
"Enak ya kacang rebus nya apalagi di makan bareng-bareng, kebersamaan nya itu membuat saya senang!"ungkap Khoya.
"Nak Khoya memang jarang kumpul bareng sama keluarga bukan?"tanya Ibu Naima penasaran.
"Iya Bu, orang tua saya dua-dua nya sibuk bekerja pergi pagi pulang malam, jarang ada waktu untuk meluangkan waktu bersama. Apalagi saya anak satu-satunya jadi berasa kesepian,"sahut Khoya.
"Anggap aja kita seperti keluarga nak Khoya, apalagi kan sekarang pacar nya Naima,"ucap Ibu Naima.
"Terima kasih Bu!"jawab Khoya.
"Gue sudah di anggap sebagai keluarga nih, kode keras berarti, bakal calon mantu. Gumam Khoya senyum-senyum sendiri"
"Pacarku sedang memikirkan apa? senyum-senyum sendiri seperti itu. Gumam Naima"
Gak terasa hari mulai gelap, sesuai dengan rencana bila malam tiba akan membakar jagung.
"Nak! Mau jagung bakar bukan? ambil jagung nya terus kita buat pembakaran nya di depan rumah aja"ucap Bapak Naima.
"Setuju kita buat jagung bakar sekarang!"sahut Naima.
Mereka membuat jagung bakar, Bapak nya yang menyalakan arang sedang kan Naima mengipas-ngipas jagung nya.
"Aroma nya sedap banget apalagi jagung yang baru di petik dari pohon nya, rasa nya pasti manis!"ungkap Naima.
"Betul, aroma nya wangi banget jadi gak sabar mau makan!"sahut Khoya.
"Kalian besok pulang bukan?"tanya Bapak.
"Iya pak tadinya pengen lama disini, tapi Naima harus kerja gak enak juga kan kalau cuti lama-lama,"sahut Naima.
"Kalau begitu biar ibu siapin oleh-oleh hasil panen buat di bawa ke Jakarta,"ucap Ibu nya.
"Betul Bu! Sekalian bawain oleh-oleh buat orang tua nya Khoya,"sahut Naima.
"Terima kasih Naima, padahal gak usah repot-repot,"ucap Khoya.
"Gak apa-apa kan sekalian mau main ke rumah kamu, jadi gak datang dengan tangan kosong tapi bawa oleh-oleh,"sahut Naima.
"Betul juga, pasti orang tua ku sangat senang,"ucap Khoya.
Pagi hari...
"Ibu dan Bapak, kita pamit ya! Terima kasih untuk jamuan nya saya sangat senang sekali, maaf juga karena sudah merepotkan sampai di kasih oleh-oleh juga,"Khoya berterima kasih.
"Sama-sama nak Khoya, malahan Ibu dan Bapak senang karena kehadiran nak Khoya. Malahan nak Khoya yang kita repot kan diajak bertani!"sahut Ibu Naima.
Hiks,hiks,hiks.
__ADS_1
"Ibu dan Bapak jaga kesehatan ya! Naima selalu kangen bila pergi jauh dari kalian,"Naima menangis tersedu-sedu.
"Kamu juga jaga kesehatan, Kita juga kangen apabila jauh dari putri kita satu-satu nya,"sahut Bapak, sambil memeluk Naima.
"Ibu dan Bapak kita pamit, pokok nya jaga kesehatan setelah sampai Naima akan menelepon Ibu dan Bapak," Naima mencium tangan kedua orang tua nya, Begitu juga dengan Khoya.
"Assalamu'alaikum"
Mereka berdua langsung masuk kedalam mobil, tentunya membawa oleh-oleh hasil panen.
"Waalaikumsalam" kedua orang tua Naima, menjawab salam.
"Sayang! Nanti jangan langsung ke rumah kamu, kita ke tempat aku dulu mau mandi terus ganti baju juga,"ucap Naima ketika sedang berada dalam mobil.
"Iya sayang, aku setuju,"sahut Khoya yang sedang menyetir.
Setiba nya di tempat Naima...
"Akhir nya sampai juga!"ucap Naima.
"Sayang oleh-oleh nya gimana?"tanya Khoya.
"Untuk orang tua kamu simpan aja di mobil, yang sebagian bawa aja oleh-oleh nya buat teman-teman ku,"sahut Naima.
"Lumayan capek juga, nyetir mana jalan nya macet pula,"keluh Khoya, ketika masuk ke dalam mess.
"Iya deh aku mau tiduran aja di kasur,"ucap Khoya.
"Kalau bisa tidur dulu sebelum ke rumah kamu, aku mandi dulu ya!"sahut Naima.
Naima menyalakan keran air di kamar mandi, terus ia mulai melepaskan pakaian nya.
"Tok..Tok..Tok!" Khoya mengetuk pintu.
"Naima...! Buka pintu nya, gue mau bab nih udah gak kuat cepat Naima!"ucap Khoya.
"Iya bentar! Baru aja mau mandi ganggu aja sih,"Naima kesal lalu membuka pintu nya.
"Awas Naima udah gak tahan nih!"Khoya buru-buru masuk kedalam kamar mandi.
"Iya ganggu aja sih, jadi pakai handuk doang kan!"sahut Naima.
"Lama banget si bab nya,"ucap Naima yang sedang menunggu.
"Sayang...Cepat dong, aku mau mandi!"teriak Naima.
"Iya udah selesai kok,"sahut Khoya membuka pintunya.
__ADS_1
"Naima kamu seksi banget, sumpah jadi gak kuat menatap nya. Gumam Khoya sambil menelan ludah"
"Jangan berpikir macam-macam! karena kita bukan muhrim. Tunggu kita nikah dulu, karena aku akan memberikan kesucianku kepada suamiku kelak,"ucap Naima.
"Siapa juga yang mikir macam-macam, aku sangat menghormati perempuan. Akan menjaga harga diri nya jadi gak bakalan macam-macam juga. Tapi kalau cium bolehkan?"tanya Khoya yang langsung mencium bibir Naima.
"Sayang, belum mandi nih kamu mah mencium tanpa menyesuaikan situasi,"sahut Naima melepaskan ciuman nya.
"Bisa gak diam sebentar!"ucap Khoya, lalu membungkam mulut Naima dengan mulutnya.
"Sudah aku mau mandi dulu, "ucap Naima setelah berciuman cukup lama.
"Ya ampun...! "Khoya kaget karena handuk yang di pakai Naima melorot.
"Sayang tutup matanya,"sahut Naima karena merasa malu, tubuhnya telanjang tanpa sehelai benang dilihat Khoya.
"Astaga! Sungguh indah makhluk yang Tuhan ciptakan,"Khoya menutup wajah nya dengan tapi mengintip di sela-sela jari.
"Benar-benar malu banget! Kenapa sih handuk pakai melorot segala? harus nya Khoya melihat tubuhku tanpa busana ketika dia resmi menjadi suamiku," Gumam Naima, sambil lari ke kamar mandi dan meninggalkan handuk yang terjatuh.
Suara gemericik air di kamar mandi karena Naima sedang mandi tapi dia lupa bahwa handuk nya ketinggalan.
"Sayang! Bisa minta tolong gak ambilkan handuk?"ucap Naima di dalam kamar mandi.
"Bentar aku ambilkan, terus bagaimana kalau aku melihat nya lagi?"sahut Khoya sambil tertawa.
"Itu gak bakalan terjadi lagi,"Naima membukakan sedikit pintu nya dan sembunyi dibelakang pintu.
"Nih handuk nya, kamu nya dimana kok gak kelihatan?"tanya Khoya cengengesan.
"Langsung lempar aja handuk nya,"Naima langsung menutup pintu nya.
"Auwh!" Pekik Khoya kesakitan karena tangannya terjepit pintu.
"Sayang, maaf tunggu dulu bentar aku pakai handuk dulu,"sahut Naima tanpa membuka pintunya, sambil memakai handuk.
"Sayang kamu tega banget, jariku terjepit dibiarkan cukup lama,"ucap Khoya.
"Maaf ya! Abis nya lagi panik,"sahut Naima membuka pintunya.
"Sini biar aku obati,"Naima mengobati jari Khoya yang terjepit, tapi masih menggunakan handuk.
"Auwh! Benar-benar gak kuat!"sahut Khoya.
"Gak kuat kenapa sakit banget ya?"tanya Naima.
"Gak kuat melihat kamu pakai handuk!"sahut Khoya.
__ADS_1
"Sayang kamu mah gitu! Tunggu dulu diluar aku mau pakai baju,"tegas Naima.