Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XXIV (Jihan Orianthie)


__ADS_3

Mendadak perutku lapar. Aku melirik Mas Ammar, dia tertidur pulas efek kecapekan acara tadi siang. Aku keluar sendirian menuju dapur, siapa tau masih ada sisa makanan. Ternyata kosong.


Cek lemari penyimpanan makanan, barangkali ada mi instan. Ketika dibuka, kosong juga. Mau order Shopeefood atau Gofood, sudah jam 12 malam.


Aku terduduk lemas di meja makan seraya membelai. "Sabar ya Dek, makannya pas pagi aja."


Seseorang memelukku erat. Tangan kanannya ikut membelai perutku. "Mau makan apa sih, Dek? Biar Ayah carikan."


Aku menoleh. "Emang ada warung yang buka jam segini? Apalagi pas pandemi, warung-warung dibatasi buka sampai jam 8 malam doang."


"Siapa tau ada wedangan yang masih buka di gang-gang kecil. Kalau nggak ada juga ya paling mentok ke Alfamart beli mi instan."


"Aku ikut."


"Apaan sih. Udah malam. Ntar masuk angin kena angin malam. Nggak baik buat kehamilan juga."


Aku bertopang dagu di atas meja. Memanyunkan bibir. "Ih, apaan sih. Ini kan bawaan bayi yang pengen makan di luar sekalian jalan-jalan malam. Ntar anak kita ngiler loh kalau nggak dituruti," ujarku merengek manja.


Mas Ammar malah menowel pipiku. "Kamu makin gemes kalau manyun gini. Ya udah boleh ikut, tapi harus jaket yang tebel, syal dan lainnya."


"Siap, Bos."


Aku ke kamar memasang semua yang dikatakan Mas Ammar.


***


Benar saja ada wedangan masih buka di Gang Satrowijayan daerah Malioboro. Ammar memarkirkan mobil depan gang dulu. Setelah itu, kami turun dan berjalan sedikit.


"Mas, masih ada makanannya?" tanyaku begitu sampai di wedangannya.


"Masih banyak nih, Mbak."


Ya udah aku mengambil dua nasi kucing, telur puyuh, tempe dan tahu bacem, bakwan. "Mas pesen es teh ya. Mas Ammar mau makan apa?"


"Wedang ronde aja deh. Ada?"


"Ada, Mas. Bentar ya."


Aku melahap semua makanan di depanku ini. Mas Ammar geleng-geleng kepala. "Ini laper atau doyan ya?" ledeknya.


"Dua-duanya, Mas. Yakin nih nggak mau makan? Sambelnya enak loh. Pedes."


"Aku nggak kuat pedes. Kamu jangan makan pedes kan nggak boleh lagi hamil," tegur Mas Ammar.


Aku cuek bebek. Terus melanjutkan makan. "Ah, ini dikit kok. Tenang aja aman."


Kurang dari sepuluh menit, semua makanan di depanku ini habis. Aku bersendawa. "Alhamdulillah, kenyang kan, Dek," ujarku kembali mengelus perut.

__ADS_1


Bukan hanya di mulut, aku juga ratusan kali bersyukur dalam hati. Mas Ammar yang tadinya cuek bebek, kini super perhatian sama kehamilannya. Masyaallah tabarakallah, Allah maha bolak-balikkan hati manusia.


Tiba-tiba perutku sakit. "Aw," rintihku memegang perut.


"Loh, kamu kenapa?" unar Mas Ammar panik.


"Nggak tau nih."


Mas Ammar mengeluarkan uang lima puluh ribuan. Lalu ditaruh di meja. " Mas, ini bayar kami makan ya. Kalau kurang, besok saya ke sini lagi. Saya buru-buru mau bawa istri saya ke rumah sakit soalnya."


Mas Ammar menggendongku ke mobil.


***


Aku dilarikan ke rumah sakit terdekat. Berhubung masa pandemi, jadi kami harus swab pcr dulu. Alhamdulillah, masih negatif. Aku dibawa ke UGD. Beruntung langsung diperiksa dokter kandungannya. 


"Gimana Dok, istri dan kandungannya baik-baik saja kan?" Terlihat jelas Mas Ammar khawatir banget. Duh, jadi terharu lihatnya.


"Aman kok. Kontraksi kecil. Mungkin Bu Jihan habis makan banyak atau pedas."


"Tuh kan, apa aku bilang, orang hamil nggak boleh makan yang pedes."


"Emang bener gitu, Dok?"


Dokter tersenyum simpul. "Sebenarnya itu mitos. Dilansir Firtscry Parenting, mengonsumsi makanan pedas ketika hamil muda atau kehamilan di trimester pertama sebenarnya relatif aman. Makanan pedas juga tidak mempengaruhi perkembangan janin."


Mas Ammar mengerlingkan mata. "Tuh, apa aku bilang. Ngeyel sih dibilangin."


"Makasih banyak, Dok. Berarti saya boleh pulang atau harus opname?"


"Sudah boleh pulang. Saya kasih vitamin agar kandungan Bu Jihan makin kuat." 


Kami keluar dari rumah sakit. Baru sampai mobil, Mama telepon. Aku bingung, ada apa? Jangan-jangan Mama kenapa-kenapa. Segera aku terima teleponnya.


"Iya, Ma. Ada apa?"


"Kok perasaan Mama nggak enak ya. Kamu nggak apa kan?"


Ternyata ikatan batin anak dan ibu memang tidak perlu diragukan lagi. "Tadi ada kontraksi dikit kok. Sekarang udah nggak apa. Nih, perjalanan pulang. Mama nggak usah khawatir ya."


***


Hari Jumat yang cerah. Mas Ammar lagi libur mengajar. Jadilah kami ngeteh bareng di pagi hari. Dia sibuk memegang ponselnya.


Aku kesal. Dia diam aja. Nggak ada usaha mengajak istri mengobrol.


"Mas Ammar, aku boleh nanya sesuatu nggak?"

__ADS_1


"Hmmm … apa?"


"Mas Ammar, aku pengen denger dong cerita masa lalumu. Ada berapa banyak mantan, kenapa jatuh cinta sama Grizell, sampai kenapa sekarang tau-tau baik banget sama aku?"


Dia menaruh ponselnya di meja. Seketika menatapku tajam. "Emang penting masa laluku? Yang penting kan aku udah berusaha mencintai dan jadi suami yang baik sama kamu. Kalau aku cerita nanti kita berantem lagi."


"Ya penting dong. Aku pengen tahu tentang kamu lebih dalam. Sebagai istri kan harus bisa menerima kekurangan dan masa lalu suami."


Kami pun cekcok adu mulut.


"Assalamualaikum." 


Tiba-tiba mertuaku datang. Yah, ketahuan berantem deh.


"Waalaikumsalam. Eh, Abi."


"Maaf nih datang pagi-pagi, ini mau antar bubur sekaligus madu buat Nak Jihan. Bagus buat kehamilan. Tadi kayaknya seru banget ngobrolnya kayak lagi berantem malah. Ada apa?"


"Ini loh, Bi, Jihan ngotot pengen tau masa laluku."


"Maaf nih bukan bermaksud ikut campur, tapi Nak Jihan …" 


Sesungguhnya, Islam amat melarang jika sepasang suami isteri mengungkit masa lalu, terutamanya yang berkaitan kemaksiatan. Suami isteri tidak perlu menjelaskan masa lalu masing-masing.


Malah, Allah SWT itu sendiri melindungi dan menjaga setiap aib dan dosa umatnya, terbukti dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:


Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan. 


(HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508).


Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda:


Semua umatku akan diampuni, kecuali orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan maksiat, seseorang melakukan maksiat di malam hari, Allah tutupi sehingga tidak ada yang tahu, namun di pagi hari dia bercerita, ‘Hai Fulan, tadi malam saya melakukan perbuatan maksiat seperti ini..’ Malam hari Allah tutupi kemaksiatanya, pagi harinya dia singkap tabir Allah yang menutupi maksiatnya. 


(HR. Bukhari 6069 & Muslim 7676).


"Nah, Allah aja menyuruh umatnya menutup aib orang lain, masa istri ingin mengungkit masa lalu suami? Coba Nak Jihan pikirkan dengan baik-baik, apa faedahnya jika Nak Jihan tahu masa lalu Ammar? Bisa jadi hanya akan membuatkan pergaduhan dan boleh terjadinya penceraian. Yang penting sekarang kalian rukun, saling berusaha menjadi suami istri yang baik. Udah cukup. Lanjutkan agar rumah tangga kalian sakinah mawaddah warahmah ke depannya."


Kalimat terakhir Abi sama persis yang tadi diucapkan Mas Ammar. 


"Tuh, dengerin kata Abi."


Aku tertunduk malu. Sebagai menantu yang baik kali ini menurut perkataan mertua. "Iya deh kali ini aku nurut. Makasih ya Abi pagi-pagi udah dikasih wejangan yang daging banget buat saya yang minim ilmu."


"Ya sudah, kalian lanjut saja debatnya. Dalam rumah tangga debat kecil seru kok. Asal jangan kebablasan. Abi mau pulang dulu. Kan tujuan ke sini hanya mengantar makanan buat Nak Jihan."


"Sekali lagi makasih banyak, Abi. Udah repot-repot antar makanan."

__ADS_1


__ADS_2