
"Plak! Plak! Plak!"
Zahirah menampar pipi Naima berkali-kali, dengan raut wajah marah dan kesal.
"Mamah, stop...Berani-beraninya menampar Naima, dia tidak bersalah kenapa melampiaskan rasa kesal ke Naima. Harusnya mamah tampar aku saja, "Khoya marah sambil mengepalkan tangan.
"Cewek ini membawa pengaruh yang tidak baik, "tunjuk Zahirah sambil menatap Naima tajam. Baru kali ini Mamah dibentak oleh anak sendiri, ini semua gara-gara dia, "Zahirah kesal.
"Maafin aku karena sudah mencintai anak Tante. "Tangis Naima sambil memegang pipi yang begitu merah bekas tamparan dan meringis kesakitan.
"Kenapa kamu harus minta maaf?"tanya Khoya sambil mengelus pipi Naima.
"Pokoknya Mamah tidak suka kamu berhubungan dengan cewek ini. pekerjaannya hanya seorang waiters, dia cewek miskin. Tidak sepadan dengan keluarga kita, "sahut Zahirah.
"Rasakan! Emangnya enak di permalukan di hadapan banyak orang. Setimpal dengan apa yang dia lakukan karena sudah merebut Khoya dariku, aku tidak akan tinggal diam. Salut buat tante Zahirah, aku harus bisa membuat nya berada di pihaku. Gumam Novia sinis"
"Cukup...! Mamah sadar tidak? perkataan Mamah membuat hati Naima sakit. Mungkin kita berasal dari keluarga kaya, tapi perilaku dan ucapan, tidak sekaya hatinya Naima, "tegas Khoya.
"Berani nya ya kamu jadi anak durhaka... "sahut Zahirah penuh amarah.
"Ternyata istri nya Haidar Abimana Sombong ya! Merasa paling kaya dan paling benar aja hidupnya, "orang-orang yang sedang berada di restoran, saling berbisik melihat kejadian itu.
Mendengar orang-orang yang ngerumpi membicarakan istri dan anaknya. Haidar beranjak dari tempat duduknya.
"Cukup Mah..Sudah cukup. Khoya kamu juga jangan keterlaluan, membentak Mamah kamu. Kita pulang saja, malu di lihat banyak orang, "ucap Haidar Abimana, sekilas melirik wajah Naima.
Tangan Zahirah ditarik dan di ajak untuk pergi meninggalkan restoran.
"Kamu lebih memilih cewek ini, bahkan kamu membentak mamah kamu sendiri, hanya demi cewek ini?"tegas Novia menunjuk wajah Naima.
"Diam....! Sikapmu yang seperti ini yang membuat aku tidak menyukaimu sekarang, "tegas Khoya.
Mengepalkan tangan. Kelopak mata kencang dan lurus dan alis sedikit di turunkan, Novia kesal dan melihat ke sekeliling banyak orang yang memperhatikan. Dia pergi dengan langkah kaki yang di hentakan.
"Its' ok kamu jangan menangis terus! "ucap Khoya menenangkan Naima yang sedang menundukkan pandangan dan air mata yang terus menetes.
Melihat keributan itu, Yudha manager restoran langsung datang menghampiri, dengan langkah kaki yang begitu cepat karena melihat ketidak nyamanan pelanggan restoran yang sedang makan.
"Naima, ada apa ini?"tanya Yudha. Naima tiada hentinya meneteskan air mata.
__ADS_1
"Maaf ya ini semua salahku, sudah membuat keributan disini?"sahut Khoya langsung menjawab pertanyaan Yudha.
"Naima sudah kamu pulang aja, akan terlihat tidak bagus dengan mata kamu yang sembab, melayani pelanggan restoran, "ungkap Yudha.
"Iya!" Naima hanya mengatakan itu saja. Lalu pergi bersama Khoya.
Berjalan dengan bergandengan tangan menuju mess. Semua orang memperhatikan, ada yang mencibir ada juga yang merasa kasihan dengan mereka.
"Seorang waiters pacaran dengan seorang pangeran, sangat tidak cocok. Pangeran itu lebih cocok denganku, "ucap seorang cewek tersenyum. Jangan menghayal dong?"sahut temannya, ketawa bareng.
"Kasihan ya mereka, apa salahnya kalau mereka berpacaran walaupun tidak sepadan. seorang waiters mengharapkan pangeran. Kalau mereka saling mencintai kenapa meski di larang? karena cinta itu tidak pernah salah! "lirih seorang cewek sambil memperhatikan Naima dan Khoya yang sedang berjalan keluar.
"Enak banget itu si Naima, sudah membuat keributan masih saja diperlakukan baik oleh Pak Yudha. Aku harus merencanakan sesuatu agar cewek itu tidak bekerja disini lagi, harus membuatnya di pecat, karena cewek itu selalu membuat kesal, "ungkap Mira sesama waiters.
Sesampainya di mess...
"Sayang, sudah ya jangan terlalu di pikirkan?"ucap Khoya.
"Bagaimana, hubungan kita kedepannya? mamah kamu sangat tidak menyukaiku, "sahut Naima.
"Kamu tenang aja ya, kita harus berusaha mendapatkan restu, "ucap Khoya.
"Sssstt!"
Khoya membuat Naima terdiam dengan di sentuhnya bibir Naima dengan jari telunjuknya. Khoya langsung mengambil es batu untuk mengompres pipi Naima yang merah bekas tamparan.
"Apa aku harus menyerah saja dan memutuskan hubungan ini?. Gumam Naima bertanya-tanya"
"Sudah malam kamu pulang saja. Takutnya nanti orang tua kamu marah lagi, kita kan ingin berjuang mendapatkan restu, seharusnya kita harus mengambil hati mereka. Yaitu dengan cara lembut, "ungkap Naima.
"Iya setuju! Kamu juga istirahat ya, "ucap Khoya.
"Cup!" Khoya mengecup kening Naima.
"Sudah ya aku pergi! "ucap Khoya, tapi masih saja diam tidak melangkahkan kaki.
"Sayang katanya mau pulang?"tanya Naima.
"Iya, tapi aku mau dengan dulu bahwa kamu mencintaiku sebanyak lima kali, "ucap Khoya tersenyum.
__ADS_1
"Banyak amat, harus bilang sebanyak lima kali? "sahut Naima.
"Ya kalau belum mengucapkan nya aku tidak akan pergi! "ucap Khoya.
"Aku mencintaimu!"
"Aku mencintaimu!"
"Aku mencintaimu!"
"Aku mencintaimu!"
"Aku mencintaimu!"
Naima mengucapkannya sebanyak lima kali.
Sedangkan Khoya tersenyum sambil menghitung yang di ucapkan Naima.
"Aku juga mencintaimu!" sahut Khoya tersenyum.
"Sayang, hati-hati di jalan! "ucap Naima di depan pintu sambil melambaikan tangan.
Khoya membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan juga, Lalu ia pulang menuju rumahnya. Sebenarnya dalam hati ia merasa tidak mau pulang ke rumah, karena malas menghadapi kedua orangtuanya takut berdebat lagi.
Kendaraan yang berlalu lalang mulai berkurang seiring berjalan nya waktu yang semakin larut malam. Angin terasa lebih dingin di malam hari, mencoba mencari taxi karena Khoya tidak membawa kendaraan, di tinggal pergi oleh orangtuanya. Akhirnya ada taxi yang berhenti ia langsung menaiki taxi tersebut.
Sesampainya di tempat tujuan, ia turun dan membayar ongkos taxi nya.
"Mudah-mudahan, Sudah pada tidur! Malas juga kan kalau berdebat lagi, "lirih Khoya di depan pagar rumah.
Satpam melihat Khoya yang sedang berdiri di depan pagar rumah, di bukalah pagar tersebut.
"Aden baru pulang? kok pulang nya belakangan tidak bareng Tuan dan Nyonya, tadi kan berangkatnya bareng? "tanya satpam yang begitu kepo.
Khoya langsung meninggalkan satpam tersebut, tanpa menjawab pertanyaan yang satpam lontarkan. Dia tidak suka ada orang yang kepo tentang dirinya, apalagi seorang satpam yang kepo.
"Aduh, kenapa nih mulut terlalu banyak bicara dan terlalu banyak bertanya? Aden Khoya judes banget, seperti lagi ada masalah! "ungkap satpam bingung.
"Khoya....! Kamu baru pulang? "tanya Novia yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
__ADS_1
Khoya tidak menggubrisnya dia terus berjalan masuk kedalam rumahnya. Novia merasa kesal dan mengepalkan tangan nya.