Takdir Kedua

Takdir Kedua
16


__ADS_3

“Siapa yang mengawasi siapa pih?”


Papi Riyad segera menoleh dan menatap sang istri. Dia menggeleng, “Gak ada mih.” jawab papi Riyad.


“Afnan mana pih? Ke mana anak itu?” tanya mami Rana.


Papi Riyad pun mengangkat bahu nya tanda dia tak tahu, “Papi juga gak tahu dia ke mana.” Jawab papi Riyad.


Mami Rana yang mendengar jawaban yang suami pun menghela nafas nya berat, “Ini menyebalkan! Kenapa setiap jam segini dia menghilang entah kemana.” Ucap mami Rana melihat jam dinding yang menunjukan waktu yang sama Afnan sering menghilang tanpa tahu ke mana dia pergi.


“Memang dia sering menghilang di jam segini mih?” tanya papi Riyad memastikan sambil melangkah masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu.


Mami Rana pun mengangguk dan ikut duduk di sofa yang ada di ruangan itu, “Dia memang sering menghilang di jam segini. Entah ke mana.” Ucap mami Rana.


Papi Riyad pun diam sama dengan mami Rana yang juga ikut diam. Kedua nya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga kemudian mami Rana ingat sesuatu, “Apa dia mengawasi Nayya pih?” tanya mami Rana.

__ADS_1


Papi Riyad yang mendengar pertanyaan istri nya itu yang juga sama dengan pertanyaan yang saat ini bersarang dalam otak nya, “Seperti nya begitu. Masalah nya tadi dia baru pergi saat mobil Nayya lewat dan papi mengatakan bahwa Nayya sudah pulang ke sini. Tidak tinggal lagi di kediaman mertua nya. Lalu sebelum dia pergi dia melihat jam tangan nya itu dan terburu-buru pergi.” Jawan papi Riyad menjelaskan apa yang terjadi.


Mami Rana yang mendengar penjelasan suami nya itu pun seketika menarik nafas panjang, “Apa dia memang belum bisa melupakan Nayya pih? Tidak bisa kah dia menerima Ayu saja.” Ucap mami Rana.


Papi Riyad yang mendengar ucapan sang istri pun menatap istri nya itu lekat, “Kenapa mami mengajukan pertanyaan seperti itu pada papi? Bukan kah mami tahu sendiri apa jawaban nya. Dia tidak ingin menikah selain menikah dengan Nayya mih. Jadi kenapa masih bertanya dan berharap dia memiliki atau pun menerima Ayu. Mami hanya melakukan hal yang sia-sia saja. Selain juga papi yakin mami lah yang paling paham perasaan putra kita itu. Jadi jangan mengajukan pertanyaan seperti itu lagi mih.” ucap papi Riyad.


“Mami hanya ingin yang terbaik untuk nya pih. Dia masih belum menikah dan mana mungkin mami--”


“Jangan katakan status nya lagi mih. Nayya tetap gadis itu. Gadis yang kita impikan untuk jadi menantu kita. Kita sudah sering membahas ini. Kenapa mami masih juga tidak mengerti apa keinginan putra kita.” Ucap papi Riyad kesal lalu memilih meninggalkan istri nya itu. Sungguh dia kesal mendengar istri nya itu yang seperti nya sudah berubah tidak seperti dulu lagi yang tidak menilai seseorang karena status nya.


“Nayya adalah wanita yang sangat mencintai suami nya. Lalu bagaimana mungkin dia menerima pengganti lain untuk jadi suami nya itu, Dia sangat mencintai suami nya dengan sangat baik. Bagi seorang wanita pasti akan sangat sulit untuk melupakan orang yang dia cintai dan sangat berarti dalam hidup nya. Untuk itu lah mami memilih menjodohkan nya dengan Ayu. Selain itu juga mami belum punya alasan untuk membatalkan perjodohan itu. Mami sudah terlanjur memjodohkan putra kita. Jadi beri mami waktu untuk memperbaiki semua nya. Tapi tolong jangan menilaiku buruk. Mami sangat menyayangi Nayya baik dulu, kini dan mungkin di masa depan nanti.” Lanjut mami Rana.


***


Di sisi Nayya, kini dia sudah tiba di kediaman mertua nya itu. Nayya turun dengan ketiga anak nya dan mereka memilih berjalan kaki menuju makam. Nayya segera ke sana dan memulai berdoa bersama ketiga buah hati nya itu.

__ADS_1


Tidak lupa juga Nayya membacakan surat untuk suami nya itu. Triplets pun ikut berdoa di sana, “Ayah … kami datang padamu. Bunda sudah baik-baik saja selain dia trauma dengan suntik. Aku sudah memastikan untuk tidak menangis atas kepergianmu ayah. Kami juga selalu ingat janji yang kau buat bersama kami. Aku tidak mengingkari nya.” Batin Qalessa.


“Ayah … kami datang padamu. Ini Xander ayah. Ayah … kami baik-baik saja. Kami tidak menangis seperti yang kau minta. Tapi kau pasti tahu kami rindu padamu bukan. Yah, kami rindu ayah. Sangat rindu hingga ingin bertemu denganmu. Maafkan Xander yang tidak bisa menahan rindu untuk ayah.” Batin Xander.


“Ayah … ini Xavier, putra ayah yang paling bandel tapi sangat ceria dan ngangenin bukan. Ayah … aku rindu padamu. Abang dan kakak juga sama. Mereka juga rindu padamu. Kami tidak menagis sama sekali ayah seperti yang kau minta. Walaupun ingin menangis kami tahan.” Batin Xavier jujur.


“Mas … aku datang mengunjungimu dengan anak-anak. Aku juga memakai kemeja kesayanganmu. Maafkan aku mas yang selalu rindu padamu. Sulit untuk melupakanmu. Aku tidak bisa menjamin sampai kapan hatiku itu tidak akan rindu padamu lagi. Tapi seperti nya aku akan terus merindukanmu.” Batin Nayya setelah menyelesaikan bacaan nya itu.


“Mas, kau tahu anak-anak sudah sangat hebat. Mereka bisa menjaga diri mereka dengan baik dan tidak pernah sama sekali menangis di hadapanku. Mereka sangat kuat menahan tangis mereka itu dan tetap bertahan dengan janji mereka kepadamu. Entah apa saja yang sudah kau katakan pada mereka sehingga mereka menahan kesedihan mereka itu demi aku. Aku menyayangimu mas.” Lanjut batin Nayya.


“Mas, lihat lah anak-anak mereka sudah tumbuh dengan baik.” Ucap Nayya tersenyum.


“Ayah … tidak perlu khawatirkan apapun. Bunda baik-baik saja. Kami akan menjaga nya dengan baik.” Ucap Qalessa di angguki oleh Xander dan Xavier.


Nayya yang mendengar ucapan anak nya itu pun tersenyum saja, “Mas … kami pamit ya!! Nanti kami akan datang lagi untuk mengunjungimu.” Ucap Nayya mengusap nisan suami nya itu.

__ADS_1


Setelah itu triplets pun segera ikut pamit kepada ayah mereka itu dan mereka pun berjalan meninggalkan makam. Mereka segera pergi dan masuk ke kediaman kakek dan nenek mereka itu untuk berkunjung sebelum pulang nanti.


__ADS_2