Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter IV (Jihan Orianthie)


__ADS_3

Aku terpaku di depan meja rias memandangi kepalaku yang kini dibalut hijab. Baru belajar. Masih memakai kerudung segitiga, tetapi mencoba dijulurkan agar menutupi dada. Sebelas dua belas meniru gaya hijabnya Shireen Sungkar. 


"Duh, aku pantas berhijab nggak ya? Gimana kalau nggak istiqomah?" Muncul rasa insecure dan was-was dalam diri.


Ammar keluar dari kamar mandi. Dia terbengong-bengong.


"Terpesona ya? Aku cantik nggak berhijab?" tanyaku dengan nada manja sambil mengedipkan mata.


"Nggak biasa aja. Udah sering lihat cewek berhijab."


Aku memanyunkan bibir. Ternyata aku dinikahi kulkas dua pintu. Puji dikit kek istrinya! Aku beranjak menuju tempat tidur Kuambil pakaian kerja Ammar.


"Ini udah aku siapin pakaian kerjamu."


Ammar itu kerjanya sebagai guru agama di MTs. Putera Al-Amin Yogyakarta.


"Mau sarapan apa? Belum aku siapin. Takut nggak suka apa yang aku bikin."


"Nggak usah. Aku buru-buru. Hari ini jatahku ngajar di jam pelajaran pertama soalnya. Aku makan di kantin aja."


Usai dia mengenakan pakaiannya, merapikan rambut serta memakai peci, dia melangkah keluar. Aku mengekor di belakangnya. 


Sesampai di luar rumah, aku mencium tangannya dulu. "Mas, hati-hati ya."


Mama muncul pura-pura. Seketika Ammar menarikku. Lalu mencium keningku. Deg. Jantung ini berdegup kencang kedua kalinya. Walau aku tahu itu ciuman terpaksa, tetapi aku bahagia.


"Aku berangkat kerja ya. Assalamualaikum."


Selang beberapa menit Ammar berangkat kerja, kurir berhenti depan rumahku. 


"Pakett. Ini rumahnya Jihan Orianthi?"


"Iya, saya sendiri."


Kurir itu menyerahkan paket. Kubaca nama pengirimnya. Myafa. Ya ampun, kado nikahan aja belum pada dibuka, sampai sekarang masih ada aja yang kirim kado lewat ekspedisi.


"Mbak, tanda tangan di sini ya."


Aku menandatangi di kolom yang diminta kurir. Setelah itu kurir tersebut pergi. Aku masuk ke rumah dan melangkah ke kamar. 


Mulailah aku buka-buka kado. Dimulai dari kado Grizelle dulu. Aku terkejut isinya ternyata lingerie transparan warna pink. Namun, cantik juga. Tebersit ide nakal.


"Kalau nanti malam aku memakai pakaian haram ini pasti Ammar tergoda menyentuhku," gumamku. Aku senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu terjadi.


Aku beralih buka kado dari Myafa. Nggak kalah hot dari kado Grizelle. Myafa mengirimkan Gstring. Aku geleng-geleng kepala. Aku berjalan menuju meja rias. Kuraih iphone - seserahannya Ammar.


Aku WA Myafa dan Grizelle secara bersamaan menggunakan broadcast.


Kalian kok bisa samaan sih ngasih kado ginian? Nakal ya kamu.


Ting!


Muncul balasan dari Myafa.

__ADS_1


Ya dong. Kan aku penulis, aku tahu apa yang dibutuhkan pengantin baru.


Ting!


Muncul lagi WA. Kali ini dari Grizelle. 


Aku kan baik biar suamimu makin cinta. Hahaha.


Aku jadi nggak sabar menanti malam tiba. Benarkah kado-kado ini bisa membuat Ammar makin cinta kepadaku?


***


Aku mondar mandir gelisah sendiri. Aku sudah mengenakan pakaian haram, tetapi Ammar belum pulang juga. Aku khawatir dia kenapa-napa. Kesekiankalinya kucoba telepon.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area." Selalu itu jawaban operator.


Tok … tok


Itu pasti Ammar. Buru-buru aku membukakan pintu. Benar, Ammar. Namun, dia ambruk di bahuku. Seketika bau alkohol menguar. Aku menutup hidung.


"Mas, kamu mabok ya?"


Tadinya aku pikir anak Kiayi serta jadi Ustaz agamanya sudah pasti bagus. Ternyata ada juga yang suka mabok. Benar kata orang, "Jangan liat dari sampul bukunya aja."


Untung Mama lagi nggak ada di rumah. Ada acara di rumah Budhe. Sebelum dilihat tetangga, aku papah Ammar ke kamar. Agak kewalahan. Ammar lumayan berat. Pelan-pelan akhirnya sampai juga.


Kurebahkan Ammar. Lalu, aku melepas sepatu dan kaos kakinya. Di luar dugaan dia bangun. Tatapannya liar. 


"Kamu kok cantik banget sih?"


***


Ketika selesai salat subuh, aku keluar kamar. Mama sudah stand by di dapur. Tercium sambal menyengat hidungku.


“Hoek.”


Mendadak aku mual serta ingin muntah. Namun, nggak jadi.


“Mama masak apa sih. Bau sambelnya bikin mual.”


“Ini Mama mau bikinin pentol balado, makanan favoritmu.” Mama yang tadinya mengulek sambel, membalikkan badan. “Bukannya udah biasa cium bau sambel kayak gini? Jangan-jangan …” Ucapannya menggantung.


Mama melemparkan tatapan aneh kepadaku. Namun, seketika wajahnya cerah. “Kamu telat ya?”


“Telat apaan coba? Kan udah lama lulus sekolahnya.”


 “Bukan telat itu, Oneng. Tapi telat datang bulan. Yang artinya kamu hamil.” Mama bersiap menggetok kepalaku dengan ulekan sambal.


Aku terdiam. Aku mengingat kapan terakhir datang bulan. Kayaknya memang telat. Masa sih hamil? Pasalnya aku memang sudah biasa telat. Kata teman-teman faktor aku stres memikirkan deadline naskah novel.


Untuk memastikan, aku lari ke kamar. Mas Ammar sudah nggak ada di tempat tidur. Itu artinya dia lagi mandi. Terbukti kedengaran suara air di kamar mandi. Aku beberes tempat tidur. Nggak sengaja lihat kalender di meja. Mataku terpaku di lingkaran terakhir haid.


Ini telat karena hamil nggak sih? Aku mengelus perut. “Hey, Dedek Bayi, kamu sudah ada di perut Bunda belum?”

__ADS_1


"Kamu kenapa?"


Barulah aku sadar Mas Ammar sudah keluar dari kamar mandi. Aku jadi senyum-senyum sendiri.


“Wah, makin kesambet nih bini,” ujarnya terheran-heran. Dia kembali mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.


“Mas, kalau kamu jadi Ayah bakal bahagia nggak?”


“Maksudnya?”


"Aku telat datang bulan 2 minggu. Ntar pulang kerja, temenin aku ke dokter kandungan ya buat cek kehamilan."


"Nggak usah lebay. Aku ngelakuinnya atas dasar nggak sadar, jadi nggak bakal jadi."


Aku seketika mengelus dada. Astagfirullah, jawabannya bikin sesak dada. Kalau bukan suamiku, sudah aku tampol dia memakai kaca. Aku tetap cek kehamilan begitu dia pergi kerja. Namun, hanya lewat tespack dulu.


"Kok malah bengong? Aku mau berangkat kerja nih. Mau anterin aku ke depan nggak? Ntar mamamu curiga loh, kalau kita nggak mesra."


Dengan terpaksa aku mengantar dia ke depan. Untung Mama nggak keluar rumah. Jadi nggak perlu ada akting cium tangan dan cium kening. Lagi nggak mood. Gara-gara suami nggak peka sama kebahagiaan istri.


***


Aku, Mama, dan Bapaknya Ammar sedang berkumpul di meja makan. Aku sengaja mengumpulkan mereka karena ingin memberikan mereka kejutan kecil.


Pasti bertanya-tanya papaku ke mana? Mama Papa cerai ketika aku masih di dalam kandungan. Mama dulu terlalu bucin sama Papa. Sudah dilarang nikah sama Kakek Nenek karena asal usul Papa nggak jelas, tapi Mama tetap nekat nikah. Makanya Mama nggak mau hal itu terjadi sama aku. Jadilah aku dijodohkan dengan Ammar. Untungnya Ammar merupakan cowok yang aku taksir sejak lama.


"Kamu mau ngasih kejutan apa ke kami?" Ammar bertanya membuka pembicaraan.


Aku mengeluarkan tespack yang sedari tadi aku sembunyikan. Kuperlihatkan tespack tersebut ke mereka. "Mas Ammar, Ma, Pak, aku hamil."


Mama dan bapaknya Ammar saling menggenggam tangan. "Akhirnya kita punya cucu." 


Terlihat jelas ekspresi bahagia mereka. Namun, ekspresi Ammar masih tetap datar. 


"Oh, baguslah. Alhamdulillah."


Hah? Dia cuma mengucapkan dua kalimat itu? Nggak ada ungkapan kata bahagia atau gimana gitu? Setidaknya pura-pura bahagia kek di depan orang tua. Uh, dasar Ammar menyebalkan.


"Ammar, kok kamu kayak nggak bahagia sih?" 


Bagus. Pertanyaan Mama mewakili isi hatiku.


"Bahagia dong, Ma. Masa nggak? Kan bentar lagi Ammar jadi Ayah. Siapa yang nggak bahagia menyambut buah hati. Cuma kan mengungkap bahagia masing-masing orang beda-beda. Nah, ungkapan rasa bahagiaku cukup dengan mengucap alhamdulillah."


"Bener juga sih."


Ish, bisa ae ngelesnya ini cowok.


"Sebagai rasa syukur kita, gimana kalau kita adain syukuran di panti asuhan?"


"Jangan dulu, Pak. Pamali. Syukurannya kalau udah empat bulan aja. Sekalian empat bulanan."


"Bener tuh, Pak." Mama menimpali.

__ADS_1


"Okelah, kalau gitu abis makan ini kita salat jamaah aja. Sekalian berterima kasih ke Allah karena cepat menitipkan anak ke Ammar dan Jihan."


"Nah, kalau itu saya setuju."


__ADS_2