Takut Menjanda

Takut Menjanda
Babak II: Masa Lalu Sahrial Chapter XXIX: (Sahrial Pratama)


__ADS_3

"Abang Rial. Temui aku di tempat kita pertama kencan ya. Penting banget."


Gue senyum-senyum sendiri membaca chat WA dari Helen Amelia. Gadis yang gue pacari sejak 4 atau 5 tahun lalu. Gue lupa tanggal jadiannya. Yang pasti, gue nembak dia semester awal.


Banyak teman-teman gue nyeletuk, "itu pacaran atau kredit motor? Lama amat. Sampai lima tahun."


Buat kalian yang julitin gue, tenang tahun ini juga bakal gue kirimin undangan. Yup, gue emang bertekad melamar Helen tahun ini. Selain ingin membelikan sesuatu buat Mamak dan Sahrani, kalau menang TAT season 2, hadiahnya sekalian gue beliin cincin dan syukuran tunangan kecil-kecilan. Gue berharap hadiahnya cukup untuk mencapai semua keinginan gue.


Buru-buru gue ganti baju. Gue sempat bingung memakai baju apa ya? Akhirnya pilihan gue tertuju ke kemeja kotak-kotak warna merah marun. Baju ini pemberian Helen juga waktu gue ulang tahun ke 23. Dia pasti senang pemberiannya masih gue pakai sampai sekarang.


Sebelum pergi, nggak lupa gue memakai minyak rambut dulu biar rapi. Setelah wajah gue terlihat ganteng di cermin, gue keluar kamar. Perpapasan sama Sahrani.


"Widih, rapi bener, Bang. Mau ke mana? Ngedate sama Kak Helen ya? Aku ikut dong."


"Idih, ogah. Nanti kau ganggu kami pacaran. Lagipula kau nanti bete gara-gara jadi obat nyamuk."


Sahrani memanyunkan bibir. "Ih, Abang Rial jahat. Mentang-mentang aku masih jomlo."


"Makanya buruan punya pacar. Baru gue ajakin ikut. Biar kita double date."


"Aku aduin ke Mamak loh."


"Aduin aja. Mamak kan udah merestui aku sama Helen."


Seketika gue teringat obrolan pertama kali setelah gue mengenalkan Helen ke Mamak.


"Lu suka ya sama gadis itu?"


Gue tersipu malu. "Kok Mamak tau sih?"


"Ya taulah. Kan Mamak yang ngelahirin lu. Mata lu itu beda ketika natap dia. Terpancar jelas warna cinta di mata lu."


"Mamak merestui nggak aku sama dia?"


"Rial, dengerin Mamak ya. Mamak itu pengennya lu jodoh sama gadis Batak saja. Lu kan tau Batak sama Minang itu sama-sama kuat di adat. Batak menganut patrilineal sedangkan Minang menganut matrilineal. Ribet kalau bersatu. Mesti melakukan prosesi beli marga dulu. Belum lagi Batak dan Minang karakternya sama-sama dominan. Nggak baik kalau berumah tangga sama-sama kuat. Namun, kalau Rial yakin mampu mengalahkan semua itu, ya Mamak bisa apa? Selain merestui. Mamak cuma ingin lu bahagia. Lagipula Helen orangnya baik, sopan, lembut, jago masak kesukaan lu pula. Ingat lu juga harus siap-siap patah hati menghadapi jika pihak keluarga Helen nggak merestui hubungan kalian."


Mamak ceramah panjang kali tinggi kali lebar. Namun, hati gue yakin cinta gue ke Helen bisa mengalahkan segalanya. Maka dari itu gue tetap menyatakan cinta ke Helen.


Gue celingak-celinguk mencari Mamak.


"Mamak mana, Ran?"


"Nengok sawah atau kebon kali."


"Oh. Ya sudah, nanti kalau Mamak nanyain aku, bilang aja kencan sama Helen."


"Oke, siap. Imbalannya bawain makanan ya."


Helen itu orang Pekanbaru. Nggak tau kenapa Mamak langsung suka dengan dia pertama kali gue kenalin. Mungkib karena Helen gadis berjilbab dan sopan ke orang tua.

__ADS_1


Gue pun pergi meninggalkan Sahrani.


***


Tempat pertama gue kencan sama Helen itu di bukit Simarsayang Padangsidimpuan. Bukit ini memiliki kemiringan mencapai 45 derajat yang berada di wilayah Batang Ayumi Julu dan bisa dilalui dari Sitataring.


Dari sini kita bisa melihat keindahan pemandangan kota Padangsidimpuan seperti cekungan menyerupai danau. Ada wahana sepeda gantung dan ditambah gratis pula. Nggak heran menjadi tempat favorit orang pacaran.


Dari kejauhan gue melihat Helen berdiri di dekat sport foto hiasan I Love U. Gue pun berjalan menghampirinya.


"Hello, Sayang. Udah lama nunggu di sini?" sapa gue ketika berada di dekatnya.


"Aku juga baru nyampe kok."


"Ada apa ngajakin ketemu? Udah kangen ya. Aku juga kangen banget sama kau."


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."


"Apa?"


"Tapi janji ya, Abang Rial jangan marah, kecewa, apalagi ngelakuin aneh-aneh."


"Iya, janji."


"Hmmm ... anu." Helen terlihat gugup. Mungkin hatinya bimbang mengatakan hal sebenarnya. "Aku ingin hubungan kita cukup sampai di sini."


"Apa? Aku nggak salah denger, kan? Aku ada salah ya sama kau?"


Gue menggenggam jemari Helen sembari menatap matanya. "Helen, tatap mata saya."


"Itu kan kalimat andalan Ojan Sketsa. Jangan mentang-mentang mirip Ojan, bisa seenaknya nyomot. Itu ada hak ciptanya tau."


"Apa aku harus jadi kayak Andhika Kangen Band dulu make narkoba biar kau nggak ninggalin aku?"


"Jangan gitu juga. Abang Rial berhak mendapatkan wanita lebih baik dariku."


"Jawab jujur deh, sebenarnya ada lelaki lain kan yang membikin kau mutusin aku?"


Helen hanya diam. Nggak lama kemudian dia menangis. "Iya, Mama menjodohkanku dengan pria Pekanbaru, kata Mamak pacarku tak kunjung memberi kepastian."


"Bilang ke Mamak kau, tahun ini juga aku akan melamarmu."


"Mama sudah nggak sabar punya mantu. Apalagi cowok yang dijodohkan denganku, akan melamar resmi bulan depan. Kalau Abang Rial tak mau kehilanganku, datanglah ke rumahku di Pekanbaru sebelum lelaki itu datang melamar resmi."


"Sekiranya itu aja yang bisa aku sampaikan. Maaf udah menyakiti hati Abang Rial. Kita memang tidak ditakdirkan bersama. Aku mohon pamit dulu. Takut dicari Mama."


Helen meninggalkan gue seorang diri dengan serpihan hati yang berserakan. Andai adegan sinetron orang yang patah hati langsung diguyur hujan. Realitanya sekarang panas. Langit kok nggak peka sih sama perasaan gue? Mendung sedikit, kek!


***

__ADS_1


Sejak Helen memutuskan hubungan sama gue, gue itu mengurung diri di kamar. Entah sudah berapa hari. Bawaannya pengin memeluk guling doang. Naskah TAT season 2 pun nggak gue peduliin lagi. Padahal tinggal 5 halaman doang. Gue ikut lomba itu biar hadiahnya bisa belikam cincin tunangan buat Helen, jika semangat gue sudah hilang untuk apa diteruskan?


"Rani, Abang lu itu ke mana? Sudah dua hari gue nggak liat batang idungnya."


"Pasca kencan terakhir sama Helen, dia ngurung diri di kamar, Mak. Mungkin diputusin Helen."


Terdengar obrolam Mamak gue sama Rani. Orang Batak pasti bingung, kenapa bahasa sehari-hari Mamak memakai logat Jakarta. Padahal beliau Rohana Rambe. Gue-lu. Itu karena beliau lahir dan besar di Jakarta.


Dulu Nenek gue itu ngebet pindah ke Jakarta biar gampang ketemu idolanya, Rano Karno. Sekalian biar dapat menantu orang Jakarta. Eh, taunya jodoh Mamak gue orang Batak juga. Marga Harahap.


Gue juga lahir di Jakarta. Cuma pas masuk TK tepatnya trategi 98, Ayak di PHK. Kami sekeluarga pulang kampung. Jadilah sampai sekarang Ayak mengelola sawah dan kebun warisan Kakek.


Tok ... tok ... tok


"Rial, lu masih napas, kan?"


"Masih, Mak."


"Kalau gitu bukalah pintunya. Kalau nggak mau buka, Mamak dobrak nih."


Terpaksa gue buka pintu. Seketika Mamak melotot. "Astaga, lu apa-apaan. Ngenes banget penampilan lu. Udah mata panda, sembab, rambut acak-acakan, bau pula. Nggak mandi dua hari ya? Lu patah hati gini banget sih."


"Abis gimana Mak hatiku sakit banget. Bawaannya males ngapa-ngapain."


Mamak geleng-geleng kepala. "Bukan gitu cara ngadepin patah hati. Harusnua lu makin giat biar sukses. Percaya kalau lu sukses, Helen bakal nyesel nyia-nyiain lu."


"Boro-boro sukses, dapat kerjaan aja nggak."


"Makanya lu lebih giat lagi ngelamar kerjaan."


"Udah kirim CV dan ijazah ke kantor-kantor, belum ada panggilan interview."


"Ya sudah, kalau gitu sementara lu ngurus sawah dan kebun Ayak lu dulu."


Ayak itu adalah bahasa Medannya 'Bapak'. Bapakku lagi di luar kota menjual hasil kebun kata Mamak gitu.


"Mamak kan tau aku nggak minat jadi petani dan berkebun."


"Kalau nggak minat, kenapa ambil jurusan Pertanian."


"Itu kan karena kemauan Ayak. Kalau Ayak sudah bersabda, aku bisa apa?"


"Ya sudah, lah terserah lu aja. Gue doain biar lu cepet dapat kerja jadi semangat gue. Nggak enak banget liat lu dekil gini. Mandi sana. Terus kita makan malam."


Gue tertunduk lesu. "Iya, Mak."


 


Patrilineal \= ada marga yang wajib kudu harus mesti diwariskan turun temurun dari pihak Ayah.

__ADS_1


Matrilineal \= ada marga yang wajib kudu harus mesti diwariskan turun temurun dari pihak Ibu.


__ADS_2