
Chandra akhirnya menyerah. Ia memperhatikan Aleeya hingga gadis itu
menemukan bus yang membawanya menuju sumber masalah hatinya. Lamunan Chandra berakhir
setelah Intan menelpon.
“Sayang, kamu kok belum nyampe?”
Intan, calon istri Chandra. Gadis itu meminta dinikahi setelah urusan
kuliah selesai. Namun Chandra merasa tak yakin. Kenapa perempuan yang
bercita-cita tinggi seperti Intan ingin menikah muda. Padahal dulu ia
mengajaknya menikah sambil kuliah, gadis itu tak mau. Dengan malas Chandra
menjawab.
“Aku ada urusan. Kamu mau ngapain sih?” Kesal Chandra.
“Aku kangen kamu. Kita ketemu malam ini?”
“Oke, kita ketemu.”
“Oke. Aku yakin Ichand gak akan mengecewakan calon istrinya.” Goda
Intan.
Telepon dimatikan. Chandra mencari tempat untuk ia bersantai. Kota
pelabuhan seperti kota kelahirannya menyediakan banyak tempat untuk bersantai. Semalaman
ia tak bisa tidur. Laki-laki jangkung itu baru teringat gadis yang ia temui
dulu, ternyata Aleeya. Melihat Aleeya mengikat rambutnya, Chandra pun yakin
gadis itu Aleeya . 4 tahun yang lalu ia bertemu gadis itu ketika ia ingin
mendaftar kuliah di kota Aleeya berasal. Pertemuan mereka di saat senja mulai
menampakkan diri.
Kenangan berputar kembali. Angin laut berhembus sepoi-sepoi menambah
manisnya kenangan. Chandra bertemu Aleeya ketika tubuh jangkungnya itu disenggol
Aleeya hingga terpental dari trotoar kampus. Aleeya saat itu terburu-buru
karena akan terlambat masuk kelas. Sedangkan Chandra hendak mendaftar jalur
mandiri dan waktu mendaftar akan segera ditutup.
“Wey, jalan pake mata!” Aleeya membentak.
Chandra dengan cueknya meninggalkan Aleeya yang masih duduk di jalan.
Aleeya melempar kepala Chandra dengan sepatu hingga Chandra terpaksa membalik
mendekat.
“Please deh, jadi anak laki-laki itu harus tanggungjawab.” Ujar Aleeya
setelah ia berdiri sendiri tanpa minta dibantu.
“Kamu yang menabrakku dari belakang. Kamu yang jatuh sendri, kamu yang
marah-marah.” Chandra tak ingin kalah.
“Iya ya. Walaupun begitu, paling tidak kamu bantu aku berdiri, bilang
maaf. Perempuan cantik kok dibiarkan terjatuh. Pangeran sadis!” Celoteh Aleeya.
“Maaf.” Chandra mengulurkan tangannya.
“Tuan putri maafkan.” Canda Aleeya.
Chandra tersenyum sendiri mengingat kejadian pertama kali ia bertemu
Aleeya.
“Dia nggak berubah. Masih banyak bergurau walau tetap cerewet.” Ucap
Chandra.
__ADS_1
Memory Chandra masih terus mendalami kenangan yang ada di dalamnya.
Chandra mengeluarkan sapu tangan dari tasnya. Sapu tangan yang terukir inisial,
AL. Ia mendapatkan itu ketika Ia terjatuh karena tak melihat jalan berlobang di
depang gerbang masuk kampus. Telapak tangannya berdarah. Aleeya berjalan tepat
di belakangnya. Dengan sigap Aleeya membantu berdiri dan duduk di halte bus. Ia
maklum Chandra bisa terjatuh karena jalan yang gelap. Saat itu hampir pukul 8
malam, Aleeya baru saja keluar kelas dan Chandra selesai mendaftar kemudian
menjelajah fasilitas kampus dan beristirahat di masjid kampus.
“Aku baru percaya kurma itu ada.” Aleeya masih saja bercanda.
“Karma?” Chandra tersenyum.
“Oh iya ya, karma. Makanya hati-hati adik kecil.”
“Adik kecil? Kayaknya dia yang
kecil.” Gumam Chandra dalam hati.
“Makasih.” Ujar Chandra sambil menunjukkan tangannya yang sudah
berbalut sapu tangan Aleeya.
“iya iya. Oh ya nama kamu siapa?” Tanya Aleeya sambil mengikat
rambutnya yang terurai.
“Chaa…” Sahut Chandra terpotong.
Seorang laki-laki tampan datang menjemput gadis yang membuat ia
tersenyum saat tangannya terluka. Padahal saat itu Chandra sudah merasa
perempuan cerewet serta peduli itu sudah akrab dengannya.
“Hey, anak kecil, kakak duluan ya. Hati-hati. Semoga diterima di kampus
Chandra tak menjawab. Ia hanya menunduk. Bayangan Aleeya bersama
laki-laki itu hilang ditelan kegelapan.
Sejak saat itu, Chandra tak ingin menginjakkan kakinya di kampus meski
ia diterima. Chandra menghapus matanya yang basah. Angin laut membuat matanya
basah. Entahlah, entah basah karena angin atau karena mengingat bayangan Aleeya
pergi bersama laki-laki yang ia yakin kekasih Aleeya. Layaknya sehelai daun
yang diterbangkan angin, melayang terbang dibawa kemana angin inginkan.
Ide gila Chandra muncul. Ia meminta Intan menerima lamarannya. Ia tahu
Intan menyukainya. Chandra ingin menikahi gadis itu untuk meredakan patah hati
yang ia rasa. Baru saja ia mengenal pemilik sapu tangan itu, hatinya sudah
terluka. Patah hati karena Aleeya memiliki laki-laki lain melebihi sakitnya
lamaran ditolak oleh Intan.
*****
Hampir 5 jam perjalanan, Aleeya sampai di kota ia dilahirkan. Kota yang
dikelilingi bukit itu tampak indah dengan pohon kelapa berbaris menepi dan
melingkari persawahan milik warganya. Sawah padi membentang luas akan tampak
indah bila dilewati dari jalan beraspal kala pagi.
Tampak gadis berwajah kusut turun dari terminal kota. Wajahnya
bertambah kusut karena tak ada senyuman di bibir dan mata yang melengkung.
Biasanya Aleeya paling suka melihat bentangan sawah yang ia lewati. Akibat suasana
__ADS_1
hatinya masih kacau, yang indah pun terlihat buruk. Aleeya tetap ingin mencari
jawaban kegundahan hatinya. Kakinya tetap melangkah mencari angkutan umum
lainnya yang akan membawanya ke rumah Rian. Tak sampai setengah jam, ia sampai
di depan rumah laki-laki yang sudah mencampakkannya.
“Assalamu’alaikum. Mas.” Berkali-kali Aleeya mengetuk dan mengucapkan
salam.
Tak ada tanda-tanda penghuni rumah muncul. Aleeya beranjak. Seorang
tetangga menghampirinya.
“Mbak mencari pak Rian?”
“Iya. Ibu tau di mana mas Rian?” Tanya Aleeya balik.
“Ooo… Setau saya Pak Rian udah 3 hari gak di rumah. Dengar-dengar dari
tetangga yang lain pak Rian mau nikah. Hari ini acara tunangannya di hotel
permata.” Jelas tetangga tadi. Ucapannya seolah-olah pisau menusuk relung
hatinya.
Aleeya terenyuh. Tanpa dipaksa airmatanya keluar. Tubuhnya gemetar
hingga ingin tumbang dari pijakan.
“Mbak, mbak kenapa?” sapa tetangga itu lagi.
“Nggak apa-apa, Buk. Saya Cuma temannya. Terima kasih informasinya,
Buk. Saya pamit.”
Laksana kapal yang terombang ambing oleh badai di samudera. Tak tentu arah dan tak yakin akan selamat.
Sesekali Aleeya meneriakkan nama Rian diiringi tangisan. Untung saja area
menuju rumahnya sunyi karena dekat daerah persawahan pinggir kota. Kalau tidak,
bisa-bisa ia disangka sedang shooting film atau kehilangan akal oleh orang yang
melihatnya.
Aleeya memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia tak sanggup menjangkau
hotel tempat sang kekasih bertunangan. Di rumah pun ia langsung menuju kamar
tanpa mempedulikan pertanyaan ibunya sendiri.
“Aleeya mau sendiri dulu, buk.” Ucapnya saat mengunci kamar.
Si cengeng itu menangis dengan bantal sebagai penyadap suara tangisan.
“Kenapa kamu tega, Mas?! Kenapa?!” rengek Aleeya sambil menyobek
foto-foto dia dan Rian.
“Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang bagus untuk jadi istri? Kamu
jahaaaatttt!” akhirnya Aleeya berteriak sejadi-jadinya. Gadis itu
menjambak-jambak rambutnya sendiri dan menghempaskan kepalanya ke dinding.
Sontak Ibu Aleeya langsung menggedor-gedor pintu kamar putrinya itu. Perempuan
setengah abad itu mencari kunci kamar cadangan. Ia terkejut melihat anak
perempuannya berurai air mata dan pingsan.
Bersambung….
Hai pembaca dan penulis lainnya. Jangan lupa baca, vote dan komen novel
ini ya. Tanggapan kalian sangat berarti. Ibaratnya bensin dan motor. Komentar kalian
adalah bensin yang bisa menjalankan novel ini tetap lanjut. Atas perhatian yang
author harapkan, author ucapkan terimagaji, eh terima kasih.
__ADS_1