Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter IX (Jihan Orianthie)


__ADS_3

Jadi, ceritanya tadi pagi gue ngomelin Sahrial perihal perbuatanya yang mabok dan berantem di club. Gue ngasih tau perbuatannya itu bisa merusak nama baik kita berdua. Eh, dia malah balik ngegas. Katanya gue terlalu mengekang dia. Dia juga jatuhin talak ke gue." Mbak Gisel nangis lagi seraya menelungkupkan tangan ke wajahnya.


Duh, aku jadi ikutan sedih. Satu sisi nambah lagi rasa syukurku. Ternyata ada yang lebih berat masalah rumah tangganya. Senyebelin Ammar, dia sampai sekarang belum ada niat jatuhin talak ke aku. Amit-amit jabang bayi kalau dia melakukan itu.


Aku mengelus pundaknya. "Yang sabar ya, Mbak." Hanya kata itu yang bisa kuutarakan padanya.


"Nanti aku bantu ngomong sama Sahrial deh siapa tau dia berubah pikiran dan ngucap ijab qobul lagi." Ammar ikut menenangkan Mbak Gisel.


Bertepatan dengan datangnya pelayan membawakan pesanan kami. Ketika pelayan memberikan kopi, Mbak Gisel langsung meminumnya.


Aku juga mencicipin bubur ayamnya. Hmmm … ternyata lebih enak dari Bubur Ayam di Yogya. Soalnya memakai kuah Ayam Betutu. Terasa ada pedas-pedasnya gitu.


"Mbak, abis dari sini kita mau ke Pantai Sanur. Mau ikut nggak?"


"Nggak ah. Entar ganggu honeymoon kalian. Lagi nggak mood juga."


Aku nggak enak meninggalkan Mbak Gisel di hotel dalam kondisi dia lagi kacau. Kata orang, kalau teman yang lagi kacau jangan ditinggalkan. Takut bunuh diri.


 


"Ayolah, Mbak. Bentar aja. Nggak bakal ganggu kok. Aku malah suka tambah seru. Siapa tau di sana ketemu Sahrial kan? Atau ketemu bule cakep?" Aku masih usaha membujuknya agar mau ikut.


"Oke deh. Aku ikut. Daripada di hotel sendirian. Yang ada tambah bete."


"Nah, gitu dong."


Kami pun melanjutkan sarapan. Kecuali Mbak Gisel. Dia hanya pesan kopi hitam. Katanya nggak nafsu makan.


...***...


Pantai Sanur juga dikenal sebagai Sunrise beach (pantai Matahari terbit). Selain itu, terdapat juga lokasi wisata Selam dan Snorkeling.


Pemandangannya bikin segar mata. Banyak wisatawan olah raga. Ada yang main voli pantai, joging, senam. Aku, Mbak Gisel dan Ammar hanya berjemur.


Aku merentangkan tangan. "Huwaaaa … sumpah indah banget pemandangannya. Namun, sayang …" Ucapanku menggantung seraya melirik dua makhluk di sebelahku. Mereka sibuk main HP.


"Sayang kenapa?" sahut Mbak Gisel.


 "Sayang, dua makhluk di sebelahku pada sibuk main HP. Kalian ngapain sih?"


"Bales chat di Tinder. Teman chat gue dah sekitar setahunan. Katanya lagi di Bali. Nih, gue usaha ngajak dia ketemuan. Siapa tahu dia lebih ganteng, jadi gue cepet move on dari Sahrial."


"Siapa sih? Cowoknya? Aku liat dong foto profilnya," ujarku kepo. Aku berusaha mengintip tabletnya Mbak Gisel. Namun, Mbak Gisel menjauhkan tabletnya dariku.


"Apaan sih kepo banget. Nanti aja gue kenalin langsung klo dia ke sini."


 


"Eh, kita main ke tengah pantai yuk!" ajak Ammar tiba-tiba.


"Yuk," jawabku semangat.


"Kalian aja deh. Gue lagi nggak mood ngapa-ngapain. Lagian nggak mau ganggu keromantisan kalian."


Hmmm … ada dua sisi. Satu sisi aku nggak enak meninggalkan Mbak Gisel. Sisi lainnya, aku juga pengen main sama suami di tengah pantai. Sepertinya hatiku lebih memilih opsi dua. Aman kali ya meninggalkan Mbak Gisel di sini? Dia nggak mungkin bunuh diri di tempat ramai kayak gini kan?

__ADS_1


...***...


Puas jalan-jalan seharian, akhirnya pulang ke hotel. Usai bersih-bersih, aku sama Ammar pillow talk dulu. Seperti biasa dia main HP.


"Aku nggak nyangka deh rumah tangga Mbak Gisel jadi kayak gitu. Nambah syukur lagi, Mama jodohin aku sama kamu. Walau kamu rese, main HP mulu setidaknya kamu masih lembut dan nggak jatuhin talak ke aku. Apalagi akhir-akhir ini kamu mulai perhatian sama aku. Seneng bangetttt." Aku membuka obrolan. Ups. Malah gibahin Mbak Gisel.


"Jangan senang dulu. Aku perhatian karena diancam Bapak. Kalau aku nggak bahagiain kamu, ntar semua harta Bapak dihibahin ke pesanteren dan yayasan sosial."


Jleb. Perih hati ini mendengar ucapannya. Namun, lubuk hatiku terdalam berusaha tegar. "Nggak apa. Aku yakin kok suatu hari nanti kamu akan jatuh cinta sama aku."


"Bentar, aku mau pipis dulu." Ammar bangkit dan kemudian lari ke kamar mandi. HPnya diletakkan gitu saja di kasur.


Ting!


Terdengar bunyi dari HP Ammar. Aku penasaran. Aku intip. Ternyata notifikasi dari Tinder. Ngapain dia masih memakai Tinder? Kan, sudah nikah.Eh, tunggu? Aku ingat sesuatu. Tadi pagi Mbak Gisel bilang dia chat sama cowok setahunan di Tinder. Apa teman cowok Mbak Gisel itu Ammar?


 


Aku makin kepo. Ingin baca chat di HP-nya Ammar, tapi takut. Itu privasi dia. Takut Ammar mengamuk lagi kalau HP-nya aku sentuh.


"Nggak mungkin. Cowok di dunia ini banyak. Nggak mungkin banget Ammar teman chat Mbak Gisel. Aku harus percaya suamiku," gumamku.


Ammar keluar dari kamar mandi. Dengan rasa nggak bersalah dia bertanya, "Tadi HP-ku ada bunyi nggak?"


"Ada. Notif dari Tinder. Ngapain sih masih make aplikasi gituan? Kan, udah nikah."


"Ini satu-satunya aplikasi buat aku berhubungan sama adek sepupuku yang di Kairo. Dia nggak punya aplikasi lain soalnya," jawabnya enteng. Namun, pandangannya menunduk. Seperti takut menatap mataku. Apa dia lagi bohong?


Lagian masa hari gini komunikasi hanya lewat Tinder? Agak aneh dan susah dicerna sama akal sehatku. Aku harus cari tahu kebenarannya.


Aku kaget. Baru lima menit Ammar pergi, katanya mau beli jajaan di sekitaran hotel. Kok sudah pulang? Apa dia ketinggalan dompet?


"Iya, bentar."


Begitu buka pintu. Lebih mengagetkan lagi. Ternyata Mbak Gisel.


"Ammar mana?"


"Lagi turun ke bawah nyari jajanan. Kenapa?"


"Bagus. Ada yang mau gue tunjukkin ke lu."


"Ya udah masuk dulu yuk."


Aku mempersilakan Mbak Gisel masuk ke kamar dan duduk di tempat tidur.


 


"Coba liat ini. Ternyata temen chat gue di Tinder itu laki lu."


"Hah? Masa sih?"


Dia menujukkan chatnya.


 

__ADS_1


Gustamvan : Hay, apa kabar?


Grizelle : Alhamdulillah, baik. Aku lagi di Bali nih.


Gustamvan : Wah, sama dong.


Grizelle : Oh ya, ketemuan yuk. Masa setahun chat nggak pernah ketemu?


Gustamvan : Boleh. Kapan?


Grizelle : Besok sore gimana? Etapi, aku minta akun IG-mu dulu dong. Mau liat foto-foto kamu biar nggak kaget pas ketemu kamu.


Gustamvan : @gustamvan


 


"Tau nggak? Pas gue kepoin, ternyata itu akun laki lu yang ganti nama doang. Dia hobi gonta ganti nama akun IG."


Deg!


Jantungku seraya dihujam oleh ribuan tongkat besi yang tajam. Perih. Aku bisa terima jika dia memperlakukanku cuek demi harta. Namun, kalau main sama cewek?


"Cowok mah sama aja nggak cukup satu. Pokoknya kita mesti atur siasat buat balas dendam ke laki-laki kita." Mbak Gisel masih cerocos. Aku hanya mendengarkan.


Aku sudah pusing. Nggak tahu harus melakukan apalagi. Detik ini juga aku mengakui bahwa duniaku nggak baik-baik saja.Dengan bibir bergetar, aku meminta satu hal ke Mbak Gisel. “Boleh minta tolong semua chat itu di-capture lalu kirim ke aku. Aku mau nanyain ke Mas Ammar dulu.”


“Dengan senang hati. Gue juga penasaran reaksi dia.”


Selang beberapa detik, ponselku terus dibanjiri notifikasi WA. Ya, semua capture dari Mbak Gisel sudah masuk. Tanganku bergetar hebat mendownload.


...***...


Kreeet …


Pintu terbuka. Aku yang sudah dua jam di ruang tamu menunggu Mas Ammar. Akhirnya dia pulang juga.


“Dari mana, Mas?”


“Udah deh, kamu nggak usah bawel. Tugasmu sebagai istri diem di rumah, nggak usah kepo apalagi ikut campur urusan suami.”


“Kalau urusan suami ternyata sibuk chat sama sahabatku, aku harus diem aja gitu?”


Dia yang tadi berjalan ke kamar, seketika menghentikan langkah dan berbalik badan. “Maksudmu?”


Aku berdiri serta menghampirinya. Lalu kutunjukkan layar ponsel yang berisi capture chat Tinder yang dikirim Mbak Gisel. “Harusnya aku yang nanya, ini maksudnya apa?”


Terdengar ******* napas berat Mas Ammar. “Huft. Akhirnya kamu tau dengan sendiri, jadi aku nggak perlu repot menyimpan rahasia ini lebih lama,” jawabnya santai.


Waw, responsnya di luar ekspetasiku. “Gila. Jawabanmu santai banget.”


“Terus aku harus gimana? Nangis-nangis mohon maaf ke kamu gitu? Dih, drama sinetron banget. Asal kamu tau ya, aku cinta sama Grizelle sejak dari dulu. Cuma Abi nggak merestui, Abi telanjur jodohin aku sama kamu dari kecil. Abi juga ngancem kalau nggak nikah sama kamu, maka selurus warisanku disumbangkan ke pesantren. Mau nggak mau aku harus nikahin kamu. Apalagi tau kamu dekat sama Grizelle. Begitu Sahrial mencampakkan pujaan hatiku ya aku nggak terima. Aku akan rebut Grizelle apa pun terjadi. Siap-siap aja abis bayimu lahir, kita pengadilan agaman.”


Deg!


Jantung dan hatiku serasa ditusuk tombak ribuan kali. Tanpa kusadari air mata ini mengalir dengan sendirinya. Sedangkan Mas Ammar nggak peduli. Dia lanjut melangkah ke kamarnya.

__ADS_1


 


__ADS_2