
Khoya sontak terkejut, matanya melebar karena apa yang dilihatnya. Mobil berhenti di tempat parkir restoran, tempat Naima bekerja.
"Ya ampun, bagaimana ini? kenapa harus di restoran ini, terus bagaimana kalau Naima mendengar obrolan kita, bagaimana dengan perasaan nya, takutnya dia sedih. Gumam Khoya cemas"
Novia langsung mengerucutkan bibirnya dan tampak kesal, lalu tersenyum miring ketika melihat ekspresi Khoya yang sedang cemas.
"Aku harap Tante Zahirah akan membicarakan tentang perjodohan yang akan berlanjut sampai tunangan, supaya cewek itu mundur dan meninggalkan Khoya. Sebenarnya aku gak rela sama sekali melihat dia menjadi pacarnya Khoya, pokoknya Khoya harus kembali kedalam pelukanku. Gumam Novia"
"Tante ini restoran yang pernah aku datangi bersama Khoya pas kita masih pacaran!"ucap Novia.
"Restorannya bagus Tante yakin makanannya pasti enak!"sahut Mamah Zahirah ketika turun dari mobil.
"Kalian pernah datang kesini? Om juga pernah makan disini bareng Papah kamu,"ucap Papah Haidar.
"Iya, kita pernah datang kesini! Om juga pernah makan disini bareng Almarhum Papah? jadi kangen sama Papah aku, "ungkap Novia sedih.
"Sudah kamu jangan bersedih kamu tidak sendirian Om udah menganggap kamu seperti keluarga, seperti anak sendiri, "ungkap Papah Haidar menghibur Novia.
Khoya masih berada di dalam mobil duduk merenung, rasanya ingin langsung pulang lagi ke rumah untuk apa makan malam di restoran tempat Naima bekerja, karena ia tahu kalau Naima melihat, akan membuatnya sedih. Berat sekali langkahnya untuk turun dari mobil. Memutarkan bola matanya dan tertuju ke arah Naima yang sedang tersenyum melayani pelanggan.
"Nak, cepetan turun kamu lagi apa sih?"tanya Mamah Zahirah yang merasa penasaran kenapa belum turun dari mobil.
Kelopak mata kencang dan lurus dan alis sedikit di turunkan menandakan rasa marah, lalu Khoya turun dari mobil.
__ADS_1
"Kenapa? apa dia merasa tidak nyaman, karena cewek itu akan melihatnya dan mungkin akan mendengar obrolan kita, tentang perjodohan yang akan berlanjut kejenjang yang lebih serius. Aku merasa tidak sabar, ku berharap secepatnya tunangan dan segera menikah. Akan merasa beruntung jika menjadi menantunya keluarga Haidar, pengusaha dan pebisnis ternama. Aku harus membuat cewek itu kesal dan cemburu. Gumam Novia tersenyum sinis"
"Ayuk, kita masuk kedalam! "ajak Novia dan langsung menggandeng tangan Khoya.
"Gak perlu pegangan segala, "tegas Khoya melepaskan pegangannya.
"Kamu kenapa nak? gak ada salahnya kan jalan bergandengan tangan. Novia kan calon istri kamu, "ucap Zahirah.
Dengan senyum terpaksa Khoya berjalan sambil bergandengan tangan dengan Novia untuk masuk kedalam restoran tersebut. Matanya berkeliling mencari seseorang yang ternyata ada di hadapannya. Naima terkejut dengan apa yang ia lihat. Saling menatap mata begitu intens, gestur tubuh Khoya menandakan ini semua bukan keinginannya dan sedikit menggelengkan kepalanya dan menatap mata Naima sendu. Novia dengan sengaja menyenderkan kepala di tangan Khoya yang sedang ia pegang. Khoya sedikit menundukkan pandangannya.
"Aku akan terus berada di dekat Khoya akan terus menempel dengannya, aku senang melihat ekspresi cewek itu yang terlihat sedih. Gumam Novia tersenyum sinis"
"Kenapa mereka sekeluarga makan di sini? Khoya kenapa kamu diam saja dengan tingkah Novia yang terus menempel disebelah kamu?. Gumam Naima"
"Selamat datang di restoran kami! Mau pesan apa?"sambut Naima tersenyum, walau dalam hati merasa sedih.
"Iya Tante, orangtuaku di kampung bertani, sahut Naima.
"Kalau kamu pulang kampung lagi, Tante pesan hasil panennya lagi, kalau yang baru di petik langsung dari kebun terlihat masih fresh, "ucap Tante Zahirah basa-basi.
"Iya Tante, nanti ya kalau pulang ke kampung lagi, "jawab Naima.
Khoya terus menatap Naima dengan mata sendu dan sesekali mengedipkan matanya. Ekspresi Novia terlihat kesal dan mengepalkan tangannya. Dalam benaknya tidak suka kalau Naima dan Tante Zahirah menjadi akrab.
__ADS_1
"Mau pesan apa?"tanya Naima, memberikan buku menu.
Khoya terus menatap Naima. Memegang dagunya dengan dua jari yaitu jari telunjuk dan jari jempol, menggerakkan bibirnya dengan jari tersebut lalu tersenyum. Itu mengisyaratkan bahwa Naima harus tersenyum dan jangan bersedih. Naima mengangkat alisnya sebelah, karena melihat tingkah Khoya, lalu ikut tersenyum. Sementara Mamah Zahirah memilihkan menu makanan yang akan di pesan, Papah Haidar selalu suka dengan makanan yang di pesan istrinya apapun itu, karena Mamah Zahirah sudah paham makanan apa yang disukai dan tidak disukai suaminya. Sedangkan Novia ikut atau menyamakan makanan yang di pesan Tante Zahirah, Begitupun dengan Khoya memesan makanan yang sama. Zahirah memberikan buku menunya dan menyebutkan makanan yang akan di pesan.
"Baik, di tunggu ya pesanannya! "sahut Naima sambil tersenyum.
"Tante kita mau ngobrolin apa? apa mau membicarakan tentang perjodohan, "ucap Novia sedikit berteriak, dengan sengaja supaya bisa didengar oleh Naima yang akan pergi meninggalkan meja tersebut.
Langkah Naima terhenti mendengar apa yang di ucapkan Novia. Tangannya bergetar sembari memegang buku menu. Raut wajah yang sangat sedih, mengerutkan keningnya. Dalam hatinya bertanya-tanya mereka akan membicarakan perjodohan sampai sejauh mana, ekspresi kesal lalu mengerucutkan bibirnya.
"Iya Tante rasa, kalian harus secepatnya bertunangan, "ungkap Zahirah.
"Menurut Om juga begitu, kalau bisa secepatnya menikah, karena Om dan Tante menantikan kehadiran cucu, "Sahut Om Haidar.
Luka tidak memiliki suara sebab air mata jatuh tanpa bicara. Itulah yang sedang di rasakan Naima sekarang, hatinya hancur seperti sudah tidak ada harapan lagi untuk cintanya. Haidar Abimana mendengar nama saja membuat Naima sangat rendah diri, dibandingkan dengan keluarganya dikampung sangat tidak sepadan. Khoya langsung beranjak dari tempat duduknya, matanya tertuju ke satu titik, yaitu tempat berdirinya Naima. Dengan langkah cepat menghampiri dan memeluk Naima dari belakang. Sambil menangis Naima kaget siapa orang yang memeluknya, ketika membalikan badan ternyata yang berada di hadapannya adalah pacarnya. Tangan Khoya langsung menyapu air mata Naima.
"Its' ok, jangan menangis ada aku disini, "ucap Khoya menenangkan Naima.
Semua mata tertuju kepada mereka. Semua merasa heran kenapa, seorang Albarkhoya Abimana anak pengusaha dan pebisnis ternama, memeluk seorang waiters restoran.
"Khoya ada apa ini, kenapa kamu memeluk cewek ini? "tanya Zahirah yang langsung beranjak dari tempat duduk.
"Iya aku sangat mencintai perempuan ini, untuk masalah perjodohan aku menolaknya. Cintaku hanya untuk Naima seorang, oh iya sekalian aku umumkan disini. Perkenalkan! perempuan ini adalah pacar saya, dia adalah Naima, perempuan cantik, mandiri, pekerja keras. Sehingga membuat saya kagum dan cinta terhadap perempuan ini.
__ADS_1
Naima hanya berdiri menundukkan pandangannya.
Bersambung...