
Kini Nayya sedang menemani kedua buah hati nya itu belajar di ruang santai yang ada dalam kediaman kedua orang tua nya.
“Bunda!” panggil Xavier tapi tak ada jawaban dari Nayya. Nayya larut dalam pikiran nya sendiri.
Xander dan Qalessa pun memandangi bunda mereka itu yang terlihat melamun, “Bunda!” panggil Qalessa mencoba memanggil bunda nya itu. Tapi lagi-lagi tak ada jawaban dari Lila.
“Bunda!” panggil Xander dengan menyentuh jemari sang bunda. Baru lah Nayya pun tersadar dari lamunan nya itu dan memandangi ketiga anak nya itu.
“Ada apa nak? Apa kalian butuh sesuatu?” tanya Nayya memandangi ketiga nya dengan seksama.
Triplets menggeleng dengan serempak. Mereka meletakkan buku mereka itu di meja belajar masing-masing dan mendekati Nayya dan menggenggam tangan Nayya erat.
“Bunda, kami tidak butuh apapun. Bunda yang kenapa? Apa yang bunda pikirkan? Kenapa melamun?” tanya Xavier.
Nayya pun tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh putra bungsu nya itu, “Bunda gak apa-apa boy. Buna gak memikirkan apapun kok.” Jawab Nayya.
“Huh, bunda bohong lagi. Kenapa bunda menyembunyikan masalah bunda dari kami? Apa bunda tidak percaya pada kami?” tanya Qalessa menatap Nayya lekat.
Nayya pun akhirnya menarik nafas nya juga dan menatap sang putri lekat, “Ini adalah masalah bunda nak. Kalian tidak perlu memikirkan nya. Bunda janji akan menyelesaikan sendiri. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan apapun.” Ujar Nayya.
“Bunda selalu saja begitu.” Ucap Xander.
Nayya pun tersenyum dan lebih memilih memeluk ketiga buah hati nya itu erat, “Kalian tidak perlu tahu apa yang bunda pikirkan nak. Ini adalah masalah bunda sendiri. Bunda saja tidak bisa menemukan jawaban nya kenapa merasa begini apalagi kalian yang masih kecil harus memikirkan hal itu. Bunda tidak akan membebani kalian dengan hal yang tidak harus kalian pikirkan. Kalian focus saja belajar.” Batin Nayya.
***
Di sisi Afnan, kini dia sedang ada di kamar nya sedang memandangi baju yang akan dia pakai untuk hari pertunangan nya dengan Ayu tiga hari lagi.
“Apa yang ku lakukan ini sudah benar? Aku mohon ya Allah tolong berikan aku jalan yang tidak serumit ini? Aku tidak ingin mempermainkan perasaan ciptaanmu yang lain. Tapi apa yang bisa ku lakukan jika mereka bersikeras menyeretku ke takdir yang tidak ku inginkan. Bagaimana mungkin aku menikahi gadis yang tidak aku cintai. Bagaimana aku mengkhianati perasaanku sendiri di saat aku menyimpan nama nya dalam sudut hatiku yang terdalam. Bukan kah kau yang menciptakan rasa ini untukku maka tidak bisa kah mewujudkan keinginanku untuk jadi pelindung nya seperti yang di minta oleh mendiang suami nya.” Gumam Afnan memandangi bingkai foto Nayya di kamar nya itu.
“Aku mencintai nya ya Allah. Aku tahu tanpa aku katakan pun kau sudah mengetahui nya kau itu maha tahu bukan. Aku mohon jangan siksa aku dengan rasaku lagi. Tidak masalah aku menjadi yang kedua dalam hidup nya. Tidak masalah jika aku harus jadi bayangan mendiang suami nya. Aku tidak akan menuntut cintaku di balas lagi. Aku hanya ingin melindungi nya saja.” Sambung Afnan.
***
Sementara di sisi Ayu, dia juga sama gamang nya dengan Afnan. Dia juga memandangi pakaian yang akan di gunakan untuk pertunangan nya itu.
“Kenapa aku merasa ini tidak benar? Kenapa aku tega menjadi penghalang nya untuk meraih wanita yang dia cintai. Kenapa aku seegois ini.” Tanya Ayu pada diri nya sendiri.
“Bukan kah aku tahu bagaimana rasa nya saat kita di paksa menerima orang lain saat kita tidak menginginkan nya.” Ucap Ayu sendu dan duduk di ranjang nya itu dengan perasaan sedih.
Jika boleh jujur dia memang tidak menginginkan hal ini. Tapi lagi-lagi dia hanya bisa menurut karena tidak ingin membuat ibu nya sakit. Ibu nya memiliki riwayat hipertensi dan Ayu menjaga ibu nya itu agar tekanan darah nya tidak naik karena banyak pikiran. Tapi tidak tahu nya hal itu menjadi senjata untuk orang tua nya memaksa nya dalam perjodohan ini.
__ADS_1
Tidak tahu kenapa orang tua nya itu menjadi buta hanya karena Afnan lebih mapan dari kekasih yang dia miliki. Entah kenapa harta bisa menjadi tolak ukur untuk kedua orang tua nya itu. Hingga rela menjual bahagia demi harta.
Ayu memandangi ponsel nya yang bordering. Terlihat bahwa kekasih nya yang memanggil. Ayu pun meraih ponsel nya itu dengan perlahan lalu menekan ikon hijau di sana.
“Halo!” ucap Ayu.
“Sayang. Tidak bisa kah kau menolak pertunangan itu. Aku tidak akan pernah rela melihatmu bertunangan apalagi menikah dengan pria lain.” Ucap seorang pria dari seberang. Sebut saja dia Raja.
Ayu pun mendesahkan nafas nya itu. Selalu saja topic yang sama saat kekasih nya itu menghubungi nya dan tentu saja jawaban yang Ayu berikan pun tetap sama saja, “Lalu aku harus apa Ja?” tanya Ayu.
“Ayo lah sayang. Tolak keinginan orang tuamu itu. Tidak kah kau lihat aku sedang berjuang agar bisa di terima orang tuamu. Aku akan datang melamarmu dan menikahku. Kita kawin lari saja jika memang kedua orang tuamu tidak setuju denganku. Baru lah setelah itu kita berjuang untuk mendapatkan restu dari mereka.”
“Jangan buru-buru menolak apa yang aku tawarkan ini. Aku tahu apa yang aku katakan ini hal gila yang pernah ku lakukan dan pernah kau dengar. Tapi aku sudah tidak tahu lagi apa yang bisa ku lakukan agar orang tuamu itu luluh dan menerimaku. Apa aku seburuk itu untuk jadi suamimu.” Ucap Raja.
“Ck, Ja. Jangan mengatakan hal seperti itu. Kau juga tahu bagaimana perasaanku yang sebenar nya bukan. Aku juga mencintaimu. Aku juga tidak ingin kehilanganmu.” Ucap Ayu sedih.
“Aku juga mencintaimu sayang. Ayo lah kita berjuang bersama untuk saling memiliki. Aku janji akan bertanggung jawab untuk semua nya. Tapi aku tidak pernah rela jika kau jadi milik orang lain. Tidak akan pernah rela. Jika kau tetap menikah dengan orang itu. Percaya lah hari pernikahanmu akan jadi hari terakhir hidupku di dunia ini. Aku tidak main-main dengan ucapanku ini.” Ucap Raja.
“Jangan gila Ja. Kau tidak boleh melakukan apa yang kau katakan itu. Aku tidak mengizinkanmu melakukan nya.” Ucap Ayu dengan suara sedikit keras.
“Untuk itu lah jangan menikah atau pun bertunangan dengan nya. Ayo kita kawin lari saja.” Ajak Raja.
“Aku perlu memikirkan nya lagi Ja. Beri aku waktu untuk itu.” ucap Ayu.
“Siapa yang bicara denganmu?” tanya ibu Luvia menyelidik.
Ayu menggeleng, “Bukan siapa-siapa bu.” Jawab Ayu.
Ibu Luvia pun memandangi Ayu itu lekat lalu kemudian dia pun mengangguk, “Jangan coba-coba berpikir untuk lari dari semua ini. Apalagi jika kau berpikir untuk kawin lari dengan kekasihmu itu. Kau harus melupakan kekasihmu itu. Dia tidak pantas untukmu. Anak yatim piatu tidak pantas bersanding dengan putriku yang seorang guru.” Ucap ibu Luvia dengan nada sombong nya.
Ayu yang mendengar ucapan ibu nya itu pun hanya bisa mendesis kesal sambil menggengam erat jari-jari nya itu.
“Raja memang yatim piatu bu. Tapi dia tidak memiliki pekerjaan dan tidak melakukan hal yang rendah untuk mendapatkan sesuap nasi. Kenapa ibu melihat dan menilai seseorang dari harta nya saja. Raja mencintaiku dengan tulus bu. Aku juga mencintai nya dengan tulus. Tidak bisa kah ibu melihat bahwa aku sama sekali tidak menginginkan perjodohan ini. Tidak bisa kah ibu membiarkan aku meraih bahagiaku dengan orang yang ku cintai. Tidak bisa kah ibu melihat bahwa aku dan kak Afnan terpaksa melanjutkan perjodohan ini?”
“Kami tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain. Dia mencintai suster Nayya. Apa ibu tega membiarkanku hidup dengan pria yang mencintai wanita lain di hati nya. Ibu tega membiarkanku menderita?” ucap Ayu meluapkan kekesalan nya itu.
“Kau tahu alasan ibu melakukan ini. Kau tidak perlu memikirkan banyak hal. Selama kau melupakan Raja dan berusaha untuk mencintai Afnan sepenuh hatimu maka ibu yakin perlahan lahan dia akan mencintaimu juga. Jangan lupakan cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa. Kau tidak perlu membebani pikiranmu itu dengan hal yang kurang masuk akal. Apalagi jika harus membebani pikiranmu dengan memikirkan Raja. Percaya lah ibu tidak akan merestuimu menikah dengan Raja jika kau memiliki pikiran untuk kawin lari dengan nya. Yang perlu kau pikirkan yaitu mencoba pakaianmu itu. Jangan hanya memandangi nya saja.” Ucap ibu Luvia keras lalu segera meninggalkan putri nya itu di kamar nya.
“Ibu egois!” teriak Ayu. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa ibu nya itu memiliki hati sekeras batu hingga tidak memikirkan kebahagiaan nya sama sekali.
“Aku tidak akan menukar dengan kebahagiaanku atas nama harga diri lagi. Sudah cukup, aku selalu menuruti keinginan kalian selama ini. Aku tidak akan pernah menikahi pria yang tidak mencintaiku sama sekali. Aku ingin hidup dengan lelaki yang ku cintai. Tidak akan aku biarkan hidupku berantakan hanya karena rasa bakti. Untuk apa berbakti jika tidak di hargai sekali pun. Tidak masalah mempertaruhkan harga diri yang penting kita bisa hidup bahagia.” Gumam Ayu lalu dia pun meraih ponsel nya itu dan mengirim pesan kepada sang kekasih. Biarkan saja dia jadi anak yang durhaka kali ini.
__ADS_1
***
Dua hari berlalu dengan sangat cepat, kini tidak terasa sudah hari pertunangan Afnan dan Ayu yang memang akan di lakukan di kediaman Ayu. Kediaman Ayu sudah di hias dengan cantik.
Afnan lagi-lagi kini berada di kamar nya dan menatap pakaian nya sekali lagi. Sungguh, semua ini terasa berat untuk nya. Dia memandangi foto Nayya sekali lagi lalu dengan perlahan meraih pakaian di ranjang nya itu dan memakai nya.
“Kaak!” panggil Ivana yang tiba-tiba saja masuk dan melihat Afnan yang sedang mengancing kemeja nya itu.
Ivana pun mendekati kakak sulung nya itu dan membantu Afnan memakai kemeja nya, “Kak, apa kau yakin melanjutkan pertunangan ini? Kau bisa mundur dan membatalkan nya kak.” Ucap Ivana.
Afnan pun tersenyum mendengar ucapan adik nya itu, “Tenang saja. Gak apa-apa dek. Kakak tidak mungkin mempermalukan keluarga kita dengan membatalkan pertunangan.” Ucap Afnan.
“Ck, persetan dengan harga diri kak. Kami bisa menanggung nya untuk itu. Kebahagiaan adalah hal nomor satu. Harga diri pun bisa kalah dengan hal itu. Aku tidak rela jika kakak terpaksa melakukan hal ini dan hanya atas nama baik keluarga.” Ucap Ivana.
“Sudah, gak apa-apa dek. Kamu jangan berpikiran terlalu jauh.” Ucap Afnan.
“Kenapa aku tidak bisa berpikiran terlalu jauh kak. Aku mengkhawatirkanmu. Apa aku tidak bisa mengkhawatirkan kakakku sendiri di saat kakakku sendiri terpaksa menjalani pertunangan nya padahal ada foto kak Nayya di sini yang selalu menemani kesendirianmu. Lihat lah sedalam itu perasaanmu kepada kak Nayya kak. Kau tidak akan bisa melupakan nya bukan?” ucap Ivana menatap bingkai foto Nayya.
“Kau tahu apa yang hati kakak inginkan dek. Tapi ini tetap harus di lakukan. Kakak tidak ingin harga diri keluarga kita di permalukan. Cukup selama ini kakak menjadi aib karena tidak kunjung menikah juga padahal sudah lewat batas dari umur pantas menikah.” Ucap Afnan.
“Kakak bu--”
“Kamu bukan beban nak. Mami mungkin pernah mengatakan itu tapi percaya lah mami dan papi tidak pernah merasa di bebani olehmu karena hal itu. Kamu adalah putra kami.” Ucap mami Rana yang tiba-tiba saja datang ke kamar putra nya itu.
“Mih, tolong bujuk kakak agar dia tidak melanjutkan perjodohan ini.” Ucap Ivana menatap mami Rana.
“Nak--” mami Rana tidak melanjutkan perkataan nya itu begitu melihat sang putra mengangkat tangan nya dan menggeleng.
“Ini sudah jadi keputusanku mih. Kalian juga sudah berjanji untuk menghormati apa yang ku putuskan. Kali ini saja percaya lah dengan keputusan yang ku ambil. Aku yakin bahwa semua nya akan baik-baik saja.” Ucap Afnan.
“Kau keras kepala kak.” Ucap Ivana kesal yang hanya di tanggapi senyum oleh Afnan.
“Baiklah. Jika memang itu yang kau inginkan. Mami akan menurut apa yang kau inginkan. Semoga semua nya adalah yang terbaik untuk kita.” Ucap mami Rana.
Afnan pun hanya mengangguk lalu mami Rana dan Ivana pun segera berlalu dari sana meninggalkan Afnan sendiri bersiap.
Afnan pun merapikan pakaian nya itu dan menarik nafas panjang. Dia lagi-lagi melihat bingkai foto Nayya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Afnan bicara pada foto Nayya itu.
Entah kenapa dia merasa bahwa Nayya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Nayya terlihat pucat dalam beberapa hari terakhir ini. Dia yang mengikuti Nayya ke makam Risam memperhatikan hal itu.
__ADS_1
“Jangan sakit Nayya. Suamimu pasti sedih jika melihatmu sedang sakit. Percaya lah aku sangat ingin mendekatimu tapi apa yang bisa ku lakukan. Kau sangat menjunjung tinggi aturan agama. Kau menjalani masa iddahmu dengan sepenuh hati. Aku tidak mungkin merusak nya dengan mendekatimu.”
“Aku harap kau baik-baik saja. Doakan aku agar semua nya berjalan lancar.” Ujar Afnan lalu menyentuh bingkai foto Nayya itu.