Takdir Kedua

Takdir Kedua
Episode 3


__ADS_3

Taman kota berhiaskan lampu warna-warni menemani Chandra memberi


keputusan yang sudah ia pikirkan dengan matang. Tak lama, Intan datang membawa


senyuman. Sudah lama ia tak bertemu Chandra apalagi bertemu saat malam dan di


taman kota. Gadis jenius itu menghias dirinya dengan jenius pula. Make up dan


lipstik yang tipis. Tetapi tetap terlihat anggun. Namun sedikit pun tak menarik


perhatian Chandra. Si jangkung ini hanya memperhatikan sekilas saja. Ia lebih


memilih memperhatikan kegiatan orang di taman kota yang sekaligus tempat


orang-orang berolahraga.


“Hai sayang. Udah lama ya?” Sapa Intan dan ingin mencium pipi kanan dan


kiri Chandra.


Reflex, Chandra mengelak.


“Apaan sih, Tan?”


Intan malu ditolak oleh calon tunangannya itu.


“Kamu kenapa, Chan?” Intan menatap tajam.


“Kamu berubah! Kamu jarang masuk kampus, kamu nggak pernah ngabari aku.


Kamu kenapa, hah?” lanjut Intan.


“Karena aku nggak mau kamu makin berharap.” Jawab Chandra sekenanya.


“Apa? Bukannya sudah seharusnya kita saling berharap? Kamu calon


tunangan aku.” Intan masih berusaha agar Chandra melihatnya. Namun Chandra tak


melihat dan memberi jawaban.


“Kamu kenapa, Chan? Jawab aku!” Akhirnya gadis jenius yang selalu


tampak arrogant itu menitikkan air mata.


Chandra menarik nafas dan duduk mendekati Intan yang sudah menunduk.


“Intan, Aku minta maaf. Di dunia ini tak ada yang abadi. Begitu juga


perasaan.”


“Perasaanku abadi untukmu.” Intan langsung menjawab.


“Tapi aku tidak. Mungkin jika dulu kamu menerima lamaranku, hatiku


selamanya untukmu. Bahkan sampai di kehidupan lain.” Chandra tak melanjutkan


lagi. Ia tau kalimatnya yang selanjutnya akan lebih menyakitkan buat Intan.


“Terus? Maksudnya kamu gak cinta aku lagi?” Si jenius itu menangkap


cepat maksud kalimat Chandra.


“Ku akui, aku mengagumi kamu. Kagum karena kepandaian kamu. Itu saja.


Tapi, aku takut tak bisa mencintai kamu. Karena nyatanya aku masih belum bisa


mencintaimu.”


Air mata Intan mengalir deras seketika mendengar kata-kata Chandra.


“Jadi untuk apa dulu kamu melamarku? Untuk apa?” Tanya Intan seperti


berbisik. Ia mencoba meredam emosi.


“Aku minta maaf. Aku tidak ingin menyakitimu lebih lama lagi.” Balas


Chandra.


“Aku harap kamu menemukan laki-laki lain yang lebih baik dari aku, dan


mencintaimu. Semoga kamu bahagia.” Chandra berlalu.

__ADS_1


Belum sempat berjalan 2 langah, Intan mengejar.


“Bagaimana bisa gitar menghasilkan suara indah jika senarnya putus?


Begitu juga aku. Bahagia apa yang kau katakan jika sumber bahagiaku memilih


pergi?” Intan masih menangis.


“Tapi cinta tak bisa dipaksa, Tan.” Chandra mencoba pengertian dari


gadis yang menghalangi jalannya.


“Bukan. Bukan tak bisa. Tapi kamu memang tak pernah mencobanya. Hampir


4 tahun ini, hanya aku yang mencintai. Hanya aku yang berusaha mempererat


hubungan kita.” Jelas Intan.


“Itu sebabnya aku nggak mau menambah sakit hati kamu. Kamu terlalu


berharga, Tan. Banyak laki-laki di luar sana yang bisa membahagiakan kamu.”


“Kamu bohong! Jika kamu mau hubungan ini berakhir, kamu akan menyesal,


Chan.” Intan berlari pergi dengan tatapan marah.


Hati Chandra lega namun tetap merasa bersalah. Ia sadar tindakannya


sudah sangat menyakiti Intan. Awalnya ia ingin menjadikan gadis itu sebagai


pelampiasan Karena gadis yang dulu ia temui sudah memiliki kekasih, Aleeya. Sebenarnya


ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Intan sebelum bertemu Aleeya. Tetapi tak


pernah serius. Chandra hanya menganggap hubungan mereka sekilas saja seperti


hembusan angin malam, cepat berlalu. Sehingga memutuskan hubungan dengan


penjelasan itu tak penting lagi.


Ketika Chandra bertemu Aleeya lagi, nalurinya mengatakan pertemuan yang


Intan adalah langkah pertama yang ia lakukan. Kejam memang, namun ia tak ingin


lebih kejam bila hubungannya dengan Intan tak diakhiri atau malah menikah tanpa


cinta. Bukan hanya menyakiti Intan, tetapi dia juga. Pun begitu, keluarga tak


akan lagi harmonis. Untuk apa menikah jika tak bahagia, atau yang bahagia hanya


sepihak saja?


****


Sementara di rumah Rian, lai-laki itu menemukan kalung yang tak asing


lagi ia lihat. Kalung itu milik Aleeya. Raut wajanya seketika berubah menjadi


murung. Senyuman Rian masih mengembang hingga acara tunangannya berakhir dan


menghilang begitu tau kalau Aleeya datang mencarinya.


“Aleeya. Aku tau ini sulit bagimu. Maafkan aku.” Batin Rian menyesal.


Kata-kata Rian seolah-olah terdengar oleh Aleeya. Gadis malang itu


terbangun dari pingsannya. Ia mencoba duduk kemudian berlari untuk menemui


Rian. Belum selangkah ia beranjak, kepalanya kembali sakit. Perempuan yang


menjadi budak cinta itu menangis sejadi-jadinya.


“Aku tak menyangka kau bisa sekejam ini, Mas? Apa salahku?” tangis


Aleeya berulang-ulang.


Ibu Aleeya memeluk anak sulungnya. Ia tahu beban perasaan lebih lama


hilang dibanding luka kepala yang anaknya itu rasakan.


“Sudah nak. Kamu sholat. Mudah-mudahan hati tenang. Adukan semuanya

__ADS_1


pada Allah.” Nasehat Ibunya diikuti anggukan anaknya.


Matahari mulai condong ke barat. Aleeya masih betah di kamar. Lama


sekali ia melamun setelah melaksanakan sholat. Berbagai perkiraan dan rencana


ia susun. Kesunyiannya buyar karena dering handphone. Panggilan dari Nadia,


teman sekantornya di bagian administrasi.


“Assalamu’alaikum, hallo Al.”


“Wa’alaikumsalam. Iya Nad, ada apa?” Jawab Aleeya masih dengan suara


bergetar.


“Urusan di rumah udah selesai?”


“Sudah. Kenapa?”


“Besok kamu bisa balik ke sini? Data yang kamu kerjakan itu harus


dikirim secepatnya. Laporan triwulan kita juga masih bermasalah. Aku nggak tau


melanjutkan data yang kamu buat. Sementara itu kepala dinas bilang harus


selesai dalam 2 hari ini.” Panjang lebar Nadia menjelaskan maksud hatinya


menelepon.


“Oo. Iya-iya. Besok aku pulang.”


“Alhamdulillah. Terima kasih Al.”


“Aku yang harusnya bilang itu. Makasih Nadia udah mengingatkan.”


“Sama-sama. Hey, kamu baik-baik aja kan?”


“Hmm,,, baik-baik aja sih. Cuma dompet yang nggak baik.” Canda Aleeya.


“Tunggu tanggal muda. Okelah, kalau gitu selamat istirahat.” Tutup


Nadia.


Aleeya menyusun baju-bajunya. Tak lupa ia mengumpulkan barang-barang


pemberian Rian. Hampir 1 kardus mie instan. Mulai dari jam tangan, foto-foto


yang ia sobek, boneka kucing kecil, kalung nama berinisial “R” serta buku-buku


pelajaran dan novel ia kembalikan semua. Kemudian membungkusnya dengan kertas


kado. Masih ada waktu untuk ke kantor pos agar petugas pos langsung memberikan


pada orang yang dituju. Secepat itu Aleeya menyingkirkan barang–barang yang ia


dapatkan dari Rian dengan harapan ia juga berhasil melupakan hubungan yang


sudah ia bina, 3 tahun lamanya.


Matahari mulai tenggelam. Langit cerah seketika ikut muram, mendung


hitam dan pekat. Seolah-olah ikut menggambarkan suasana hati Aleeya. Langit


semakin gelap ketika perempuan cengeng itu melewati rumah sang mantan, terlebih


ia melihat gandengan tangan begitu mesra dari seseorang yang berkhianat dan


kekasihnya. Angkutan kota yang ia tumpangi melaju jauh meninggalkan dua orang


yang sedang memamerkan kemesraan.


Bersambung...


Hi para author and readers!


Main tebak tebakan yuk!


Siapa nama panjangnya Mamanya?


Yok dijawab, entar mimin jalan-jalan ke cerita kalian. See you on comment ASAP.

__ADS_1


__ADS_2