Takdir Kedua

Takdir Kedua
23


__ADS_3

Seminggu berlalu, Afnan masih saja di pusingkan dengan keputusan pembatalan perjodohan nya dengan Ayu yang kini menemui jalan buntu. Entah kenapa keluarga Ayu terlebih kedua orang tua Ayu tidak ingin perjodohan itu di batalkan padahal sudah ada kesepakatan sebelum nya. Mama Rana juga ikut pusing memikirkan hal itu dan lagi-lagi dia merasa bersalah melihat putra nya itu yang kembali menunjukkan wajah muram nya seperti tujuh tahun lalu saat Nayya menikah dengan Risam.


Afnan mencoba bicara dengan Ayu hanya berdua saja. Ingin tahu bagaimana perasaan atau keinginan Ayu yang sebenar nya. Tapi Ayu menolak pertemuan apapun dengan Afnan. Seperti nya keluarga Ayu sudah mewanti-wanti Ayu untuk hal ini. Afnan pun hanya bisa pusing sendiri.


Ingin rasa nya menyalahkan mami nya tapi sekali lagi itu tidak mungkin dia lakukan karena rasa hormat nya pada mami nya itu. Mami yang sudah melahirkan nya ke dunia ini.. Mami nya hanya ingin yang terbaik untuk nya walaupun tanpa memikirkan konsekuensi nya nanti.


“Pih, lagi-lagi aku membuat nya sedih.” Ucap mami Rana kepada papi Riyad yang juga kini hanya diam tidak mengomentari apapun yang terjadi. Dia tahu istri nya yang salah karena selalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Tapi kini jika sudah begini maka percuma juga mencari siapa yang salah. Karena yang penting sekarang yaitu bagaimana menemukan jalan keluar nya.


“Sudah lah. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Kita tidak tahu ini akan terjadi. Lebih baik sekarang kita pikirkan agar semua baik-baik saja. Kita tidak mungkin melanjutkan perjodohan di saat Afnan tidak menginginkan nya.” ucap papi Riyad bijak.


“Mami juga sedang memikirkan hal itu pih. Tapi Rudi dan Luvia tidak mengerti hal ini. Entah kenapa mereka melanggar kesepakatan yang sudah aku sepakati saat mengajukan perjodohan itu.” ucap mami Rana.


“Untuk itu ini akan jadi pembelajaran untuk kita. Bahwa tidak ada yang bisa di percaya dengan begitu saja. Kepercayaan itu sulit di dapat. Kesepatakan yang sudah di sepakati pun bisa di ingkari. Tapi yang membuatku bingung juga kenapa mereka melakukan ini. Bukan kah kata Afnan, Ayu juga tidak menginginkan perjodohan ini. Tapi kini Ayu bahkan sudah setuju untuk melanjutkan perjodohan. Ini seperti ada sebuah konsfirasi besar.” Ucap papi Riyad.


Mami Rana yang mendengar ucapan suami nya itu pun mengangguk, “Apa yang papi katakan itu sama dengan yang aku pikirkan. Entah apa yang mengubah pikiran mereka sehingga tetap ingin melanjutkan perjodohan dengan putra kita.” Ucap mami Rana bingung memikirkan kemungkinan alasan keluarga Ayu tetap kekeh melanjutkan perjodohan di saat tahu bahwa anak-anak mereka tidak saling menyukai satu sama lain. Tapi semakin lama semakin berpikir tak juga kunjung mendapatkan jawaban nya.


“Kenapa mami dan papi bingung memikirkan alasan nya? Tidak usah heran kenapa keluarga Ayu tidak ingin membatalkan perjodohan ini. Bukan kah saat ini kakak sudah mapan. Sudah memiliki usaha sendiri dan kakak pun telah berubah menjadi lebih religius lagi. Orang tua mana yang tidak ingin anak nya menikah dengan kakak.” Ucap Efnan yang tiba-tiba datang dengan Ivana di belakang nya. Entah kenapa dua saudara itu bisa datang bersamaan. Tapi satu hal yang pasti saat mereka mendengar berita ada masalah dengan perjodohan Afnan, mereka segera meluncur menuju kediaman orang tua mereka itu.


Mami Rana dan papi Riyad pun hanya bisa tersenyum tipis saja menyambut kedatangan tiba-tiba kedua anak mereka itu. Efnan dan Ivana pun segera menyalami kedua orang tua mereka itu bergantian lalu segera duduk di sofa yang ada di depan mami Rana dan papi Riyad.


“Kakak di mana Mih?” tanya Ivana melirik kamar kakak nya.


“Dia sedang pergi nak. Mungkin di toko milik nya.” jawab papi Riyad.


“Kenapa papi dan mami gak bilang kalau ingin membatalkan perjodohan dengan keluarga Ayu kepada kami?” tanya Efnan menatap kedua orang tua nya itu lekat.


“Kami tidak ingin membebani kalian nak. Ini adalah urusan kami yang memang masih memiliki tanggung jawab terhadap kakak kalian. Lagi pula kalian sudah punya keluarga kalian sendiri yang pasti nya lebih penting untuk kalian.” ucap mami Rana.


Ivana yang mendengar ucapan mami nya itu pun mendesis tidak suka, “Ck, perkataan macam apa itu Mih. Walaupun kami sudah memiliki keluarga kami sendiri. Tetap saja urusan kakak urusan kami juga. Kami ingin melihat kakak bahagia. Jujur saja kami merasa bersalah kepada kakak. Kami sudah menemukan keluarga kami sendiri tapi dia belum hingga kini.” Ucap Ivana.


“Tidak perlu merasa bersalah dek. Kakak ikhlas kok dan senang melihat kalian bahagia dengan keluarga kalian sendiri. Ini adalah hidup dan kisah cinta kakak yang seperti nya sangat berliku. Tapi tentu saja kakak senang menjalani nya.” ucap Afnan tiba-tiba saja datang dan segera bergabung dengan kedua orang tua dan kedua adik nya itu.


“Kakak!” ujar Ivana manja. Walaupun adik bungsu Afnan itu sudah menjadi ibu dari dua oran anak tapi tetap saja dia manja kepada Afnan dan juga Efnan.


Afnan pun tersenyuum memandangi kedua adik nya yang menatap nya dengan tatapan bersalah, “Hey, jangan menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja. Tenang saja masalah ini tidak seberapa bagiku.” Ucap Afnan.


“Ck, kakak lagi-lagi ingin terlihat kuat di depan kami. Jangan menyembunyikan gengsimu itu kak di hadapan kami. Kau bisa menangis di depan kami. Kami janji tidak akan mempermalukanmu.” Ucap Ivana lagi-lagi mendesis tidak suka mendengar ucapan kakak sulung nya itu yang memang terkesan menyembunyikan kesedihan nya sendiri.

__ADS_1


“Iya kak. Apa yang Ivana katakan itu benar. Kau tidak perlu menyembunyikan kesedihanmu itu. Sudah cukup kau berlalu baik-baik saja selama ini.” sambung Efnan menatap sang kakak.


Afnan yang mendengar ucapan kedua adik nya pun terkekeh, “Percaya lah aku baik-baik saja.” ucap Afnan.


“Kakak bohong lagi.” Ucap Ivana sendu.


“Nak, maafkan kami.” ucap mami Rana sedih.


Afnan yang mendengar ucapan mami nya itu pun tersenyum lalu menggeleng, “Jangan merasa sedih mih. Aku sungguh baik-baik saja.” ujar Afnan.


“Jika memang tante Luvia dan om Rudi ingin perjodohan ini di lanjutkan maka turuti saja. Aku akan melanjutkan perjodohanku dengan Ayu seperti yang sudah di sepakati sebelum nya.” sambung Afnan.


“Kaakk!” protes Ivana.


Afnan tersenyum lalu menggeleng, “Kakak tahu kau khawatir tapi seperti nya ini jalan kakak.” Ucap Afnan.


“Apa kakak akan melanjutkan perjodohan ini tanpa cinta dan rasa suka di dalam nya? Apa kakak pikir kita bisa hidup tanpa cinta. Memang benar cinta itu bukan segala nya dan bisa tumbuh seiring berjalan nya waktu. Tapi dengan cinta yang kuat di hati kakak untuk suster Nayya, aku yakin menumbuhkan atau pun menerima cinta lain di hati kakak itu sangat sulit. Jika memang mudah pasti waktu tujuh tahun itu bisa jadi penyembuh dan penghapus hal itu. Tapi nyata nya tidak bukan? Jadi aku mohon jangan bermain-main dengan perasaan kak.” Ucap Efnan.


“Apa kakak akan menyerah untuk perasaan kakak kepada kak Nayya? Bukan kah kakak yang dulu memintaku untuk tidak membenci dan menyalahkan kak Nayya atas kondisi kakak saat itu. Lalu kini di saat ada kesempatan kedua untuk meraih cinta yang sempat terlepas dari genggaman itu, kakak akan menyerah begitu saja?” sambung Ivana.


“Maksud nya? Aku tidak paham dengan rencanamu kak?” ucap Ivana bingung.


“Aku ingin bertaruh dengan perasaan lagi kali ini. Aku yakin Ayu pasti akan mengambil keputusan yang tepat nanti. Dia juga sama sepertiku yang tidak menginginkan perjodohan ini. Maka seperti nya jalan ini memang jalan yang terbaik.” Jelas Afnan.


“Jangan bertaruh pada hal yang tidak memiliki peluang kak atau pun peluang nya hanya kecil karena hal itu sama saja bodoh. Kita tidak akan mendapatkan kemenangan apapun dari sana. Itu sama saja bertaruh pada sebuah kemustahilan.” Timpal Efnan.


Afnan yang mendengar ucapan adik nya itu pun tersenyum, “Hanya ini jalan satu-satu nya yang bisa kita lakukan.” Ucap Afnan.


“Kita akan cari cara lain nak. Kami tidak ingin kau terjebak pada takdir yang tidak kau inginkan. Jodoh memang sudah di tentukan tapi jalan untuk meraih nya kita sendiri yang tentukan. Jangan lakukan itu.” ucap Mami Rana.


“Mih, tidak perlu khawatirkan apapun. Aku yakin semua nya akan berjalan lancar.” Ucap Afnan.


“Bagaimana jika tidak lancar. Semua nya tidak sesuai dengan yang kau bayangkan nak? Sampai pernikahan pun, Ayu tetap kekeh melanjutkan nya.” ucap papi Riyad.


“Apa kakak sudah siap kehilangan kak Nayya untuk selama nya. Memang kak Nayya seorang janda anak tiga. Tapi status itu tidak memiliki pengaruh apapun. Dia tetap masih kak Nayya yang kita kenal. Aku tetap masih menginginkan nya untuk jadi kakak iparku. Jangan lakukan ini kak. Kami tidak ingin kau melakukan sesuatu yang akan menjebakmu pada takdir yang tidak kau inginkan.” Sambung Ivana.


“Benar apa yang di katakan adikmu nak. Jangan melakukan suatu kebodohan dan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Jangan ulangi kesalahan mami.” ucap mami Rana.

__ADS_1


Afnan yang mendengarkan itu pun kembali tersenyum, “Keputusan Afnan sudah bulat akan mengambil hal ini mih, pih. Kalian percaya saja. Kali ini aku ingin bertaruh dengan takdir lagi.” Ucap Afnan.


“Kaak!” protes Ivana.


Afnan menggeleng tanda dia sudah mengambil keputusan nya dan tidak akan mengubah nya lagi.


“Baiklah, jika memang itu sudah jadi keputusanmu. Kami harap kau tidak akan menyesali nya nanti. Kau yang mengambil keputusan ini.” ucap papi Riyad yang di angguki oleh Afnan.


Akhirnya di putuskan untuk tetap di lanjutkan perjodohan Afnan dan Ayu, “Mami segera beritahukan kepada tante Luvia da nom Rudi bahwa kita menyetujui perjodohan itu di lanjutkan.” Pinta Afnan.


“Kau yakin nak?” tanya mami Rana sekali lagi. Sungguh, dia merasa bersalah untuk hal ini. Dia seperti menjadi penghalang untuk kebahagiaan putra sulung nya itu. Jika takdir masih tidak berpihak pada putra nya itu maka percaya lah orang yang paling sedih adalah diri nya sebagai seorang ibu yang merasa gagal mengantarkan satu anak nya meraih kebahagiaan nya.


Afnan mengangguk lalu memandangi kedua orang tua dan kedua adik nya itu dengan tersenyum. Dia hanya bisa berdoa semoga kali ini takdir memihak nya dan semua nya akan berjalan sesuai dengan apa yang sudah dia perhitungkan, “Aku tidak ingin membuat kalian sedih. Kalian adalah keluargaku. Aku pun ingin meraih bahagiaku. Semoga saja cara ini bisa menjadi jalan untukku meraih cinta Nayya.” Batin Afnan.


***


Seminggu kemudian, akhir nya setelah keputusan Afnan seminggu lalu yang menyetujui perjodohan nya dengan Ayu di lanjutkan. Kini semua orang sibuk dengan persiapan pertunangan, terutama keluarga pihak Ayu yang sangat antusias akan hal itu. Jika di pihak keluarga Afnan sudah di pastikan tidak ada antusias nya sama sekali. Mereka bagaikan air yang hanya mengikuti arus saja. Semua persiapan nya di serahkan kepada pihak keluarga Ayu. Mereka hanya tahu menyetujui saja.


“Pah … ini undangan pertunangan Ayu dan Afnan yang akan di laksanakan tiga hari lagi.” Ucap mama Fara yang baru saja tiba dari minimarket Nayya. Memang mama Fara yang melakukan pengecekan untuk usaha Nayya itu. Nayya hanya di rumah saja selama menjalani masa iddah nya. Jika pun keluar pasti menggunakan mobil nya dan itu pun hanya untuk mengunjungi makam sang suami untuk membacakan surah di sana.


“Jadi apa pertunangan itu memang akan di lakukan?” tanya papa Imran hanya melirik undangan pertunangan itu yang di letakkan mama Fara di meja di hadapan nya.


Mama Fara pun mengangguk, “Hum, begitu lah.” Jawab mama Fara.


“Sudah lah. Jika memang begitu kita syukuri saja. Kasihan juga Afnan yang belum menikahi di usia nya itu padahal kedua anak nya sudah menikah dan sudah punya anak juga. Mungkin memang bukan jodoh putri kita juga. Kita juga tidak perlu terlalu berharap untuk itu.” ucap papi Imran.


Mama Fara pun kembali mengangguk saja walaupun sejujur nya dia sedikit kecewa akan apa yang terjadi. Dia berharap bahwa Afnan dan Nayya akan memiliki takdir kedua. Dia sangat tahu bagaimana putri sulung nya itu memiliki hubungan dengan Afnan tapi takdir saja yang seperti nya memang tidak menginginkan mereka bersama. Sudah lah semua sudah menjadi rahasia takdir. Tidak perlu kecewa.


“Pah, Nayya di mana?” tanya mama Fara melihat sekeliling.


“Seperti nya dia di kamar nya.” jawab papa Imran.


Mama Fara pun mengangguk mengerti, “Jangan sampai dia tahu hal ini pah. Walaupun kita tahu dia berkabung atas kematian Risam tapi tetap saja dia tidak boleh tahu berita ini. Biarkan saja waktu yang memberi tahu nya sendiri.” Ucap mama Fara yang di angguki oleh papi Imran.


Sementara di kamar Nayya, dia mendengar apa yang di bicarakan oleh mama dan papa nya itu karena memang kamar nya tidak kedap suara. Dia yang mendengar itu pun tersenyum.


“Semoga kau bahagia dengan pilihanmu, Afnan. Aku mendoakan yang terbaik untukmu. Aku pun terlepas dari janji yang di buat oleh suamiku. Kita tidak memiliki takdir untuk bersama.” Gumam Nayya tulus.

__ADS_1


__ADS_2