Takdir Kehidupan & Cinta

Takdir Kehidupan & Cinta
Bertani


__ADS_3

"Kalian sudah makan?"tanya Ibu Naima.


"Sudah tadi di jalan, karena jalanan macet jadi cari makan dulu,"jawab Naima.


"Ya udah, kalian istirahat pasti kalian capek?"kata ibu Naima.


"Kleek!"


Suara pintu di buka.


"Kamu tidur disini aja? di kamar tamu udah Ibu rapihkan kok kamar nya.


"Iya terima kasih Bu,"jawab Khoya.


"Kalian istirahat ya, terus Naima kamu tidur di kamar kamu. Ibu tinggal ya?"ucap Ibu nya Naima lalu pergi.


"Ya sudah, aku tinggal juga mau bobo dulu di kamar ku, soalnya sudah ngantuk,"ucap Naima.


"Bobo yang nyenyak ya?"kata Khoya.


"Kamu juga bobo yang nyenyak, sesuai dengan rencana kita besok kita pergi ke sawah,"sahut Naima.


"Good night"


"Good night too"


Ucap mereka berdua lalu Naima pergi ke kamar nya.


"Rumah Naima nyaman juga, bisa betah nih kalau lama-lama tinggal disini sudah berasa di jadikan calon mantu,"Khoya bicara sendiri.


"Khoya sudah tidur belum ya? kasian pasti dia kecapean karena habis nyetir mobil,"Naima berkata sendiri di kamar nya.


"Hoaam"


Naima menguap lalu tertidur.


Pagi hari nya...


"Nak! Ayo sarapan, Ibu sudah siapkan makanan nya sekalian ajak teman kamu,"Ibu Naima memanggil.


"Iya Bu Naima mandi dulu bentar,"sahut Naima.


Naima pun selesai mandi.


"Wah..! Ada makanan kesukaan ku, bentar Bu Naima panggil dulu teman Naima,"ucap Naima, lalu pergi membangun kan hoya dari tidurnya.


Tok...Tok..Tok..!


"Khoya bangun, kita makan dulu,"panggil Naima.


"Bentar, lagi pakai baju dulu,"sahut Khoya selesai mandi.


Naima menunggu di depan pintu.


"Sayang, jadikan kita bertani? udah gak sabar nih mau lihat pemandangan sawah yang bikin sejuk, "ungkap Khoya.


"Sejuk apaan, panas tau kalau siang hari emang kamu bisa ngebantuin kita panen? tapi saran aku kamu ngeliatin aja di saung,"ungkap Naima.

__ADS_1


"Memang nya kenapa, pokok nya aku mau ngebantuin kamu,"sahut Khoya.


"Nak! Ayo makan bareng cepetan ajak teman kamu?"kata Ibu Naima.


"Pasti enak banget nih, makanan buatan ibu gak pernah gagal. Ibu masak nasi goreng Pete termasuk makanan kesukaan ku,"ungkap Naima.


"Khoya, ayo duduk di sebelah aku?"ajak Naima.


"Nak, ayo duduk maaf ya? Ibu masak seadanya,"ucap Ibu.


"Terima kasih Bu, maaf juga karena sudah ngerepotin. Makanan nya kelihatan enak jadi lapar juga,"sahut Khoya sambil tersenyum.


"Hahahaha!" Khoya membuat semua tertawa memecah keheningan.


"Eum, masakan Ibuku emang the best!"ungkap Naima dengan mulut penuh.


"Enak, baru pertama kali juga makan nasi goreng yang ada pete nya,"Khoya memuji.


"Kalian bisa aja, Ibu jadi senang mendengar nya jadi semangat masak!"ungkap Ibu Naima.


"Ibu memang pintar dalam hal memasak dan menaklukan hati Bapak,"sahut Bapak Naima sambil tertawa.


"Sama Naima juga berarti nurun dari Ibu nya,"ucap Khoya.


"Maksud nya apa?"tanya Bapak Naima.


"Pak sebenarnya kita sudah pacaran,"jawab Naima menunduk malu.


"Oalah! Kalian pacaran, di jaga baik-baik Naima nya. Jangan sampai mengecewakan hati Naima, karena kalau sampai itu terjadi kamu akan berurusan dengan Bapak,"tegas Bapak Naima.


"Baik pak, saya akan menjaga dan mencintai Naima dengan sungguh-sungguh. Karena Khoya sangat serius menjalani hubungan ini,"sahut Khoya.


"Berasa lagi di lamar, kenapa aku jadi deg-degan begini,"gumam Naima.


"Bagus kalau begitu di tunggu aja lamaran nya,"gurau Bapak Naima.


"Bapak!" sahut Naima malu.


"Dihabiskan makanan nya, sebentar lagi kita mau ke sawah dan kebun,"ucap Ibu Naima yang melerai perbincangan.


Setelah selesai makan mereka pun pergi ke sawah dan kebun.


"Sini biar aku yang bawa makanan nya,"ucap Khoya menolong menenteng makanan di rantang.


"Sawah kita cuman beberapa kotak kira-kira puluhan are, dan sebagian nya kebun,"ungkap Naima menunjukan sawah nya.


"Lumayan luas, siapa yang mengelola ini semua apa cuman orang tua kamu aja?"tanya Khoya.


"Kalau waktu nya menanam dan panen kita cari pekerja buat bantuin, kalau cuman orang tua aja berdua kasian pasti capek,"sahut Naima.


"Akhir nya nyampe juga, makanan nya kita simpan di saung?"ajak Naima.


"Nyaman juga ya, ngadem di saung sambil menikmati hembusan angin,"ungkap Khoya.


"Tentu saja, dari kecil sampai sekarang selalu berkutat di sawah. Karena cara menghasilkan uang dari hasil bertani,"sahut Naima.


"Orang tua kamu belum sampai?"tanya Khoya.

__ADS_1


"Mungkin lagi memberi tahu tetangga, siapa yang mau bantuin bertani,"jawab Naima.


"Sebenar nya aku penasaran? apa kamu sudah siap di lamar, soal nya Bapak kamu sudah ngasih kode,"ucap Khoya sambil tersenyum genit.


"Untuk sekarang kita fokus dulu belajar, tapi kalau kita jodoh nya dekat kenapa tidak,"sahut Naima.


Mereka saling melempar senyum.


"Hari ini kita panen apa?"tanya Khoya.


"Ubi jalar, Kacang tanah dan jagung,"jawab Naima.


Wrebekk, wrebekk, wrebekk..


"Kodok...!" teriak Khoya karena kaget mendengar suara kodok.


Khoya berlari menjauh dari kodok yang ada di dekat nya yaitu di pematang sawah.


"Hahahahaaha!"


"Kenapa kamu takut bukan sama kodok?"tanya Naima sambil tertawa.


"Bukan takut tapi geli,"sahut Khoya.


"Yang kamu kok takut sama kodok, gak bakalan gigit juga,"ucap Naima.


Naima berlari menghampiri nya, tentu saja Naima merasa senang karena ada bahan ledekan karena Khoya takut kodok.


"Eh, kodok!" ejek Naima.


"Mana kodok?"tanya Khoya sambil meloncat kaget.


"Enggak ada bercanda kok,"sahut Naima.


"Jadi ingat Almarhum Agung, kenangan terakhir dari nya yaitu boneka kodok,"lirih Naima.


"Kamu yang sabar ya, mungkin ini sudah jalan takdir dari Allah. Karena kita gak pernah tau kapan nyawa kita akan di ambil, begitu pun dengan Agung ajal gak memandang usia,"ungkap Khoya, mencoba membuat tenang.


"Pokoknya doa terbaik untuk Agung,"sahut Naima.


"Nak...!" teriak Bapak Naima.


"Iya pak Naima disini,"ucap Naima sambil melambai kan tangan karena terhalang pohon pisang.


"Kamu dan Nak Khoya memanen kacang tanah aja berserta Ibu juga, Bapak dengan yang lain akan memanen jagung,"ujar nya.


"Naima, biar Ibu yang ngerabut kacang nya.


Kamu sama nak Khoya petik aja kacang nya pisahkan dari batang dan daun nya,"suruh Ibu Naima.


"Baik Bu!" sahut Naima.


"Ini pengalaman pertama memanen kacang, seru ternyata apa lagi bareng kamu,"ungkap Khoya.


"Masa sih senang ya? bareng aku, kalau bareng kodok?"ucap Naima, karena kodok di jadikan bahan candaan.


"Sayang, jangan gitu dong gini-gini juga aku kan pacar nya kamu.

__ADS_1


__ADS_2