Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter V (Jihan Orianthie)


__ADS_3

"Ini rumah siapa?" 


Aku terheran-heran ketika Mama dan bapak Ammar membawaku di Perumahan Green Hills. Yang aku tahu ini termasuk perumahan elit di Yogyakarta. Apakah ini rumah saudaranya? 


"Mulai sekarang rumah di depanmu ini menjadi milik kamu dan Ammar. Biar Ammar juga nggak terlalu jauh jika ke sekolah."


Mataku berbinar. Seketika refleks menutup mulut menggunakan kedua telapak tangan. Satu kata 'takjub' aku tak bisa berkata-kata lagi.


"Serius?"


"Iya. Ngapain Bapak bohong sama kamu. Anggep aja ini hadiah karena kamu telah memberikan cucu pertama buat Bapak."


"Makasih, Bapak."


Mataku berkaca-kaca. Bersyukur banget memiliki mertua yang baik dan tidak pelit. Ingin kumemeluk beliau, tapi sungkan.


"Gimana suka?"


Aku hanya mengangguk kecil. Siapa yang tidak suka dikasih rumah tipe 150. Dua lantai. Luas 272 m2. Terlebih depannya ada taman. Seketika terbayang ingin menanami berbagai macam bunga agar lebih cantik.


"Ya udah, yuk masuk. Liat bagian dalamnya."


Aku melangkah masuk ke rumah mengekor mereka. Waw. Bagian dalamnya nggak kalah menakjubkan. Ruang tamunya penuh kaligrafi Asmaul Husna. Ada 4 kamar tidur, 3 kamar mandi, dan dilengkapi perabotan mewah. Keluarga Ammar memang no kaleng-kaleng.


"Moga kalian betah ya tinggal di rumah ini."


"Pasti, Pak."


Rumahnya sih jelas bikin betah, Pak. Tapi nggak tau deh anak bapak bikin saya betah nggak? gumamku dalam hati.


"Jihan, Mama aslinya sedih kamu keluar dari rumah Mama. Tapi mau gimana lagi. Kamu sekarang udah nikah. Mama nggak berhak menahanmu bahagia bersama suami."


Aku melihat genangan cairan bening di pelupuk mata Mama. Langsung aku peluk Mama dan kuhapus air matanya. "Mama jangan sedih dong. Kan masih deket rumah ini sama rumah Mama. Jihan janji sering-sering main ke rumah Mama."


"Bener ya?"


"Iya, janji."


Bapaknya Ammar mengangkat tangan kirinya. "Hmmm … sepertinya saya harus pulang. Jam empat sore nanti saya ada undangan main golf sama teman. Bu Yanti mau saya antar pulang atau masih mau di sini?"


"Ikut pulang aja deh, Pak. Nggak enak lama-lama di rumah anak. Mungkin mereka mau fokus menata rumah atau istirahat di kamar baru dulu."


"Ya sudah kami pamit dulu. Assalamualaikum."


*** 


"Mas, temenin aku ke dokter kandungan dong. Dari awal tespack sampai sekarang belum periksa kandungan loh."


"Nanti aja deh. Aku lagi sibuk nih," ujar Ammar dingin.


Kulirik suami yang super dingin. Dia asyik memegang HP. Rasa penasaran membludak. Kuintip dia ngapain sih? Iseng aku merebut HP-nya. 

__ADS_1


"Oh, ini yang bikin kamu sibuk? Main Mobile Legend?"


"Apaan sih kamu. Sini HP-ku."


"Nggak. Anterin ke dokter kandungan dulu. Baru aku balikin HP-mu."


Terjadilah rebutan HP. Tanpa sengaja HP di tanganku lepas melayang. Lalu jatuh ke lantai.


Prank!


Layar HP retak. Mati total. Tanpa kusadari tangan Ammar melayang juga ke pipiku.


Plak!


"Tuh, liat akibat perbuatanmu HP-ku rusak. Itu Iphone 13. Aku beli HP itu nabung bertahun-tahun, langsung hancur gara-gara orang baru yang mengaku sebagai istri."


Perih. Perih bekas tamparannya di pipi nggak sebanding dengan perih di hati. Bagi Ammar, aku hanya orang baru yang mengaku sebagai istrinya. 


Aku menangis dan lari dari kamar. Aku ambil kunci motor, dan pergi entah ke mana. 


Setengah jam muter-muter Kota Yogyakarta, akhirnya menetapkan tujuan ke rumah Mama. Namun, seketika teringat kata ustaz, kalau ada masalah rumah tangga dan salah suami, jangan mengadu ke orang tua, tapi ke orang tuanya saja. Jadilah aku berbelok arah menuju rumah bapaknya Ammar.


"Loh, Jihan. Kamu kenapa?" Bapaknya Ammar heran melihat penampilanku berantakan dan mata sembab.


"Hiks." Aku semakin tersedu. Bingung harus menceritakan kelakuan Ammar dari mana ke bapaknya.


"Ya udah, masuk dulu yuk. Biar enak ngobrolnya."


Kami pun masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu.


Aku tarik napas dalam. Lalu menghembuskan perlahan. Kata demi kata mengalir begitu saja mengadukan perbuatan Ammar yang lebih memilih main ML daripada mengantarkan aku ke dokter kandungan sampai dia marah besar ketika HP rusak.


"Hufh." Bapaknya Ammar mendesah napas berat. "Anak itu nggak berubah. Masih belum sadar dirinya kini sudah jadi suami dan calon bapak. Dia dari dulu memang gitu. Marah besar ketika hobinya diusik. Kamu yang sabar ya, Nak Jihan."


"Saya sih bisa sabar, Pak. Tapi sampai kapan? Jika terus-terusan diginiin saya nggak tahan juga."


Walau di hati kecilku nggak menginginkan perceraian. Dari kecil aku sudah nggak merasakan sosok cinta pertama dari ayah. Aku berharap Ammar bisa menjadi cinta pertama sekaligus cinta terakhir. Nyatanya impian itu terlalu muluk ya?


"Hmmm … nanti biar Bapak yang bicara sama Ammar. Kamu tenang aja. Fokus sama kehamilanmu."


Mendadak kepalaku pusing. Bapaknya Ammar peka. "Kamu kenapa? Mau Bapak antar ke dokter kandungan?"


"Hmmm … nggak usah deh, Pak. Saya keknya pusing efek panas-panasan aja."


"Ya udah, kamu istirahat di kamar aja. Mau Bapak antar?"


"Saya bisa sendiri, Pak."


Aku berjalan ke kamar. Lalu merebahkan diri di tempat tidur. Dalam sekejap tertidur lelap.


***

__ADS_1


Ketika aku bangun, aku kaget Ammar sudah duduk di depanku seraya tersenyum manis.


"Eh, sayang. Akhirnya kamu bangun juga."


Aku bengong. Di depanku ini Ammar atau bukan sih? Aku cubit pipi sendiri. Au, sakit. Berarti nggak mimpi.


"Sayang, maafin aku ya udah kasar sama kamu. Mau aku antar ke dokter kandungan sekarang? Mumpung masih sore ini."


"Nggak usah. Kan kamu sibuk sama ML." Aku menyindirnya.


"ML sekarang udah nggak penting lagi. Yang terpenting sekarang kamu dan calon bayi kita."


Waw. Hebat. Ammar habis kesambet apa jadi berubah drastis? Atau bapaknya ngasih tau apa jadi dia semanis ini? 


Aku menyentuh jidat Ammar. "Nggak panas. Kamu abis kesambet apa jadi manis gini?"


"Nggak kesambet apa-apa. Cuma pas kamu pergi, aku baru sadar ternyata aku memang keterlaluan. Harusnya aku sadar posisiku sekarang bukan remaja lagi. Udah calon bapak. Kamu mau kan maafin aku?"


Persetan apa yang membuatnya manis. Namun, nggak dipungkiri aku bahagia dengan perubahan Ammar. Semoga ini awal yang baik untuk kebahagiaan rumah tanggaku. 


Aku langsung memeluknya. "Ya jelas mau dong maafin kamu. Kenapa nggak dari kemarin-kemarin aja sih manisnya. Hiks."


"Yang penting kan aku sudah berubah. Belum terlambat kan?"


Aku mengangguk.


"Lain kali apa pun yang ada di dalam rumah tangga kita jangan sampe orang lain tau. Termasuk orang tua sendiri. Itu sama aja bongkar suami. Istri itu jadi pakaian dan selimut suami. Bongkar aib orang aja sama kayak makan bangkai sodara, apalagi bongkar aib suami. Mau aku bacain dalilnya?"


Aku menggeleng. "Nggak usah. Udah hapal. Udah sering denger di ceramah-ceramah."


"Yuk, kita pulang. Atau kamu mau ke mana dulu? Aku anterin ke mana pun kamu mau."


"Beneran?"


"Kalau aku minta Honeymoon ke Bali boleh? Dari dulu pengen banget ke Bali."


"Kalau itu mesti izin Bapak dan mamamu dulu."


***


Aku ke rumah Mama pagi-pagi. Kebetulan Mama lagi menyapu teras. “Assalamualaikum, Ma.”


Mama bukannya menyambutku dengan pelukan justru malah dipelototi. “Ngapain kamu ke sini?”


“Emang aku nggak boleh ke rumah lagi?”


“Bukan nggak boleh, tapi ini pagi banget. Kan kamu sebagai istri mesti nyiapin keperluan kerja Ammar. Kamu udah izin Ammar belum? Sabda Rasulullah Shallahu alaihi wasalam: "Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya dia akan dilaknat oleh Allah sampai dia kembali kepada suaminya atau suaminya redha terhadapnya." ( HR. Al Khatib ). Seorang istri harus izin kepada suaminya untuk keluar rumah termasuk untuk ke rumah orang tuanya.”


“Ceilah, tang mentang udah besanan sama Kiayi, sekarang Mama sudah pinter ceramahin aku. Mama tenang aja, aku dah izin dan Mas Ammar baru aja berangkat kerja. Katanya ujian apa gitu di sekolahnya.”


Mama bernapas lega. “Jadi kamu ngapain ke sini? Nggak mungkin sekadar kangen kan?”

__ADS_1


Tadinya aku mau bilang soal honeymoon Bali. Kayaknya nggak tepat. Bilangnya pas ada Mas Ammar aja. “Aku pengen dimasakin tempe orak-arik. Ngidam kayaknya nih,” ujarku tersenyum jail.


“Ya udah, yuk masuk!”


__ADS_2