
Kini Nayya di ruang perawatan nya itu hanya sendiri karena dia meminta kedua orang tua nya untuk makan siang dulu karena kedua nya melewatkan waktu makan siang hanya untuk menunggu nya bangun.
Nayya yang hanya sendiri di ruangan perawatan nya itu pun larut dengan pikiran nya sendiri. Dia memikirkan semua yang di katakan oleh kedua orang tua nya itu. Pertunangan Afnan yang batal membuat nya khawatir sekaligus deg-degan. Apa ini adalah takdir. Apa takdir sudah menunjukkan kuasa nya.
“Kenapa bisa begini? Aku sudah senang dia akan menikah dengan gadis lain setelah semua yang dia lalui. Tapi kenapa harus ada drama seperti ini lagi.” Batin Nayya resah.
“Kakak!” panggil Zayya tiba-tiba masuk ke ruangan perawatan nya itu hingga membuat pikiran nya itu buyar seketika.
Nayya segera tersenyum memandang adik bungsu nya itu. Zayya mendekati kakak sulung nya dan segera memeriksa infus yang terpasang.
“Hey, dosis dan tetes nya sudah benar dek.” ucap Nayya lembut.
Zayya pun menatap Nayya kesal, “Kenapa bisa mengalami hipotermia begitu kak. Dasar tidak bisa menjaga diri.” Ucap Zayya kesal padahal di hati nya dia itu sangat khawatir. Dia mengkhawatirkan kondisi kakak sulung nya itu.
“Maaf!” ucap Nayya.
“Ck, jangan hanya meminta maaf kak. Kau harus berusaha bangkit. Aku yakin kakak ipar juga sedih melihatmu seperti ini terus. Dia pasti sedih melihat istri yang dia cintai terpuruk karena kepergian nya itu. Dia sangat mengkhawatirkan kebahagiaanmu kak. Di akhir hidup nya dia lebih mengkhawatirkan kebahagiaanmu. Lalu apa kakak akan membuat nya kecewa?” tanya Zayya menggebu-gebu.
Jujur saja dia sangat mengkhawatirkan kondisi kakak nya itu. Kondisi psikis nya saja belum sembuh dan kini bertambah dengan fisik nya yang juga sakit.
“Tenang saja ini terakhir kali nya kakak membuat kalian khawatir dek. Kakak tidak akan mengulangi nya lagi.” Ucap Nayya.
Zayya yang mendengar itu pun segera memeluk kakak sulung nya itu, “Aku tidak marah kau merepotkan kak. Aku pun tidak keberatan kau merepotkanku. Aku hanya mau kakakku kembali. Kakakku yang tegar dan kuat. Tidak lemah seperti ini. Aku rindu dirimu yang dulu kak. Aku rindu ocehanmu itu.” ucap Zayya memeluk erat kakak nya.
Nayya yang mendengar itu pun tersenyum, “Kakak menyayangimu dek.” ucap Nayya.
“Kak, jangan sakit lagi. Kau tahu aku sedih melihatmu begini. Terpasang infus dan harus menerima transfusi.” Ucap Zayya.
Nayya pun lagi-lagi tersenyum mendengar ucapan adik nya itu yang sedang menunjukkan perhatian nya, “Kak, apa sudah makan?” tanya Zayya.
“Sudah tadi dek. Di suapin mama.” Jawab Nayya.
Zayya pun mengangguk lalu kedua kakak beradik itu pun bicara satu sama lain. Berbagi cerita satu sama lain sampai mama Fara dan papa Imran kembali.
__ADS_1
***
Di sisi lain, kini Afnan sudah berada di kediaman nya kembali. Dia segera masuk kediaman dan mendapati keluarga nya berkumpul di ruang keluarga lengkap dengan adik dan ipar nya serta keponakan nya.
Afnan pun segera menyalami kedua orang tua nya yang seperti nya memang mereka di sana menunggu nya, “Bagaimana keadaan Nayya nak?” tanya mami Rana.
“Dia sudah baik-baik saja.” jawab Afnan.
“Kak Nayya sakit apa kak?” tanya Ivana.
“Hipotermia. Suhu tubuh nya rendah sehingga pingsan. Itu saja.” jawab Afnan lagi.
“Kak, itu tanganmu kenapa?” tanya Efnan melihat tangan kakak nya yang di plester.
“Apa kamu melakukan donor darah?” tanya papi Riyad.
Afnan mengangguk, “Nayya butuh tranfusi dan stok darah di rumah sakit kosong. Lalu tidak mungkin juga jika papa nya Nayya yang akan mendonorkan walaupun darah mereka sama.” jawab Afnan.
“Dia sudah sadar mih. Tapi tentu saja aku tidak bertemu dengan nya. Hanya melihat nya saat dia belum terbangun. Aku menghormati diri nya yang masih menjalani masa iddah nya.” ucap Afnan.
“Kakak sudah menjelaskan secara detail. Apa itu arti nya kakak akan melamar kak Nayya nanti setelah dia selesai dengan masa iddah nya?” tanya Efnan tersenyum.
Afnan yang mendengarkan ucapan adik laki-laki nya itu pun menyunggingkan senyum nya, “Menurutmu seperti apa? Apa aku orang bodoh yang akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang padaku lagi?” tanya Afnan balik.
“Papi mendukung apa yang akan kau ambil nanti. Keputusan kini sudah ada di tanganmu. Perjodohanmu dengan Ayu resmi di batalkan setelah semua kejadian hari ini.” ucap papi Riyad menepuk bahu putra sulung nya itu.
Afnan pun hanya tersenyum dan mengangguk, “Terima kasih pih.” Ucap Afnan.
***
“Kak, apa kau akan melamar kak Nayya nanti?” tanya Ivana saat kini mereka hanya berdua berada di ruang makan. Afnan memang setelah bicara dengan keluarga nya itu pun memilih untuk makan karena dia memang sudah melewatkan waktu makan siang.
Afnan yang mengambil makanan di meja makan pun tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh adik perempuan nya itu yang seperti nya belum puas dengan apa yang mereka sudah bicarakan tadi di ruang tamu sehingga harus mengintil nya sampai ke sini.
__ADS_1
“Kenapa? Apa kamu tidak setuju? Apa sudah berubah pikiran.” Ucap Afnan.
“Kak, aku serius.” Ucap Ivana.
Afnan pun terkekeh, “Menurutmu seperti apa?” tanya Afnan.
“Ck, kak aku tidak ingin menduga apapun. Jawab saja.” ucap Ivana.
Afnan pun mengangguk, “Kakak akan melamar nya nanti untuk kedua kali nya. Semoga saja peruntungan kakak kali ini berpihak pada kakak. Mohon doa nya ya.” Ucap Afnan lalu dia pun segera memulai makan nya itu.
Ivana pun mengangguk, “Aku pasti akan mendoakan yang terbaik untukmu kak. Aku menyayangimu. Aku ingin kau bahagia juga seperti kami. Jujur saja aku merasa bersalah saat melihatmu sedih dan juga sampai saat ini belum punya pasangan. Padahal aku dan kak Efnan sudah menikah dan memiliki anak.” ucap Ivana.
Afnan yang mendengar itu pun tersenyum saja. Dia tahu memang adik-adik nya itu pun mengkhawatirkan nya.
“Kakak tidak akan kalian khawatir lagi.” Ucap Afnan.
“Kakak harus menepati nya.” ujar Ivana lalu menemani kakak sulung nya itu makan bersama.
***
Sementara di kediaman mama Fara dan papa Imran, kini ada si triplets yang sedang bermain-main dengan kedua anak Rayya dan Ariq.
“Aunty, apa bunda baik-baik saja?” tanya Xavier.
Rayya pun tersenyum mendengar pertanyaan keponakan nya itu, “Bunda baik-baik saja kok sayang. Kalian tidak perlu khawatir.” Ucap Rayya.
“Aunty, bisa kah hubungi bunda. Kami mau bicara pada nya.” kali ini Xander yang bicara.
Rayya yang mendengar itu pun menatap sang suami yang kemudian memberi isyarat untuk menyetujui saja.
“Baiklah, aunty akan menelpon bunda kalian.” ucap Rayya.
“Terima kasih aunty.” Ucap Qalessa. Rayya pun hanya tersenyum mengangguk. Lalu dia segera meraih ponsel nya dan segera menghubungi sang kakak.
__ADS_1