keduanya mengalir mengikuti irama detakan jantung
yang semakin sesak.
takdir yang kau impikan.”
Chandra menggenggam tangan Aleeya ketika gadis itu beranjak.
“Tolong Chan. Tolong jangan menambah beban hatiku.”
“Jangan pergi, Al!” Chandra memeluk Aleeya dari belakang. Ia mencoba
menahan gadis itu.
“Ku harap kamu mengerti aku, Chan.” Tangis Aleeya. Gadis itu pergi saat
Chandra melepaskan pelukannya.
“Aku jatuh cinta dalam hitungan jam kita bertemu. Bertahun-tahun aku
menunggu, menunggu ketidakpastian dari orang asing yang aku cintai. Bahkan
sedikitpun mata ini tak melirik perempuan. Dan setelah bertemu, kamu pikir
semudah itu aku melepaskannya? Kamu takdirku, Al.” Tangis laki-laki itu.
Chandra menjadi mellow dan mendramatisir. Cinta memang begitu, sanggup mengubah
orang sedingin Chandra menjadi pujangga.
“Apakah akan bertemu lagi? Apakah cinta ini bisa pergi? Apakah si orang
asing itu merasakan getaran cinta ini? Adakah takdir kedua? Takdir yang
mempertemukan aku dan dia kembali?” Lanjut Chandra menghentikan langkah kaki
Aleeya.
Dengan berurai air mata, Aleeya bersuara.
“Cinta tak selalu berakhir bahagia. Jika bersama menimbulkan luka, maka
itu bukan cinta, Chandra.” Balas Aleeya kemudian ia kembali ke kamarnya.
Langit malam yang terang benderang kembali menghitam ditutup awan.
Menghalangi jalan cinta seseorang yang tak tau tujuan.
__ADS_1
Aleeya masuk ke ruangan Andi. Seolah-olah luka laki-laki koma itu ikut
ia rasakan. Aleeya masih tak percaya Andi rela bertaruh nyawa untuk
melindunginya. Pengorbanan besar itu menghalangi Aleeya untuk menerima lamaran
Chandra.
“Kenapa Bapak lakukan itu, Pak?” tangis Aleeya.
“Kenapa Bapak melindungi saya? Apa yang harus saya lakukan untuk
membalasnya, Pak? Saya tak bisa menerima Chandra karena Bapak! Kebaikan bapak melarang
saya.” Aleeya menangis di samping Andi.
Setelah mengeluarkan isi hatinya, Aleeya kembali ke kamar. Ditinggalkan
orang yang dicintai rasanya seperti neraka dunia menjelma di setiap detiknya.
Tak ada kebahagiaan, tak ada ketenangan. Yang ada hanya rasa sakit
yangmenggerogoti hati. Benarlah kata penyair, jangan terlalu mencinta, jika
akhirnya tak bersama maka lautan luka menenggelamkan jiwa.
****
Matahari kembali menerangi, namun tak bisa menerangi kegelapan hati
insan yang patah hati. Pria jangkung itu membuka harinya penuh optimis. Ia
berencana untuk menyelidiki kejadian yang menimpa Aleeya. Secepat kilat motor
kerennya sampai di kantor polisi.
“Kedua pelaku berhasil kabur dari sergapan polisi. Sepertinya mereka
dibantu seseorang untuk menghilang dari kota ini.” Jelas polisi.
“Apa Bapak punya sedikit saja bukti kalau mereka disuruh orang lain?”
“Penjahat itu residivis tahanan sini, saya yakin mereka tidak memiiki
biaya cukup untuk keluar dari kota ini. Selain itu, kami menemukan cctv mereka
berbicara dengan seseorang berada di depan gedung tempat pertemuan bapak Andi
dan Ibu Aleeya. Mereka sudah diintai sejak dari awal, bahkan sebelum mereka
pergi untuk pekerjaaan itu. Coba Bapak lihat ini.” Pak polisi mempersilakan
Chandra untuk mengamati 2 cctv berbeda.
Dari cctv itu, terlihat Aleeya memasuki mobil Andi di persimpangan
jalan. Tak jauh dari belakang mobil itu 2 orang bertopeng hitam seperti pencuri
tampak memperhatikan, salah satunya sedang berbicara di telepon. Chandra
beralih ke rekaman cctv dari gedung Aleeya melakukan pertemuan soal
pekerjaannya. Seseorang dengan 2 laki-laki yang mencelakai Aleeya sedang
berbicara serius. Chandra tak bisa mengenali orang itu. Para pelaku dan si
perencana sudah mengantisipasi dengan baik agar mereka tak ketahuan. Seseorang
seperti memberi instruksi kepada 2 pelaku itu berpostur badan tinggi, namun
badannya tidak sebesar 2 penjahat itu. Masker hitam dan topi cukup untuk
menutupi wajahnya.
Chandra tak menemukan petunjuk dari 2 rekaman tu. Ia mendengus.
Menghempaskan beban hati dan pikiran. Ia masih merasakan hangatnya saat ia
mencium kening Aleeya. Kehangatan itu berubah ketika ia mengingat Aleeya
meninggalkannya saat itu juga.
“Aleeya, aku tau kamu meninggalkanku karena rasa bersalah pada Andi.
Semoga ada jalan untuk kita bersatu.” Bisik Chandra.
bersambung...
Biarlah tokoh-tokoh odor yang merasakan cinta. Odor support mereka menikahhh, walaupun harus mendahului odor sendiri. (Kayak eternal monarch ajee. melihat diri sendiri di masa lalu dan depan. gaje amat yak.)
Okelah. meskipun readers jarang maen di mari, odor tetap sayang kalian. odor juga ngerti kok, kalian juga sibuk sama tulisan kalian. semangat buat odor-odor lain...
__ADS_1