Takdir Kedua

Takdir Kedua
Episode 2


__ADS_3

Chandra akhirnya menyerah. Ia memperhatikan Aleeya hingga gadis itu


menemukan bus yang membawanya menuju sumber masalah hatinya. Lamunan Chandra berakhir


setelah Intan menelpon.


“Sayang, kamu kok belum nyampe?”


Intan, calon istri Chandra. Gadis itu meminta dinikahi setelah urusan


kuliah selesai. Namun Chandra merasa tak yakin. Kenapa perempuan yang


bercita-cita tinggi seperti Intan ingin menikah muda. Padahal dulu ia


mengajaknya menikah sambil kuliah, gadis itu tak mau. Dengan malas Chandra


menjawab.


“Aku ada urusan. Kamu mau ngapain sih?” Kesal Chandra.


“Aku kangen kamu. Kita ketemu malam ini?”


“Oke, kita ketemu.”


“Oke. Aku yakin Ichand gak akan mengecewakan calon istrinya.” Goda


Intan.


Telepon dimatikan. Chandra mencari tempat untuk ia bersantai. Kota


pelabuhan seperti kota kelahirannya menyediakan banyak tempat untuk bersantai. Semalaman


ia tak bisa tidur. Laki-laki jangkung itu baru teringat gadis yang ia temui


dulu, ternyata Aleeya. Melihat Aleeya mengikat rambutnya, Chandra pun yakin


gadis itu Aleeya . 4 tahun yang lalu ia bertemu gadis itu ketika ia ingin


mendaftar kuliah di kota Aleeya berasal. Pertemuan mereka di saat senja mulai


menampakkan diri.


Kenangan berputar kembali. Angin laut berhembus sepoi-sepoi menambah


manisnya kenangan. Chandra bertemu Aleeya ketika tubuh jangkungnya itu disenggol


Aleeya hingga terpental dari trotoar kampus. Aleeya saat itu terburu-buru


karena akan terlambat masuk kelas. Sedangkan Chandra hendak mendaftar jalur


mandiri dan waktu mendaftar akan segera ditutup.


“Wey, jalan pake mata!” Aleeya membentak.


Chandra dengan cueknya meninggalkan Aleeya yang masih duduk di jalan.


Aleeya melempar kepala Chandra dengan sepatu hingga Chandra terpaksa membalik


mendekat.


“Please deh, jadi anak laki-laki itu harus tanggungjawab.” Ujar Aleeya


setelah ia berdiri sendiri tanpa minta dibantu.


“Kamu yang menabrakku dari belakang. Kamu yang jatuh sendri, kamu yang


marah-marah.” Chandra tak ingin kalah.


“Iya ya. Walaupun begitu, paling tidak kamu bantu aku berdiri, bilang


maaf. Perempuan cantik kok dibiarkan terjatuh. Pangeran sadis!” Celoteh Aleeya.


“Maaf.” Chandra mengulurkan tangannya.


“Tuan putri maafkan.” Canda Aleeya.


Chandra tersenyum sendiri mengingat kejadian pertama kali ia bertemu


Aleeya.


“Dia nggak berubah. Masih banyak bergurau walau tetap cerewet.” Ucap


Chandra.

__ADS_1


Memory Chandra masih terus mendalami kenangan yang ada di dalamnya.


Chandra mengeluarkan sapu tangan dari tasnya. Sapu tangan yang terukir inisial,


AL. Ia mendapatkan itu ketika Ia terjatuh karena tak melihat jalan berlobang di


depang gerbang masuk kampus. Telapak tangannya berdarah. Aleeya berjalan tepat


di belakangnya. Dengan sigap Aleeya membantu berdiri dan duduk di halte bus. Ia


maklum Chandra bisa terjatuh karena jalan yang gelap. Saat itu hampir pukul 8


malam, Aleeya baru saja keluar kelas dan Chandra selesai mendaftar kemudian


menjelajah fasilitas kampus dan beristirahat di masjid kampus.


“Aku baru percaya kurma itu ada.” Aleeya masih saja bercanda.


“Karma?” Chandra tersenyum.


“Oh iya ya, karma. Makanya hati-hati adik kecil.”


“Adik kecil? Kayaknya dia yang


kecil.” Gumam Chandra dalam hati.


“Makasih.” Ujar Chandra sambil menunjukkan tangannya yang sudah


berbalut sapu tangan Aleeya.


“iya iya. Oh ya nama kamu siapa?” Tanya Aleeya sambil mengikat


rambutnya yang terurai.


“Chaa…” Sahut Chandra terpotong.


Seorang laki-laki tampan datang menjemput gadis yang membuat ia


tersenyum saat tangannya terluka. Padahal saat itu Chandra sudah merasa


perempuan cerewet serta peduli itu sudah akrab dengannya.


“Hey, anak kecil, kakak duluan ya. Hati-hati. Semoga diterima di kampus


Chandra tak menjawab. Ia hanya menunduk. Bayangan Aleeya bersama


laki-laki itu hilang ditelan kegelapan.


Sejak saat itu, Chandra tak ingin menginjakkan kakinya di kampus meski


ia diterima. Chandra menghapus matanya yang basah. Angin laut membuat matanya


basah. Entahlah, entah basah karena angin atau karena mengingat bayangan Aleeya


pergi bersama laki-laki yang ia yakin kekasih Aleeya. Layaknya sehelai daun


yang diterbangkan angin, melayang terbang dibawa kemana angin inginkan.


Ide gila Chandra muncul. Ia meminta Intan menerima lamarannya. Ia tahu


Intan menyukainya. Chandra ingin menikahi gadis itu untuk meredakan patah hati


yang ia rasa. Baru saja ia mengenal pemilik sapu tangan itu, hatinya sudah


terluka. Patah hati karena Aleeya memiliki laki-laki lain melebihi sakitnya


lamaran ditolak oleh Intan.


*****


Hampir 5 jam perjalanan, Aleeya sampai di kota ia dilahirkan. Kota yang


dikelilingi bukit itu tampak indah dengan pohon kelapa berbaris menepi dan


melingkari persawahan milik warganya. Sawah padi membentang luas akan tampak


indah bila dilewati dari jalan beraspal kala pagi.


Tampak gadis berwajah kusut turun dari terminal kota. Wajahnya


bertambah kusut karena tak ada senyuman di bibir dan mata yang melengkung.


Biasanya Aleeya paling suka melihat bentangan sawah yang ia lewati. Akibat suasana

__ADS_1


hatinya masih kacau, yang indah pun terlihat buruk. Aleeya tetap ingin mencari


jawaban kegundahan hatinya. Kakinya tetap melangkah mencari angkutan umum


lainnya yang akan membawanya ke rumah Rian. Tak sampai setengah jam, ia sampai


di depan rumah laki-laki yang sudah mencampakkannya.


“Assalamu’alaikum. Mas.” Berkali-kali Aleeya mengetuk dan mengucapkan


salam.


Tak ada tanda-tanda penghuni rumah muncul. Aleeya beranjak. Seorang


tetangga menghampirinya.


“Mbak mencari pak Rian?”


“Iya. Ibu tau di mana mas Rian?” Tanya Aleeya balik.


“Ooo… Setau saya Pak Rian udah 3 hari gak di rumah. Dengar-dengar dari


tetangga yang lain pak Rian mau nikah. Hari ini acara tunangannya di hotel


permata.” Jelas tetangga tadi. Ucapannya seolah-olah pisau menusuk relung


hatinya.


Aleeya terenyuh. Tanpa dipaksa airmatanya keluar. Tubuhnya gemetar


hingga ingin tumbang dari pijakan.


“Mbak, mbak kenapa?” sapa tetangga itu lagi.


“Nggak apa-apa, Buk. Saya Cuma temannya. Terima kasih informasinya,


Buk. Saya pamit.”


Laksana kapal yang terombang ambing oleh badai di samudera.  Tak tentu arah dan tak yakin akan selamat.


Sesekali Aleeya meneriakkan nama Rian diiringi tangisan. Untung saja area


menuju rumahnya sunyi karena dekat daerah persawahan pinggir kota. Kalau tidak,


bisa-bisa ia disangka sedang shooting film atau kehilangan akal oleh orang yang


melihatnya.


Aleeya memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia tak sanggup menjangkau


hotel tempat sang kekasih bertunangan. Di rumah pun ia langsung menuju kamar


tanpa mempedulikan pertanyaan ibunya sendiri.


“Aleeya mau sendiri dulu, buk.” Ucapnya saat mengunci kamar.


Si cengeng itu menangis dengan bantal sebagai penyadap suara tangisan.


“Kenapa kamu tega, Mas?! Kenapa?!” rengek Aleeya sambil menyobek


foto-foto dia dan Rian.


“Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang bagus untuk jadi istri? Kamu


jahaaaatttt!” akhirnya Aleeya berteriak sejadi-jadinya. Gadis itu


menjambak-jambak rambutnya sendiri dan menghempaskan kepalanya ke dinding.


Sontak Ibu Aleeya langsung menggedor-gedor pintu kamar putrinya itu. Perempuan


setengah abad itu mencari kunci kamar cadangan. Ia terkejut melihat anak


perempuannya berurai air mata dan pingsan.


Bersambung….


Hai pembaca dan penulis lainnya. Jangan lupa baca, vote dan komen novel


ini ya. Tanggapan kalian sangat berarti. Ibaratnya bensin dan motor. Komentar kalian


adalah bensin yang bisa menjalankan novel ini tetap lanjut. Atas perhatian yang


author harapkan, author ucapkan terimagaji, eh terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2