Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter VI (Grizelle Prameswari)


__ADS_3

Apa itu malam pertama? Bagi gue nggak berlaku namanya malam pertama. Kini mata gue fokus terpaku layar laptop. Waw, ada 99 penulis mengajukan penarikan pembayaran di dashbord AT Menulis.


"Malam pertama kita enaknya ngapain ya? Sahrial memancing. Jari gue berhenti sejenak menggerakkan kursor laptop. 


Pandangan gue beralih ke Sahrial. "Menurut lo? Ya kerjalah. Kita dah cuti nikahan 3 hari. Nih, banyak banget author ngajuin pembayaran. Kalau lama acc ntar mereka misuh-misuh di status. Udah bantuin gue napa, approval penarikan mereka."


"Dih, nggak asyik kau. Jadi kita nggak ada honeymoon gitu? Ke Bali misalnya."


Gue mengelus dada mendengar kebawelan Sahrial. "Denger ya, gue ngajak lu nikah itu buat bantuin karier gue bukan liburan."


"Sekali-kali liburan nggak apa kali. Anak AT Family juga tau kok kita manten baru. Biar lebih real aja pernikahan kita dan kayak orang-orang abis nikahan honeymoon."


Gue berpikir sejenak, apa yang dikatakan Sahrial ada benarnya juga. Agar lebih real pernikahannya. Namun, sepertinya atm gue nggak mendukung. Sudah terkuras banyak dana buat pernikahan kontrak ini.


"Pan kapan deh."


Ting! 


Muncul notifikasi surel. Dari Bu Nazneen. Dahi gue mengernyit melihat e-ticket ke Bali. Firasat mengatakan itu tiket disuruh meeting kerjasama ke Bali. Dengar-dengar di Bali ada platform menulis baru. Pemiliknya orang Singapura.


Drrrt … Drrrrt


I-phone gue bergetar. Layarnya Bu Nazneen memanggil di Whatsapp. Gue geser ke atas tanda menerima panggilan.


"Hallo, Bu Nazneen."


"Hallo juga. Maaf nih saya ganggu malam pertama kalian. Cuma mau nanya e-ticket yang saya kirim ke email sudah sampai?"


"Sudah. Lima menit lalu. Itu tiket buat meeting kerja sama di Bali ya?"


"Kok meeting? Ya itu tiket buat kamu honeymoon sama Sahrial lah."


"Hah? Serius, Bu?"


"Iya. Kapan saya bohong? Anggep aja itu bonus karena kamu dalam setahun berhasil menggoalkan kerjasama aplikasi AT Menulis dengan platform dari Beijing dan Hongkong."


"Ah, terima kasih banyak, Bu."


"Masama."


Klik. Sambungan telepon terputus. 


"Gimana … gimana? Apa kata Bu Nazneen?" tanya Sahrial antusias. Rupanya Sahrial sedari tadi menguping pembicaraan kami.


"Katanya …" Gue bernapas sejenak. Sekalian sengaja bikin Sahrial makin penasaran. "Itu tiket buat kita honeymoon ke Bali."


"Horeee … jadi honeymoon."


***


"Iallll bantuin angkat galon dong. Berat nih."


Sahrial mengacak-ngacak rambutnya yang keriting di belakang. "Aduh, ngapain sih capek-capek angkat galon segala. Kan, ada si Mbok."


"Mbok kan cewek. Lu sebagai cowok bantuin kek. Biar status lu jadi suami guna dikit."


Terjadilah percekcokan sengit. Mbok bingung melihat kami.


"Udah, jangan berantem. Biar Mbok aja. Mbok masih kuat kok angkat galon beginian doang. Udah biasa juga."


Mata gue melotot. "Nggak, Mbok. Yang angkat galon mesti dia!" Jari telunjuk gue ke arah Sahrial. "Eh, lu lupa perjanjian kontrak kita? Mau bayar denda ke gue?"

__ADS_1


"Iya, iya, gue kerjain," ujar Sahrial pasrah.


***


Gue sama Sahrial joging mengitari kompleks. Oh iya, gue tinggal di kompleks Green Hills. 


Mata gue menangkap sosok nggak asing. "Eh, itu Jihan sama lakinya bukan sih?"


"Mana … mana?" Sahrial celangak celinguk.


"Itu loh depan rumah no. 7A."


"Eh iya deh keknya. Kita samperin yuk."


Gue pun melangkah menghampiri Jihan beserta suaminya.


"Hai, Jihan. Lu tinggal di sini? Kok sebelum-sebelumnya nggak pernah liat lu ya?"


Jihan tersenyum. Tangannya masih sibuk menggunting tanaman. "Iya, kami baru pindahan kemarin. Abis dibeliin mertua rumah ini."


Gue beroh ria. 


"Kalian sendiri tinggal di sini juga?" sahut suami Jihan.


"Iya, kami tinggal di nomor 12 B. Yang di ujung sana." Sahrial menunjuk rumah kami. 


"Kalian kan manten baru, nggak honeymoon?" 


Wah, bahaya. Mulai kepo nih tetangga baru. "Rencananya mau ke Bali tiga hari lagi."


"Sama dong kami juga rencana mau honeymoon ke Bali. Tapi waktunya belum dijadwalkan. Gimana kalau kita bareng aja?" ajak Jihan.


Gue agak enggan honeymoon malah ada orang lain. 


Kenapa dia yang semangat?


Nggak sengaja tatapan gue dan tatapan suami Jihan bertemu. Dia memandangi gue dari ujung kaki ke ujung kepala. Sekilas kayak tatapan mesum. Mendadak risih dipandangi seperti itu.


"Kami mau lanjut joging dulu ya sekalian cari makan laper."


"Mari silakan."


Kami berlalu dari rumah Jihan.


***


Capek mengitari komplek Green Hills, gue sama Sahrial mampir di warung bubur ayam dulu.


"Eh, kau tadi perhatiin lakinya Jihan nggak?"


"Iya, kenapa?"


"Aku kok nggak suka ya, dia kayak menatap kau dengan tatapan mesum."


Ternyata bukan cuma gue aja yang ngerasa gitu. "Cemburu yaaaa," goda gue.


Wajah Sahrial memerah. "Apaan sih. Ya nggak lah. Ngapain juga cembokur sama kau."


"Ya kali aja."


Pesanan kami datang. Sahrial sibuk mengaduk buburnya. Ternyata dia tim bubur diaduk. Gue bergidik geli. "Dih, jijik pake diaduk. Macam muntahan kucing."

__ADS_1


"Eh, enak tau. Bumbunya merata. Mau cobain?"


"Ogah. Nggak suka gelay."


Akan tetapi, Sahrial pantang menyerah. Dia justru menyodorkan sendok yang berisi bubur ke mulut. "Cobain dulu. Aaaa."


Dengan sigap gue menyingkirkan tangan Sahrial. Sendok itu jatuh ke tanah. "Apaan sih lu maksa-maksa. Gue bilang nggak mau ya nggak mau."


Akhirnya nggak mood makan lagi. Gue meninggalkan Sahrial di tukang bubur.


***


Sahrial lagi mandi. Nggak sengaja gue melihat HP-nya tergeletak di kasur. Mendadak gue jadi kepo sama isi HP Sahrial. Gue ambil HP itu. Seketika melotot. 


Kontak WA-nya penuh nomor cewek. Macam asrama puteri. Belum lagi Instagramnya, dia chat gombalin ke banyak cewek. Gue iseng baca beberapa chatnya.


Assalamualaikum, Ukhty. Izin bertanya, tipe suami idamanmu gimana ya? Biar saya memantaskan diri untuk jadi jodohmu.


Astaga, bisa-bisanya dia cosplay Rey Mbayang. Sialnya, beberapa cewek mau ladenin chatnya. Seketika perut gue mulas membaca chat mereka. Setika mengakak ketika baca balasan Salmah.


Salmah: Waalaikumsalam, Akhi. Tipe suami idaman saya cukup yang punya mobil, rumah dan lulusan S2 Mesir ajalah.


Syukurin. Ditolak mentah-mentah!


"Ialllll!" teriak gue murka.


Sahrial keluar dari kamar mandi dengan masih andukan. Rambutnya basah. "Apa sih teriak-teriak?"


"Ini apa maksudnya?" Gue mengacungkan HP-nya. "WA udah kayak asrama putri, terus Instagram penuh chat gombalan ke banyak cewek. Lu lupa pasal pernikahan kontrak kita?"


"Ya elah, itu kan chat sebelum kita nikah. Wajar kali. Gue masih single. Lagian itu cuma hiburan dunia maya biar nggak suntuk."


Huh, dasar cowok. Bisa-bisanya ngegombalin banyak cewek dibilang hiburan dunia maya. Beruntung selama single nggak pernah baper sama cowok macam Sahrial.


"Gimana kalau ada yang baper sama lu? Terus dia patah hati dan beberin aib lu yang ghosting dia ke akun Lambe Turah? Atau lebih parah lagi dia bunub diri?"


"Astaga, pikiran kau jauh amat. Kau tenang saja, aku nggak akan macam-macam. Dan aku tetap menghargai pernikahan kita ini."


"Bener nggak nih?" Gue menatap tajam mata Sahrial yang kayak matanya Ojan Sketsa.


"Iya, astaga, ini betina nggak percayaan amat."


Sebenarnya gue nggak gitu percaya ucapan Sahrial. Percaya hanya pada Allah. Namun, moga saja benar.


Gue melempar bantal ke Sahrial. "Enak aja gue dikata betina, emang gue hewan?"


Ting!


Muncul WA dari Jihan.


Mbak Gisel, kamu berangkat honeymoon ke Bali yang jam berapa ya? Aku mau pesen tiket juga nih. Biar kita bareng berangkatnya.


Raut wajah gue berubah muram begitu baca chat Jihan. Sahrial peka akan hal itu.


"Kenapa lagi?"


"Jihan ngechat, dia tanya jam keberangkatan kita ke Bali. Dia mau bareng. Malesin banget nggak sih ada orang lain dalam liburan kita?"


"Iya sih. Tapi mau gimana? Nggak enak nolak. Paling kalau mereka kepo dan ganggu privasi honeymoon, kita tinggal pindah hotel aja."


Karena Sahrial sudah berkata demikian, gue okein ajalah permintaan Jihan. 

__ADS_1


Pesawat kami yang jam 11.45 WIB.


Semoga keputusan ini tepat. Mereka nggak rusuhin liburan gue sama Sahrial. Kalau sampai rusuh, kelar hidup Jihan. Kalau perlu, gue musuhin dia sampai 7 turunan.


__ADS_2