
“Dengan cara apa anda mengatasi nya Mih?”
Ayu mengatakan pertanyaan itu dengan sedikit nada tinggi. Entah kemana kesabaran nya itu.
“Jangan bicara tinggi seperti itu pada mamiku, Ayu. Aku tidak mengizinkanmu melakukan itu. Mungkin memang benar perjodohan kita di awali oleh mamiku tapi aku tidak akan pernah rela jika ada yang meninggikan suara nya pada mamiku. Kau juga harus ingat perjodohan kita tidak akan terjadi jika tanpa persetujuan orang tuamu.” Ucap Afnan tidak terima dengan nada bicara Ayu itu.
Hati anak siapa juga yang bisa menerima saat ibu nya di perlakukan seperti itu. Walaupun tidak di pungkiri kita sebagai anak terkadang melakukan itu tanpa sadar.
“Sudah … gak apa-apa Afnan. Mami mengerti saat ini Ayu sedang terluka.” Ucap mami Rana melerai. Dia tidak ingin masalah ini semakin panjang dan nanti nya tidak akan mendapatkan jalan keluar nya. Ini memang berawal dari nya maka dia pun harus menyelesaikan nya. Harus segera menyelesaikan nya agar tidak ada masalah lagi yang timbul.
Afnan yang mendengar ucapan mami nya pun hanya bisa menarik nafas panjang dan memijat pelipis nya, “Ayu kau tenang saja. Semua nya akan baik-baik saja. Mami yang mengajukan perjodohan ini jadi tentu saja mami juga yang akan bertanggung jawab untuk itu. Kau tidak perlu khawarirkan apapun. Perjodohan ini akan di batalkan tapi dengan tidak melukai harga diri kalian.” ucap mami Rana.
Ayu pun memandangi mami Rana itu lalu dia mengangguk, “Baiklah … saya percaya pada anda mih. Saya mohon selesaikan masalah ini. Maaf juga atas ketidaksopanan saya hari ini. Seperti kak Afnan yang tidak ingin ada yang meninggikan suara kepada mami nya maka seperti itu juga saya yang tidak ingin ada yang menghancurkan harga diri keluarga.” ucap Ayu lembut.
Mami Rana pun mengangguk, “Kau tenang saja.” ucap mami Rana. Setelah itu, Ayu pun segera pamit pulang.
***
__ADS_1
Kini di ruang tamu itu menyisakkan, Afnan dan mami Rana karena memang papi Riyad sudah pergi bekerja dan untuk kedua adik Afnan sudah punya keluarga mereka masing-masing yang sudah pasti memiliki kediaman mereka sendiri.
Afnan memandangi mami nya, “Kenapa bisa begini mih?” tanya Afnan.
Mami Rana pun menggeleng, “Mami juga gak tahu nak. Mami sudah bicara baik-baik dengan keluarga Ayu dan mereka pun tidak keberatan sama sekali jika perjodohan ini di batalkan. Karena memang dari awal juga mami sudah membuat kesepakatan bahwa perjodohan ini akan di lanjutkan jika memang kalian sama-sama mau. Jika ada salah satu yang tidak setuju maka perjodohan pun batal. Tapi kini mami juga jadi bingung sendiri. Kenapa ini bisa terjadi. Tapi kamu tenang saja biar ini jadi urusan mami. Kamu fokus saja dengan yang kamu urus.” Ucap mami Rana menatap putra nya itu lembut.
Satu keinginan nya saat ini yaitu melihat putra sulung nya itu bahagia. Menikah dan punya keluarga sendiri. Hal itu yang akan dia wujudkan.
“Bagaimana aku bisa fokus dengan urusanku mih. Jika ada masalah ini.” ucap Afnan.
“Maafkan mami nak. Lagi-lagi karena mami kamu mendapat masalah.” Ucap mami Rana.
“Tetap saja mami harus minta maaf padamu nak.” ucap mami Rana.
“Jangan lakukan itu mih. Apa kau ingin putramu yang banyak dosa ini semakin berdosa karena membuat mami nya sendiri meminta maaf.” Ucap Azzam. Mami Rana hanya menggeleng dalam pelukan putra sulung nya itu.
“Mami akan pastikan semua nya baik-baik saja nak. Kita akan menjemput Nayya ke rumah ini sebagai menantu. Jika dulu gagal maka mami pastikan kali ini tidak akan lagi.” Batin mami Rana.
__ADS_1
“Aku hanya ingin Nayya saja jadi istriku. Hanya dia satu-satu nya wanita yang ku inginkan jadi istriku. Tidak masalah menjadi yang kedua selama dia tetap Nayyara.” Batin Afnan.
***
Di sisi Nayya, kini dia sedang membantu mama Fara memasak untuk menu makan siang.
“Mah, setelah masa iddahku selesai nanti. Aku ingin kembali bekerja dan juga kembali menjadi perawat.” Ucap Nayya di sela-sela mencuci sayuran.
“Bekerja tentu saja boleh nak. Tapi untuk perawat, mama--”
“Jangan khawatirkan apapun mah. Aku sudah memikirkan hal ini dengan panjang dan penuh pertimbangan. Aku tidak boleh berlarut-larut dalam traumaku. Aku harus melawan nya. Lagi pula aku sudah menjalani terapi untuk traumaku kan mah. Kau tidak perlu khawatirkan apapun lagi karena putrimu ini tetap lah Nayyara yang kau kenal. Aku tidak akan jatuh terpuruk selama nya.” ucap Nayya.
“Aku memang kehilangan suamiku. Tapi dia sudah ikhlas untuk kepergiaan nya itu. Aku juga sudah mengupayakan yang terbaik. Walau tidak aku pungkiri aku juga merasa bersalah karena merasa tidak menjadi istri yang baik untuk nya. Tapi jika aku terus sedih maka kasihan anak-anak. Lalu mas Risam juga pasti sedih melihatku begini. Aku akan kembali seperti semula lagi. Memulai kehidupanku bersama anak-anak.” ucap Nayya penuh tekad. Dia memang sudah memikirkan keputusan ini.
“Baiklah. Jika memang itu sudah jadi keputusanmu nak. Tapi tetap saja kau belum boleh bekerja sebagai perawat sebelum traumamu itu hilang sepenuh nya. Mama tidak ingin ada sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Mama tidak ingin kehilanganmu. Mungkin mama masih punya dua anak lain tapi kau adalah putri sulung mama yang menjadikan mama bergelar ibu untuk pertama kali nya. Kau itu adalah permata hati kami nak. Jika tidak untuk kami maka setidak nya lakukan demi ketiga buah hatimu yang pasti nya ingin bunda mereka sehat-sehat terus.” Ucap mama Fara.
Nayya yang mendengar ucapan mama nya pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah. Aku akan melakukan apapun yang mama katakan. Aku adalah permata hati kalian bukan. Maka untuk itu aku mohon jangan lepaskan pertama hati kalian ini dengan mudah. Aku masih ingin seperti ini.” ucap Nayya tersenyum lalu memberikan sayuran yang sudah dia cuci bersih pada mama nya itu.
__ADS_1
Mama Najwa pun terdiam lalu kemudian tersenyum mendengar ucapan putri sulung nya itu yang mengandung makna tersirat yang menyindir, “Kau belum bisa melupakan Risam nak. Kau hanya mencoba kuat saja. Semoga saja takdir memang menyetujui apa yang kau inginkan. Walaupun mama ingin kau segera memiliki suami lagi tapi semua nya tergantung keputusanmu.” Batin mama Fara.
“Aku belum siap jika memang harus menikah lagi. Belum siap.” Batin Nayya.