
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Sahrial Pratama
NIK : 6303155609950006
Tempat dan tanggal lahir : Medan, 14 April 1995.
Maka dengan ini, dirinya dinyatakan sebagai PIHAK PERTAMA.
Bersedia menikah kontrak dengan :
Nama : Grizelle Prameswari
NIK : 6303177809900009
Tempat dan Tanggal Lahir : Jakarta, 30 Agustus 1990.
Maka dengan ini, dirinya dinyatakan sebagai PIHAK KEDUA.
Ada pun isi perjanjian sebagai berikut :
PIHAK PERTAMA selama melakukan perjanjian nikah kontrak ini akan menjaga nama baik PIHAK KEDUA.
Pihak pertama tidak akan melakukan perselingkuhan, KDRT serta perbuatan tercela yang menyebabkan kerugian materi atau batin PIHAK KEDUA.
PIHAK PERTAMA bersedia membantu pekerjaan PIHAK KEDUA. Baik di kantor maupun dalam rumah tangga.
Imbalan PIHAK KEDUA akan memberikan gaji pokok sebesar Rp. 1.500.000,- dan bonus 10% dari penghasilan yang dilakukan bersama.
Masa kontrak pernikahan ini 5 tahun.
Jika PIHAK PERTAMA melanggar atau membatalkan perjanjian nikah kontrak ini, maka PIHAK PERTAMA dikenakan denda senilai Rp. 500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah)
Perjanjian nikah kontrak ini dibuat dalam kondisi sadar dan tanpa paksaan siapa pun.
Gue menyodorkan surat perjanjian nikah kontrak ke Sahrial.
"Hahaha."
Gue heran kenapa Sahrial malah ketawa. "Kok ketawa? Ada yang lucu?"
"Hidup tuh lucu ya. Aku halunya nikah sama artis Korea atau minimal sama orang yang aku cintailah. Ealah, takdir malah membikin gue nikah kontrak dengan atasan sendiri. Ckckck." Dia masih melanjutkan ketawanya. "Bay the way, kau napa jadi ngajuin nikah kontrak denganku? Ngebet nikah ya."
"Justru gue males nikah. Tapi lu taulah cewek umur 30 plus itu butuh status pernikahan. Well, gue juga butuh sosok yang bantu karier gue. Daripada gue ajak cowok lain yang belum jelas, mending sama lu aja yang udah jelas satu perusahan. Gue yakin, kalau kita bersatu rezeki akan makin naik. Udah lu tanda tangan aja napa sih?"
"Eits, slow Sis. Ada yang mau gue tanyain dulu."
"Nanya apa?"
"Sebenarnya hukum nikah kontrak gini haram nggak sih?"
Gue berpikir sejenak. "Hmmm ... kayaknya halal deh. Kan kita nikah sah secara agama dan hukum. Cuma ada perjanjian pra-nikah aja. Kayak film Wedding Agreement lah. Kalau tu film mengandung pesan islami yang sesat atau hukumnya haram, pasti udah didemo FPI lah."
"Bener juga sih. Tapi kok gue ragu ya? Kau nggak mau konsultasi ke ustaz atau siapa gitu, tanyain hukum nikah kontrak ini?”
“Bakal makin banyak yang tahu kalau kita nikah kontrak doang. Kita awali bismillah aja. Gue yakin halal kok. Kalau lu ragu dengan pernikahan kontrak ini, nggak apa. Gue bisa cari cowok lain kok. Itu artinya …”
__ADS_1
Sahrial menarik kembali kertas perjanjian pranikahnya. Alis tebal sebelah kiri terangkat. “Masa gaji gue cuma segini aja sih? Ini mah setara gaji UMR kota Jakarta doang." Nada bicara Sahrial terdengar meremehkan.
Gue melotot tajam. "Terus lu maunya berapa?"
"Nggak banyak sih, sepuluh juta per bulan cukup lah. Biar gue bisa resign dari AT Press dan ongkang-ongkang kaki aja di rumah."
Sial. Sudah tercium Sahrial tipe suami nggak guna. Maunya si istri yang kerja. Dia ingin ongkang-ongkang kaki di rumah. Satu sisi males melanjutkan pernikahan ini. Sisi lainnya gue butuh Sahrial.
"Oh jadi lu nggak mau nih? Ya udah gue cari cowok lain aja."
"Dih, gitu aja ngambek. Oke gue mau. Gue tanya satu pertanyaan lagi. Andai gue khilaf sama lu, gue bakal kena denda nggak? Soalnya nggak ada di pasal."
"Ya gimana namanya juga khilaf. Anggap aja bonus. Toh, itung-itung bahagiaan ortu ngasih cucu lucu ke mereka. Paling klo bener khilaf, perjanjian diperpanjang aja."
"Hmmm … menarik. Aku khilaf tiap hari aja deh."
Gue melotot. Geli membayangkan hal itu terjadi. "Enak aja. Udah lu tanda tangan aja napa sih biar cepet beres."
Sahrial pun menanda tangani surat perjanjian nikah kontraknya. Gue bernapas lega. Satu masalah di hidup gue berkurang. Masalah ditanyain 'kapan nikah?' dan dibully perawan tua.
"Abis ini aku mesti ngapain lagi?"
"Besok lu gue bawa ke rumah orang tua gue. Terus lu juga mesti bilang ke orang tua lu kalau lu mau nikah sama gue, tapi jangan bilang kita nikah kontrak."
"Oke deh aku nurut aja. Asal transferan lancar aja sih. Hahaha."
***
"Apa? Kalian akan segera menikah?"
Mama memasang tampang curiga ke kami. "Kamu nggak ngehamilin anak saya kan?"
"Ih, Mama apa-apaan sih. Kami menikah karena saling cinta dan tulus."
"Grizelle, kita bicara 4 mata," ucap Papa tegas.
"Nak, Sahrial tunggu sebentar ya."
Gue berdiri dan orang tua membawa gue ke kamar.
"Kamu apa-apaan sih, nggak ada angin nggak ada badai tau-tau bilang mau nikah sama Sahrial."
"Kan Mama udah ngebet pengen aku nikah sejak tujuh tahun lalu."
"Ya tapi nggak dadakan gini juga bilangnya."
"Terus kapan bilangnya?"
"Minimal kamu kasih tau tentang Sahrial dulu kek."
"Mama tenang aja, sebelum aku bawa ke sini aku udah kroscek asal usul Sahrial. Dia anak baik-baik. Atasanku. Mapan. Udah DP rumah, gaji tetap, sopan, dan rajin ibadah."
"Bener?"
"Iyalah. Mana berani aku boong. Gimana Ma, Pa, direstui nggak aku nikah sama Sahrial?"
"Gimana dong, Pa?" Mama melirik ke Papa untuk meminta pendapat.
__ADS_1
"Ya Papa sih, selama untuk kebahagiaan Grizelle Papa akan restui. Daripada mereka melakukan hal tidak diinginkan di belakang. Iya kan?"
"Bener juga sih. Ya udah deh, Mama juga restui."
"Makasih Ma, Pa."
Gue mencium tangan orang tua gue. Kami pun akhirnya berpelukan.
***
Gue mulai sebar undangan digital di grup Whatsapp, status FB Whatsapp dan Instagram. Semua captionnya sama, "Gaess, alhamdulillah jodoh gue udah nggak ngumpet lagi. Mohon doa restu ya. Yang domisili Yogyakarta, datang ya ke nikahan gue."
Dalam sekejap smartphone banjir chat. Rata-rata mengucapkan selamat. Muncul pesan Whatsapp.
"Wah, nggak nyangka Mbak Gisel beneran jodoh sama Pak Sahrial."
Dari dulu orang-orang pada keseleo nyebut nama gue jadi 'Gisel' entah karena aksen sudah disebut atau memang malas mengucapkan kata yang benar. Untungnya gue nggak terlalu peduli. Panggilan Gisel juga nggak masalah. Baguslah, biar sebelas dua belas kayak nama mantan istri Gading Marten.
"Doa lu manjur dan langsung dijabah Gusti Allah."
"Selamat deh. Moga samawa ya.
***
Pernikahan gue hampir sama kayak pernikahan Jihan. Dilangsungkan secara sederhana. Efek Corona laknat. Namun, bedanya akad nikah gue mengenakan adat Sunda. Mama masih berdarah Sunda. Bandung.
Oh iya, keluarga Sahrial nggak bisa hadir. Mereka sudah tua, rentan Corona dan belum vaksin. Nanti aja adain ngunduh mantu di Medan. Untungnya tadi malam sudah video call, mereka merestui gue jadi menantunya. Justru mamak Sahrial terlihat bahagia. Jujur sedikit membuat gue merasa bersalah ke masing-masing orang tua karena ini hanya nikah kontrak.
Gue melirik Sahrial yang kini sudah sah jadi suamiku. Mukanya terlihat masam. Gue senggol tanggannya. "Gue tau ini cuma nikah kontrak, tapi mbok ya senyum dikit kek. Ntar Mama Papa dan para tamu curiga."
"Lah, emang wajahku kayak gini. Dari dulu emang susah senyum."
Gue mencelos kesal. Ya udah lah. Mau diapain lagi?
Satu per satu tamu yang hadir salaman dengan gue. Jadi gini rasanya jadi pengantin. Capek juga berdiri lama. Apalagi harus senyum terpaksa dan pura-pura bahagia. Tibalah giliran Jihan dan suaminya yang salaman dengan kami.
"Hay, Bro. Apa kabar? Lama nggak ketemu, tau-tau nikah," ucap suaminya Jihan.
"Baik dong. Ah, kau juga kayak gitu. Tau-tau nikah."
Gue sama Jihan saling pandang. Lalu kami melirik suami-suami. "Kalian saling kenal?"
"Dia teman main futsal."
"Oalah. Biasalah cowok. Pas dong kalau ntar dinner date bareng. Nyambung obrolannya."
"Bolehlah ntar diatur waktunya."
"Eh, kita foto dulu yuk," ajak Jihan.
Jihan mengacungkan iphonenya. Lalu mengatur self timer. Kami oun bergaya segokil mungkin.
"Ya sip cakep. Kami ke sana dulu ya. Mau ambil makanan. Laper. Hehehe. Lagian nggak enak lama-lama. Masih banyak tamu lain yang antri salaman."
"Kirim foto itu ke WA gue ya."
"Oke, beres."
__ADS_1