Takdir Kedua

Takdir Kedua
26


__ADS_3

Nayya pun tersenyum menatap mama nya yang terlihat sangat mengkhawatirkan nya itu, “Nayya gak apa-apa mah. Ini pucat mungkin karena baru bangun saja dari tidur.” Ucap Nayya menenangkan mama nya.


Mama Fara yang mendengar ucapan putri nya itu pun menghela nafas berat, “Ya sudah jika memang begitu. Kamu pergi lah ke makam suamimu tapi ingat hati-hati di jalan. Ohiya, tidak perlu juga mengkhawatirkan anak-anak. Biar papamu yang akan menjemput mereka nanti.” Ucap mama Fara.


Nayya pun mengangguk, “Terima kasih mah sudah membantuku merawat anak-anak selama ini. Maafkan aku yang sudah merepotkan kalian.” ucap Nayya tersenyum.


“Ck, apa yang kau bicarakan nak? Mama dan papa sama sekali tidak repot dengan hal itu. Kami tidak repot mengurusmu dan juga ketiga cucu kami yang menggemaskan itu. Mereka sangat lucu.” Ucap mama Fara.


Nayya yang mendengar itu pun hanya mengangguk tersenyum saja. setelah itu, Nayya segera kembali ke kamar nya dan bersiap untuk mengunjungi makam sang suami walaupun ini belum waktu nya biasa yang dia gunakan untuk mengunjungi makam suami nya itu. Masih ada sejam lagi waktu untuk nya mengunjungi makam suami nya itu tapi entah kenapa hari ini dia ingin datang lebih awal.


Lima belas menit kemudian, Nayya pun segera pamit dan berangkat ke desa D di mana makam suami nya itu berada. Nayya mengendarai mobil nya dengan pelan dan melewati jalan yang sama.


Nayya melihat ke belakang mobil nya itu dari spion mobil nya dan entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang asing dan sesuatu yang hilang. Biasa nya ada mobil seseorang yang mengikuti mobil nya dari belakang tapi hari ini tidak ada.


Nayya pun menepuk kening nya pelan lalu dia menggelengkan kepala nya, “Apa yang kau pikirkan Nayya? Kenapa kau ingin dia mengikuti mobilmu? Apa selama ini kau sudah berkhianat pada suamimu sendiri dan nyaman dengan pengawalan yang dia lakukan untukmu selama ini? Nayya sadar lah dia akan bertunangan hari ini. Ingat juga kau tidak lah pantas untuk nya. Janji itu tidak akan pernah terjadi. Jalan kalian selalu bersebrangan sehingga tidak bisa berada di jalur yang sama.” Batin Nayya lalu dia pun kembali fokus menyetir setelah sadar bahwa sudut hati nya itu seperti nya sudah mengkhianati nya. Dia jadi merasa bersalah kepada mendiang suami nya.

__ADS_1


***


Di sisi Afnan, kini dia dan keluarga mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Ayu yang memang hanya memakan waktu kurang dari lima menit saja. Mereka memang hanya sekompleks saja. Bisa di katakan tetangga. Jarak rumah mereka bisa di tempu dengan berjalan kaki saja. Tapi tidak mungkin bukan di hari pertunangan mereka berjalan kaki. Jadi mereka memutuskan untuk tetap menggunakan mobil.


Ivana dan Efnan menemani Afnan di mobil milik kakak mereka itu. Untung saja suami dan istri mereka pun mengerti, “Kak, apa kau yakin dengan keputusanmu ini?” Tanya Efnan melirik kakak nya itu dari kaca mobil karena memang Efnan yang menyetir dan Afnan duduk di bangku kedua.


“Sudah lah kak Ef. Tidak perlu bertanya lagi kepada kakak. Dia itu sudah yakin dengan keputusan nya. Percuma kita membujuk nya lagi.” Ucap Ivana kesal dengan keputusan yang di ambil kakak sulung nya itu.


Afnan yang mendengar ucapan adik bungsu nya itu pun hanya tersenyum saja. Dia tahu bagaimana watak adik nya itu yang memang berapi-api jika sedang kesal dengan sesuatu.


Afnan diam saja tidak menimpali ucapan kedua adik nya itu karena sejujur nya saat ini perasaan nya juga tidak tenang. Dia melihat jam di tangan nya yang menunjukkan setengah jam lagi adalah waktu Nayya mengunjungi makam suami nya itu.


Tidak lama mereka pun segera tiba di kediaman Ayu dan mereka segera di sambung oleh orang tua Ayu dengan sangat ramah. Afnan dan keluarga nya pun duduk di tempat yang sudah di sediakan. Para tamu undangan juga sudah berdatangan.


Afnan melihat ke tamu undangan di mana di sana dia bisa melihat mama Fara yang baru saja tiba dengan papa Imran yang juga datang. Dia mencari keberadaan Nayya apa ikut atau tidak walaupun dia tahu bahwa Nayya tidak mungkin keluar dari kediaman nya dalam masa iddah nya ini selain mengunjungi makam mendiang Risam.

__ADS_1


“Kamu sangat menaati aturan Nay. Aku bangga padamu yang sangat mencintai suamimu.” Batin Afnan.


Ivana yang menyadari tatapan kakak sulung nya itu pun hanya bisa menarik nafas panjang. Dia tahu bahwa kakak nya itu mencari keberadaan Nayya di samping mama Fara.


“Kau mencintai suster Nayya tapi kau ingin bertunangan dengan orang lain. Aku tidak bisa membaca apa yang kau pikirkan kak. Entah apa yang kau rencanakan.” Batin Ivana kesal.


***


Di sisi Nayya, kini dia sudah tiba di desa D. Nayya pun segera menuju makam sang suami terlebih dahulu melewati kediaman mertua nya itu. Seperti yang biasa dia lakukan, begitu tiba Nayya pun segera membacakan satu juz Qur’an untuk suami nya itu.


Setelah menyelesaikan satu juz itu, Nayya pun bicara dengan makam suami nya itu seolah dia bicara dengan sang suami semasa dia hidup. Dia bicara seolah suami nya itu bisa menimpali apa yang dia katakan, “Mas, hari ini Afnan akan bertunangan dengan gadis yang di jodohkan dengan nya. Aku senang dengan itu. Maaf juga aku tidak bisa menepati janji yang kau paksakan padaku. Aku harap kau mengerti keadaanku. Tapi tidak perlu khawatirkan apapun lagi. Aku akan menjaga anak kita dengan baik. Mereka akan tumbuh dengan baik. Aku juga akan menjaga diriku dengan baik. Kau tidak perlu mencemaskan apapun lagi. Mencemaskan hal yang tidak seharus nya di cemaskan. Aku mencintaimu mas. Maaf juga jika sudut hatiku sudah sedikit berkhianat.” Tutur Nayya panjang.


Lalu setelah itu Nayya pun masih membacakan beberapa surah pendek untuk sang suami dan dia juga membacakan beberapa doa untuk ketenangan sang suami.


Setelah menyelesaikan semua nya, Nayya pun segera pamit dan berdiri tapi saat dia sudah berdiri tiba-tiba kepala nya pening dan semua nya menjadi gelap dan dia pun terjatuh di atas makam suami nya itu.

__ADS_1


Adiba yang tahu kedatangan adik ipar nya itu pun segera keluar untuk melihat. Dia berjalan menuju makan adik nya tapi begitu mendekat dia kaget dengan apa yang dia lihat. Adiba semakin mempercepat langkah nya dengan perasaan khawatir. Begitu tiba di makam sang adik, dia pun berteriak.


“Nayya!”


__ADS_2