Takdir Kedua

Takdir Kedua
Episode 6


__ADS_3

Pihak yang punya hajatan mempersilakan tante Jogi masuk setelah


berpelukan di pintu masuk. Chandra dan Aleeya masih saja bergurau hingga duduk


tepat di depan pengantin duduk di pelaminan. Ketika Aleeya membalik guna


melihat pengantin di belakang kursinya, air mata gadis itu tiba-tiba berair.


Bibirnya gemetar menahan tangis.


“Mas Rian.” Jerit Aleeya dalam hati.


Chandra melihat air mata mengalir di pipi mulus Aleeya. Chandra beralih


melihat ke arah pelaminan. Kemudian ia menggenggam tangan Aleeya ketika gadis


itu hendak pergi. Chandra mengerti, ternyata suami sepupunya adalah mantan


kekasih Aleeya.


“Aku nggak sangggup, Chan.” Aleeya menangis. Tangannya menutupi


wajahnya yang penuh air mata.


“Bismillah. Kamu bisa, Al. Ikhlaskan, setelah ini kamu akan lega.


Yakinlah.” Pujuk Chandra.


Chandra memeluk gadis yang menangis itu. Mata para tamu tak lagi


tertuju ke pelaminan, melainkan ke meja yang di depannya. Meski mereka tak tahu


masalahnya, mereka bertepuk tangan karena melihat Chandra menenangkan gadis


yang sedang menangis itu.


“Siapa itu, Mel?” Tanya Rian. Ia memang tak mengenal Chandra dan gadis


di pelukannya.


“Itu sepupu aku, Chandra. Mungkin pacarnya sedang sakit.” Jawab Meli


dengan suara lembutnya.


Sementara itu tante Jogi memperhatikan Aleeya yang sudah melepaskan


pelukan Chandra. Ia tak tau apa yang sedang terjadi antara Aleeya dan Chandra.


Ia hanya bahagia melihat anaknya mengungkapkan isi hatinya.


“Kita keluar?” Bisik Chandra. Ia sudah kembali ke tempat duduknya.


“Nggak. Aku harusnya sudah lega menerima takdir. Kan kamu yang bilang


harus ikhlas. Temani aku memberi ucapan ke mereka.” Ajak Aleeya sambil


menghentikan air matanya dengan tisu yang diberikan Chandra.


Chandra mengangguk. Seketika Rian terkejut melihat perempuan yang


membuat para tamu bertepuk tangan itu ternyata Aleeya, mantan kekasihnya. Meli


heran kenapa suaminya itu seperti takut.


“Selamat ya, Mbak Mel dan Mas Rian.” Chandra menyalam dan memberi kado.


“Selamat menempuh hidup baru, Meli dan Rian.” Ujar Aleeya.


Aleeya tersenyum ketika bersalaman dengan Rian.


“Kalian memang cocok. Aku harap Meli gak ditinggalkan tanpa alasan


seperti Kamu meninggalkan aku.” Lanjut Aleeya setelah selesai berjabat tangan


dengan Rian. Ia tak lagi memanggil Rian dengan kata “Mas.”


 “Inilah alasannya aku memutuskan


hubungan kita, Al. Karena aku mencintai gadis lain.” Jawab Rian tak mau kalah.


“Jadi kamu menangis tadi karena ini?” Meli memperjelas alasan Aleeya


menangis.


“Aku menangis karena lega, akhirnya bisa lepas dari pengkhianat.”


Sekitar 5 menit Chandra menunggu Aleeya berdiri di hadapan Rian,


Chandra membuyarkan lamunan Aleeya.


“Ada yang mau dibilang lagi?” Bisik Chandra.

__ADS_1


Rian memperhatikan genggaman Chandra di tangan kecil Aleeya.


“Tadi aku kenapa, Chan?” Tanya Aleeya bingung. Mereka meninggalkan


pelaminan.


“Kamu mikirin apa tadi di depan Rian?” Tanya Chandra balik.


“Berarti kata-kata pengkhianat tadi cuma di imajinasi aku aja?” Aleeya


bingung.


“Kamu nggak ada bilang pengkhianat. Kamu hanya diam  lama di depan Rian.” Jelas Chandra.


“Kalau begitu aku harus kembali ke pelaminan dan mengatakan segalanya.”


Aleeya berbalik namun Chandra menghentikan dan menggendongnya keluar


lebih jauh.


“Sinchan, turunkan akuuu…” Teriak Aleeya, tak lupa ia memukul punggung


Chandra sekuat tenaga.


“Untung udah di luar ruangan. Kalau nggak, kamu bisa merusak pesta


orang.” Kesal Chandra.


“Apa? Kamu nggak mikirin hatiku yang lebih hancur?” Tangis Aleeya.


Chandra kembali menggendong Aleeya dan membuat gadis penuh air mata itu


duduk di bangku depan, duduk di samping Chandra.


“Kita kemana?” Tanya Aleeya masih berurai air mata.


Aleeya masih berusaha membuka pintu namun sudah dikunci oleh Chandra.


Si pengemudi terus melaju dan diam.


“Chan, chan. Chandra jangan ngebut, aku takut.” Rengek Aleeya


menggenggam lengan Chandra.


Chandra menurunkan kecepatan. Sementara Aleeya sudah diam. Lagu


“sempurna” milik Andra and the backbone terdengar.


Di mataku kau begitu indah…


“Dulu Mas Rian suka menyanyikan ini. Katanya aku sempurna di matanya.”


Aleeya menghapus air matanya.


“Yang sudah lewat, tak bisa dihapuskan jejaknya.”


Aleeya tak bersuara. Bagaimana pun memang benar, apa yang sudah terjadi


takkan pernah diulang bahkan dihapus. Aleeya memiringkan tubuhnya ke arah


jendela. Ia tak ingin mendengar ceramah soal perasaan dari orang yang senasib


dengannya, sama-sama ditinggalkan.


Mobil diparkirkan di depan hotel. Chandra membukakan pintu dan


menggendong Aleeya. Gadis itu tertidur selama perjalanan 2 jam dari lokasi


pesta ke pantai. Chandra membawa Aleeya ke pantai berpasir putih. Deburan ombak


membangunkan Aleeya.


“Dimana ini? Awannya cerah banget.” Seru Aleeya dalam hati.


Aleeya terkejut karena di hadapannya ada dada laki-laki yang atletis,


begitu kokoh. Ia melihat siapa pemilik dada bidang itu, jantungnya kembali


berdegup kencang.


“Oh My God! Chandra! Duh, kenapa nih bocah gendong aku begini. Kek di


film Korea aja. Jantung dag dig dug lagi. Pura-pura tidur aja.” Aleeya semakin


bingung akan berbuat apa.


Chandra membawa Aleeya ke pantai, tepat di depan pantai itu ada pulau


kecil. Semakin indah ketika burung-burung berterbangan dan berkicau dan rayuan


kelapa pantai melambai-lambai. Chandra kembali melirik gadis yang ada di

__ADS_1


gendongannya.


“Al, Aleeya, bangun! Jangan pura-pura tidur deh. Aku jatuhin nih?”


Ancam Chandra.


“Jangan-jangan. Aku turun.”


Aleeya menantang mata Chandra.


“Kenapa bawa aku ke pantai? Aku lagi patah hati, bukan lagi kasmaran.”


Ujar Aleeya. Gayanya seperi bos marah.


Chandra cuma senyum dan menggeleng kemudian mengikuti setiap langkah


gadis yang di depannya itu.


“Udah aku pikirkan. Kamu benar, menerima takdir dengan ikhlas akan


berakhir bahagia.” Aleeya duduk begitu juga Chandra.


“Bukan berakhir bahagia, tapi bahagia tanpa akhir.”


Aleeya tersenyum menampakkan gigi gingsulnya.


“Chan, makasih.”


“Untuk apa?”


“Untuk kepedulianmu. Kalau dipikir-pikir, aku termasuk orang yang


beruntung. Beruntung karena memiliki keluarga seperti tante dan kamu di tempat


asing.” Aleeya mendekat lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Chandra.


“Kenapa diam? Kamu gak suka aku sandarin gini?” Aleeya mengangkat


kepalanya lagi.


Dengan sigap Chandra menarik kembali kepala Aleeya dan menyandarkannya


seperti semula.


“Aku yang harusnya berterima kasih.”


“Ha? Kenapa? Bukannya aku yang selalu merepotkan?” Aleeya kembali


mengangkat kepalanya.


Dan lagi, Chandra membuat kepala gadis cerewet itu bersandar di


sisinya.


“Terima kasih karena datang kembali ke dalam hidupku.” Chandra hanya menatap


anak-anak pantai berlalu lalang di hadapannya.


“Yaaa aku tau aku begitu berharga.” Canda Aleeya.


“Sangat.” Jawab Chandra serius.


Aleeya bengong. Ia pindah duduk ke hadapan Chandra. Chandra gugup dan


menutup mulutnya.


“Jangan-jangan kamu…” Aleeya menyelidik.


“Jangan GR. Aku ngomong sama burung-burung yang terbang.” Chandra


mengelak.


Dengan polosnya Aleeya mengikuti arah tangan Chandra menunjuk.


“Nggak ada burung terbang.” Protes Aleeya.


“Siiinchaaaannn. Jangan lari.”


“Ayo kejar!” Ejek Chandra.


Aleeya berlari dan tertawa lepas. Hari itu ia tutup dengan kebahagiaan.


Bahagia karena bisa merelakan apa yang bukan menjadi miliknya. Padahal ketidakbahagiaan


adalah berpisah dengan orang yang dicintai. Tapi mengikhlaskan orang yang tidak


mencintai pergi juga menciptakan kebahagiaan.


bersambung...


Min tjeu alias odor ups maksudnya Author butuh perhatian dari pembaca. Jangan lupa like, comment and vote yaaa... kehadiran kalian di sini adalah penyemangat buat sayaa.

__ADS_1


__ADS_2