
"Papah gimana kondisi mamah sekarang?"tanya Khoya dengan mata merah dan berkaca-kaca menahan tangis, ia bertanya-tanya kenapa semua ini bisa terjadi. Kenapa kecelakaan bisa menimpa Mamahnya.
"Mamah kamu, masih belum sadarkan diri dan kehilangan banyak darah dan membutuhkan pendonor darah. "ucap Papah Haidar mencoba menguatkan dan mengelus bahu Khoya, yang sedang duduk di sebelahnya. Walau dalam hatinya ia merasakan perasaan yang sama merasa sedih atas kecelakaan yang menimpa istrinya itu.
"Terus gimana, sudah ada pendonornya?"tanya Khoya penasaran.
"Novia bersedia mendonorkan darah! "sahut Papah Haidar.
Khoya mencoba untuk masuk kedalam ruang rawat, dilihatnya ketika sedang membuka pintu Mamah Zahirah sedang di ganti bajunya dengan baju pasien rumah sakit tersebut. Sementara Mamah Zahirah sendiri masih belum sadarkan diri dengan selang infus di tangannya. Mamah Zahirah terlihat mendapatkan luka bekas benturan di keningnya, begitu juga dengan kakinya patah karena terjepit body mobil. Yang saat ini sedang di obati oleh perawat tersebut setelah selesai mengganti bajunya.
"Ya Tuhan! Aku gak tega, melihat kondisi Mamah, "lirih Khoya terisak, menghela nafas dengan berat. Ia masih berdiri di depan pintu.
"Mamah harus sembuh dan berjuang, Papah yakin mamah bisa cepat pulih, sadar dan membuka matanya. Karena Mamah itu orangnya kuat, "sahut Papah Haidar yang juga berdiri di depan pintu melihat kondisi istrinya.
"Maaf! Dengan keluarga pasien, harap menunggu di luar, pasien akan segera di beri donor darah, "ucap dokter yang baru datang dan akan memasuki ruangan. Dan Novia ikut masuk ke dalam, setelah di periksa salah satunya kondisi kesehatannya Novia. Setelah di nyatakan aman baru lah pengambilan darah di mulai untuk dilakukan proses donor darah tersebut.
Setelah selesai dokter pergi, dan mengatakan bahwa pasien secepatnya pasti akan sadar. Papah Haidar mengatakan, lakukan yang terbaik untuk kesembuhan istrinya, dari segi fasilitas pelayanan bahkan meminta di pindahkan ke ruang rawat VIP.
"Novia, terimakasih karena sudah bersedia mendonorkan darah! "ucap Khoya, dan merasa tidak enak terhadap Novia, karena tidak mengangkat teleponnya. Novia menghubunginya berkali-kali tapi ia acuhkan.
"Iya sama-sama, mau membantu Tante Zahirah sebisa nya aku, karena keluarga Om Haidar begitu baik selama ini. Anggap aja aku lagi membalas semua kebaikan keluarga Om Haidar terhadapku, "ungkap Novia, ikhlas membantu sebisanya untuk kesembuhan Tante Zahirah. Dan ia merasa senang karena Khoya berterima kasih padanya. Menurutnya ini awal yang baik untuk bisa kembali dekat dengan Khoya, setelah kejadian malam itu di restoran. Tentang penolakan perjodohan dan lebih memilih Naima di banding dirinya.
"Sekali lagi, terimakasih Novia! "ungkap Pak Haidar sedikit melemparkan senyuman.
__ADS_1
Ditempat lain...
Naima kurang fokus dalam pekerjaannya, ia memikirkan bagaimana kondisi Mamahnya Khoya sekarang. Walaupun ia mengetahui bahwa orangtuanya Khoya sangat tidak menyukainya, tapi ia merasa khawatir, apalagi sesuatu hal yang membuat pacarnya itu menjadi sedih.
"Apa aku telepon aja ya? daripada terus di buat penasaran seperti ini, "lirih Naima, sambil terus melihat ponselnya, ketika tidak terlalu banyak pelanggan restoran. Merasa cemas kenapa pacarnya itu belum juga memberikan kabar.
"Drrtt..Drrtt..Drrtt..!" Ponsel bergetar dan di lihatnya Naima menelepon.
"Aku angkat telepon dulu ya sebentar? "ucap Khoya, yang sedang ngobrol bertiga. Menunggu Mamah Zahirah sadar.
Novia sedikit merasa kesal, karena ia mengetahui bahwa yang menghubungi Khoya lewat telepon itu adalah Naima. Tapi ia merasa sedikit senang karena Khoya mulai dekat lagi dengannya.
"Iya, sayang ada apa? "tanya Khoya menjawab telepon tersebut.
"Bagaimana kondisi Mamah kamu sekarang?"tanya Naima, yang sangat penasaran.
"Kamu yang kuat ya dan yakin bahwa Tante Zahirah akan kembali sembuh seperti sedia kala, aku akan mendoakan untuk kesembuhan Mamah kamu!"ungkap Naima, mencoba untuk memberi semangat, karena ia tahu pacarnya itu pasti sangat sedih.
"Terima kasih sayang, untuk doa nya, "sahut Khoya.
"Sama-sama, mungkin besok aku akan kerumah sakit menjenguk Mamah kamu,"ungkap Naima dalam telepon.
"Iya aku tunggu, sepertinya besok aku izin dulu untuk tidak kuliah, "ucap Khoya dalam telepon itu.
__ADS_1
"Maaf ya aku mau tanya lagi, Mamah kamu gimana setelah kecelakaan mengalami luka serius tidak? "tanya Naima, agak sedikit tidak enak karena menanyakan hal itu.
"Mamah mendapatkan luka benturan di keningnya dan juga kaki sebelah kiri patah karena terjepit body mobil, "Khoya menjelaskan luka yang didapat oleh Mamah nya akibat kecelakaan itu.
"Ya Tuhan! Semoga Tante Zahirah lekas sembuh, "sahut Naima merasa kasihan.
"Untung ada Novia yang menolong, dia yang membawa mamah kerumah sakit dan memanggil ambulans, bahkan dia yang mendonorkan darahnya untuk Mamah, aku sangat berterima kasih kepada dia. Dia benar-benar penyelamat Mamahku, aku akan membalas kebaikan Novia, "ungkap Khoya. Yang ternyata membuat Naima agak sedikit sedih mendengar apa yang di katakan pacarnya itu barusan.
"Udah dulu ya aku lagi kerja soalnya, "ucap Naima, tanpa basa-basi langsung menutup teleponnya.
"Benar-benar penyelamat! Akan membalas kebaikan nya! Kenapa aku jadi merasa cemburu. Gumam Naima"
Novia mengikuti Khoya dan ia mendengar percakapan dalam telepon. Apa yang di ucapkan Khoya, ia sangat merasa senang. Sambil tersenyum menyeringai lalu bergegas pergi kembali lagi ke tempat semula, karena takutnya Khoya mengetahui bahwa dia sedang menguping.
"Akan membalas semua kebaikanku? bisa jadikan Khoya akan menuruti kemauanku untuk menikah dengannya. Novia bergumam"
"Kenapa, kamu senyum-senyum lagi senang ya? "tanya Pak Haidar merasa heran.
"Enggak Om, aku lagi mengingat sesuatu yang lucu! "sahut Novia merasa malu dan berhenti tersenyum.
Bu Zahirah akan di pindahkan ke ruang rawat VIP. Dan sekarang Bu Zahirah sudah sadar membuat semua merasa senang, semuanya bergegas dan mengikuti tempat tidur yang di dorong, Bu Zahirah sedang berbaring disana. Menuju ruang rawat VIP.
"Mamah! Sudah sadar, "ucap Khoya tersenyum menatap Mamahnya, sembari mengikuti tempat tidur dorong rumah sakit. Begitu juga dengan Pak Haidar ikut tersenyum mencoba memegang tangan istrinya, lalu mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian...
Bu Zahirah sudah sembuh dari sakitnya, kini sudah bisa berjalan tidak menggunakan tongkat lagi. Kakinya yang patah sudah normal kembali, selama sakit ia dirawat oleh Novia, sedangkan Naima merasa sedih betapa tidak ia datang kerumah berniat untuk menjenguk Bu Zahirah tapi malah di usir keluar. Ada Khoya yang mencoba menenangkan dan meminta maaf atas perlakuan Mamahnya yang buruk terhadap pacarnya itu, semakin susah untuk memperjuangkan cinta mereka.