
2020
7 hari pasca diputusin Helen, gue diterima kerja di PT. Bias Cahaya Pertanian. Salah satu perusahaan Cina di bidang pertanian. Sesuai sama jurusan sarjana gue. Namun, satu sisi aslinya gue nggak begitu mencintai pekerjaan ini.
Bertahan sampai 3 tahun karena gaji lumayan 3 juta per bulan, lebih 400 ribu dari UMR kota Medan. Selain itu, kerjaannya gampang. Menjalankan dan mengawasi proses pembuatan pupuk tanaman sesuai ketentuan SOP agar mencapai target. Pengen resign, tapi nanti susah dapat kerja yang baru. Kalaupun dapat, belum tentu seenak ini.
Sekarang jam istirahat, gue memanfaatkannya makan sambil buka sosial media. Ada 1 pesan di Facebook gue. Dari Nazneen Faiha.
Hello, Sahrial.
Apa kabar? Kesibukanmu sekarang apa ya? Kalau misalnya aku pinang kamu jadi pemimpin redaksi CV. AT Press kamu mau nggak ya?
Jadi pemimpin redaksi? Sepertinya keren. Terlebih bekerja di penerbitan merupakan impian gue dari dulu. Namun, gue nggak boleh langsung mengiyakan tawarannya. Jual mahal dulu dan sekalian tanya-tanya perihal tugas pemred ngapain aja, harus ngantor atau bisa dikerjakan secara freelance sampai ke gaji.
Gue mengetik balasan untuk Nazneen.
Hello juga Bu Nazneen.
Saya tersanjung atas tawarannya. Kalau boleh tahu, Job desk pemred apa aja? Harus ngantor atau freelance? Gajinya berapa?
Selang lima menit Nazneen membalas pesan gue lagi.
Jobs desk pemred mengatur keuangan, mengecek hasil kerja karyawan, mengurus gaji karyawan, kirim laporan segala tentang penerbitan ke aku dan mengurus royalti. Gajinya 3.5 juta. Bisa lebih jika pendapatan AT Press bagus, dan kinerjamu bagus. Jika kamu tertarik jadi pemred AT Press, kamu harus pindah ke Yogyakarta. Karena baru aja membangun kantor di Yogyakarta. Kerjaanmu kudu offline.
Mata gue berbinar melihatnya. Akhirnya ada kesempatan keluar dari Medan. Bosan gue di Medan melulu. Mana sekarang tetangga makin rese nyinyir, "kapan nikah?" Padahal umur gue masih muda loh. Belum 30 tahun. Ya, memang teman-teman dan anak tetangga sudah pada menikah di usi 23-24 tahun.
Ah, andai aja tiga tahun lalu Helen nggak memutuskan mengakhiri hubungan, sudah pasti sekarang gue berstatus sebagai suami.
Kembali ke tawaran Bu Nazneen. Gue ingin sekali menerimanya. Namun, satu sisi gue mendadak ragu, apa Mamak dan Ayak mengizinkan gue pergi merantau? Ayak sih gue yakin mengizinkan. Secara beliau dulu juga merantau bertahun-tahun di Jakarta. Namun, kalau Mamak gue nggak yakin. Seperti seorang ibu pada umumnya. Sulit pisah sama anaknya. Apalagi gue anak sulung.
Otak gue berpikir keras gimana caranya agar Mamak mengizinkan gue pergi. Gue ingat-ingat karakter Mamak. Mamak gue itu orangnya khawatiran. Terlebih kalau menyangkut soal makan dan tempat tinggal anak-anaknya. Sahrani menginap di rumah temannya saja, Mamak repot menanyakan, 'rumahnya nyaman ditinggali? Kamarnya nggak bocor, kan?'
__ADS_1
Aha, gue tau. Mungkin jika gue sudah menemukan tempat tinggal yang layak, Mamak akan mengizinkan gue pergi ke Yogyakarta.
Gue coba bertanya ke Mbah Google dulu. Gue mengetik kata "Kos Murah di Yogyakarta" memang banyak website yang menampilkan iklan atau artikel tentang indekos di Yogyakarta, sayangnya mahal-mahal. Paling murah tujuh ratus ribuan. Fasilitas juga lumayan oke. Ada kipas angin, lemari pakaian, kasur dan kamar mandi di dalam. Namun, gue rasa untuk awal-awal merantau cari indekos yang murah dulu sajalah. Sekitar lima ratus ribuan.
Apa gue tanya teman? Teman gue yang di Yogyakarta siapa ya? Rasanya semua teman gue orang Medan. Nggak tau kenapa gue jadi keingat Ragiel, bos Penjelajah Buku. Gue lumayan dekat sama dia di Facebook. Dia tinggal di Yogyakarta. Siapa tahu dia bisa bantu gue mencari kos.
Hello, Bro.
Apa kabar? Gue mau nanya nih, kos di Yogya kisaran berapa ya?
Kebetulan banget Ragiel lagi online. Jadi cepat balas chat gue. Baru terkirim, sudah langsung dibaca dan dibalas.
Ragiel : Wah, kebetulan banget. 2 minggu lagi tetangga kamar kos gue mau pulang kampung. Bakal kosong kamar ini. Harga sebulan 400 ribuan lah. Btw, tumben nanya kos. Buat siapa?
Gue : Buat gue lah. Kebetulan gue dapat tawaran kerja di penerbitan. Gue kudu pindah ke Yogya. Makanya bingung nyari kos.
Ragiel : Wah, asyik kita bakal deketan. Kabari aja kapan kamu mau berangkatnya? Biar gue bilang ke Ibu Kostnya kalau kamu yang mengisi kamar tetangga gue ini.
***
Gue keluar kamar, tadinya mau ambil minum. Ternyata melihat Mamak, Ayak dan Sahrani asyik menonton televisi. Ini saat yang tepat minta izin ke mereka.
Gue menghampiri mereka.
"Wah, asyik banget kalian nonton tv-nya. Rial boleh ngomong sebentar nggak?"
"Kalau mau ngomong, ngomong aja kali. Nggak ada yang ngelarang," sahut Sahrani. Dia kembali melanjutkan mengemil makanan yang dipegangnya. Entah apa itu.
"Ada apa, Rial? Sepertinya serius banget." Ayak menimpali.
"Begini, Rial mendapat tawaran bekerja di sebuah kantor penerbitan di Yogyakarta. Posisinya pemimpin redaksi. Namun, syaratnya harus pindah ke Yogyakarta. Kira-kira Mamak dan Ayak mengizinkan nggak Rial mengambil kerjaan itu?"
__ADS_1
"Pada dasarnya aku sih mengizinkan kau merantau. Lelaki itu memang harus terbang tinggi nan jauh agar bisa melihat indahnya dunia. Namun, tak taulah makhluk di sebelahku ini mengizinkan atau tidak." Bibir Ayak menunjuk ke arah Mamak.
"Gimana Mak boleh ya Rial merantau ke Yogya?"
"Kalau ayakmu sudah bersabda, Mak bisa apa selain mengizinkan? Tapi, gaji lu berapa? Terus tinggal di mana? Gaji lu bakal cukup nggak menuhin kebutuhan lu selama sebulan? Jangan sampai kepergian lu membikin lu mati konyol di Yogyakarta. Mak nggak mau ya nanti lu masuk berita karena ketangkap satpol PP gegara ngemis di Malioboro."
Nah, benar kan. Mamak pasti bawel menanyakam gue bakal tinggal di mana selama di Yogyakarta. Untung sebelumnya gue udah chat Ragiel. Jadi, nggak membikin Mamak khawatir.
"Hahaha ... ya nggaklah, Mak. Gajinya lumayan. Bisalah Rial atur sedemikian rupa biar cukup sebulan. Soal tempat tinggal, udah nemu kos yang tepat dan murah. Minta carikan sama temanku yang di Yogya."
"Oh, baguslah kalau lu sudah mempertimbangkan dan mengurus semuanya, Mamak nggak ada hak melarang lagi." Mata Mamak berkaca-kaca. "Asal satu hal, sering-sering nelepon dan video call ya. Terus pas lebaran jangan lupa pulang kampung." Air mata Mamak pun jatuh nggak terbendung.
Gue jadi terharu. Ayak walau nggak nangis. Pasti dalam hatinya sedih, anak sulung lelakinya akan pergi. Gue peluk mereka berdua. "Makasih Mak dan Ayak udah ngizinin Rial pergi. Kalian nggak usah khawatir. Rial bakal sering-sering video call. Sejauh-jauhnya burung terbang, pasti akan kembali ke sangkarnya. Rial pasti tetap pulang kampung pas lebaran."
"Kalau Abang Rial pergi ke Yogya, rumah sepi dong. Nggak ada lagi teman rebutan WC, rebutan makanan, sama tempat curhat kalau diputusin atau dicuekin cowok. Gimana kalau aku ikut Abang Rial ke Yogya juga?"
"Yeee ... enak aja. Yang ada lu bakal ngerecokin hidup gue selama di Yogya. Kalau soal curhat lu tenang aja, kan bisa WA, Fb dan video call. Sesibuk apa pun gue, gue pasti bakal meluangkan waktu buat adek gue yang bawel ini."
"Rani kuliah dulu yang benar. Kalau udah lulus dan sarjana, baru Ayak dan Mamak izinkan Rani merantau di luar kota. Terserah mau ke Yogya juga atau kota lain."
"Nah, tuh udah dikasih angin segar sama Ayak. Makanya belajar yang bener. Jangan pacaran mulu biar cepat wisuda." Gue mengacak-ngacak rambut Sahrani.
"Yah, nunggu 3 tahun lagi dong."
"Ya udah, itu aja sih yang mau Rial omongin sama kalian. Rial mau pamit ke kamar dulu. Mau bikin surat pengunduran diri. Sekali lagi makasih Mak dan Ayak ngizinin Rial pergi."
Gue sih berharap perusahaan tempat gue kerja yang sekarang nggak mempersulit karyawannya resign.
Ayak \= Ayah (Bahasa Batak)
__ADS_1