
Cuaca siang itu awet sejuknya. Obrolan mereka lanjutkan.
“Pak, maaf nih saya cerita. Kalau bapak suka sama perempuan, Bapak
bakal bilang suka atau gimana?” Aleeya dengan polosnya curhat pada atasannya.
Gadis itu memang mudah akrab.
“Ha? Keeenapa?” Andi gugup.
“Apa Aleeya tau aku menyukainya?
Apa dia tau aku mau melamar?” Andi berbisik dalam hati.
“Laki-laki kalau suka sama perempuan itu gimana, Pak? Langsung bilang
atau bikin perempuan penasaran?” Aleeya serius.
“Kalau saya sih bilang ke orangnya secara langsung dan melamarnya.”
Andi tak kalah serius.
Aleeya tampak terpana mendengar jawaban Andi.
“Bapak keren!” Kemudian ia mengacungkan 2 jempolnya.
Andi tertawa. Suasana kembali hening. Aleeya menunduk. Gadis itu
berandai-andai. Andai Chandra juga melakukan apa yang dikatakan Andi.
Tiba-tiba…
“Aleeya, Saya ingin menjadi orang yang mengisi hatimu.” Andi berterus
terang.
Aleeya terkejut bukan kepalang.
“Bapak mau praktekin ucapan bapak tadi?”
“Iya, karena kamu orangnya.”
Aleeya menunduk, ia tak berani menatap Andi.
“Kamu nggak harus jawab sekarang. Saya tau kalau saya terlalu cepat menyatakan
perasaan saya karena perasaan itu semakin hari semakin subur.” Panjang lebar
Andi mengutarakan isi hatinya.
“Maaf, Pak. Saya nggak bisa jawab sekarang.”
“Saya mengerti. Saya mau hubungan kita tetap seperti ini meski apapun
jawaban kamu. Karena cinta bukan untuk membuat orang berjauhan atau bahkan
musuhan. Oke?” Andi begitu bijak memahami setiap situasi. Aleeya tersenyum
pahit. Ia tak menyangka bila Andi menaruh hati padanya.
Matahari dijemput pulang oleh bulan ke peraduan. Pun begitu, anak cucu
Adam pulang dari pekerjaan. Hampir pukul 5 sore, Aleeya baru menyelesaikan
pekerjaannya. Kacamata yang sering ia pakai saat menghadap layar masih
terpasang ditemani rambutnya yang berantakan. Bagi Aleeya, make up hanya
bertahan sekitar jam 11, selebihnya ia tak lagi memperbaharui riasannya.
Sembari merapikan ikatan rambutnya, Andi menghampiri.
“Al, Saya antar ya?” Andi turun dari mobil.
“Oh, tidak usah repot-repot, Pak. Saya sudah biasa naik angkot. Lagian
kontrakan saya nggak terlalu jauh.”
“Ini bukan karena ucapan saya siang tadi, kan?”
“100% tidak. Saya orangnya santai, Pak.”
“Oh, bagus lah.” Andi mengangguk-angguk seperti tak ingin percakapannya
dengan Aleeya berakhir.
“Tiiiiinn…” Klakson motor gede mengejutkan 2 insan tadi.
Aleeya menoleh. Ia tau kalau Chandra akan menjemputnya.
“Aku nggak nyuruh kamu jemput.”
Chandra mendekat sedangkan Andi mencoba mengingat.
“Chandra? Anaknya tante Jogi?” Andi akhirnya menyadari siapa pemilik
motor yang mengejutkan dia.
__ADS_1
“Hai, Bang Andi. What’s up?” Chandra menjabat tangan orang yang di
depannya.
“Am ok.”
“Al, pulang, yuk! Sorry, Bang. Saya harus mengantar calon istri saya
ini pulang.”
Andi terkejut bukan main mendengar ucapan Chandra. Begitu juga Aleeya. Belum
sempat Aleeya protes, Chandra langsung menggenggam tangannya dan mengisyaratkan
naik ke motor.
“Kapan-kapan kita ngopi bareng.” Chandra melambaikan tangan ke arah
Andi.
Andi masih mematung meski Aleeya mengucapkan selamat sore. Perempuan
yang ia kagumi karena kepolosannya itu ternyata menjadi calon istri sepupunya.
Chandra adalah sepupu Andi. Ayah Andi dan ibunya Chandra adalah saudara tiri.
Mereka tak akrab sehingga Chandra pun tak mengetahui keberadaan Andi bekerja
setelah kuliah.
****
Saat di jalan, Aleeya sedikitpun tidak menyentuh badan Chandra. Ia
duduk tegak meski motor gede seperti milik pebalap moto gp itu mendukung
penumpangnya untuk memeluk si pengemudi. Chandra geleng-geleng kepala dan
terpaksa menurunkan kecepatan laju motornya. Pria yang sebenarnya dingin dan cuek
itu tak ingin memaksa penumpangnya memeluknya dari belakang. Namun ia juga tak
ingin gadis itu terjatuh.
Di depan kontrakan, tas Aleeya terjatuh ketika perempuan itu hendak
turun. Chandra secepat kilat mengambil tas dan isinya yang berantakan. Secepat
kilat juga laki-laki itu mengambil kunci kontrakan Aleeya. Akhirnya gadis yang
menjadi rebutan laki-laki itu tak bisa membuka pintunya.
tersenyum. Sebelumnya ia cekikikan melihat Aleeya membongkar tas.
“Jadi aku tidur di mana? Mandi di mana? Makan di mana? Ganti baju pake
apa?” Aleeya kesal. Apalagi mengingat kata-kata Chandra di depan kantor tadi.
“Rumah aku!” Chandra menjawab santai di motornya.
Aleeya mendekat dengan tatapan seperti ingin memangsa hewan buruan.
“Apa maksud kamu tadi?”
“Tadi apa?”
“Calon istri! Siapa yang mau jadi calon istri kamu? Ha?” Aleeya menarik
lengan baju Chandra.
“Aduh gawat, singa bangun.” Canda laki-laki itu. Ia menutup matanya.
“Aku serius!”
“Al, ada yang mau aku bilang ke kamu.” Chandra berubah menjadi serius.
“Apa!”
“Mau hujan. Kita bicarainnya di rumah. Lagian tadi siang aku bilang
waktumu milikku hari ini.”
“Enak aja! Waktuku berharga!”
“Iya-iya. Cepat naik. Udah gerimis.”
Motor melaju diiringi gerimis tipis yang sudah menjadi hujan deras.
Kilat bercahaya dan angin berhembus kencang menambah dinginnya sore menjelang
malam itu. Seperti direndam di es, begitu dingin hingga tanpa disadari tangan
Aleeya memeluk erat pinggang Chandra.
Kepalanya ia sandarkan ke punggung besar milik Chandra.
“Al, al. Kita udah sampe.”
__ADS_1
“Aku tau punggung aku hangat, tapi akan lebih hangat kalau meluknya di
rumah.” Lanjut Chandra. Ia membuka helmnya.
Aleeya memukul keras punggung laki-laki itu.
“Punggung hangat kakiku!” Aleeya langsung membuka pintu dan masuk.
Sudah seperti rumahnya sendiri, Aleeya mandi dan memakai baju tante
Jogi tanpa di suruh si pemilik rumah. Selesai mengeringkan rambutnya, ia sholat
maghrib. Kemudian gadis itu penasaran, kenapa empunya kamar tidak ada, tante
Jogi. Aleeya mengelilingi rumah guna mencari perempuan yang sudah ia anggap
seperti ibunya sendiri, namun tetap tidak ada.
“Chaaaan, Chandra!” Aleeya memekik di depan tv.
Tidak ada jawaban. Rumah besar itu sunyi. Ia mulai khawatir. Khawatir
kalau anak laki-laki tante Jogi sudah merencanakan semuanya. Aleeya
menyilangkan kedua tangannya ke bahu.
Chandra keluar dari kamar masih memakai handuk. Ia menuju asal suara
yang memanggilnya.
“Al, aleeya?” Suaranya kian mendekat ke depan tv.
Aleeya meringkuk ketakutan. Gadis itu menyelimutkan kain di sofa hanya
untuk menutupi tubuhnya dari pandangan laki-laki yang kian mendekat.
“Haaa….” Chandra membuka kain penutup wajah Aleeya.
Laki-laki jangkung itu tertawa terbahak-bahak sementara Aleeya masih
menutup kepalanya.
“Main petak umpet?”
“Chan, mending kamu pakai baju dulu sana!” Aleeya masih kesal dan
memalingkan wajahnya dari Chandra.
“Kenapa?” Chandra mendekat. Si pria bertelanjang dada itu semakin
tampak tegap di hadapan Aleeya.
Melihat laki-laki itu makin aneh, Aleeya menendang kakinya dan lari
masuk ke ruangan terdekat dari ruang tv, kamar Chandra.
“Aduh, Al! Kamu kenapa sih?!”
“Kamu mesum!” Aleeya mengunci pintu kamar.
Chandra berlari menuju kamarnya dan menggedor-gedor pintu kamarnya
sendiri.
“Kamu tau Tante Jogi nggak ada di rumah, terus kamu sengaja ngajak aku
ke sini, kan?”
“Apa?” Chandra tak mengerti maksud Aleeya.
“Buka pintunya dulu, pakaian aku di sana.” Lanjutnya berteriak.
“Nggak mau. Kamu mesum!”
“Ya ampun, Al. Mama arisan di luar. Karena hujan makanya belum pulang.
Ada-ada aja deh kamu. Aku nggak sejahat itu, Al.” Pujuk Chandra.
“Bener? Serius? Bukan mesum?”
“Iya, Aleeya sayaaaang!” Chandra sadar mengucapkan kata sayang. Ia
memukul mulutnya.
“Sayang? Chandra sayang sama
aku?” Teriak Aleeya kesenangan dalam hati.
Aleeya melempar pakaian Chandra lengkap dengan dalamannya keluar lalu
ia mengunci pintu sebelum Chandra berhasil masuk.
“Ya ampun Aleeya! Awas ya kalau keluar dari sana, Aku balas nanti!”
Ancam Chandra diikuti gelak tawa Aleeya dari dalam kamar.
bersambung..
__ADS_1
Hi beloved readers and other authors! I can't continue this story for somedays. saya sudah kebali. Yok jalan-jalan ke cerita aku!