Takdir Kehidupan & Cinta

Takdir Kehidupan & Cinta
di pecat dan di fitnah


__ADS_3

"Ada apa sebenarnya kenapa dengan Ibu-ibu itu? "tanya Pak Yudha ketika Naima baru memasuki ruangan.


"Gak tau, saya mengantarkan makanan sesuai pesanan kok! "ucap Naima mencoba menjelaskan.


"Apa kamu lagi banyak pikiran jadi kurang fokus kerja? "tanya Pak Yudha menatap Naima tajam.


"Enggak kok Pak, saya yakin mungkin Ibu itu yang lupa dengan makanan yang dia pesan, "sahut Naima mencoba menjelaskan.


"Untuk kali ini saya maafin, tapi untuk lain kali terjadi seperti ini lagi, saya akan bertindak tegas, "tegas Pak Yudha.


"Apa iya? aku yang kurang fokus kerja karena banyak pikiran. Gumam Naima"


Naima keluar dari ruangan manager dan kembali lagi bekerja, di lihatnya ada Angga yang sedang duduk lalu memanggil Naima untuk memesan makanan.


"Kak Angga! Jadi juga makan disini, kirain gak jadi? "tanya Naima.


"Iya nih, lagi gak ada keperluan malam ini jadi datang kesini sekalian kan bisa bertemu, "ungkap Angga tersenyum tipis, lalu memesan makanan.


"Di tunggu ya pesanannya! "ucap Naima.


"Aduh kok jadi sakit perut? "ucap Ibu-ibu, padahal dia sudah mengetahui bahwa makanannya di berikan obat pencahar, tentu saja untuk memfitnah Naima. Dia langsung pergi ke toilet, dan Mira langsung mengikuti Ibu-ibu itu. Dan menunggu di area wastafel.


"Aduh, Sakit perut, "ungkap Ibu itu, keluar dari toilet sambil memegang perutnya.


"Bagus, sesuai dengan rencana! "sahut Mira pelan, yang sedang berada di area wastafel, terdengar suara gemericik air yang keluar dari keran. Sengaja Mira memutar keran air supaya percakapannya tidak terlalu terdengar oleh orang-orang yang sedang berada di toilet.

__ADS_1


"Sesuai dengan rencana sih tapi harus berkorban jadi sakit perut kaya gini kan?"tegas Ibu itu.


"Pokoknya uang yang di dapat setimpal dengan yang ibu sudah lakukan! "ucap Mira, memberikan uang dalam amplop coklat kecil. Itu termasuk untuk biaya rumah sakit, tapi belum cukup sampai disini yang harus Ibu lakukan. Fitnah waiters itu kalau perlu sampai dia di pecat, "perintah Mira.


Ibu itu tersenyum tipis dan memasukan amplop kecil berwarna coklat itu kedalam tas nya, lalu dia menjalankan aksinya untuk mem fitnah Naima. Ibu itu kembali duduk dan langsung berteriak memanggil Waiters yaitu Naima.


"Waiters....! Kenapa saya jadi sakit perut setelah meminum jus ini? oh jangan-jangan kamu masukin sesuatu kedalam minumannya, pantas aja tadi maksa padahal bukan itu makanan dan minuman yang saya pesan! "ungkap ibu itu berteriak, membuat semua orang memperhatikannya begitu juga dengan Angga yang sedang asyik makan.


"Ada apa Bu? Saya tidak tau apa-apa, tugas saya hanya melayani pelanggan dan mengantarkan makanan, untuk urusan makanan, Ibu bisa tanya kepada chef dan yang bekerja di dapur! "Tegas Naima merasa kesal, terlihat dia mengepalkan tangannya dan tatapan matanya begitu tajam.


Pak Yudha manager restoran langsung datang menghampiri. Beda dengan Mira ia mengabadikan momen ini lewat kamera ponsel tentu saja untuk memberikan laporan kepada Novia, karena dalang di balik semua ini adalah Novia.


"Kenapa Bu? atas nama restoran saya minta maaf! "ungkap Pak Yudha.


"Saya jadi sakit perut seperti ini, gara-gara makan di restoran ini kalau pihak restoran gak bertanggung jawab saya akan menuntut dan melaporkan ke polisi! "tegas Ibu itu. Kalau perlu makanan dan minuman nya akan saya check dan di jadikan bukti, "ungkap Ibu itu.


"Ok, saya tidak akan melaporkan ke polisi tapi dengan satu syarat! Pecat waiters itu, karena dialah penyebab saya menjadi sakit perut, saya tidak memesan makanan itu tapi dialah yang memaksa jadi terpaksa aku makan dan ternyata saya jadi sakit perut seperti ini, "ungkap Ibu itu dengan nada sinis.


"Baik Bu, kalau itu kemauannya Ibu, "sahut Pak Yudha. Naima maaf ya, dengan berat hati saya akan memecat kamu hari ini juga, terima kasih karena sudah bekerja disini! "tegas Pak Yudha, walau dalam hati gak tega apalagi almarhum Agung memberikan amanah untuk menjaga dan membela Naima saat bekerja di restoran, tapi apa boleh buat dia lakukan semua ini demi nama baik restoran.


Naima hanya diam tidak menggubris nya raut wajah dia terlihat kacau, perasaan nya campur aduk ada rasa kesal ada rasa sedih, dan ia sedang menahan tangis air matanya bisa di bendung.


"Iya Pak, terima kasih untuk semuanya dan senang juga bisa bekerja di restoran ini, "ungkap Naima, dengan nada bicara agak sedikit bergetar.


"Kalau bisa Pak, usir sekarang juga waiters itu bukannya dia tinggal di mess! "sahut Ibu-ibu.

__ADS_1


"Untuk yang satu itu gak bisa Bu, kalau harus menyuruh Naima pergi dari mess kasihan soalnya sudah malam, "ungkap Pak Yudha.


Angga langsung datang menghampiri, dan langsung menarik tangan Naima.


"Naima ayo kita pergi, bereskan barang-barang kamu di mess kita akan pergi sekarang juga dari tempat ini, "tegas Angga tampak kesal karena Naima di perlakukan tidak baik.


"Tapi kak? kita mau pergi kemana, aku gak punya tempat tujuan, "sahut Naima.


Angga tidak menggubrisnya dia malah menarik tangan Naima dan pergi keluar restoran. Sedangkan Mira merasa senang dan melaporkan kejadian tadi ke Novia, tentu saja membuat Novia senang dan bertepuk tangan! "kerja bagus!, ungkap Novia dalam telepon"


"Ayo bereskan barang-barang kamu,l kita akan bawa dan di masukan dalam mobil, "ujar Angga, sedangkan Naima menatap Angga bingung.


"Kita mau pergi kemana kak? "tanya Naima bingung sekaligus penasaran.


"Bereskan dulu barang-barang kamu, nanti saya akan beri tahu! "ungkap Angga.


"Kak, kita mau kemana? "tanya Naima, ketika sudah berada di dalam mobil.


"Kita akan pergi kerumah ku saja! "sahut Angga dengan santainya, sedangkan Naima merasa kaget dan langsung menatap wajah Angga dengan tajam.


"Gimana ya? Sebenarnya gak enak juga sama orangtuanya Kak Angga kalau ikut tinggal di rumah Kak Angga, "ucap Naima, merasa canggung dan tidak enak.


"Santai aja, lagian tinggal di rumah sendiri enggak bareng orang tua, tapi tenang aja kita gak cuman berdua ada Art dan yang lainnya tinggal di rumahku itu! "Angga menjawab pertanyaan Naima dengan santai.


"Terima kasih banyak ya Kak karena sudah baik dan mau menolong, "ungkap Naima merasa senang, walau dalam hati merasa tidak enak.

__ADS_1


Mobil berhenti di sebuah rumah yang besar dan seorang satpam membukakan pintu pagar.


__ADS_2