
Aku dan Ammar sama-sama sibuk main HP di ranjang.
"Dek, kamu lagi sibuk nggak?"
"Nggak terlalu sih. Cuma baca-baca novel di platform AT Menulis aja. Kenapa?"
"Mau minta tolong, coba kamu japri bininya Sahrial. Tanyain mereka berangkat ke Bali jam berapa? Naik pesawat apa? Biar aku mesen tiketnya di jam yang sama dengan keberangkatan mereka."
"Harus banget ya kita ke Balinya bareng mereka?"
"Iya, biar seru. Kalau aku sibuk main bola sama Sahrial, atau pas nunggu pesawat kamu nggak bete. Ada yang nemenin ngobrol. Lagian kita masih canggung kan?"
"Hmmm … ada benarnya juga."
Aku beralih buka Whatsapp. Lalu mengirimkan chat ke Mbak Gisel. Namanya tuh susah, kebarat-baratan. Jadi lidahku suka keseleo mengucapkannya. Jadilah aku memanggilnya dengan nama 'Gisel'. Untungnya Mbak Gisel tak mempermaslahkan hal itu. Dia baik-baik dipanggil siapa pun. Selagi masih tak terlalu jauh dari nama aslinya. Tak sampai lima menit, Mbak Gisel sudah membalas.
"Kami berangkat ke Bali jam 11.45 WIB dan naik Arsha Air."
Aku membacakan balasan chat dari Mbak Grizelle.
"Oke. Aku cekout tiket dulu."
Aku kembali baca-baca novel di Platform AT Menulis.
"Sip. Udah terbeli tiketnya. Cek coba WA-mu. Aku kirim e-ticketnya."
"Udah masuk."
"Eh, nanya dong, kamu udah lama ya kenal bininya Sahrial?"
"Baru setahunan sih. Sejak aku mulai nulis di platform AT Menulis. Dia waktu itu manager baru."
"Menurutmu bininya Sahrial gimana?"
"Baik, ramah banget, asyik, bisa berbaur dengan siapa pun. Semua penulis AT Menulis tuh berasa kayak teman lamanya dia. Status-statusnya juga seru. Kenapa emang?"
Aku menghentikan aktivitas baca, lalu meletakkan HP di meja samping ranjang. Aku berbaring ke kanan berhadapan dengan Ammar. "Kamu naksir Mbak Gisel ya?"
"E … ya … nggak lah. Ngapain naksir bini temen futsal." Ammar menjawab pertanyaanku dengan gugup tanda lagi bohong.
"Serius?" Aku menatap mata Ammar tajam.
"Iyalah. Ngapain bohong. Kamu nggak percaya sama aku?"
Mau tak mau aku berusaha mempercayai suamiku sendiri. Kunci utama dalam sebuah rumah tangga adalah saling percaya.
***
Sehari sebelum ke Bali. Aku dan Ammar minta izin dulu ke Mama dan Bapak.
"Apa? Ke Bali?" Bapaknya Ammar terkejut.
__ADS_1
"Nggak. Mama nggak setuju. Kamu kan lagi hamil muda. Harus dijaga dengan baik. Ntar kalau ada apa-apa dengan kandunganmu gimana?"
Sudah aku duga mereka pasti tak mengizinkan kami ke Bali. Aku memanyunkan bibir lima centimeter. "Yah, Ma, Pak. Ini bawaan maunya bayi. Ntar kalau nggak diturutin ngeces loh. Kalian mau punya cucu ngecesan?"
Aku menggunakan senjata mitos jadul untuk memenuhi keinginanku sendiri. Aku rasa, hampir semua ibu-ibu kalau manja dan menginginkan sesuatu pasti menggunakan senjata ini.
"Lagian Mas Ammar pasti jagain aku dengan baik kok." Aku menyenggol lengan Ammar. Biar dia mendukungku.
"Iya dong. Pak, Ma, saya pasti jaga kandungan Jihan dengan baik. Saya juga nggak mau anak saya kenapa-napa."
"Ya kalau suaminya sudah mengizinkan, kami bisa apa?"
Yes. Berhasil. Aku memeluk Mama dan Bapak bersamaan. "Makasih Ma, Pak. Aku makin sayang deh sama kalian."
"Kalian boleh pergi, tapi dengan satu syarat." Bapaknya Ammar bersuara.
Aku dan Ammar saling pandang. "Syaratnya apa coba?"
"Syaratnya Jihan perginya make kursi roda. Biar dia nggak terlalu capek jalan."
"Oh, soal itu beres, Pak. Lagi pula kursi roda bekas almarhumah Ibu masih ada kan?"
"Masih tuh di kamar Ibu."
"Bisalah dipake dulu buat Jihan." Ammar melirikku. "Nggak apa kan sayang, make bekas almarhumah ibuku dulu?"
"Ya nggak apa dong."
***
Seusai check in, aku dan Ammar duduk di ruang tunggu yang ada tanda kursi roda. Tiba-tiba Ammar berdiri dan melambaikan tangan.
"Sahrial, kami di sini."
Sahrial beserta Mbak Gisel menoleh. Lalu berjalan menghampiri kami. "Eh, kalian. Apa kabar? Udah lama nyampenya?"
"Baru check in.
"Kami udah check in malam tadi di aplikasinya."
Kami pun mengobrol ke sana kemari sambil ketawa-ketawan. Para suami membahas bola. Sedangkan aku dan Mbak Gisel bahas naskah platform notabebnya banyak yang halu. Tokoh utama cowoknya tampan, tajir melintir, hot, dan tanpa ada cacatnya. Aku biasanya menulis novel thriller. Lebih greget sensasinya.
Mbak Gisel membuka tas bahunya. Tak lama kemudian dia mengeluarkan roti dan Coca Cola. "Kamu mau?" tawarnya.
"Nggak makasih. Aku tadi minum obat Antimo."
Norak ya minum obat Antimo segala? Itulah diriku. Masih ndeso. Pasti muntah kalau naik mobil. Mabok darat.
"Kepada penumpang Arsha Air dengan nomor penerbangan 773677 dimohon untuk segera naik ke pesawat."
Waw. Tak terasa. Benar kata Ammar kalau ada teman bisa menghilangkan kebetean pas menunggu pesawat.
__ADS_1
***
Aku mengambil koper dan beberapa pakaianku dari lemari. Sudah hampir penuh. Mendadak ingat harus memasukkan peralatan mandi, obat-obatan, make up, skincare dan segala macam changeran.
"Mas, kamu bawa baju yang mana aja buat ke Bali."
"Yang mana aja boleh. Yang penting ****** ***** bawa yang banyak. Biar nggak bingung kalau habis gegara mantai mulu."
Semua ****** ******** Ammar aku masukin ke koper.
"Jangan lupa sajadah, baju koko dan kopiah."
Alhamdulillah, punya suami saleh. Tak melupakan pakaian beribadah ke mana pun pergi.
Saking banyaknya yang aku masukkan ke koper, aku jadi kesulitan menutup koper. "Mas, bantuin nutup koper dong. Susah nih."
"Lagian kamu bawa apa aja sih sebanyak ini? Macam mau pindahan aja."
Dia terus mengomeli barang bawaanku. Di matanya tak terlalu penting. Aku menyengir kuda. "Namanya juga cewek. Kebutuhannya banyak."
Walau mengomel dulu, akhirnya semua barangku tetap masuk koper. Dia bantu menata ulang biar muat dan bisa ditutup. Ternyata suamiku lebih rapi dan jago packing.
***
"Bali i'm coming!" teriakku kencang begitu turun dari pesawat.
Aku bahagia banget. Selama ini hanya melihat kota Bali di FTV. Kini menginjakkan kaki langsung di pulau Dewata. Jadi maklumlah agak norak.
Ammar memelototiku. "Please deh, noraknya jangan terlalu diliatin. Malu diliatin orang."
Aku hanya memanyunkan bibir. Firasatku mengatakan itu suami akan selalu mengomeli kenorakanku. Aku hanya bisa pasrah.
"Eh, foto dulu yuk buat kenang-kenangan," celetuk Mbak Gisel.
Mbak Gisel memanjangkan tongsisnya. Lalu mengatur self timer. Kami pun berpose ria secakep mungkin.
1 … 2 ...3
Foto tersimpan ke HP Mbak Gisel. Cakep. Ada background pesawat di belakang kami. Bisalah buat pamer di status Facebook, IG dan WA.
"Mbak, kirim fotonya ke WA-ku ya."
"Oke, wait."
Ting!
Fotonya masuk ke WA-ku. Bertepatan dengan itu busnya datang.
"Itu busnya datang. Ayo masuk. Mumpung sepi."
Kami pun memasuki bus untuk menuju ke Bandara Ngurah Rai.
__ADS_1