Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XXII (Sahrial Pratama)


__ADS_3

Hari ini hari Sabtu. Gisel libur lagi. Aku sengaja di sebelah tempat tidurnya agar ketika dia buka mata, orang yang pertama dilihatnya adalah diriku. Benar saja, lima menit kemudian dia bangun. Langsung mengomel.


"Gue di mana?"


"Di kamar kau sendiri lah."


"Lu yang gendong gue ke kamar? Kenapa nggak bangunin gue aja sih!"


Aku mengelus dada. Sabar. "Aku nggak tega bangunin istriku tercinta. Soalnya pules banget."


Dia menoyor jidatku. "Istri pala lu peyang. Kita aja nggaj jelas bakal rujuk atau nggak."


"Makanya ayo dong rujuk aja."


"Mikir seribu kali dulu kalau rujuk sama lu. Gue mesti liat usaha serta perjuangan lu dalam meluluhkan hati gue. Gue juga pengen buktiin sendiri lu bisa jadi suami siaga atau pajangan doang."


"Ya udah gini, kamu hari ini mau apa? Aku ingin jadi suami baik yang memajakan istri tercinta."


Mata Gisel bergerilya seluruh ruangan kamar ini. "Gue bosen sama cat. Gue mau lu cat semua yang ada di rumah ini. Cat makai pink dan ungu. Kamar ini harus pink!"


Seketika aku menyesal mengeluarkan tawaran tadi.


***


Benar-benar menyebalkan. Apakah ini, sikap orang mencintai? Aku sangat tidak paham dengan akal sehat Grizelle saat ini. 


Jika memang dia mencintaiku, mengapa teganya, dia menyuruhku yang masih sakit ini mewarnai tembok aka me-cat seluruh rumah!


 


Ck! Apakah tambang emasku mulai surut? 


"Cepet dong, woy. Lo nggak akan mati juga," cerocos Grizelle sambil mendorong-dorong tubuhku yang 5L. Lunglai, lemas, letih, lesu dan letoy.


"Kau tak kehabisan uang kan, Sel? Mati lah aku, di tengah cuaca terik matahari begini, harus cat genteng," alibiku. 


"Manja amat. Di sini, gue bukan sugar mommy yang bakal menuruti semua omongan baby kayak lo. Sebutan baby bahkan lebih berharga buat lo." Dia memutar kedua bola matanya yang julid itu. "Udah ah, buruan!" 


Dengan malas, aku mengambil tangga di samping rumah menuju depan. Sesuai permintaan, Grizelle Prameswari, bagian pertama yang harus diwarnai yaitu atap rumah. 


Kurang kerjaan apa coba?


Memang, sudah baru pulang dari rumah sakit, eh malah harus ngebabu. Namun, sepertinya tuhan masih sayang padaku, Jihan datang dengan membawa sekeranjang buah. Katanya pemberian warga. 


Alhasil, kegiatan yang paling dihindari itu tertunda sampai batas waktu tak ditentukan.


 


"Eh, Jihann. Kok makan nanas? Kan enggak boleh bagi ibu hamil," kata Grizelle bingung.


 


"Iya, Mbak. Enggak makan kok, hehe. Untung diingatkan." 


Aku menerima suapan mangga yang super duper kecut dari Grizelle. 


Sial, sepertinya dia sudah merasakan jadi membalasku dengan cara seperti ini. Dari mana aku tahu? Lihat, bekas gigitannya secara licik dibuang di bawah meja. 


Kau pikir aku tak melihat? Tidak sia-sia wortel yang kumakan saat kecil, hehe.


Grizelle tersenyum sinis. "Oy, Ial. Buatin minum kek buat tamu kita ini," usirnya. 


Aku mendelik ke arahnya, tapi tak urung, mengikuti perintah Grizelle. Membuatkan teh untuk Jihan dengan perut yang sudah membesar. 


"Dia, apa benar-benar suka sama aku sih?" tanyaku sambil merebus air. 


Aku bersandar di kitten set, berpikir lebih jauh mengenai sikap Grizelle. 


"Katanya, kalau suka, setiap orang akan memperlakukan orang yang disayanginya secara berbeda. Tapi kenapa wanitaku tidak seperti itu?" Aku mendesah kasar. 


Lalu, mengambil ponsel. Mencari tanda-tanda rasa suka. Siapa tahu, google adalah solusi? 


'Ciri-ciri Cewek Kalau Suka Denganmu?' 


Judul yang menjadi artikel pertama di internet menarik perhatianku. Aku segera membukanya.



Sering Menatap Kamu

__ADS_1



Hm, tiap hari kan Grizelle emang lihat aku?" Aku menggeleng yakin dan kembali berkata dalam hati, "ini tak valid sih. Tidak ada penjelasan khusus tuk menatap ke bagian mana." 



Berusaha Menarik Perhatianmu



"Aduh, apalagi ini. Aku minggat saja, tak dicari," rutukku ngeri. 



Dia Mengetahui Semua Tentangmu.



Hm, ya pasti dong? Kan sudah nikah, gimana sih? Eh, kok aku tak mengenal keluarga Grizelle lebih dalam ya? Aku berpikir sejenak. 


Aih, sudahlah. Pokoknya, yang ketika ini, lewati dulu.



Dia Mendadak Jadi Sangat Perhatian



Mataku berbinar. Apakah mungkin? 


Sebabnya, selama aku dirawat, Grizelle begitu perhatian. Tak telat memberi makan, apalagi minum obat. Lalu terucap kalimat andalannya, "Kalau lo mati, yang bayar hutang lo, siapa?"


Aku mendengkus ketika kalimat pedas Grizelle lewat di pikiran. Ck, dasar wanita berdarah dingin!


Kesimpulannya, dia memperhatikanku karena uang, kan? 



Dia Sering Terlihat Gugup Saat di Dekatmu




Memuji Penampilan Kamu



Oke-oke, masih ada kesempatan. Aku membuka kembali buku memori, mencari sikap Grizelle yang mungkin memujiku. 


Ah, pernah! 


Ini baru saja terjadi, sesaat sebelum pulang ke rumah. Aku sedang menunggu perawat membawa kursi roda dan Grizelle. 


Dia menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan sulit di artikan dan berkata, "tumben lo ganteng." 


Aku tersenyum lebar. 


"Apa karena mau ketemu Allah?" 


Sial! Lanjut baca.



Teman-Temannya Menggodamu



Setahuku, dia tidak memiliki teman. Pada kabur semua karena mulut pedasnya, hihi~ 


Mungkin, Jihan? Tadi, dia malah menatapku datar, tuh. Tak ada goda menggoda. 


"Apa ada teman curhat Grizelle lainnya?" 


Aku mengacak-acak rambut ketika tidak menemukan jawaban apa pun. 


"Oh, mungkin, Grizelle Introvert? Iya, harus berpikir positif." 


8— habis. Eh, kok sudah? 

__ADS_1


Aku menjadi panik. "Kenapa satu pun enggak ada yang benar-benar nyata, sih?" tanyaku kemudian. 


"Akh, gimana dong? Apa dia tak suka?" 


"Siapa?" 


"Grizelle," jawabku polos. 


Err— suara siapa itu? 


Aku segera menoleh dengan mata membelak kala melihat kehadiran sosok yang kubicarakan dari tadi, tengah bercakak pinggang di pintu dapur. 


Dengan langkah lebar, dia mendekat. "Astaga, Ial. Lo gak bisa masak atau gimana sih?!" bentaknya. 


Aku mengikuti arah pandangnya dan ... oh iya, air! 


Astaga, dengan cepat, kumatikan kompor. 


"Ya Allah, maaf-maaf." 


"Lo mau buat rumah gue kebakaran, hah? Jangan macam-macam ya, Ial. Lo masih punya banyak utang ke gue, harus lunas," ancam Grizelle dengan mata melebar. 


Persis bagai Ibu Kos yang menagih kepada aku yang menunggak. 


Aku masih terperangah, dia pun pergi dari dapur. Memastikan Grizelle tidak berbalik lagi, aku terkekeh kecil. 


Apakah Love Language Physical Touch Grizelle berbeda? Dia suka melihat pasangannya disiksa atau bagaimana sih?


Aku terus memikirkan, sampai di mana, sebuah kata singkatan mendarat tepat di pikiranku. 


Em, boleh skip saja tidak sih? 


Ya, aku masih polos. Belum kenal dengan BDS— err, pokoknya itu lah. 


"Oke-oke, menurut Amaar, aku harus bersikap romantis dan humoris. Supaya menarik perhatian wanita," kataku lagi dengan mantap. 


Aku pantang menyerah. Sambil membawa dua gelas air putih, aku menuju ruang tengah. Namun, sepi. 


"Loh, Jihan mana?" tanyaku bingung. 


Grizelle mendengkus. "Telat, dia kabur karena lo ngebakar air," ketusnya. 


Aku meringis bersalah, lalu duduk di sebelahnya. "Kau kapan libur?" 


"Kenapa?" 


"Holiday yuk?" 


Grizelle menatapku aneh. "Ngaco gara-gara ngebakar air? Udahlah, gue males nanti ada drama kobam dan minta cerai, denda lo jadi 1 milyar." 


"Tidak begitu, aku cuma mau mengganti rencana kita kemarin yang gagal," alibiku yakin. 


"Halah, omdo, lo." 


Saat dia ingin beranjak, aku menahan tangannya. "Aku serius, Grizelle. Mau kah?" 


Dia menatapku penuh seringai. "Mau .., belikan saja tiketnya!" 


Aku menyipitkan mataku, wah, bagaimana ya? Aku belum ada pegangan, hehe.


Sepertinya, dia tahu jika aku sedang kere begini makanya berkata seperti itu. Penolakan secara halus, bahkan mulus. 


"Juga, gue sibuk kerja! Ngasih makan cowok kayak lo nih butuh ekstra lebih," ketusnya lagi.


 


"Hei, ayolah. Aku belikan tiketnya, ya?" Aku berusaha membujuk sambil mendekat ke arahnya. 


Grizelle beringsut menjauh. "Ogah!" 


Dia pergi begitu saja setelah dengan gampangnya menyayat hatiku.


Huh, bagaimana ini, ya? Rencana satu, gatot. 


"Baiklah, saatnya melaksanakan rencana kedua," gumamku penuh makna. Namun, seketika aku berpikir rencana apa lagi ya?


Makhluk bernama Grizelle Prameswari ini super keras kepala nan susah ditaklukkan. Kenapa aku bisa terjebak menikah kontrak dengannya? Apa ini karma karena menolak perjodohan dari Mamak? Padahal kalau dipikir-pikir Leci adalah gadis kalem. Dia sepertinya akan jadi istri penurut. 


Seperti kata pepatah kidz zaman now, namanya penyesalan itu pasti di akhir, jika di depan namanya pendaftaran. Terima nasib ajalah.

__ADS_1


__ADS_2