Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XV (Sahrial Pratama)


__ADS_3

"Aaaarrrrggghh!" teriakku sekencang-kencangnya di Pantai Kuta. Aku menjambak rambut sendiri. Kenapa bisa sekacau ini? 


Akibat kebodohanku tadi malam, aku bingung sekarang harus gimana? Maunya tinggal di Bali. Sudah malas bertemu Grizelle. Mereka pasti julid ke aku. Namun, biaya hidup di Bali serba mahal.


Aku duduk di pasir seraya mengambil laptop di ransel. Hal pertama aku lakukan adalah mengirimkan SURAT PENGUNDURAN DIRI ke AT Press. Setelah itu aku memesan tiket pesawat. Ya, sepertinya memang aku harus kembali ke Yogyakarta. Cuma di Yogya aja semua serba murah. Makan nasi kucing aja bisa 5000.


***


Pasca dari Bali, aku balik ke kos lama. Lah, dari pada ke Medan, yang ada diledekin tetangga. 'Jauh-jauh merantau, tapi masih kere juga.' Orang Medan pantang pulang sebelum sukses.


Kedatanganku balik ke kos disambut tatapan sinis Bu Kos. "Lah, napa pula kau balik ke sini lagi? Kan sudah jadi suaminya bos."


"Udah cerai saya, Bu. Ada kamar kosong nggak?"


"Hahaha … si bos kau akhirnya terbuka mata hatinya terus nyesel nikah sama kau yang kere."


Sial. Malah dibuli ibu kos. "Udah deh Bu, nggak usah ngeledek. Ada kamar kos kosong nggak nih? Kalau nggak ada, saya cari kos lain."


"Kebetulan sekali, kamar kau belum diisi orang. Tapi kau ada duitnya kan? Saya nggak mau loh, drama nunggak-nunggak lagi."


"Tenang. Ada dong." Aku mengambil tumpukan uang ratusan ribu dari saku celana.


Grizelle itu punya banyak atm dari berbagai bank. Nah, saat tanda tangan nikah kontrak, aku dikasih atmnya yang Bank BCA. Lumayan isinya Rp. 1.500.000,- tadi aku tarik satu juta rupiah.


"Masih banyak duit kau."


Aku menghitung uangnya. Lima lembar ratusan ribu, kuserahkan ke ibu kos. "Pas kan?"


"Ya udah, nih kuncinya. Awas drama nunggak kos again."


"Santai."


Kos beres. Sisa memikirkan cara bayar denda lima ratus juta ke Grizelle dan cari kerja baru.


***


Aku kembali datang ke AT Press ingin pamitan serta mengambil barang yang ada di sini. Kebetulan ada Bu Nazneen.


"Sahrial, saya sudah menerima surel kamu. Kamu yakin mau mengundurkan diri? Why? Gajimu kurang?"


Aku menggeleng. "Nggak, Bu. Mau nyoba suasana baru aja. Toh, saya sudah talak Gisel."


Kata 'talak' memicu kehebohan. Semua AT Family pada mendekat. "Hah? Talak? Kok bisa? Kan baru nikah?"


"Hmmm … panjang ceritanya. Kalian tanya langsung ke Gisel aja. Oh iya, saya ke sini ingin pamitan ke kalian semua. Maaf selama saya kerja di sini banyak salah, sering marahin kalian dan lain-lain serta sekalian ambil barang."


"Jika itu sudah keputusan kamu, saya nggak berhak menahan kamu." Bu Nazneen terlihat main ponselnya. "Gaji kamu bulan ini serta pengason sudah saya transfer ya. Moga kamu dapat kerja lebih baik."


Berat emang meninggalkan kantor ini. CEOnya terlalu baik. Super royal. Selalu tepat waktu gajian, suka kasih surprise bonusan kalai buku banyak laku dan suka belanjain karyawan tiba-tiba saat hari belanja online nasional. Baru kali ini aku menemukan bos seperti Bu Nazneen. Ke depannya entah bosku bisa sebaik dia atau nggak.


Aku membungkukkan badan. "Makasih banyak Bu atas segalanya. Kalau gitu saya undur pamit. Assalamualaikum."


***

__ADS_1


Aku mencoba memberanikan diri menelepon Ayak dan Mamak di Medan minta bantuan untuk bayar pinalti ke Grizelle. Dari awal mereka nggak setuju aku merantau ke Yogyakarta. Mereka inginnya aku meruskan mengurus sawah warisan kakek.


Aku ingin hidup berubah. Aku nggak mau terus-terusan dipandang remeh tetangga. Mereka selalu menyindirku dengan ucapan, "capek-capek jadi sarjana ujung nyawah juga sama kayak bapaknya." Makanya aku nekat merantau. Walau sudah diwanti-wanti apa pun terjadi nggak boleh minta duit ke orang tua.


"Apa? Cari kamu hanya nikah kontrak sama Grizelle? Sekarang kau harus bayar pinalti lima ratus juta ke mantan istri kau itu?"


Sudah aku duga. Orang tuaku pasti kaget begitu aku ceritakan tentang pernikahan kontrakku dengan Grizelle.


"Iya, Yak, Mak. Ayolah bantu Rial bayar pinalti. Kan sawah Ayak masih banyak. Kalau dijual bisa lebih satu miliar."


"Nggak. Kau yang melakukan itu, napa pula kami yang mesti bayar pinalti itu."


"Ayolah, tolong Rial sekali ini aja. Kalau nggak bantu, Rial akan masuk penjara."


"Sayangnya, kami lebih memilih kau masuk penjara. Agar kau belajar tanggung jawab atas perbuatan sendiri."


"Ayak sama Mamak kok tega sih biarin anak sulungnya dipenjara? Ntar apa kata tetangga? Kalian mau dibuli, punya anak narapidana?" Aku masih usaha merayu mereka.


"Nggak apa punya anak narapidana dan dibuli tetangga, tinggal pindah rumah aja. Namun, dosa seumur hidup jika membiarkan anak lari dari tanggung jawab."


Sial. Aku lupa Ayak itu kepala adat yang teguh pegang prinsip. Sekali nggak ya tetap nggak. Gagal dapat uang dari orang tua. Terus harus cari uang ke mana lagi?


"Ya udah deh, kalau kalian nggak mau bantu. Rial mau bunuh diri aja." Aku mencoba usaha lain.


"Silakan. Dosanya double. Arwahmu bakal luntang-lantung karena belum menyelesaikan tanggung jawabmu di dunia. Terus nanti belum lagi disiksa kubur yang pedih. Ih, ngeriiii."


Double sial. Malah ditakut-takutin Ayak. Jadi merinding mendengar ucapan beliau. Mamak daritadi diam saja. Pasti beliau nggak berani menentang Ayak.


 Karena kesal, aku matikan telepon.


***


Pukul 13.00.


Aku istirahat di warung kecil. Aku beli air mineral dingin. Kuteguk airnya setengah. Adem banget. Kuseka keringan di dahi. Terik matahari makin panas. 


Sudah setengah hari muter-muter Yogyakarta mencari kerja. Berbagai percetakan dan penerbitan sudah dihampiri, sayang mereka lagi nggak buka lowongan. Duh, mesti cari kerja ke mana lagi?


"Loh, lo Sahrial pemred AT Press kan? Ngapain di sini?" sapa seorang cowok. 


Cowok itu adalah Alfian. Mantan editor AT Press. Kenapa mesti ketemu Alfian? 


Seketika gue ingat, Alfian lumayan punya banyak jaringan pertemanan dan hidupnya berada. Muncul keinginan minta tolong Alfian carikan kerja.


"Yan, aku minta tolong nggak?"


"Apa?"


"Carikan aku kerjaan dong."


"Hah? Kan lo dah jadi pemred AT Press. Gaji di sana kurang jadi nyari kerja lagi?"


"Udah resign. Gara-gara abis cere sama Grizelle."

__ADS_1


"Hah? Kok bisa?"


Gue pun mulai cerita seputar pernikahan kontrak sama Grizelle.


"Jadi gitu ceritanya? Lo bego sih. Harusnya disabarin aja dulu sampai berhasil ngerampok harta Grizelle sebanyak-banyaknya. Kan tujuan nikah kontrak duit."


Aku kesal sama ucapan Alfian yang bego-begoin aku. Namun, sisi lainnya mengakui ucapan itu ada benarnya juga. Tujuan nikah kontrak adalah duit. Kenapa aku buru-buru meninggal Grizelle hanya masalah sepele?


Aku memandang sinis Alfian. "Ucapan kau kayak udah pengalaman ngerampok harta cewek."


"Duh, sori ya. Gue dah kaya. Nggak perlu ngerampok harta cewek. Yang ada cewek ngantri mau melorotin harta gue."


"Kok Bu Nazneen malah milih nikah sama Pak Nalesha?" cibirku.


Raut wajah Alfian berubah jadi masam. Aku terkikik geli dalam hati karena berhasil skakmat dia.


"Kok lo masih ledekin gue sih."


"Gimana mau bantuin cari kerja buat gue nggak?"


"Ntar gue hubungi temen-temen gue dulu. Mereka ada buka lowongan nggak. Menurut gue sih mending lo rujuk sama Grizelle aja. Aman sentosa keuangan lo."


Rujuk sama Grizelle? Masih mungkinkah?


***


Dari kejauhan aku melihat kantor AT Press. Mau masuk, gengsi. Takut dibuli. Grizelle pasti sudah mendramatisir cerita ke AT Family.


Tiba-tiba aku melihat Grizelle keluar kantor. Lalu dia terlihat akrab mengobrol dengan seorang pria. Siapa itu? Aku coba memicingkan mata mengenali pria itu.


Astaga, itu kan Budiman. Tukang loper koran yang biasa antar koran ke AT Press. Mungkinkah Budiman yang akan jadi penggantiku? Harga diriku serasa diinjak-injak.


Aku nggak bisa biarkan tambang emasku direbut oleh pria seperti Budiman. Aku harus bertindak sekarang juga.


Kuhampiri mereka.


"Grizelle, ngapain kamu sama dia? Kamu masih istriku tau."


Mata Grizelle melotot ketika melihat kedatanganku. 


"Mbak Gisel, maaf saya harus balik jualan koran lagi," ujar Budiman gugup.


Bagus dia pergi. Jangan kembali lagi merebut tambang emasku.


Beberapa saat kemudian beberapa AT Family pada keluar kantor. Mereka memandangiku dengan tatapan bak melihat maling.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Bu Nazneen. "Loh, Sahrial ngapain ke sini? Kan sudah resign, apa ada barangmu ketinggalan?"


"Hati saya yang ketinggalan di sini, Bu."


"Nggak ada apa-apa, Bu," sela Grizelle. Pandangannya beralih menatapku tajam. "Sahrial, ngapain lo ke sini? Ikut gue sekarang juga!"


Inilah waktu yang tepat mengutarakan keinginan rujuk dengannya.

__ADS_1


__ADS_2