Takdir Kedua

Takdir Kedua
Episode 9


__ADS_3

Cuaca siang itu awet sejuknya. Obrolan mereka lanjutkan.


“Pak, maaf nih saya cerita. Kalau bapak suka sama perempuan, Bapak


bakal bilang suka atau gimana?” Aleeya dengan polosnya curhat pada atasannya.


Gadis itu memang mudah akrab.


“Ha? Keeenapa?” Andi gugup.


“Apa Aleeya tau aku menyukainya?


Apa dia tau aku mau melamar?” Andi berbisik dalam hati.


“Laki-laki kalau suka sama perempuan itu gimana, Pak? Langsung bilang


atau bikin perempuan penasaran?” Aleeya serius.


“Kalau saya sih bilang ke orangnya secara langsung dan melamarnya.”


Andi tak kalah serius.


Aleeya tampak terpana mendengar jawaban Andi.


“Bapak keren!” Kemudian ia mengacungkan 2 jempolnya.


Andi tertawa. Suasana kembali hening. Aleeya menunduk. Gadis itu


berandai-andai. Andai Chandra juga melakukan apa yang dikatakan Andi.


Tiba-tiba…


“Aleeya, Saya ingin menjadi orang yang mengisi hatimu.” Andi berterus


terang.


Aleeya terkejut bukan kepalang.


“Bapak mau praktekin ucapan bapak tadi?”


“Iya, karena kamu orangnya.”


Aleeya menunduk, ia tak berani menatap Andi.


“Kamu nggak harus jawab sekarang. Saya tau kalau saya terlalu cepat menyatakan


perasaan saya karena perasaan itu semakin hari semakin subur.” Panjang lebar


Andi mengutarakan isi hatinya.


“Maaf, Pak. Saya nggak bisa jawab sekarang.”


“Saya mengerti. Saya mau hubungan kita tetap seperti ini meski apapun


jawaban kamu. Karena cinta bukan untuk membuat orang berjauhan atau bahkan


musuhan. Oke?” Andi begitu bijak memahami setiap situasi. Aleeya tersenyum


pahit. Ia tak menyangka bila Andi menaruh hati padanya.


Matahari dijemput pulang oleh bulan ke peraduan. Pun begitu, anak cucu


Adam pulang dari pekerjaan. Hampir pukul 5 sore, Aleeya baru menyelesaikan


pekerjaannya. Kacamata yang sering ia pakai saat menghadap layar masih


terpasang ditemani rambutnya yang berantakan. Bagi Aleeya, make up hanya


bertahan sekitar jam 11, selebihnya ia tak lagi memperbaharui riasannya.


Sembari merapikan ikatan rambutnya, Andi menghampiri.


“Al, Saya antar ya?” Andi turun dari mobil.


“Oh, tidak usah repot-repot, Pak. Saya sudah biasa naik angkot. Lagian


kontrakan saya nggak terlalu jauh.”


“Ini bukan karena ucapan saya siang tadi, kan?”


“100% tidak. Saya orangnya santai, Pak.”


“Oh, bagus lah.” Andi mengangguk-angguk seperti tak ingin percakapannya


dengan Aleeya berakhir.


“Tiiiiinn…” Klakson motor gede mengejutkan 2 insan tadi.


Aleeya menoleh. Ia tau kalau Chandra akan menjemputnya.


“Aku nggak nyuruh kamu jemput.”


Chandra mendekat sedangkan Andi mencoba mengingat.


“Chandra? Anaknya tante Jogi?” Andi akhirnya menyadari siapa pemilik


motor yang mengejutkan dia.

__ADS_1


“Hai, Bang Andi. What’s up?” Chandra menjabat tangan orang yang di


depannya.


“Am ok.”


“Al, pulang, yuk! Sorry, Bang. Saya harus mengantar calon istri saya


ini pulang.”


Andi terkejut bukan main mendengar ucapan Chandra. Begitu juga Aleeya. Belum


sempat Aleeya protes, Chandra langsung menggenggam tangannya dan mengisyaratkan


naik ke motor.


“Kapan-kapan kita ngopi bareng.” Chandra melambaikan tangan ke arah


Andi.


Andi masih mematung meski Aleeya mengucapkan selamat sore. Perempuan


yang ia kagumi karena kepolosannya itu ternyata menjadi calon istri sepupunya.


Chandra adalah sepupu Andi. Ayah Andi dan ibunya Chandra adalah saudara tiri.


Mereka tak akrab sehingga Chandra pun tak mengetahui keberadaan Andi bekerja


setelah kuliah.


****


Saat di jalan, Aleeya sedikitpun tidak menyentuh badan Chandra. Ia


duduk tegak meski motor gede seperti milik pebalap moto gp itu mendukung


penumpangnya untuk memeluk si pengemudi. Chandra geleng-geleng kepala dan


terpaksa menurunkan kecepatan laju motornya. Pria yang sebenarnya dingin dan cuek


itu tak ingin memaksa penumpangnya memeluknya dari belakang. Namun ia juga tak


ingin gadis itu terjatuh.


Di depan kontrakan, tas Aleeya terjatuh ketika perempuan itu hendak


turun. Chandra secepat kilat mengambil tas dan isinya yang berantakan. Secepat


kilat juga laki-laki itu mengambil kunci kontrakan Aleeya. Akhirnya gadis yang


menjadi rebutan laki-laki itu tak bisa membuka pintunya.


tersenyum. Sebelumnya ia cekikikan melihat Aleeya membongkar tas.


“Jadi aku tidur di mana? Mandi di mana? Makan di mana? Ganti baju pake


apa?” Aleeya kesal. Apalagi mengingat kata-kata Chandra di depan kantor tadi.


“Rumah aku!” Chandra menjawab santai di motornya.


Aleeya mendekat dengan tatapan seperti ingin memangsa hewan buruan.


“Apa maksud kamu tadi?”


“Tadi apa?”


“Calon istri! Siapa yang mau jadi calon istri kamu? Ha?” Aleeya menarik


lengan baju Chandra.


“Aduh gawat, singa bangun.” Canda laki-laki itu. Ia menutup matanya.


“Aku serius!”


“Al, ada yang mau aku bilang ke kamu.” Chandra berubah menjadi serius.


“Apa!”


“Mau hujan. Kita bicarainnya di rumah. Lagian tadi siang aku bilang


waktumu milikku hari ini.”


“Enak aja! Waktuku berharga!”


“Iya-iya. Cepat naik. Udah gerimis.”


Motor melaju diiringi gerimis tipis yang sudah menjadi hujan deras.


Kilat bercahaya dan angin berhembus kencang menambah dinginnya sore menjelang


malam itu. Seperti direndam di es, begitu dingin hingga tanpa disadari tangan


Aleeya memeluk  erat pinggang Chandra.


Kepalanya ia sandarkan ke punggung besar milik Chandra.


“Al, al. Kita udah sampe.”

__ADS_1


“Aku tau punggung aku hangat, tapi akan lebih hangat kalau meluknya di


rumah.” Lanjut Chandra. Ia membuka helmnya.


Aleeya memukul keras punggung laki-laki itu.


“Punggung hangat kakiku!” Aleeya langsung membuka pintu dan masuk.


Sudah seperti rumahnya sendiri, Aleeya mandi dan memakai baju tante


Jogi tanpa di suruh si pemilik rumah. Selesai mengeringkan rambutnya, ia sholat


maghrib. Kemudian gadis itu penasaran, kenapa empunya kamar tidak ada, tante


Jogi. Aleeya mengelilingi rumah guna mencari perempuan yang sudah ia anggap


seperti ibunya sendiri, namun tetap tidak ada.


“Chaaaan, Chandra!” Aleeya memekik di depan tv.


Tidak ada jawaban. Rumah besar itu sunyi. Ia mulai khawatir. Khawatir


kalau anak laki-laki tante Jogi sudah merencanakan semuanya. Aleeya


menyilangkan kedua tangannya ke bahu.


Chandra keluar dari kamar masih memakai handuk. Ia menuju asal suara


yang memanggilnya.


“Al, aleeya?” Suaranya kian mendekat ke depan tv.


Aleeya meringkuk ketakutan. Gadis itu menyelimutkan kain di sofa hanya


untuk menutupi tubuhnya dari pandangan laki-laki yang kian mendekat.


“Haaa….” Chandra membuka kain penutup wajah Aleeya.


Laki-laki jangkung itu tertawa terbahak-bahak sementara Aleeya masih


menutup kepalanya.


“Main petak umpet?”


“Chan, mending kamu pakai baju dulu sana!” Aleeya masih kesal dan


memalingkan wajahnya dari Chandra.


“Kenapa?” Chandra mendekat. Si pria bertelanjang dada itu semakin


tampak tegap di hadapan Aleeya.


Melihat laki-laki itu makin aneh, Aleeya menendang kakinya dan lari


masuk ke ruangan terdekat dari ruang tv, kamar Chandra.


“Aduh, Al! Kamu kenapa sih?!”


“Kamu mesum!” Aleeya mengunci pintu kamar.


Chandra berlari menuju kamarnya dan menggedor-gedor pintu kamarnya


sendiri.


“Kamu tau Tante Jogi nggak ada di rumah, terus kamu sengaja ngajak aku


ke sini, kan?”


“Apa?” Chandra tak mengerti maksud Aleeya.


“Buka pintunya dulu, pakaian aku di sana.” Lanjutnya berteriak.


“Nggak mau. Kamu mesum!”


“Ya ampun, Al. Mama arisan di luar. Karena hujan makanya belum pulang.


Ada-ada aja deh kamu. Aku nggak sejahat itu, Al.” Pujuk Chandra.


“Bener? Serius? Bukan mesum?”


“Iya, Aleeya sayaaaang!” Chandra sadar mengucapkan kata sayang. Ia


memukul mulutnya.


“Sayang? Chandra sayang sama


aku?” Teriak Aleeya kesenangan dalam hati.


Aleeya melempar pakaian Chandra lengkap dengan dalamannya keluar lalu


ia mengunci pintu sebelum Chandra berhasil masuk.


“Ya ampun Aleeya! Awas ya kalau keluar dari sana, Aku balas nanti!”


Ancam Chandra diikuti gelak tawa Aleeya dari dalam kamar.


bersambung..

__ADS_1


Hi beloved readers and other authors! I can't continue this story for somedays. saya sudah kebali. Yok jalan-jalan ke cerita aku!


__ADS_2