
"Nak! Kacang tanah nya kalau sudah di petik masukin ke dalam karung aja?"ucap Ibu.
"Baik Bu,"sahut Naima.
"Neng lagi apa sih?"Khoya sedang menggoda Naima.
"Bang saya lagi, lagi apa ya?"Naima bingung menjawab nya.
"Biar suasana nya gak sepi, karena sedang memetik kacang dari batang dan daun nya,"ungkap Khoya.
"Iya deh pacarku ini selalu bisa mencairkan suasana,"sahut Naima.
Beberapa jam kemudian, akhir nya selesai juga memanen kacang tanah nya, karena selain Naima,Khoya dan Ibu nya di bantu juga sama pekerja lain nya.
"Lumayan, hasil panen kacang kali ini dapat 10 ton,"ungkap Ibu Naima menimbang kacang nya di bantu Khoya dan yang lain nya.
"Kita samperin Bapak yuk?"ajak Naima.
"Iya aku ikut,"sahut Khoya.
"Ibu dan yang lain mau istirahat di saung,"sahut Ibu Naima.
"Bapak...!" Teriak Naima.
"Sudah Selesai belum panen jagung nya?"tanya Naima.
"Sedikit lagi nak, tinggal di timbang jagung nya. Nak Khoya bisa bantuin Bapak gak angkat karung nya soal nya mau di timbang,"Bapak Naima minta tolong.
"Baik Pak, akan saya bantu,"sahut Khoya.
"Jadi semuanya 8 ton, lumayan juga hasil panen jagung kali ini,"ungkap Bapak Naima.
"Mau langsung ke saung gak pak?"tanya Naima.
"Ya udah kita ke saung kita makan dulu, sudah siang juga. Nanti kita lanjutkan memanen buah pisang,"ucap Bapak Naima.
"Ayo sini kita makan dulu?"ajak Ibu ke semua termasuk pekerja.
Mereka pun menikmati makan nya hingga selesai.
"Sayang, setiap panen emang selalu begini ya? makan di saung bareng-bareng. Ternyata seru ya?"ungkap Khoya ketika yang lain sudah pergi dari saung akan memanen buah pisang.
Setelah selesai memanen, semua hasil panen diangkut oleh mobil dogong.
"Kamu capek gak?"tanya Naima sesampai nya di rumah.
"Lumayan capek tapi seru!"sahut Khoya.
__ADS_1
"Istirahat dulu aja, sekalian tidur siang. Nanti aku bangunin. Sekarang mau merebus kacang tanah nya terus nanti malam kita bakar-bakar jagung,"ucap Naima.
"Ngapain tidur siang? toh aku akan bantuin kamu aja,"sahut Khoya.
"Ya udah kalau gitu, tapi jangan sekarang, Kita istirahat dulu,"ucap Naima.
"Kita istirahat nya di halaman belakang aja?"ajak Naima.
"Ngikut aja deh aku mah,"sahut Khoya.
"Sini duduk di bangku sambil memandang pohon pepaya,"ucap Naima sambil tersenyum.
"Hubungan kita kedepannya bagaimana? sebenarnya aku mau serius sama kamu, sepulang dari sini rencananya akan mengajak kamu memperkenalkan ke kedua orangtuaku, Bagaimana menurut kamu?"tanya Khoya.
"Aku mau di ajak ke rumah kamu, iya aku setuju soalnya belum pernah main, terus aku mau kenal lebih dekat dengan orang tua kamu,"sahut Naima.
"Sini aku mau menyender di bahu kamu mau memejamkan mata sebentar,"ucap Khoya.
"Ya aku juga ngantuk kita saling senderan aja,"sahut Naima.
"Kau adalah darahku kau adalah jantung ku kau adalah hidup lengkapi diriku oh sayangku kau begitu sempurna,"Khoya bersenandung.
"Ah so sweet!" Tapi lebih baik tidak menyanyi,"Naima bercanda sambil mencubit pipi Khoya.
Mereka tertidur sebentar saling menyender di bahu Naima maupun Khoya.
"Baik Bu sebentar lagi merebus kacang nya,"sahut Naima.
Mereka merebus kacang tanah menggunakan kayu bakar.
"Kita ambil kayu bakar nya di kebun?"ajak Naima.
"Nak! Kalian aja yang ambil berdua, Ibu disini aja mau membersihkan kacang nya yang banyak tanah,"ungkap Ibu.
"Baik Bu, kita pergi ya,"sahut Naima dan Khoya mengangguk.
Di kebun mereka mengambil kayu bakar yang sudah siap di angkat, Karena Bapak Naima sudah memotong kayu tersebut waktu kemarin jadi tinggal di bawa.
"Sayang berat gak kayu nya? maaf ya jadi ngerepotin,"tanya Naima.
"Enggak kok sayang?"sahut Khoya tapi keringat nya bercucuran.
"Aku juga mau membawa kayu bakar nya tapi sedikit aja,"ucap Naima.
"Kamu juga suka mengangkat kayu bakar, apa sudah terbiasa?"tanya Khoya sambil berjalan membawa kayu bakar.
"Tentu saja, apa sih yang gak pernah aku lakukan kalau lagi di kampung. Selain bertani aku juga suka main layang-layang, menangkap ikan di sungai dan masih banyak hal,"sahut Naima.
__ADS_1
"Itu yang membuat aku suka sama kamu, cewek mandiri pekerja keras cantik juga pokonya love love deh!"ungkap Khoya.
"Iya deh yang lagi menggombal,"sahut Naima tersenyum senang.
"Akhir nya sampai juga, kita bawa aja ke halaman belakang?"ajak Naima.
"Iya lumayan pegal juga ya?"sahut Khoya.
"Bentar ya aku ambil menjadi minum dulu?"ucap Naima setelah menaruh kayu bakar nya.
"Nak Khoya, sini bantuin Bapak nyalain kayu bakarnya?"ajak Bapak Naima.
"Baik Pak, kalau ini apa namanya?"tanya Khoya.
"Ini Hawu! Makanan lebih enak kalau menggunakan Hawu dan kayu bakar,"sahut Bapak Naima.
"Minuman sudah datang? aku barusan bikin jus jeruk,"ungkap Naima.
"Iya terima kasih makan minuman nya?"sahut Khoya meminum yang di tuangkan Naima kedalam gelas.
"Terima kasih Nak?"ucap Bapak Naima.
"Iya sama-sama sambil menunggu kacang rebus nya matang Naima mau mandi dulu ya? gerah soalnya,"ucap Naima.
"Nanti nak Khoya juga mandi ya, setelah Naima selesai soal nya kamar mandi nya cuma satu,"ucap Bapak.
"Iya pak gak apa-apa akan saya tunggu?"sahut Khoya.
"Api nya sudah menyala? Ibu bawa kacang nya udah Ibu bersihkan dalam panci,"kata Ibu Naima yang membawa panci.
"Nak Khoya selesai mandi kita makan dulu, sambil menunggu kacang rebus nya matang?"ucap Ibu Naima.
"Baik Bu, lagi menunggu Naima selesai mandi,"sahut Khoya.
"Naima itu anak perempuan kami satu-satunya, kami sangat menyayangi nya. Kalau nak Khoya benar-benar tulus mencintai Naima tolong ya jangan sakiti hati Naima, tolong jaga juga Naima dengan baik. Sebenar nya Ibu merasa khawatir jauh dari Naima, karena dia seorang perempuan yang tinggal di Jakarta sendirian,"ucap Ibu Naima.
"Baik Bu, saya akan menjaga Naima dengan baik dan terima kasih juga karena Ibu dan Bapak memberikan restu,"sahut Khoya sambil tersenyum.
"Iya karena Bapak melihat nak Khoya ini anak yang baik,"ucap Bapak Naima.
Naima baru selesai mandi begitu pun dengan Khoya langsung mandi setelah selesai akhirnya mereka makan bersama sambil menunggu kacang rebus nya matang. Hari pun mulai gelap.
"Kacang rebus nya sudah siap,"ucap Naima membawa kacang rebus ke teras depan rumah.
"Enak nih kelihatan nya,"sahut Khoya.
"Hati-hati masih panas?"ucap Ibu Naima.
__ADS_1