Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XIX (Sahrial Pratama)


__ADS_3

Saat mataku terbuka, hal pertama yang kulihat adalah Gisel tertidur dengan posisi menelungkupkan kepala di pinggir tempat tidur.


Aku mengelus rambutnya dengan lembut. Selama sepuluh hari ini, aku melihat sosok Grizelle Prameswari yang sesungguhnya. Walau dia galak, ngeselin, cerewet dan gengsi nauzubillah, tapi dia peduli banget sama orang terdekatnya. Terbukti dia rela cuti, ada di sini demi menemani diriku. 


Aku bergerak pelan banget, ingin ke kamar mandi untuk berwudhu. Gisel bergerak. Aku berhenti dulu. Lalu lanjut semakin pelan agar dia nggak terbangun.


Sesampai di kamar mandi aku malah bingung sendiri. Jalan bawa-bawa selang infus aja susah, apalagi berwudhu. Mataku jelalatan mencari paku atau apa gitu yang bisa buat gantung infus ini. 


Tanpa sengaja aku menyenggol sabun cuci tangan. Dan sialnya kakiku terpeleset karena menginjak sabun yang tumpah itu.


"Arrrrgggh." Tubuhku limbung. Tiba-tiba merasakan ada yang menahan punggungku. Nggak lain dan nggak bukan adalah istriku sendiri. Pandangan kami beradu. Aku merasakan sesuatu bergetar, tapi bukan HP yang disilent. Bergetarnya di sini. Di hatiku. Apa ini namanya cinta?


"Lu ngapain sih? Kok nggak bangunin gue?"


"Mau wudhu. Nggak tega bangunin kau, soalnya pules banget tidurnya."


"Masalahnya kalau lu kepeleset gue makin repot karena mesti mijitin kaki lu yang keselo."


"Udah diem." Dia menyiram tumpahan sabun tadi. "Sini aku pegangin infusnya, biar kamu bisa wudhu."


***


Badanku sudah mulai sehat. Pagi tadi suster melepas infus di tanganku. Namun, belum boleh pulang. Menunggu dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut dan tes swab PCR apakah masih positif atau sudah negatif.


"Ial, ke Musala yuk. Salat Dhuha."


"Emang boleh ke luar dari kamar ini?"


"Ini kan rumah sakit Islam, masa mereka ngelarang pasiennya buat salat di Musala? Denger-denger di sini juga RS khusus Covid, kayaknya fine-fine aja."


"Iya juga sih. Yok."


Musalanya agak jauh ya. Paling ujung. Sekalian olah raga, seminggu lebih nggak bergerak jauh.


"Aku lihat-lihat kamu sudah mesra sama Gisel. Sudah rujuk ya?"


Aku menyunggingkan bibir. "Heh? Rujuk apanya? Aku yang maksa rujuk, soalnya nggak sanggup bayar dendanya."

__ADS_1


"Hah? Denda?"


"Iya, denda karena melaranggar pasal nikah kontrak."


"Hah? Nikah kontrak?


"Jadi kau belum tahu bahwa kami sebenarnya hanya nikah kontrak? Kami nikah kontrak demi saling menguntungkan. Waktu itu aku butuh duit buat nambah biaya Mamak berobat, Gisel mau minjemin kalau aku mau nikah kontrak sama dia. Dia mengajukan hal demikian demi terhindar julidtan orang-orang kapan nikah, ditambah mamanya rempong jodoh-jodohin dia. Dia nggak mau nikah sama orang yang sama sekali nggak dikenalnya."


"Serius baru tau. Ini juga kalau kamu yang ngomong sekarang."


Berarti Gisel menepati janjinya untuk nggak bilang hal ini ke siapa-siapa. Sialnya aku yang keceplosan bocorin ke Ammar.


"Hukum nikah kontrak di Islam gimana sih?"


"Dikutip dari buku berjudul "Serial Hadits Nikah 2 Cinta Terlarang" oleh Firman Arifandi, Lc., MA, Imam An Nawawi menjelaskan dalam Al Minhaj, bahwa nikah mut'ah pernah diperbolehkan dan kemudian dilarang hingga hari akhir. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Salamah bin Al Akwa' berkata, "Rasulullah saw memberi keringanan pada kami dalam masalah mut'ah wanita-wanita pada tahun Authos selama tiga hari, kemudian beliau melarangnya."


Dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmizy, Abdullah bin Abbas ra mengatakan bahwa nikah mut'ah pernah dibolehkan di awal-awal pensyariatan. Saat itu, seseorang yang mengembara di suatu negeri tanpa memiliki pengetahuan berapa lama akan tinggal, lalu dia menikah dengan seorang wanita sekadar masa bermukim di negeri itu, istrinya itu memelihara hartanya dan mengurusinya, hingga turunnya ayat yang berbunyi: orang-orang yang menjaga *********** kecuali kepada istrinya dan budaknya.


Nikah mut'ah pernah diperbolehkan karena masyarakat Islam saat itu masih dalam masa transisi dari zaman jahiliyah kepada Islam. Akan tetapi, Rasulullah saw kemudian melarang praktik nikah mut'ah. Hal ini juga ditegaskan dalam Fathul Bari, Ibnu hajar Al Asqalani menjelaskan, bahwa pernikahan mut'ah praktiknya seperti nikah kontrak, yang mana hukum kebolehannya sudah termansukh atau terhapus.


Dari Ar-Rabi' bin Sabrah Al-Juhani berkata, bahwa ayahnya berkata kepadanya bahwa Rasulullah saw bersabda, "Wahai manusia, dahulu aku mengizinkan kamu nikah mut'ah. Ketahuilah bahwa Allah swt telah mengharamkannya sampai hari kiamat." (HR. Muslim).


Di zaman sekarang, nikah mut'ah semakin jelas akan keharamannya. Sebab, jika ditinjau dari perspektif rukunnya, nikah mut'ah dipandang bathil karena ketiadaan saksi, wali, dan pembatasan masa nikah yang menjadikan nikah tidak sah. Kalau pun ada saksi dan wali, tidak jarang para pelakunya adalah palsu. Quraish Shihab juga mengatakan, bahwa nikah mut'ah tidak sejalan dengan tujuan perkawinan yang diharapkan Alquran. Dalam hal ini, suatu pernikahan tentunya diharapkan langgeng, sehidup dan semati, bahkan sampai hari kiamat.


Kendati demikian, ia menyebut bahwa terdapat perbedaan pandangan antara ulama Sunni dan Syiah terkait nikah mut'ah ini. Dalih bahwa Umar bin Khattab lah yang melarang nikah mut'ah dijadikan pegangan oleh ulama Syiah untuk membolehkan nikah mut'ah. Sementara ulama Sunni melarang nikah mut'ah, namun tetap membedakannya dengan perzinahan. Akan tetapi, Quraish Shihab juga menyebut tidak sedikit ulama Syiah yang tidak menganjurkan mut'ah, karena dapat merugikan kaum wanita.


Di Indonesia, Dewan Pimpinan MUI sudah mengeluarkan fatwa terkait kawin kontrak Sejak 25 Oktober 1997 silam. Dalam fatwanya, MUI memutuskan bahwa nikah kontrak atau mut'ah hukumnya haram.


"Nah, kan. Aku sejak awal ragu hukum nikah kontrak ini. Tapi kata Gisel halal, soalnya pernikahan kami sah di mata agama dan hukum. Kami juga belum ngapa-ngapain. Ya kayak nikah, tapi ada perjanjian pra nikah. Semacam novel atau film Wedding Agreement. Kalau tuh film isinya mengajarkan yang haram, harusnya rame didemo kaum Islam dong."


"Nantilah aku tanya Abi dulu soal nikah kontrak ini. Siapa tahu beliau punya pandangan lain. Menurutku sih lebih baik kamu rujuk beneran aja. Nikah ulang. Aku lihat Gisel mulai sayang sama kamu, terbukti selama kamu sakit perhatiannya luar biasa, kan?"


Benarkah Gisel sudah mulai sayang denganku?


Tanpa terasa kami sudah tiba di Musala rumah sakit. Benar ya, sejauh apa pun jaraknya, jadi nggak berasa kalau ada teman mengobrol. Ditambah obrolan dengan Ammar menambah ilmu baru untukku.


"Nanti aku pikir-pikir, sekarang kita Salat Dhuha dulu sekalian minta petunjuk dari Allah."

__ADS_1


Kami berwudhu terlebih dahulu. Lalu masuk ke Musala.


***


Usai Salat Dhuha, rasanya adem banget hati ini. Mendadak perut keroncongan.


"Pesan Gofood enak kali ya. Bosen makan makanan rumah sakit. Mar, kau mau makan apa? Aku traktirlah," celetukku.


"Apa aja deh asal halal. Kamu sendiri mau makan apa?"


Aku geser-geser layar mencari menu yang enak. Seketika mengiler tatkala melihat foto Sop Buntut dan Soto Daging. Nama warunya Mbak Bohay. Pas banget Gisel makanan favoritnya Soto Daging.


"Aku pesen Sop Buntut dan Soto Daging aja ya? Jihan suka, kan?" 


"Setahuku sih Jihan suka semua makanan. Sip. Atur aja. Kalau dia nggak suka, nanti aku yang makan."


Kami kembali ke kamar. Ketika tiba di depan kamar, satpam rumah sakit menghampiri kami.


"Pak Sahrial Pratama bukan?"


Aku bingung. Seingetku nggak membuat keributan di rumah sakit ini, kenapa satpam nyamperin aku?


"Iya. Ada apa ya, Pak?"


"Ini tadi ada Kurir Gofood nganter makanan. Katanya buat Pak Sahrial Pratama. Saya tanya Mbak Kasir, katanya di Ruang Safa no. 5 ini."


"Oh iya, ini pesanan saya. Makasih, Pak."


***


Kami deg-degan menunggu hasil Swab PCR. Pintu kamar terbuka, pucuk dicinta ulam tiba. Dokter datang membawa amplop putih.


"Selamat untuk Bapak Sahrial, Pak Ammar, Bu Grizelle serta Bu Jihan, kalian semua sudah negatif dari Covid 19. Jadi kalian sudah boleh pulang. Baik, kalau begitu saya undur pamit dulu."


"Alhamdulillah." Ammar dan Jihan berpelukan.


Gisel merentangkan tangan ke atas. "Horeeee … akhirnya gue terbebas dari beban."

__ADS_1


"Pak, Bu, mari ikut saya menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit terlebih dahulu."


Aku dan Ammar yang keluar untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit. Sedangkan para istri, bantu beres-beres barang dibawa pulang.


__ADS_2