
Setelah Nayya mengelilingi ruko itu dengan melihat dan mengenang kenangan bersama mendiang sang suami. Nayya pun menuju balkon dengan membawa segelas jus di tangan nya itu. Gelas yang dia gunakan adalah gelas couple milik nya bersama Risam.
Nayya pun duduk di kursi yang sama yang biasa dia gunakan dengan Risam saat bersantai di balkon dengan menghirup udara segar di sana.
Nayya memenjamkan mata nya dan menghirup udara segara di sana, “Aku semakin merasa kau ada di sini mas.” Batin Nayya.
Sementara dari arah lain, arah yang sangat menunjukkan dengan jelas apa yang di lakukan Nayya di ruko nya itu. Ada seorang pria yang memandangi nya. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Afnan.
“Apa kau merindukan mendiang suamimu Nay? Kau seperti menikmati tempat itu? Apa tempat itu adalah tempat paling berkesan untukmu?” gumam Afnan.
“Kau sangat cantik padahal aku melihatmu dari jauh. Tapi ternyata kecantikan itu tidak bisa di tutupi. Aku mengagumimu Nay. Apa aku bisa menjadi suamimu?” batin Afnan.
Tidak hanya Afnan yang mengamati Nayya itu tapi juga beberapa karyawan Nayya yang juga berpikiran sama.
“Apa nona merindukan suami nya?”
“Tentu saja rindu. Hati istri siapa yang tidak akan merindukan suami nya. Apalagi jika suami nya itu seperti tuan Risam. Aku yakin nona pasti akan berpikir panjang saat nanti ada yang melamar nya untuk menjadikan nya istri.”
“Kau benar. Kita akan lihat siapa yang bisa menaklukan hati nona kita ini untuk kedua kali nya. Kita akan jadi saksi kisah hidup nya.”
Begitu lah bisik-bisik para bawahan Nayya itu.
***
Kini triplets baru saja keluar dari kelas mereka hendak pulang. Triplets saling menatap melihat seseorang yang cukup mereka kenal itu melambaikan tangan kepada mereka.
Triplets pun mendekati orang itu, “Uncle!” panggil mereka.
__ADS_1
Orang yang di panggil uncle itu pun yang tidak lain adalah Afnan itu pun tersenyum, “Hai, anak-anak! Apa sudah selesai belajar nya?” sapa Afnan lembut.
“Tentu saja sudah selesai uncle. Jika belum maka kami pasti tidak di sini. Belum pulang dan masih bersama guru di dalam sana.” Jawab Xavier sambil menunjuk di mana kelas nya berada.
“Xavier, sopan sedikit bicara dengan orang yang lebih tua. Ayah dan bunda mengajari kita seperti itu bukan.” Ucap Qalessa dengan mode kakak nya di aktifkan.
“Uncle, maafkan adikku.” Sambung Qalessa menatap Afnan.
Afnan yang mendengar itu pun tersenyum dan menggeleng, “Tidak perlu meminta maaf kok nak. Kalian tidak melakukan kesalahan. Xavier juga tidak salah karena dia mengatakan hal yang sebenar nya. Hanya uncle saja yang menanyakan hal yang tidak jelas.” Ucap Afnan lembut.
“Terima kasih uncle!” balas ketiga nya bersamaan lagi.
“Uncle, terima kasih atas pengertianmu.Tapi kata bunda jika kita bersalah dan tidak berlaku sopan pada orang lain. Itu adalah perbuatan yang tidak benar dan sudah seharus nya meminta maaf.” Ucap Xander.
Afnan pun tersenyum lagi, “Lihat lah Nay, mereka mengingat semua ajaranmu kepada mereka. Tidak pernah mengkhianatimu. Kau hebat Nay. Kau sudah berhasil jadi orang tua yang baik untuk mereka. Suamimu juga hebat. Kalian memang orang tua yang hebat.” Batin Afnan.
“Uncle? Tentu saja menjemput kalian pulang.” Jawab Afnan begitu tersadar apa tujuan nya datang ke sini.
“Menjemput kami pulang? Kenapa bisa uncle? Kami selalu di jemput bunda atau tidak kakek.” ucap Xavier.
“Hari ini bunda kalian tidak sempat menjemput kalian nak. Bunda kalian masih ada di toko.” Jawab Afnan juga lembut.
Triplets yang mendengar itu pun saling memandangi satu sama lain, “Ada apa? Apa kalian tidak percaya pada uncle? Apa kalian berpikir uncle akan menculik kalian?” tanya Afnan.
“Bukan seperti itu uncle. Kami percaya kok pada uncle.” Ucap Qalessa.
“Jika memang percaya. Ayo ikut uncle pulang. Uncle akan mengantar kalian pulang.” Ajak Afnan.
__ADS_1
Triplets pun mengangguk dan segera masuk ke mobil Afnan. Tidak lama setelah itu mobil Afnan pun meninggalkan sekolah dasar itu di mana triplets memang sekolah di sekolah dasar pada umum nya.
Walaupun Nayya dan Risam mampu untuk membiayai ketiga buah hati nya itu untuk sekolah di sekolah mahal. Tapi menurut Nayya dan Risam di mana pun anak mereka menuntut ilmu sama saja yang terpenting anak mereka sendiri mau berusaha untuk jadi yang terbaik. Sekolah tidak akan bisa menghalangi bakat yang di miliki oleh siswa nya. Begitu juga sekolah mewah belum tentu bisa membuat semua siswa nya hebat. Itu lah alasan kenapa Nayya dan Risam lebih memilih menyekolahkan mereka di sekolah umum.
Sepuluh menit kemudian, mobil Lila tiba di sekolah dasar itu untuk menjemput ketiga buah hati nya. Nayya pun segera turun dan langsung menanyakan kepada wali kelas di mana keberadaan ketiga buah hati nya itu.
“Bukan kah mereka sudah di jemput?” ujar wali kelas.
“Sudah di jemput? Oleh siapa bu? Apa papa?” tanya Nayya.
“Hum, seperti nya itu bukan mobil papa anda tapi mobil Afnan. Iya itu Afnan.” Jawab wali kelas itu.
“Afnan? Apa anda tidak salah lihat?” tanya Nayya memastikan pendengaran nya itu apa masih berfungsi dengan baik atau tida. Apa dia sudah salah dengar atau tidak.
“Iya itu memang mobil Afnan. Saya melihat triplets masuk ke mobil nya.” ujar salah satu guru di sana yang memang melihat Afnan tadi datang menjemput triplets.
Nayya yang mendengar itu pun akhirnya percaya bahwa dia tidak salah dengar. Nayya pun segera pamit pergi dan dengan cepat dia segera memutar balik mobil nya dan meninggalkan kediaman sekolah itu setelah mengucapkan terima kasih kepada wali kelas dan juga guru-guru yang ada di sana.
Nayya melajukan mobil nya menuju rumah nya itu dan sekitar lima menit kemudian akhir nya dia tiba di rumah nya dan melihat ada mobil di sana. Mobil yang sangat dia kenali karena memang menjadi penguntit nya selama ini.
Nayya pun segera memarkirkan mobil nya itu dan segera turun dari sana yang ternyata langsung di sambut oleh triplets, “Bunda!” panggil ketiga nya segera berhamburan ke pelukan Nayya.
Nayya pun memeluk ketiga buah hati nya itu dengan tersenyum, “Kenapa tidak menunggu bunda nak?” ucap Nayya setelah melepas pelukan nya dan setelah ketiga buah hati nya itu menyalami nya penuh hormat dan kasih sayang.
“Kami pulang bersama uncle Afnan, bunda. Maaf juga tidak memberitahumu dan menungggumu.” Ucap Xander.
Nayya yang mendengar itu pun mengangguk saja. Tidak perlu marah karena ketiga buah hati nya itu baik-baik saja dan sudah tiba di kediaman dengan selamat.
__ADS_1
Nayya menatap Afnan dan tersenyum, “Terima kasih sudah menjemput anak-anakku. Tapi lain kali aku mohon jangan lakukan hal itu lagi. Aku bisa menjemput mereka sendiri.” Ucap Nayya.