Takdir Kehidupan & Cinta

Takdir Kehidupan & Cinta
Merasa Marah


__ADS_3

"Sekarang Tante Zahirah benar-benar berada di pihak ku, karena kecelakaan itu membuat hubunganku dengan Khoya kembali dekat. Sekarang satu-satunya yang menjadi penghalang adalah waiters itu! "ungkap Novia merasa kesal. Ia sedang berada di rumah peninggalan orangtuanya yang sederhana. Meski di tawari kembali tinggal di rumah keluarga Haidar, ia menolaknya dan berpura-pura tidak berambisi untuk mendapatkan Khoya lagi, itu adalah triknya supaya dia bisa kembali dekat dengan Khoya. Dan mau di anggap sebagai temannya saja, berpura-pura mendukung hubungan Khoya dengan Naima. Padahal dalam hatinya ingin memisahkan mereka berdua, ia selalu memikirkan berbagai cara agar mereka bisa putus.


Menjelang sore hari...


Naima sudah siap untuk bekerja di mulai pukul 18:00 sore. Ia sudah berdandan rapih dengan balutan seragam waiters restoran, yang ada di pikirannya saat ini ialah, tentang hubungan percintaannya yang mulai tidak harmonis. Sudah jarang menghubungi untuk sekedar chatting dan teleponan, bahkan ketika berada di kampus sikap Khoya berubah menjadi dingin bicara seperlunya saja, hubungan mereka tidak lagi hangat.


"Semangat kerja hari ini! "ujar nya tersenyum tipis mencoba untuk menyemangati diri sendiri. Dan langsung kerja tersenyum melayani pelanggan.


Sesosok wanita bertubuh tinggi semampai turun dari mobil taxi. Memakai celana jeans hitam dan jaket kulit berwarna hitam yang ia kenakan, memakai kaca mata hitam dan berniat merencanakan sesuatu hal yang buruk.


"Waiters!" Panggilnya.


Mira salah satu waiters di sana datang menghampiri. Ia tersenyum dan menanyakan makanan apa yang mau di pesan, setelah memesan disitulah Novia mulai bertanya sesuatu.


"Apa kamu menyukai waiters itu? "tanya Novia sedikit menoleh ke arah Naima yang sedang sibuk melayani pelanggan.


"Dia Naima, tentu saja aku tidak menyukainya. Dia bekerja seenaknya disini, yang bikin kesal Pak Yudha manager restoran memperlakukan nya dengan sangat baik. Setiap cewek itu minta izin selalu di berikan izin, apapun yang cewek itu mau selalu di turuti. Entahlah mungkin dia memang cewek genit dan sok tebar pesona membuat diriku muak, "umpat Mira, menjelaskan kekesalannya.


"Ternyata bukan cuman aku aja yang tidak menyukai cewek itu. "lirih Novia tersenyum miring. Waiters ini bisa aku manfaat kan, "ungkapnya.


Mira datang kembali dengan membawa makanan yang di pesan. Novia berbisik di telinga Mira, dengan sedikit jongkok Mira mendengarkan apa yang di ucapkan dan dia mengangguk setuju. Entah apa yang mereka rencanakan sepertinya sesuatu yang buruk akan menimpa Naima.


"Nanti akan menghubungi kamu! "ucap Novia, sembari menerima sebuah kertas bertuliskan nomor telepon dari Mira. Mereka akan menjalankan aksinya besok sesuai rencana.


Naima melihat Novia pergi meninggalkan restoran. Ia sempat melihat Novia dan teman sesama waiters nya itu sedang mengobrol dan terlihat begitu akrab.

__ADS_1


"Itu kan Novia, tumben dia sendiri biasanya kan kalau makan disini bareng-bareng dengan keluarga Pak Haidar. Gumam Naima bertanya-tanya"


"Ping!" Bunyi ponsel Novia, dan dilihatnya chat dari Tante Zahirah.


"Novia, kamu ke sini ya kerumah Tante sekarang mumpung belum terlalu malam! "tulis Bu Zahirah dalam chat.


"Iya Tante Novia otw kesana! "balas chat dari Novia.


Bu Zahirah sedang menunggu kedatangan Novia ada sesuatu yang akan di bicarakan. Bahkan Khoya pun di suruh untuk menunggu beserta Pak Haidar, menunggu Novia di ruang keluarga. Khoya sekarang selalu menuruti apa yang Mamahnya itu katakan, semenjak kecelakaan benar-benar di manfaatkan dengan baik oleh Mamah Zahirah, dengan alasan, untung Mamahnya gak meninggal. Membuat Khoya jadi semakin dekat dan semakin sayang terhadap Mamahnya. Disitulah Mulai mengatur kehidupan anaknya, ia melarang Khoya menghubungi Naima lewat telepon bahkan untuk sekedar chat. Membuat Khoya tidak nyaman, kalau pun membangkang Mamahnya itu selalu mengatakan. Kamu gak sayang sama Mamah? membuat Khoya luluh dan patuh sebab ia sangat menyayangi Mamahnya, dengan berpikiran Mamahnya masih hidup karena kecelakaan itu. Kalau meninggal akan sangat membuat hatinya hancur dan harus bagaimana menjalani hidup tanpa Mamahnya. Bisa di akui Khoya sangat berterima kasih kepada Novia, ia juga mengetahui bahwa hubungannya dengan Naima kedepannya bakalan tidak baik-baik saja dan menjadi gamang.


Novia telah tiba di kediamannya Pak Haidar. Melangkah kaki dengan wajah sumringah sepertinya ia mengetahui, Tante Zahirah akan membicarakan sesuatu yang membuatnya bahagia.


"Malam Tante! Om! Khoya! "Novia tersenyum tipis dan langsung cipika cipiki dengan Tante Zahirah.


"Gak apa-apa Tante sudah biasa kok naik taxi, dan gak usah repot-repot segala pakai supir untuk menjemput, "ungkap Novia tersenyum tipis.


"Apa kabar Om? "tanya Novia basa-basi kepada Om Haidar.


"Baik, Alhamdulillah Om sehat! "sahut Om Haidar.


Khoya tidak mengatakan sesuatu, ia hanya duduk dan fokus kepada ponselnya.


"Ada sesuatu yang mau Tante dan Om bicarakan! "ungkap keduanya. Dan Khoya langsung menatap wajah kedua orangtuanya.


"Mau membicarakan apa? pasti membicarakan tentang perjodohan lagi, bagaimana ini? kenapa aku menginginkan Naima ada disini dan berdiri di sampingku untuk memperjuangkan cinta kita. Gumam Khoya hatinya merasa kacau"

__ADS_1


Novia langsung melihat ekspresi Khoya yang sedang gamang.


"Sekarang kamu tidak akan bisa menolak perjodohan ini, lihat saja!. Gumam Novia percaya diri"


"Mamah dan Papah sudah berunding dan memutuskan tentang perjodohan kalian berdua. Kalian harus secepatnya bertunangan! "tegas Mamah Zahirah.


Karena saking terkejut mendengar apa yang di bicarakan oleh Mamahnya, ponsel yang sedang di pegang oleh Khoya jatuh kelantai, untung ponselnya mahal jadi tahan banting. Mengepalkan kedua tangannya, ekspresi marah yang ia tunjukan. Tatapan kedua matanya yang tajam. Selain itu, terlihat kedua alis mengerut.


"Kenapa harus sampai sejauh ini, kenapa harus segera bertunangan segala? "tanya Khoya begitu tegas.


"Iya Tante, kesannya terburu-buru kalau harus tunangan, "ucap Novia, pura-pura tidak enak, padahal dalam hatinya merasa senang.


"Pokoknya, kalian harus tunangan dalam waktu dekat! "tegas Bu Zahirah.


"Menurut Papah, gak ada salahnya kan! Kalau segera bertunangan dan Papah lihat kalian berdua kembali dekat, "ungkap Pak Haidar.


Khoya sedang mencoba menahan emosinya, dan menghela nafas sembari mengambil ponselnya yang terjatuh ke lantai.


"Untuk kesekian kalinya aku menolak perjodohan ini, aku tidak mencintai Novia! "tegas Khoya, matanya memerah.


"Kalau kamu menyayangi Mamah dan Papah, apa salahnya menuruti keinginan orangtuamu, "sahut Bu Zahirah kesal. Penolakan seperti ini lah yang membuatnya kesal.


"Aku sangat menyayangi kalian berdua, tapi kalau untuk bertunangan aku tidak sanggup. "ungkap Khoya memelas.


"Kalau kamu gak menuruti keinginan Mamah dan Papah lebih baik Mamah mati saja, "Bu Zahirah mengancam.

__ADS_1


__ADS_2