
Singkat cerita, tidak terasa kini Nayya sudah melewati masa iddah nya dengan sempurna. Tanpa keluar dari rumah selain mengunjungi makam sang suami dan saat dia sakit waktu itu. Dia bahkan menjalani terapi untuk trauma nya pada jarum suntik dia lakukan di rumah. Waktu empat bulan sepuluh hari yang dia lewati untuk masa iddah nya itu memang sangat berat. Ada kesedihan dan kesenangan yang selalu berjalan beriringan. Tapi syukur lah dia melalui nya dengan baik.
Kini Nayya sudah tidak terlalu sedih lagi dengan kepergian sang suami. Dia sudah bisa menerima kehendak takdir. Walaupun di sudut hati terdalam nya bahwa suami nya itu selalu menempati ruang yang special yang tidak akan dia gantikan dengan siapa pun. Risam tetap lah suami terbaik untuk nya.
Nayya fokus dengan pengobatan terapi trauma nya yang syukur lah berjalan lancar dan dia pun sudah tidak takut atau pingsan lagi melihat jarum suntik. Dia sudah kembali seperti semula. Bahkan kemarin dia keluar untuk pertama kali setelah masa iddah nya selesai mengunjungi toko nya. Dia mengunjungi ruko nya yang memiliki kenangan indah bersama sang suami. Nayya sadar dia tidak pantas berlarut dalam kesedihan. Suami nya akan selalu jadi kenangan terindah bagi nya.
Kini Nayya ingin fokus dengan kehidupan nya kedepan nya akan bagaimana dengan bersama tiga buah hati yang menjadi cahaya untuk nya. Cahaya yang di tinggalkan oleh matahari nya untuk nya. Cahaya yang akan selalu jadi prioritas untuk nya. Kebahagiaan mereka akan selalu dia utamakan.
Dia akan fokus kepada mereka. Apalagi sebentar lagi ketiga buat hati nya untuk akan menjalani semester pertama di sekolah mereka. Nayya selalu mengawasi perkembangan ketiga buah hati nya yang berjalan dengan sangat baik. Mereka tumbuh dengan baik tanpa kendala apapun. Walaupun kehilangan sosok ayah di usia mereka sekecil itu tapi tetap saja tumbuh kembang mereka terjaga dengan baik. Mereka memiliki keluarga yang mendukung mereka dengan baik. Lalu satu hal yang pasti mereka tidak akan lupa dengan janji kepada ayah mereka.
“Coba mana bunda lihat tugas nya.” pinta Nayya kepada ketiga buah hati nya yang sedang mengerjakan tugas mereka itu.
Qalessa, Xander dan Xavier pun segera memberikan nya kepada Nayya dan Nayya segera memeriksa nya. Nayya bangga melihat hasil tugas ketiga buah hati nya itu yang sangat memuaskan.
“Kalian hebat. Ini benar semua. Tapi ingat tidak boleh berpuas diri dan tetap selalu belajar. Ohiya jangan sombong tetap--”
“Rendah hati.” Sambung ketiga nya kompak hingga membuat Nayya menyunggingkan senyum nya.
__ADS_1
“Kami sudah hafal itu bunda. Kami selalu mengingat nya dan tidak akan pernah mengecewakanmu. Kami pasti bisa melakukan nya.” ucap Qalessa.
“Iya bunda, kami akan selalu ingat yang kau katakan.” Sambung Xander lalu menggenggam tangan bunda nya itu.
Nayya pun tersenyum, “Kalian itu adalah kebanggaan dan kesayangan bunda nak. Kalian tidak boleh sedih dan harus bahagia. Bunda akan menjadi ibu dan ayah sekaligus untuk kalian.” ucap Nayya lembut mengusap kepala ketiga buah hati nya itu bergantian.
“Hey, para cucu nenek. Apa sudah selesai mengerjakan tugas nya?” tanya mama Fara tiba-tiba datang ke ruang belajar ketiga cucu nya itu.
“Sudah dong nek.” Jawab Xavier.
“Ouh begitu ya. Hebat deh cucu nenek. Ohiya, kakek kalian baru saja memetik kelapa muda. Ayo sana kesana.” Ucap mama Fara lagi yang di sambut oleh ketiga cucu nya itu dengan penuh senyuman dan mereka pun segera beranjak keluar.
“Yah, tapi tetap saja mereka butuh sosok ayah nak. Kau mungkin bisa memberikan kasih sayang itu untuk mereka sebagai ayah dan juga ibu. Tapi bagi seorang anak mereka tetap butuh panutan.” Ucap mama Fara.
Nayya yang mendengar ucapan mama nya itu pun diam saja karena dia sudah tahu pembahasan seperti ini muara nya akan kemana. Itu sudah sering terjadi. Dia tidak suka pembahasan seperti ini yang selalu saja berulang. Dia belum siap untuk melangkah ke depan jika harus dengan menerima pria lain dalam hidup nya sebagai pasangan nya. Dia belum siap dan entah sampai kapan akan siap.
“Mah, apa menjadi seorang janda dan menjalani hidup bersama anak-anak saja memalukan? Apa kalian malu memiliki putri dengan status janda sepertiku?” tanya Nayya tanpa menatap mama nya itu. Dia tahu perkataan nya itu tidak sopan tapi sungguh hati nya belum siap.
__ADS_1
Mama Fara yang mendengar ucapan putri nya itu pun terdiam lalu dia memandangi Nayya, “Kami tidak pernah malu memilikimu nak. Baik dengan status apapun. Bagi kami kau tetap lah putri kebanggaan kami. Hanya saja mama khawatir kau--”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri mah. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku terkait hal itu. Aku bisa kok sendiri. Selama anak-anak baik saja maka aku pun akan baik-baik saja. Aku mohon mah jangan bicarakan hal ini lagi. Aku tidak menyukai nya dan tidak siap jika harus melaksanakan maksud tersirat kalian dari perkataan itu.” ucap Nayya lembut.
Mama Fara yang mendengar itu pun mengangguk dan memeluk putri nya, “Maafkan mama. Mama terlalu mengkhawatirkan. Mama khawatir jika kau kesepian.” ucap mama Fara. Nayya pun hanya diam saja menerima pelukan mama nya itu.
“Sudah. Tidak perlu pikirkan hal itu. Lebih baik kita sekarang temui anak-anak dan papamu. Lupakan semua perkataan mama.” Ucap mama Farra melepas pelukan nya itu dan segera membawa Nayya keluar.
Nayya pun segera duduk di kursi yang ada di teras sambil melihat ketiga buah hati nya yang makan kelapa muda bersama sang papa.
“Nak, kau tidak mau?” tawar papa Imran.
Nayya pun tersenyum lalu mengangguk, “Terima kasih pah sudah menemani mereka. Aku selalu ingat dulu papa juga melakukan itu padaku. Mengambilkan kelapa muda dan kita memakan nya bersama. Terima kasih sudah memberikan kenangan itu untuk mereka. Mereka tidak seberuntung aku yang bisa melewati masa kecilku dengan papah.” Ucap Nayya meneteskan air mata nya itu sambil menerima pemberian papah nya.
Papa Imran pun tersenyum, “Jangan menangis nak. Itu adalah bagian dari takdir mereka. Yang terpenting mereka tetap baik-baik saja. Mereka menerima takdir ini dengan baik.” ucap papa Imran lalu mengusap air mata dari pipi sang putri.
Nayya pun tersenyum lalu menerima suapan dari sang papa. Dia menatap ketiga buah hati nya kembali yang lahap menikmati kelapa muda itu, “Mereka anak-anak hebat nak. Papa yakin mereka akan mengerti dirimu. Apalagi Risam sudah membuat janji dengan mereka. Entah janji apa itu tapi seperti nya janji yang baik.” ucap papa Imran.
__ADS_1
Nayya yang mendengar ucapan papa nya itu pun mendadak menatap sang papa, “Pah, apa menurutmu aku harus menikah lagi hingga mereka akan memiliki ayah lagi dan mereka tidak kesepian?”