Takdir Kedua

Takdir Kedua
28


__ADS_3

Kini Nayya akhirnya bangun dari tidur nya itu setelah empat jam. Begitu dia bangun dia melihat sekeliling nya dan mendapati mama dan papa nya yang menatap nya dengan penuh rasa khawatir. Nayya mencoba mengingat apa yang terjadi pada nya.


Setelah beberapa saat dia baru tersadar bahwa dia tadi ada di makam suami nya, lalu kenapa dia bisa ada di sini. Nayya kembali melihat sekeliling dan baru memastikan dia ada di mana sekarang setelah bisa mencium aroma obat-obatan dia sadar tempat apa ini.


“Kamu ada di rumah sakit nak. Kamu pingsan dan mengalami hipotermia. Untung saja mertuamu mengantarmu dengan cepat kesini.” Ucap mama Fara.


“Kenapa tidak bilang kepada kami jika kurang sehat nak? Kenapa memaksakan diri tetap datang ke makam Risam?” tanya papa Imran.


Nayya yang mendengar ucapan kedua orang tua nya itu pun diam dan berusaha untuk bangun dan bersandar di ranjang nya itu. Mama Fara segera membantu Nayya.


“Maaf ya mah, pah. Aku sudah membuat kalian khawatir. Aku juga tidak tahu bahwa akan jadi seperti ini.” ucap Nayya merasa bersalah.


“Kamu gak salah nak. Tidak perlu meminta maaf. Hanya saja jangan menyembunyikan apapun lagi dari kami. Kau itu adalah putri kami dan kami adalah orang tuamu. Kau bisa bicara bicara dan menceritakan apapun kepada kami.” ucap mama Fara.

__ADS_1


Nayya pun mengangguk. Jujur saja dia merasa bersalah karena sudah membuat orang repot. Dia tidak menyangka bahwa dia mengalami hipotermia tanpa dia sadari sendiri.


Nayya memandangi tangan nya yang terpasang infus. Di sana dia bisa tahu bahwa infus yang terpasang itu bukan infus set tapi tranfusi set, “Mah, apa aku melakukan donor darah?” tanya Nayya.


Mama Fara pun mengangguk, “Iya nak. Satu kantong untuk mengembalikan suhu tubuhmu.” Ucap mama Fara.


“Siapa yang mendonorkan nya?” tanya Nayya lalu menatap sang papa yang memang dia tahu bahwa papa nya itu yang sama dengan golongan darah nya.


“Bukan papa nak yang mendonorkan darah nya untukmu. Kamu tidak perlu khawatirkan hal itu.” ucap papa Imran.


“Tidak perlu menanyakan hal itu. Itu bukan masalah besar bukan. Yang penting sekarang kau sudah sadar dan membaik.” Ucap mama Fara.


“Aku tertidur karena obat mah. Aku sudah sadar tadi saat di UGD tapi hanya lemah saja.” ucap Nayya.

__ADS_1


“Aku ingin tahu siapa yang mendonorkan darah nya untukku. Aku ingin berterima kasih. Jika memang dari rumah sakit aku ingin melihat laporan nya.” sambung Nayya keras kepala.


Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan orang tua nya itu dari nya. Dia ingat bahwa ada seseorang yang memiliki golongan darah yang sama dengan nya. A rhesus negative. Tapi apa itu mungkin dia yang mendonorkan untuk nya. Bukan kah dia saat ini sedang ada acara.


“Apa kau yakin ingin tahu nak?” tanya papa Imran menatap sang putri yang memang terlihat sangat penasaran.


Nayya mengangguk yakin, “Darah yang sama denganmu memang tidak tersedia dan Afnan yang mendonorkan darah untukmu.” Jawab papa Imran.


Deg


Ternyata dugaan nya benar. Tapi bagaimana mungkin.


“Kok bisa dia pah? Bukan kah dia--”

__ADS_1


“Pertunangan nya batal.” Potong papa Imran.


“Kok, bisa begitu?” tanya Nayya kaget.


__ADS_2