
Aleeya maklum, Chandra satu-satunya anak tante Jogi. Tapi Aleeya merasa
aneh kenapa harus sama dia cerita itu diungkapkan.
“Al, Tante sayang sama Aleeya. Makanya tante mau cerita ini ke Al.” Ujar
tante Jogi sambil menempuk bahu Aleeya.
“Al juga sayang sama tante. Baru aja Al ngontrak, tante udah baik
begini. Al jadi merasa punya keluarga disini.”
2 orang perempuan itu tersenyum. Sesekali makan camilan yang dibawa si
pemilik rumah.
“Oh iya Al, Aleeya sakit apa? Kok bisa pingsan di depan pintu? Untung
Chandra lewat pulang dari kampus.”
Aleeya bingung harus menjawab apa. Masa iya dia harus bilang pening
karena terlalu memikirkan dan merindukan Rian.
“Al Cuma kecapean tante. Kan baru pulang kampung kemaren.” Aleeya
beralasan.
Setelah Tante Jogi pergi, Aleeya kembali berbaring. Hatinya masih
sendu, hampir setiap detik bayangan Rian muncul. Matanya sudah sembab hingga
menenggelamkan bola matanya.
“Kenapa melupakanmu bisa sesulit ini, Mas? Apa kamu sudah puas
menyakiti aku?” Aleeya berbicara sendiri.
Aleeya keluar kamar karena jika sendiri ia merasa wajah Rian dan segala
kenangannya lebih sering muncul, dan itu berarti akan menikam hati setiap
kenangan itu muncul. Langkah kakinya menuntunnya ke belakang rumah. Aleeya
kagum melihat tatanan rumah mewah itu. Tante jogi memang pandai menata interior
rumah. Pantas saja kontrakannya begitu tertata rapi.
Aleeya duduk di pinggir kolam. Tangannya memainkan air, tak lupa ia
memendekkan celana kemudian mencelupkannya ke kolam juga. Begitu asyik, sudah
lama ia tidak bermain air dan berenang.
“Segar.” Senyum Aleeya mengembang tetapi matanya tetap bersorot
kesedihan.
Bagaimana tidak, kenangan bersama Rian pun kembali muncul. Kenangan
mandi air sungai bersama, begitu sederhana tanpa menghilangkan kebahagiaannya.
“Byuuuurrrr!!!!” Suara seseorang masuk ke kolam menyadarkan Aleeya dari
memori pedihnya.
“Waduh, kan basah.” Kesal Aleeya.
Chandra menyelam dan muncul tepat di hadapan Aleeya duduk. Sejak tadi
ia berdiri di seberang gadis yang diam-diam ia cintai itu. Padahal begitu tau
Aleeya ada di kolam, Chandra mencoba mencari perhatian dengan stretching.
Bahkan ia meninggalkan alat-alat computer yang ingin ia rakit guna memenuhi
praktek kuliahnya. Karena si gadis tak melihat bahkan tak tau ada seseorang
yang memperhatikannya, terpaksa Chandra berenang hanya untuk menarik perhatian
Aleeya. Laki-laki itu tak tau cara mengatakan perasaannya.
“Kamu? Kan jadi basah celananya.” Keluh Aleeya. Terdengar manja oleh
Chandra.
“Mau nyebur kok mikir-mikir?” Chandra tetap berenang di depan Aleeya.
Ia tak mampu mengalihkan pandangannya. Untung saja yang diperhatikannya sedang
menunduk.
__ADS_1
“Gak mood. Nyebur kok siang bolong.” Ledek Aleeya.
Chandra tertegun. Ia tak bisa mencari alasan.
“Cepat naik, nanti sakit.” Perintah Aleeya lalu meninggalkan kolam.
Aleeya terpaksa menginap di rumah ibu kontrakannya. Ketika ia hendak
pulang ke kontrakan, kepalanya kembali sakit dan ia juga demam. Untung saja
baju pemilik kontrakan itu muat di tubuhnya. Aleeya meminum obat yang dibelikan
Chandra. Laki-laki membeli obat tanpa diminta. Sedangkan sang mama mengompres
dahi Aleeya.
“Gimana Aleeya, Ma?” Chandra berdiri di samping tempat tidur.
“Panasnya sudah turun.”
Chandra duduk setelah mamanya pergi. Ia mencoba mengelus dari Aleeya
tapi ia urungkan. Hanya mata yang memandang dengan lekat.
“Kamu masih ingat aku, Al? laki-laki yang kamu tabrak tapi kamu yang
terjatuh. Laki-laki yang tangannya terluka dan kamu ikat pakai sapu tangan?”
Chandra berbisik. Tanpa ia sadari tangannya mengelus pipi mulus Aleeya.
“Cepat sembuh, Aleeya. I love you.” Bisik Chandra.
“Maaas, jangan pergi.” Ucapan Aleeya mengejutkan Chandra yang baru saja
berdiri dari duduknya.
“Kenapa kamu jahat, Mas? Mas Rian?” Igauan Aleeya terdengar jelas di
telinga Chandra.
Chandra tampak sedih. Ia kembali duduk. Ia yakin Aleeya sedang patah hati.
Antara senang dan sedih ia rasakan. Ia senang karena ia mempunyai kesempatan,
dan ia sedih karena orang yang ia cintai tidak bahagia. Tiba-tiba Chandra
mengecup kening Aleeya dengan penuh kasih sayang.
Hanya saat Aleeya tak sadarkan diri laki-laki itu bisa menciumnya. Jika
hati ingin diturutkan, Chandra pun sudah siap memperistri Aleeya. Ia bahagia
sejak dipertemukan kembali dengan gadis yang menjadi cinta pertamanya. Mungkin
bisa saja menjadi yang terakhir.
Chandra kembali menyelesaikan rakitan komputerya yang belum selesai.
Dunianya tiba-tiba berubah penuh warna. Jika selama ini hidupnya hampa, kini
penuh damba. Bahkan menunggu pun menjadi sesuatu yang menyenangkan. Menunggu
sang kekasih hati bersedia menerimanya.
Di tempat baru ia tinggal, Aleeya memiliki keluarga baru, tante Jogi
dan Chandra. Anak laki-laki tante Jogi itu selalu bersikap dingin. Aleeya
sering mengganggunya merakit computer maupun barang elektronik lainnya. Namun
Chandra hanya melotot dan mencubit pipi Aleeya. Pernah sekali Aleeya terjatuh
karena berlari dikejar oleh Chandra. Ia dikejar karena merusakkan robot rakitan
Chandra. Chandra yang tak pandai mengungkapkan perasaannya itu hanya bisa
bersikap dingin, namun sebenarnya ia sudah panik setengah mati melihat Aleeya
kesakitan.
Minggu pagi, Tante Jogi mengajak Aleeya menghadiri pesta adiknya.
Keponakan tante Jogi menikah dengan seorang pengacara sukses. Hari libur bagi
Aleeya adalah hari bersih-bersih dan beristirahat. Hampir 3 bulan setelah
pertunangan Rian, Aleeya mulai bisa menerima takdirnya. Takdir yang mengatakan
kalau dia hanya kekasih sementara Rian. Sejak ia tau Rian bertunangan dan akan
menikah, Aleeya merasa tak memiliki harapan lagi untuk bersama Rian.
__ADS_1
Karena kebaikan keluarga itu juga, Aleeya tak bisa menolak ajakan tante
Jogi untuk ikut ke luar kota.
“Al siap-siap dulu ya, Tan.” Ujar Aleeya lewat telpon.
“Iya. Nanti tante tunggu di kontrakan, Al.” telepon dimatikan.
Tak sampai setengah jam, suara klason mobil terdengar dari pekarangan
kontrakan.
“Waah, calon mantu tante cantik banget.” Puji Tante Jogi.
“Cantik ya, Tan. Calon mantu apaan, Chandra mana mau sama Aleeya.”
Sahut Aleeya bercanda. Gadis itu mengejek Chandra. Laki-laki yang dipanggil
Chandra itu ketahuan sedang memperhatikan penampilan Aleeya yang tepat berdiri
di depannya. Tingginya tak melebihi bahu Chandra.
Mobil meluncur secepat kilat. Perjalanan
memakan waktu 6 jam dari tempat tinggal mereka. Jalan menuju tempat pernikahan
sepupu Chandra melewati jalan berbukit dan berkelok. Akibatnya Aleeya muntah.
“Minum ini, Al.” Tante Jogi memberikan satu sachet obat penolak angin
di perut. Chandra mengurut leher Aleeya. Sedangkan tante Jogi segera pergi
mencari air hangat dan membeli makanan.
“Aduh duh, jangan dicekik, Chan.” Aleeya mengungsikan tangan besar yang
hinggap di tengkuknya.
“Kan masuk angin. Apa perlu perutnya dielus-elus juga?” Balas Chandra.
Antara bercanda atau serius. Tetapi wajah Chandra tampak serius dan
cemas. Aleeya mundur mendengar ucapan Chandra.
“Kan aku nggak hamil, Sinchaaaaannn…” Kesal Aleeya. Gadis itu duduk di
bangku belakang sopir. Pintu mobil masih terbuka. Tante Jogi masih belum
kembali dari mini market. Mobil mereka parkir di samping minimarket tersebut.
“Emang harus hamil baru dielus?” Chandra mendekati Aleeya yang
bersandar karena pening. Chandra menyentuh kening Aleeya. Dengan cepat Aleeya
menyingkirkan tangan orang yang ingin menyentuhnya.
“Jangan mikir yang aneh-aneh. Aku cuma mau ngecek panas atau nggak.”
Chandra kembali menyentuh kening Aleeya. Jantung Aleeya berdetak kencang tak
biasa. Baru kali ini Ia memperhatikan wajah ganteng Chandra dari dekat.
Tatapannya dibalas Chandra.
“Gimana pak dokter? Saya sudah sehat?” Canda Aleeya karena canggung
bertatapan mata dengan Chandra.
“Dasar!” Chandra mencubit hidung
pesek Aleeya.
“Dokter elektronik kok mau meriksa manusia.” Jawab Aleeya usil.
“Awas ya aku elus-elus perutnya nanti.” Goda Chandra saat ia kembali
duduk di bangku sopir.
“Enak aja! Yang boleh nyentuh cuma suami aku nanti.” Aleeya menyungut
dan memeluk perutnya sendiri.
“Ya udah nanti aku sentuh kalau udah jadi suami.” Balas Chandra. Ia
menunduk dan tersenyum.
Aleeya terdiam sedangkan jantung berdetak cepat hingga rasanya ingin
copot. Ia tak berani menjawab. Hanya memikirkan maksud ucapan Chandra yang
sebenarnya.
__ADS_1