Takdir Kedua

Takdir Kedua
39


__ADS_3

“Mah … Nayya pamit ke sekolah anak-anak.” ucap Nayya pamit kepada mama nya.


Mama Fara pun mengangguk, “Hati-hati! Jangan keras terhadap anak-anak nak.” ucap mama Fara.


Nayya pun menganguk saja, “Aku akan ingat hal itu mah.” ucap Nayya segera menyalami tangan mama nya itu.


Setelah itu dia pun segera menuju mobil nya yang terparkir di samping mobil papa nya yang baru saja kembali mengantarkan triplets di sekolah mereka. Tapi papa Imran segera pergi bekerja.


Nayya mengendarai mobil nya dengan pelan menuju sekolah ketiga buah hati nya. Sekitar lima menit saja dia sudah tiba di sekolah. Di sana dia sudah melihat banyak nya orang tua yang juga berdatangan untuk menerima hasil belajar anak-anak mereka.

__ADS_1


Nayya segera turun dari mobil nya dan berniat mendekati anak-anak nya tapi dia terdiam dan menghentikan langkah nya begitu melihat putra bungsu nya sedang berada di gendongan seseorang yang sangat dia kenal. Seseorang yang datang ke rumah orang tua nya tiga hari yang lalu datang melamar nya untuk kedua kali nya. Yah … putra nya itu berada dalam gendongan Afnan dengan kedua buah hati nya yang lain yang juga berdiri di samping Afnan menyambut nya.


Nayya segera melanjutkan langkah nya dan mencoba bersikap biasa walaupun kini tatapan orang-orang di sana tertuju pada nya.


“Xavier sayang ayo turun.” Ucap Nayya lembut.


Xavier menggeleng, “Gak mau bunda. Mau di gendong uncle Af.” Ucap nya menolak dan justru memeluk Afnan erat dengan menyembunyikan kepala nya di bahu pria itu.


Nayya yang ingin kembali bersuara pun terdiam begitu putra kedua nya menggenggam tangan nya. Entah kenapa genggaman putra nya itu menenangkan diri nya seperti saat Risam masih hidup apabila menggenggam nya saat marah dan kesal maka dia akan tenang. Itu lah perasaan yang kini dia rasakan.

__ADS_1


“Baiklah jika Xavier gak mau turun. Bunda ke kelas kalian dulu. Kalian di sini. Afnan aku titip mereka.” ucap Nayya lalu segera meninggalkan ketiga buah hati nya itu bersama Afnan. Dia segera menuju tempat pertemuan di adakan.


Nayya mengusap air mata yang sempat menetes di pipi nya karena genggaman putra kedua nya itu. Entah kenapa dia tiba-tiba mengingat Risam dengan seluruh kenangan di dalam nya. Dia bukan mencoba melupakan suami nya itu hanya saja dia mencoba untuk menyimpan suami nya itu di sudut hati nya agar dia bisa melanjutkan hidup nya. Jujur saja lamaran Afnan mengganggu pikiran nya. Apalagi ketika mengingat janji yang di buat suami nya untuk nya.


Nayya segera buru-buru menghapus air mata nya sebelum ada yang menyadari nya. Dia kembali menarik nafas panjang untuk membuat nya kembali tenang.


“Mas … aku rindu. Anak-anak kita seolah mewakili dirimu. Mereka seperti dirimu dengan bentuk terpisah-pisah.” Batin Nayya lalu segera masuk ke ruang pertemuan.


Sementara Afnan memandangi punggung Nayya dengan tatapan lembut nya, “Uncle … kami tahu kau menyayangi bunda. Tapi bunda butuh waktu untuk menerimamu.” Ucap Xander tiba-tiba hingga Afnan pun beralih menatap nya dan tersenyum.

__ADS_1


“Uncle mengerti boy.” Balas Afnan.


“Uncle … apa kau ingin jadi ayah kedua bagi kami?”


__ADS_2