Takdir Kedua

Takdir Kedua
Episode 12


__ADS_3

Chandra menarik paksa dan membawa Intan ke koridor rumah sakit.


“Jadi Aleeya masih perawan?” Intan tampak kesal.


Mendengar ucapan Intan, amarah Chandra naik.


“Jaga mulut kamu, Tan? Mana Intan dulu yang selalu elegan? Yang selalu


bersikap baik?” Bentak Chandra kemudian ia berbalik arah.


“Intan yang baik dan sopan itu sudah hilang seiring hilangnya cintanya!


Kamu yang bikin aku begini, Chan!” Kata-kata Intan membuat Chandra tak


melanjutkan langkahnya.


“Apa? You lose your mind!”


“Absolutely! Because of you!” Teriak Intan.


“Aku kira kamu akan simpati mendengar kabar ini. Ternyata kamu bahagia.


Aku nggak nyangka.” Chandra menggeleng.


“Aku tak sebaik itu, Chandra! Kalau perempuan itu sudah dilecehkan, aku


yakin kamu nggak bakal peduli sama dia lagi.”


Dengan penuh emosi Chandra melayangkan tangannya. Namun ia hentikan


saat tamparan sudah hampir ke wajah Intan.


“Kamu salah besar! Aku mencintai Aleeya apapun keadaannya. Dan Tuhan


masih melindungi cinta kami.”


Intan diam membisu begitu Chandra mengatakan kata cinta, kata cinta


yang bukan untuknya. Air matanya pun keluar tanpa izin.


****


Saat malam, Aleeya tak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Bayangan


saat Andi menggantikannya untuk menerima hantaman kayu keras masih jelas di


ingatan. Ia melihat wajah Andi berlumuran darah serta kaki yang dipaksakan


untuk berlari terasa sakit bagi Aleeya. Gadis itu bolak balik karena tak


tenang. Rasa hutang nyawa pada Andi menjadi beban pikirannya.


Sudah pukul 9 malam, kedua perempuan yang menjaga Aleeya sudah kembali


pulang. Tante Jogi dan Ibunya istirahat di rumah karena Chandra memintanya.


Chandra masuk dan mengejutkan Aleeya. Setelah beberapa mendapat perawatan luka


di wajah dan lengan, juga perawatan mental, Aleeya tak lagi takut bertemu


dengan laki-laki.


“Kenapa belum tidur?” Chandra duduk di samping Aleeya.


Gadis itu tak menghiraukan. Ia memunggungi Chandra kemudian menutup dirinya


dengan selimut. Air mata pun tak terbendung. Aleeya merasa bersalah pada


Chandra karena tak mendengar kata-kata laki-laki yang diam-diam ia cintai.


Aleeya tak bisa membayangkan andai penjahat itu berhasil memuaskan nafsu pada


dirinya. Apa lagi yang harus ia berikan pada Chandra, laki-laki yang ia


inginkan menjadi suaminya.


“Al, kita keluar sebentar?”


“Buat apa?” Jawab Aleeya usai menyeka air mata.


Chandra membuka selimut yang menutupi wajah Aleeya.


“Buat kita. Aku rindu kamu, Al.” Chandra mengelus pipi memar Aleeya.


Malam itu langit berlukiskan bintang-bintang. Bulan dikepung kelap


kelip bintang tampak indah dengan kilau cahayanya. Seolah benda langit


bercahaya ketika malam itu menyaksikan dua insan sedang melepas rindu. Chandra


membawa Aleeya ke taman kecil rumah sakit. Aleeya menyandarkan kepalanya ke

__ADS_1


bahu Chandra. Tak ayal, Chandra langsung memeluk gadis itu. Mereka melepaskan


rindu yang memuncak. Hembusan angin menambah syahdunya pelukan sepasang kekasih


itu. Deru detakan jantung bertemu. Mengungkapkan perasaan yang bersarang di


relung hati, Chandra akhirnya mencium kening Aleeya untuk pertama kalinya.


 “Al, menikahlah denganku.” Ujar


Chandra usai melepaskan pelukannya.


Aleeya membisu. Ia yakin Chandra akan mengatakan kalimat yang ingin ia


impikan. Bahagia rasanya ketika orang yang ia cintai juga mencintainya. Namun


ada hal yang membuat gadis itu ragu. Bukan ragu pada perasaan cinta yang


dimiliki Chandra. Melainkan rasa bersalah dan hutang budinya pada Andi.


“Aku nggak bisa, Chan!” Aleeya menjauh dari sisi Chandra.


“Karena Andi?” laki-laki itu berdiri.


“Bukan. Karena aku tidak mencintaimu!”


“Bohong! Jangan tipu perasaanmu sendiri, Al!”


“Inilah kenyataannya!”


Chandra tak percaya sedikitpun. Ia tahu betul, cintanya tak bertepuk


sebelah tangan. Chandra berlutut di hadapan Aleeya yang masih duduk di bangku


taman.


“Kamu bohong, Al. Kamu juga mencintai aku. Aku yakin itu!”


“Lebih baik kamu pulang, Chandra!” Aleeya menarik tangan Chandra dari


lututnya.


“Aku tidak akan melepaskanmu.”


Bulir air mata dari keduanya mengalir mengikuti irama detakan jantung


yang semakin sesak.


takdir yang kau impikan.”


Chandra menggenggam tangan Aleeya ketika gadis itu beranjak.


“Tolong Chan. Tolong jangan menambah beban hatiku.”


“Jangan pergi, Al!” Chandra memeluk Aleeya dari belakang. Ia mencoba


menahan gadis itu.


“Ku harap kamu mengerti aku, Chan.” Tangis Aleeya. Gadis itu pergi saat


Chandra melepaskan pelukannya.


“Aku jatuh cinta dalam hitungan jam kita bertemu. Bertahun-tahun aku


menunggu, menunggu ketidakpastian dari orang asing yang aku cintai. Bahkan


sedikitpun mata ini tak melirik perempuan. Dan setelah bertemu, kamu pikir


semudah itu aku melepaskannya? Kamu takdirku, Al.” Tangis laki-laki itu.


Chandra menjadi mellow dan mendramatisir. Cinta memang begitu, sanggup mengubah


orang sedingin Chandra menjadi pujangga.


“Apakah akan bertemu lagi? Apakah cinta ini bisa pergi? Apakah si orang


asing itu merasakan getaran cinta ini? Adakah takdir kedua? Takdir yang


mempertemukan aku dan dia kembali?” Lanjut Chandra menghentikan langkah kaki


Aleeya.


Dengan berurai air mata, Aleeya bersuara.


“Cinta tak selalu berakhir bahagia. Jika bersama menimbulkan luka, maka


itu bukan cinta, Chandra.” Balas Aleeya kemudian ia kembali ke kamarnya.


Langit malam yang terang benderang kembali menghitam ditutup awan.


Menghalangi jalan cinta seseorang yang tak tau tujuan.

__ADS_1


Aleeya masuk ke ruangan Andi. Seolah-olah luka laki-laki koma itu ikut


ia rasakan. Aleeya masih tak percaya Andi rela bertaruh nyawa untuk


melindunginya. Pengorbanan besar itu menghalangi Aleeya untuk menerima lamaran


Chandra.


“Kenapa Bapak lakukan itu, Pak?” tangis Aleeya.


“Kenapa Bapak melindungi saya? Apa yang harus saya lakukan untuk


membalasnya, Pak? Saya tak bisa menerima Chandra karena Bapak! Kebaikan bapak melarang


saya.” Aleeya menangis di samping Andi.


Setelah mengeluarkan isi hatinya, Aleeya kembali ke kamar. Ditinggalkan


orang yang dicintai rasanya seperti neraka dunia menjelma di setiap detiknya.


Tak ada kebahagiaan, tak ada ketenangan. Yang ada hanya rasa sakit


yangmenggerogoti hati. Benarlah kata penyair, jangan terlalu mencinta, jika


akhirnya tak bersama maka lautan luka menenggelamkan jiwa.


****


Matahari kembali menerangi, namun tak bisa menerangi kegelapan hati


insan yang patah hati. Pria jangkung itu membuka harinya penuh optimis. Ia


berencana untuk menyelidiki kejadian yang menimpa Aleeya. Secepat kilat motor


kerennya sampai di kantor polisi.


“Kedua pelaku berhasil kabur dari sergapan polisi. Sepertinya mereka


dibantu seseorang untuk menghilang dari kota ini.” Jelas polisi.


“Apa Bapak punya sedikit saja bukti kalau mereka disuruh orang lain?”


“Penjahat itu residivis tahanan sini, saya yakin mereka tidak memiiki


biaya cukup untuk keluar dari kota ini. Selain itu, kami menemukan cctv mereka


berbicara dengan seseorang berada di depan gedung tempat pertemuan bapak Andi


dan Ibu Aleeya. Mereka sudah diintai sejak dari awal, bahkan sebelum mereka


pergi untuk pekerjaaan itu. Coba Bapak lihat ini.” Pak polisi mempersilakan


Chandra untuk mengamati 2  cctv berbeda.


Dari cctv itu, terlihat Aleeya memasuki mobil Andi di persimpangan


jalan. Tak jauh dari belakang mobil itu 2 orang bertopeng hitam seperti pencuri


tampak memperhatikan, salah satunya sedang berbicara di telepon. Chandra


beralih ke rekaman cctv dari gedung Aleeya melakukan pertemuan soal


pekerjaannya. Seseorang dengan 2 laki-laki yang mencelakai Aleeya sedang


berbicara serius. Chandra tak bisa mengenali orang itu. Para pelaku dan si


perencana sudah mengantisipasi dengan baik agar mereka tak ketahuan. Seseorang


seperti memberi instruksi kepada 2 pelaku itu berpostur badan tinggi, namun


badannya tidak sebesar 2 penjahat itu. Masker hitam dan topi cukup untuk


menutupi wajahnya.


Chandra tak menemukan petunjuk dari 2 rekaman tu. Ia mendengus.


Menghempaskan beban hati dan pikiran. Ia masih merasakan hangatnya saat ia


mencium kening Aleeya. Kehangatan itu berubah ketika ia mengingat Aleeya


meninggalkannya saat itu juga.


“Aleeya, aku tau kamu meninggalkanku karena rasa bersalah pada Andi.


Semoga ada jalan untuk kita bersatu.” Bisik Chandra.


bersambung...


 Biarlah tokoh-tokoh odor yang merasakan cinta. Odor support mereka menikahhh, walaupun harus mendahului odor sendiri. (Kayak eternal monarch ajee. melihat diri sendiri di masa lalu dan depan. gaje amat yak.)


Okelah. meskipun readers jarang maen di mari, odor tetap sayang kalian. odor juga ngerti kok, kalian juga sibuk sama tulisan kalian. semangat buat odor-odor lain...

__ADS_1


__ADS_2