Takdir Kehidupan & Cinta

Takdir Kehidupan & Cinta
Cinta Butuh Perjuangan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah mengiringi hari ini dan hangatnya matahari mulai menyinari bumi. Langit yang begitu biru dan cerah, tapi tidak secerah hati dan wajah Naima. Matanya sembab karena semalaman menangis, tentu saja karena dia sedang patah hati.


"Bagaimana hubungan kita kedepannya? apakah hubungan ini akan berakhir begitu saja, mengingat bahwa Khoya akan dijodohkan dengan perempuan yang dipilihkan ibunya, "ungkap Naima yang masih terbaring di kasur dan malas melakukan sesuatu.


Naima tidak berangkat ke kampus, karena hari ini hari terakhir libur, besok lah mulai belajar kembali di kampus. Dia mencoba untuk menenangkan pikiran nya dengan pergi ke taman.


Di tempat lain..


Khoya dan keluarga nya termasuk juga Novia sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Novia membantu bibi di dapur untuk menyiapkan makanannya, tentu saja karena dia merasa tidak enak karena ikut tinggal di rumah tersebut.


"Novia! padahal gak usah repot-repot bantuin bibi segala,"ucap Mamah Khoya yang baru saja datang ke meja makan.


"Gak apa-apa tante, Novia senang kok melakukan nya!"sahut Novia.


"Om silakan duduk dan sarapan!" sambut Novia pada Papah Khoya.


Khoya datang menghampiri mereka untuk sarapan. Raut wajah tertekuk, mata nya yang sembab. Karena dia sedang muram atau sedih.


"Kamu baik-baik aja kan, tidak sedang sakit?"tanya Mamah.


"Hacih!...Uhuk...Uhuk...Uhuk...!"


Khoya sedang merasa tidak enak badan, karena sudah melakukan perjalanan yang jauh dan semalam tidurnya kurang nyenyak, dia terus memikirkan bagaimana hubungan nya dengan Naima ke depan. Dalam benak nya, dia ingin sekali memutuskan perjodohan yang di rancang oleh Mamahnya. Cinta nya Khoya hanya untuk Naima seorang, dia akan terus memperjuangkan cintanya.


"Cuman sedikit tidak enak badan saja, Mamah dan Papah gak usah khawatir!"sahut Khoya.


"Mau aku buat kan susu jahe tidak?"tanya Novia.


"Tidak usah, aku mau keluar sebentar!"ucap Khoya dengan nada sinis.


"Khoya, kenapa kamu tidak memakan makanannya? makan lah sedikit saja,"ucap Papah Khoya.


"Lagi gak nafsu makan,"sahut Khoya, lalu pergi meninggalkan orang-orang yang sedang berada di meja makan.


"Dia sekarang berubah dari tatapan matanya, dari nada suaranya seakan-akan tidak menyukai kehadiran ku disini, ini semua gara-gara cewek itu. Gumam Novia"


Brem..Brem..Brem!


Suara motor yang sedang di hidupkan. dengan raut wajah yang sangat kusut, penuh rasa kekesalan di campur emosi. Memegang pedal gas motor begitu keras, suaranya begitu berisik sehingga sedikit terdengar kedalam rumah. Sontak saja membuat Mamahnya khawatir dengan keadaannya yang sedang tidak enak badan malah mengendarai motor.

__ADS_1


"Naima sayang! Bagaimana keadaanmu sekarang? kenapa juga tidak mengangkat telepon dari kemarin, "Khoya berbicara ketika sedang menjalankan motornya.


Sesampainya di tempat Naima. Karena Naima sedang berada diluar, Khoya menunggu di kursi depan.


Ketika Naima pulang dari taman, langkah kaki nya berhenti sejenak dia agak sedikit kaget dengan apa yang dia lihat di depan tempat tinggalnya. Dia tak kuasa membendung air matanya.


"Naima...!" Khoya berlari dan langsung memeluk Naima.


"Hiks,hiks,hiks! Mereka berdua menangis dan saling memeluk erat.


"Maaf untuk semuanya, Ini semua di luar kehendak kita. Bukan kemauan ku juga menjadi seperti ini! Maafin aku ya sayang?"Tangis Khoya.


"Terus bagaimana sekarang hubungan kita?"tanya Naima dengan nada suara bergetar.


"Aku akan menolak perjodohan itu, dan akan memperkenalkan kamu sebagai pacarnya aku!"sahut Khoya.


"Apa rencana itu akan berhasil?"Naima melepaskan pelukan nya.


"Apa pun yang terjadi kedepannya kuharap kamu terus berada di sisiku dan memperjuangkan cinta kita,"ungkap Khoya sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Naima.


"Bagaimana kalau orang tua kamu tidak merestui hubungan kita? "Tangis Naima.


"Kita berjuang sama-sama sampai mereka merestui hubungan kita. Aku yakin mereka akan menyukai kamu!"sahut Khoya.


"Sayang kamu sakit, badan kamu panas?"tanya Naima memegang jidat Khoya, yang sedang duduk disebelahnya.


"Iya aku butuh perawatan nih!"sahut Khoya manja.


"Pasti karena kecapean, mata kamu juga sembab!"ucap Naima.


"Aku cuman butuh kamu aja di samping aku. Yakin pasti bakalan sembuh!ucap Khoya sambil mencium tangan Naima.


"Kamu rebahan aja di kasur. Aku beli obat dulu keluar.


Ketika beranjak dari tempat duduk, tangan Naima di tarik sehingga Naima terjatuh di pangkuan Khoya. Mata bertemu mata saling menatap cukup lama. Tatapan penuh cinta dan penuh arti diantara keduanya, rasa ingin saling memiliki juga.


"Sayang!" Khoya berbisik di telinga Naima.


Naima hanya tersenyum. Khoya langsung mengangkat tubuh Naima dan menjatuhkannya di kasur.

__ADS_1


"Glup!" Suara menelan ludah.


Khoya langsung ikut terjatuh ke kasur dan menindih tubuh Naima. Khoya mencium bibir Naima begitu bergairah. Ada sesuatu yang tegang di bawah sana dan sedikit bergerak.


Khoya langsung membuka baju nya.


"Sayang, kenapa buka baju?"tanya Naima.


"Gerah! jadi buka baju,"Khoya tersenyum.


Khoya mulai berbuat nekad, meraba seperti dua buah gunung, ketika di pegang bertekstur kenyal.


"Sayang, di batas wajar aja ya kita melakukan nya, hanya sekedar cup! cup! cup! Saja,"Naima berkata sambil memonyongkan bibirnya.


"Astaga! Iya maaf, "jawab Khoya dan mencium bibir Naima kembali.


Tubuh Naima masih ditindih oleh tubuh Khoya. Tangan Naima bergerak, ciuman sambil mengelus rambut Khoya. Sesekali memegang punggung Khoya yang tidak memakai baju. Aroma tubuh Naima begitu wangi sehingga Khoya mulai mencium leher Naima dan kadang menjilat nya.


"Ah...Sayang...Ah!" Suara ******* tapi sangat pelan.


"Sayang kamu sangat menikmatinya?"tanya Khoya.


Khoya mulai jahil membuka sedikit sebuah kain yang mengikat dua buah gunung. Di raba-raba dan di hisap nya.


"Ah...Ah...Ah!" Naima mendesah pelan.


Sambil menghisap dua buah gunung, Khoya memasukan jari telunjuk kedalam mulut Naima. Naima mendesah sambil menghisap jari. Tangan Naima ditarik dan dan biarkan memegang sebuah benda di bawah yang sedang tegang dan hidup sesekali.


"Bukain dong!" ucap Khoya.


Naima langsung kaget dan mendorong Khoya untuk tidak menindih tubuhnya.


"Sayang, kita jangan melakukan sesuatu terlampau jauh! "ucap Naima.


Khoya langsung berhenti. Dia langsung memakai bajunya kembali.


"Sayang, maaf ya? karena aku mulai keterlaluan,"ucap Khoya minta maaf.


"Gak apa-apa sayang! Asal jangan sampai melakukan hubungan suami dan istri. Aku mau kita melakukannya disaat kita sudah menikah,"sahut Naima.

__ADS_1


"Apa kamu begitu menikmatinya? desahannya itu loh!"Khoya tertawa begitu kencang.


Pipi Naima memerah karena merasa malu.


__ADS_2