Takdir Kedua

Takdir Kedua
37


__ADS_3

“Maaf, Nayya tidak bisa--”


Afnan yang mendengar ucapan Nayya pun segera menatap wanita itu dan segera memotong ucapan nya, “Nay!” panggil nya.


Nayya pun terdiam dan menatap Afnan, “Kita bicara berdua dulu. Bisa?” izin Afnan.


Nayya pun menatap kedua orang tua nya yang mengangguk. Akhir nya Nayya pun menyetujui permintaan Afnan itu.


Nah, di sini lah mereka berada. Di halaman depan sambil menatap taman bunga yang ada di sana. Afnan menatap lurus kekasih nya itu dengan tatapan yang mendominasi lawan bicara nya. Nayya tetap dengan tatapan lembut dan sayu nya. Tidak ada ketegasan sama sekali dalam tatapan nya itu. Tatapan yang biasa di miliki nya tidak terlihat sama sekali.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Nayya masih dengan terus menatap ke taman bunga.


Afnan menarik nafas panjang sebelum dia mengeluarkan suara nya, “Apa kau ingin menolakku lagi?” tanya Afnan balik.


Nayya pun tersenyum lalu menoleh dan menatap pria yang tujuh tahun lalu memang datang untuk melamar nya. Pria yang pernah dia cintai dan dia harapkan akan jadi suami nya kelak. Tapi takdir mempermainkan mereka hingga Nayya pun bertemu dengan sang suami yang saat ini sangat dia rindukan kehadiran nya.


“Apa aku punya hak untuk menerimamu? Tidak kah kau sadar kau mempermalukan dirimu dengan melamarku. Kau seorang lajang yang belum pernah menikah sama sekali sedangkan aku .. kau tahu keadaanku. Kau tahu status apa yang tersemat untukku. Tidak kah kau malu meminta seorang janda anak tiga untuk menjadi istrimu. Aku bukan ingin menolakmu tapi aku tidak ingin mempermalukanmu. Sudah cukup sekali aku melakukan kesalahan dan membuatmu merasa sedih. Jangan lagi. Aku harap kau mengerti dan menghentikan semua ini. Aku yakin ada banyak di luaran sana seorang gadis yang bisa kau nikahi dan bisa menerimamu apa ada nya.” ucap Nayya lembut. Tidak ada nada marah sama sekali dalam perkataan nya itu.


Afnan yang mendengar penuturan Nayya itu pun kembali menarik nafas panjang nya, “Aku lupa kau adalah Nayya yang sangat keras kepala. Aku lupa kau adalah Nayya yang tidak pernah ingin membagi dukamu dengan orang lain hanya dengan alasan tidak ingin membebani. Aku pikir kau akan membuat pengecualian untukku karena kau mengenalku. Tapi ternyata tidak kau pun menganggapku orang asing. Namun tidak masalah Nay. Aku tidak akan menyerah.” Ucap Afnan.


“Emang apa salah nya aku menikahimu. Apa salah nya aku menikahi seorang wanita dengan tiga orang anak. Apa yang salah dari hal itu. Aku pikir tidak ada yang salah. Jika kita hanya terpaku dan takut menjadi bahan pembicaraan orang lain maka percaya lah kita tidak akan pernah maju-maju. Sebab orang-orang tidak akan pernah berhenti bicara sampai mereka bosan. Jadi untuk apa memikirkan perkataan orang lain jika kita harus menderita. Lebih baik biarkan saja mereka terus bicara yang penting kita bahagia. Lagi pula aku tahu bahwa kau bukan orang yang akan mempermasalahkan pendapat orang-orang itu. Kau adalah orang terbuka.” Sambung Afnan.


Nayya yang mendengar itu pun tersenyum, “Kau seperti nya sangat mengenalku, Nan. Tapi tidak kah kau sadar bahwa setiap orang bisa saja berubah. Aku pun sama. Aku bukan lagi Nayya yang dulu yang kau kenal yang tidak akan mempedulikan pendapat orang lain. Untuk saat ini aku adalah orang yang mundur yang selalu memikirkan apa yang di katakan orang-orang. Jadi aku mohon hentikan semua ini. Aku tidak bisa menjadi istrimu.” Ucap Nayya bergetar di akhir kalimat nya.


“Nay!” panggil Afnan saat merasakan bahwa Nayya mencoba menahan tangis nya.


Nayya mengangkat wajah nya dan menatap lekat wajah Afnan, “Aku tidak pantas untukmu. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku.” Ucap Nayya.


“Tapi aku hanya menginginkanmu saja Nay. Baik tujuh tahun lalu, hari ini maupun di masa depan. Tidak masalah jika kau menolakku hari ini. Aku akan datang lagi lain waktu. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir.” Ucap Afnan.


“Kau keras kepala Nan.” Ucap Nayya.


Afnan tersenyum mendengar ucapan Nayya itu terlebih pada panggilan Nayya untuk nya. Panggilan yang sangat dia rindukan karena panggilan itu adalah panggilan yang di berikan Nayya untuk nya selama mereka menjalin hubungan. Panggilan yang mungkin dia dengar setelah sekian lama.


“Kita sama-sama keras kepala Nay. Bukan kah anak pertama memang memiliki sifat itu. Ingat saja bahwa aku tidak akan menyerah untuk hal ini. Aku tahu bahwa kau sangat menyayangi dan mencintai mendiang suamimu. Aku pun tidak pernah berniat untuk mengambil posisi nya di hatimu. Aku hanya ingin mengambil bagianku saja yang mungkin sedang tersembunyi di sudut hatimu.” Ucap Afnan.


“Kau terlalu percaya diri. Tapi terima kasih atas waktu dan pengertianmu. Aku tidak akan menjanjikan apapun untukmu. Aku tidak akan memikirkan hal ini karena percaya lah bahwa apa yang ku pikirkan tidak akan berubah sama sekali. Jawabanku hari ini mungkin akan tetap sama dengan jawabanku di waktu yang akan datang. Kau hanya menyia-nyiakan waktumu dengan menungguku.” Ucap Nayya.


“Tidak masalah untukku. Mau berapa tahun lagi pun aku akan tetap menunggumu.” Ujar Afnan.

__ADS_1


“Dasar keras kepala.” Ujar Nayya yang di balas oleh Afnan dengan senyum.


“Aku bertaruh di kata mungkinmu Nay. Kata mungkin bagiku berarti adalah sebuah kesempatan.” Batin Afnan.


Setelah itu kedua nya pun kembali masuk ke dalam kediaman dan bergabung dengan para orang tua di sana yang seperti nya menunggu jawaban dari kedua nya.


“Mih … pih … kita pulang saja.” ucap Afnan.


Semua orang di sana terkejut dengan ucapan Afnan itu, “Ini maksud nya apa nak? Apa lamaran nya tidak di lanjutkan?” tanya mami Rana.


“Kita akan mencoba nya lain waktu lagi mih. Untuk saat ini keberuntunganku masih berada di posisi bawah sehingga tidak mampu menaklukan Nayya.” Ucap Afnan menatap ke arah Nayya lekat.


Nayya yang mendengar itu pun hanya bisa tersenyum jengah lalu dia menatap mami Rana. Nayya mendekati ibu dari Afnan itu untuk meminta maaf karena untuk kali kedua dia menolak lamaran dari mereka, “Maafkan Nayya, Mih. Maafkan Nayya yang keras kepala ini. Maafkan Nayya yang menolak lamaran dari kalian lagi. Percaya lah kalian pasti akan mendapatkan menantu yang sepuluh kali lipat ah bukanberkali-kali lipat lebih baik dari Nayya. Kalian bisa membenci Nayya sesuka kalian.” ucap Nayya.


Mami Rana yang mendengar itu pun tersenyum dan memeluk Nayya, “Tidak masalah nak. Mungkin memang kami yang datang nya terlalu terburu-buru sehingga hal ini terjadi. Kami tidak akan menyalahkanmu. Kau punya hak untuk menolak atau pun menerima hal ini. Bagaimana pun ini adalah hidupku. Kau berhak seratus persen untuk hidupmu itu. Tidak ada yang boleh menganggu gugat hal itu.” ujar mami Rana.


Nayya pun tersenyum, “Terima kasih mih.” Ujar nya.


Setelah itu pun kedua keluarga segera berpisah. Keluarga Afnan segera kembali dan kini tinggal lah meninggalkan Nayya bersama kedua orang tua nya dan juga ketiga buah hati nya.


“Nayya!” panggil papa Imran.


“Tanyakan saja apa yang ingin papa dan mama tanyakan padaku.” Ucap Nayya to the point.


“Apa kau memang tidak ingin mempertimbangkan lamaran itu nak?” tanya papa Imran.


“Pah, kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa aku berhak atas hidupku sendiri. Lalu kenapa sekarang kau menanyakan hal itu padaku. Kenapa kau seolah telah berpindah pihak dariku.” Ucap Nayya.


“Bukan seperti itu nak. Tapi lihat lah mereka sudah datang kepadamu untuk kedua kali nya. Tidak kah kau harus memikirkan mereka juga. Papa tahu kau bukan orang yang egois yang tidak akan memikirkan orang lain seperti itu.” ujar papa Imran.


Nayya pun tersenyum, “Beri aku waktu untuk berpikir pah.” Balas Nayya. Lalu setelah itu dia segera pamit ke kamar nya.


***


“Bunda, apa uncle Afnan itu datang untuk meminta bunda jadi istri nya?” tanya Xander. Untuk pertama kali nya anak kedua nya itu penasaran dengan sesuatu sehingga Nayya yang mendengar nya pun menyunggingkan senyum nya.


Yah, ketiga buah hati nya itu malam ini memutuskan untuk tidur bersama nya.


Nayya pun mengangguk, “Yah, seperti itu kira-kira. Ada apa?” tanya Nayya yang ingin tahu pendapat anak nya itu.

__ADS_1


Xander menggeleng, “Gak ada apa-apa kok bun. Xander hanya bertanya aja. Xander tidur dulu ya bun.” Ucap nya. Lalu putra nya itu pun segera membaringkan tubuh nya di ranjang dan menutupi wajah nya dengan selimut. Nayya yang melihat itu pun hanya bisa bingung saja.


Setelah itu Nayya beralih menatap anak nya yang lain yang kini tengah menatap nya juga, “Ada apa? Kalian punya pertanyaan untuk bunda juga? Ayo katakan saja. Bunda akan menjawab nya untuk kalian jika memang bunda punya jawaban nya.” ujar Nayya lembut.


“Bunda, kami tahu bunda sangat menyayangi ayah. Kami pun sama. Kami tidak ingin ayah di gantikan dengan yang lain sama seperti bunda yang tidak ingin memiliki suami lain selain ayah. Kami juga tidak ingin memaksa bunda untuk menikah. Tapi tidak kah bunda berpikir bahwa dengan bunda menikah bunda bisa ada yang menjaga, melindungi sama seperti apa yang di lakukan ayah kepada bunda. Jadi bunda pasti tahu apa yang Qalessa maksud, bukan?” ucap Qalessa sang putri.


“Bunda, yang di katakan kakak benar. Bunda tidak boleh kesepian. Mungkin bunda bisa hidup bersama kami tapi bunda juga butuh seorang suami bukan. Jangan terbebani karena keberadaan kami bunda.” Sambung Xavier sang putra.


Nayya yang mendengar itu pun terdiam memikirkan apa yang di ucapkan oleh anak-anak nya itu.


“Nak, kalian tahu bunda tidak akan pernah kesepian selama kalian ada bersama bunda. Kalian itu adalah cahaya bunda. Jadi untuk apa butuh yang lain lagi. Ohiya satu lagi kalian itu bukan beban untuk bunda. Jangan pernah berpikiran seperti itu.” ucap Nayya.


“Ingat nak, keputusan bunda tidak ada kaitan nya dengan kalian.” lanjut nya.


“Bunda bohong!” batin ketiga buah hati nya itu karena memang Xander pun mendengar nya walaupun tubuh nya tertutup dengan selimut tebal.


Setelah itu mereka pun segera menghentikan pembahasan mereka itu dan mengambil posisi masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh masing-masing.


***


Tidak lama setelah ketiga buah hati nya itu tertidur, Nayya pun bangkit dari ranjang nya dan menuju meja di mana di sana ada laptop nya. Dia membuka laptop kesayangan nya itu dan di sana dia mulai menuliskan keadaan nya hari ini. Dia juga melihat novel nya yang sudah lama tidak dia perbaharui sehingga mendapatkan banyak peringatan untuk segera memperbaharui novel nya.


Nayya pun dengan sisa-sisa imajinasi yang dia punya dia mencoba menuangkan nya dalam tulisan karya nya itu. Ini lah hal yang dia lakukan saat pikiran nya bercabang. Dia mencoba mengalihkan nya ke hobi nya. Dia tidak ingin terlalu larut dalam pikiran nya itu dan membuat nya menghambat apa yang harus dia lakukan.


“Mas, lihat lah ketiga buah hati yang kau tinggalkan untukku itu. Mereka masih sangat kecil, bukan? Yah, mereka masih sangat kecil tapi siapa yang menyangka bahwa mereka memiliki pemikiran sedewasa itu di usia mereka. Aku tidak ingin membebani mereka dengan keadaanku tapi aku tahu mereka sangat memikirkanku. Entah apa yang sudah kau pesan pada mereka sehingga mereka sama sekali tidak keberatan jika aku harus menikah lagi. Aku ingin tahu apa yang kau pesan kepada mereka sebelum kau pergi mas.” Ucap Nayya menatap foto sang suami di meja nya itu.


“Huh, kini bahkan hobiku pun tidak bisa membuatku teralih dari masa kiniku. Aku justru memikirkan nya.” gumam Nayya.


Malam itu, Nayya tidak bisa tidur. Tidak ada rasa mengantuk sama sekali. Akhir nya dia memutuskan untuk membuka jendela kamar nya dan melihat bulan di sana yang bercahaya di kelilingi oleh bintang-bintang bertaburan. Langit malam yang sangat indah dan cerah.


“Lihat lah mas. Apa kau sudah menjadi bintang di sana dan menatapku di sini. Apa kau juga seolah mendukungku untuk menikah lagi. Dia sudah datang mas. Tapi aku menolak nya lagi. Aku juga harus apa. Aku tidak ingin menjadi pengganggu dalam hidup nya.” gumam Nayya masih menatap indah nya langit malam itu.


Sama seperti Nayya yang menatap bulan, di sisi Afnan juga sama. Laki-laki itu menatap bulan yang sama dengan apa yang di tatap Nayya. Aneh memang. Bukan kah bulan memang hanya satu.


“Nay, kau menolakku lagi.” Batin nya.


“Aku tidak akan menyalahkanmu. Entah apa alasanmu menolakku. Aku ingin tahu tapi ragu bertanya. Aku yakin alasanmu menolakku bukan karena pendapat orang-orang tapi karena sesuatu yang tidak bisa aku bayangkan.” Ucap Afnan.


“Bulan, hari ini kau bersinar cerah dengan di temani oleh bintang-bintang di sekelilingmu. Apa kau ingin mengatakan bahwa kau sedang berbahagia saat ini. Hum, jika memang kau sedang berbahagia maka aku hanya ingin menitipkan sesuatu padamu. Hanya berupa kalimat rindu saja. Aku mohon sampaikan pada nya bahwa aku merindukan nya. Buat dia merasakan rinduku itu. Aku menyayangi nya.”

__ADS_1


__ADS_2