
Taman kota berhiaskan lampu warna-warni menemani Chandra memberi
keputusan yang sudah ia pikirkan dengan matang. Tak lama, Intan datang membawa
senyuman. Sudah lama ia tak bertemu Chandra apalagi bertemu saat malam dan di
taman kota. Gadis jenius itu menghias dirinya dengan jenius pula. Make up dan
lipstik yang tipis. Tetapi tetap terlihat anggun. Namun sedikit pun tak menarik
perhatian Chandra. Si jangkung ini hanya memperhatikan sekilas saja. Ia lebih
memilih memperhatikan kegiatan orang di taman kota yang sekaligus tempat
orang-orang berolahraga.
“Hai sayang. Udah lama ya?” Sapa Intan dan ingin mencium pipi kanan dan
kiri Chandra.
Reflex, Chandra mengelak.
“Apaan sih, Tan?”
Intan malu ditolak oleh calon tunangannya itu.
“Kamu kenapa, Chan?” Intan menatap tajam.
“Kamu berubah! Kamu jarang masuk kampus, kamu nggak pernah ngabari aku.
Kamu kenapa, hah?” lanjut Intan.
“Karena aku nggak mau kamu makin berharap.” Jawab Chandra sekenanya.
“Apa? Bukannya sudah seharusnya kita saling berharap? Kamu calon
tunangan aku.” Intan masih berusaha agar Chandra melihatnya. Namun Chandra tak
melihat dan memberi jawaban.
“Kamu kenapa, Chan? Jawab aku!” Akhirnya gadis jenius yang selalu
tampak arrogant itu menitikkan air mata.
Chandra menarik nafas dan duduk mendekati Intan yang sudah menunduk.
“Intan, Aku minta maaf. Di dunia ini tak ada yang abadi. Begitu juga
perasaan.”
“Perasaanku abadi untukmu.” Intan langsung menjawab.
“Tapi aku tidak. Mungkin jika dulu kamu menerima lamaranku, hatiku
selamanya untukmu. Bahkan sampai di kehidupan lain.” Chandra tak melanjutkan
lagi. Ia tau kalimatnya yang selanjutnya akan lebih menyakitkan buat Intan.
“Terus? Maksudnya kamu gak cinta aku lagi?” Si jenius itu menangkap
cepat maksud kalimat Chandra.
“Ku akui, aku mengagumi kamu. Kagum karena kepandaian kamu. Itu saja.
Tapi, aku takut tak bisa mencintai kamu. Karena nyatanya aku masih belum bisa
mencintaimu.”
Air mata Intan mengalir deras seketika mendengar kata-kata Chandra.
“Jadi untuk apa dulu kamu melamarku? Untuk apa?” Tanya Intan seperti
berbisik. Ia mencoba meredam emosi.
“Aku minta maaf. Aku tidak ingin menyakitimu lebih lama lagi.” Balas
Chandra.
“Aku harap kamu menemukan laki-laki lain yang lebih baik dari aku, dan
mencintaimu. Semoga kamu bahagia.” Chandra berlalu.
__ADS_1
Belum sempat berjalan 2 langah, Intan mengejar.
“Bagaimana bisa gitar menghasilkan suara indah jika senarnya putus?
Begitu juga aku. Bahagia apa yang kau katakan jika sumber bahagiaku memilih
pergi?” Intan masih menangis.
“Tapi cinta tak bisa dipaksa, Tan.” Chandra mencoba pengertian dari
gadis yang menghalangi jalannya.
“Bukan. Bukan tak bisa. Tapi kamu memang tak pernah mencobanya. Hampir
4 tahun ini, hanya aku yang mencintai. Hanya aku yang berusaha mempererat
hubungan kita.” Jelas Intan.
“Itu sebabnya aku nggak mau menambah sakit hati kamu. Kamu terlalu
berharga, Tan. Banyak laki-laki di luar sana yang bisa membahagiakan kamu.”
“Kamu bohong! Jika kamu mau hubungan ini berakhir, kamu akan menyesal,
Chan.” Intan berlari pergi dengan tatapan marah.
Hati Chandra lega namun tetap merasa bersalah. Ia sadar tindakannya
sudah sangat menyakiti Intan. Awalnya ia ingin menjadikan gadis itu sebagai
pelampiasan Karena gadis yang dulu ia temui sudah memiliki kekasih, Aleeya. Sebenarnya
ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Intan sebelum bertemu Aleeya. Tetapi tak
pernah serius. Chandra hanya menganggap hubungan mereka sekilas saja seperti
hembusan angin malam, cepat berlalu. Sehingga memutuskan hubungan dengan
penjelasan itu tak penting lagi.
Ketika Chandra bertemu Aleeya lagi, nalurinya mengatakan pertemuan yang
Intan adalah langkah pertama yang ia lakukan. Kejam memang, namun ia tak ingin
lebih kejam bila hubungannya dengan Intan tak diakhiri atau malah menikah tanpa
cinta. Bukan hanya menyakiti Intan, tetapi dia juga. Pun begitu, keluarga tak
akan lagi harmonis. Untuk apa menikah jika tak bahagia, atau yang bahagia hanya
sepihak saja?
****
Sementara di rumah Rian, lai-laki itu menemukan kalung yang tak asing
lagi ia lihat. Kalung itu milik Aleeya. Raut wajanya seketika berubah menjadi
murung. Senyuman Rian masih mengembang hingga acara tunangannya berakhir dan
menghilang begitu tau kalau Aleeya datang mencarinya.
“Aleeya. Aku tau ini sulit bagimu. Maafkan aku.” Batin Rian menyesal.
Kata-kata Rian seolah-olah terdengar oleh Aleeya. Gadis malang itu
terbangun dari pingsannya. Ia mencoba duduk kemudian berlari untuk menemui
Rian. Belum selangkah ia beranjak, kepalanya kembali sakit. Perempuan yang
menjadi budak cinta itu menangis sejadi-jadinya.
“Aku tak menyangka kau bisa sekejam ini, Mas? Apa salahku?” tangis
Aleeya berulang-ulang.
Ibu Aleeya memeluk anak sulungnya. Ia tahu beban perasaan lebih lama
hilang dibanding luka kepala yang anaknya itu rasakan.
“Sudah nak. Kamu sholat. Mudah-mudahan hati tenang. Adukan semuanya
__ADS_1
pada Allah.” Nasehat Ibunya diikuti anggukan anaknya.
Matahari mulai condong ke barat. Aleeya masih betah di kamar. Lama
sekali ia melamun setelah melaksanakan sholat. Berbagai perkiraan dan rencana
ia susun. Kesunyiannya buyar karena dering handphone. Panggilan dari Nadia,
teman sekantornya di bagian administrasi.
“Assalamu’alaikum, hallo Al.”
“Wa’alaikumsalam. Iya Nad, ada apa?” Jawab Aleeya masih dengan suara
bergetar.
“Urusan di rumah udah selesai?”
“Sudah. Kenapa?”
“Besok kamu bisa balik ke sini? Data yang kamu kerjakan itu harus
dikirim secepatnya. Laporan triwulan kita juga masih bermasalah. Aku nggak tau
melanjutkan data yang kamu buat. Sementara itu kepala dinas bilang harus
selesai dalam 2 hari ini.” Panjang lebar Nadia menjelaskan maksud hatinya
menelepon.
“Oo. Iya-iya. Besok aku pulang.”
“Alhamdulillah. Terima kasih Al.”
“Aku yang harusnya bilang itu. Makasih Nadia udah mengingatkan.”
“Sama-sama. Hey, kamu baik-baik aja kan?”
“Hmm,,, baik-baik aja sih. Cuma dompet yang nggak baik.” Canda Aleeya.
“Tunggu tanggal muda. Okelah, kalau gitu selamat istirahat.” Tutup
Nadia.
Aleeya menyusun baju-bajunya. Tak lupa ia mengumpulkan barang-barang
pemberian Rian. Hampir 1 kardus mie instan. Mulai dari jam tangan, foto-foto
yang ia sobek, boneka kucing kecil, kalung nama berinisial “R” serta buku-buku
pelajaran dan novel ia kembalikan semua. Kemudian membungkusnya dengan kertas
kado. Masih ada waktu untuk ke kantor pos agar petugas pos langsung memberikan
pada orang yang dituju. Secepat itu Aleeya menyingkirkan barang–barang yang ia
dapatkan dari Rian dengan harapan ia juga berhasil melupakan hubungan yang
sudah ia bina, 3 tahun lamanya.
Matahari mulai tenggelam. Langit cerah seketika ikut muram, mendung
hitam dan pekat. Seolah-olah ikut menggambarkan suasana hati Aleeya. Langit
semakin gelap ketika perempuan cengeng itu melewati rumah sang mantan, terlebih
ia melihat gandengan tangan begitu mesra dari seseorang yang berkhianat dan
kekasihnya. Angkutan kota yang ia tumpangi melaju jauh meninggalkan dua orang
yang sedang memamerkan kemesraan.
Bersambung...
Hi para author and readers!
Main tebak tebakan yuk!
Siapa nama panjangnya Mamanya?
Yok dijawab, entar mimin jalan-jalan ke cerita kalian. See you on comment ASAP.
__ADS_1