Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XIII (Grizelle Prameswari)


__ADS_3

Chapter XII 


(Grizelle Prameswari)


Glek!


Gue menelan ludah tatkala melihat layar laptop. Baru ditinggal ke Bali dua hari saja naskah yang masuk total 77. Hoaaaam. Bakal lembur ini.


Gue baca satu-satu sinopsisnya terlebih dahulu. Dimulai dari paling bawah. Nama pena penulisnya Ariny NH.


Sinopsis;


Naura Khairunnisa tak terima diceraikan Agusta Wimala tanpa alasan yang jelas. Dia mencari cara untuk balas dendam dan menghancurkan hidup pria itu. Ada tiga cara yang tebersit di pikirannya.


Satu, menggunakan kelemahan si pria. Dua, mencari pengganti yang lebih bobrok dari mantan suaminya. Kata orang penghinaan terbesar pria adalah ketika melihat mantannya memiliki kekasih baru yang standar jauh di bawahnya. Ketiga, jalur ekstrem lewat menyakiti keluarganya.


Namun, ternyata semua usahanya berakhir apes. Ada satu kejadian yang menyadarkan Naura bahwa cinta sanggup mengalahkan dendam. 


Gue tercenung. Idenya menarik juga. Bisa sekalian gue gunakan untuk balas dendam ke Sahrial atau Ammar. Tangan gue menggerakkan kursor. Klik, approval terhadap sinopsis tersebut. 


Ting!


Muncul notifikasi WA dari grup AT Family. Bu Nazneen yang kirim chat.


Genk, abis makan ngumpul di ruang meeting ya.


Jantung gue berdegup kencang. Jelas ini bukan cinta. Bu Nazneen itu jarang banget ke kantor AT Press ini. Soalnya bisnis lainnya bejibun. Nah, biasanya kalau ke kantor tiap akhir bulan, meeting bulanan, ada drama atau memberitahu pemberhentian karyawan. Pertanyaan gue adalah baru tanggal 11 Februari kenapa Bu Nazneen kenapa mengajak meeting? Apa ada karyawan yang dipecat? Jangan-jangan gue? Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran gue yang menyebabkan mual. Moga jangan.


***


Seluruh karyawan sudah berkumpul di ruang meeting. Nah, gue duduk di sebelah Bu Nazneen. Semakin deg-degan gue.


"Terima kasih atas kehadiran kalian di ruang meeting ini." Bu Nazneen membuka meeting. "Langsung saja saya ingin menyampaikan, seperti yang kalian tahu bahwa Sahrial Pratama sudah resign dari AT Press. Maka dari itu dalam rapat kali ini ingin mengangkat salah satu dari kalian untuk naik jabatan menggantikan posisi yang dipegang oleh Sahrial. Kira-kira siapa yang berniat mengajukan diri menjadi pemimpin redaksi AT Press?"


Gue bernapas lega. Ternyata bukan pemecatan. Semua terdiam. Nggak ada satu pun yang angkat tangan atau bersuara.


"Kok pada diem? Nggak ada yang mau naik jabatan? Enak loh di posisi pemred, gajinya gede."


Pandangan Bu Nazneen ke arah Sukma, Wardah dan Helen. "Hey, Sukma, Wardah, dan Helen, kalian bertiga nggak mau maju jadi pemred? Kan kalian sudah lama di AT. Sudah saatnya kalian naik jabatan."


"Duh, gimana ya Bu, jadi pemred itu tanggung jawabnya berat. Saya sadar kemampuan saya belum sampai ke sana. Takut mengecewakan Bu Nazneen," tutur Wardah sopan.


"Saya sependapat sama Mbak Wardah," susul Sukma dan Helen secara bersamaan.


"Kalau kamu gimana Grizelle? Mau jadi pemred?"

__ADS_1


Deg!


Nama gue disebut Bu Nazneen jadi tambah grogi. "Kok saya, Bu? Kan saya sudah jadi manager keuangan serta editor akuisisi platform AT Menulis."


"Loh, emang kenapa merangkap pemred juga? Kan enak, gajinya double."


Mendengar kata 'gaji double' mata gue berbinar. Namun, gue mau jual mahal dulu. "Saya boleh minta waktu berpikir dulu?"


"Silakan. Ditunggu jawaban dari kamu. Andai kamu tidak berkenan jadi pemred, terpaksa buka lowongan. Cuma sayang aja posisi pemred diisi sama orang baru. Padahal lebih baik jika kalian yang mengisi, orang yang sudah jelas tepercaya. Segitu aja meeting hari ini. Sampai jumpa di lain waktu."


Meeting pun dibubarkan. Satu per satu pada keluar dari ruangan. Tersisa gue. Gue masih sibuk memikirkan tawaran Bu Nazneen. Terima nggak ya?


***


"Eh, kasian banget ya Bu Gisel baru beberapa minggu nikah udah jadi janda aja," ujar Helen.


"Iya, harusnya dia bersyukur ya dapat Pak Sahrial. Karena selama di AT Press walau dia rese, galak, judes, suka ngasih deadline nggak ngotak, tapi kan dia agamanya bagus. Salat selalu tepat waktu, rajin puasa senin kamis, tampang nggak jelek-jelek amat, isi rekening udah jelas lah tiap bulan ada penghasilan. Kurang apa coba?"


"Kayaknya salahnya ada di Bu Gisel deh. Mungkin dia wanita karier, visioner, suka ngatur-ngatur ini itu. Nah, selama aku sama Sahrial bersama, Sahrial emang nggak suka diatur-atur sih. Ego lelaki emang gitu settingannya."


Jadi Helen mantannya Sahrial? Hmmm … baru tahu gue. Pertanyaannya kenapa mereka bisa bubaran? Gue harus cari tahu lebih detail.


"Udah, nggak baik loh gibahin pimpinan sendiri." Sukma muncul menasehati semua karyawan AT.


Baru pulang makan siang. Sudah mendengar gibahan nggak enak. Andai mereka tahu bobroknya Sahrial yang sebenarnya.


Mereka menoleh. Lalu mendadak semua terdiam dan menunduk malu. "Maaf, Bu. Kami permisi dulu."


***


Pulang dari kantor, nggak sengaja lewat Malioboro. Nggak tau kenapa pengen aja belikan daster bumil untuk Jihan. Imbalan selama ini mau bantuin gue. 


Gue memarkirkan motor dan mulai masuk ke kios daster. Oh iya, PKL Malioboro sekarang sudah jauh lebih tertata. Jadi nggak berdesakan lagi. Enak banget milih-milihnya.


Ketika gue sibuk milih-milih daster …


"Loh, ini Mbak Gisel istrinya Sahrial kan? Apa kabar?" 


Gue menoleh. Ternyata Ragiel. Teman kos Sahrial dulu. Jadi suami Sukma. "Alhamdulillah, baik."


"Belanja daster bumil ya? Sahrialnya mana?"


S**t. Orang Indonesia kenapa hobi banget kepo sih? Gue menyunggingkan senyum terpaksa. "Hmmm … saya sudah cerai dari Sahrial."


"What? Secepat itu? Why?"

__ADS_1


"Panjang ceritanya. Nggak cukup dibicarakan di sini, bo. Cukupnya jadi novel. Kenapa nggak tanya langsung ke Sahrial aja?" Gue balik bertanya ke Ragiel. 


"Sejak menikah sama Sukma, Sahrial sudah jarang banget menghubungi saya. Bahkan dia nikah pun saya nggak diundang. Mungkin dia malu karena pernah mau merebut Sukma dari saya."


"Kamu sendiri kenapa sendiri sendirian ke sini? Kok nggak ngajak Sukma? Kan, Sukma sudah pulang dari tadi loh." Gue mengalihkan pembicaraan biar nggak bahas Sahrial terus Bosan.


"Dia lagi kecapekan. Nah, dia minta saya belikan makanan bakpia kukus. Eh, udah pada habis. Nggak tau kenapa malah nyasar ke sini. Pas banget dia WA lagi katanya bakpia kukusnya ganti sama daster busui aja."


Ckckck jauh banget dari bakpia kukus menjadi daster busui. Dasar cewek. Yang gue tahu Sukma memang habis melahirkan. Anaknya sekitar usia tiga bulanan. "Oh gitu. Seru dong ya punya bayi. Kapan-kapan saya mampir ya nengokin anak kalian."


Dipikir-pikir Sukma dan Ragiel adalah orang yang pernah sangat mengenal Sahrial. Siapa tahu dengan main ke sana, gue bisa mengorek info tentang Sahrial.


"Boleh banget, Mbak. Oh ya udah, saya pamit pulang dulu. Sudah ditunggu Sukma. Moga cepet selesai masalahnya ya."


"Salam buat Sukma ya."


Dia pun berlalu, gue bernapas lega. Gue rasa sudah menemukan daster yang cocok. Pilihan gue daster warna Ungu dengan corak batik dan rendanya. Langsung gue bayar, nggak mau berlama-lama di sini. Takut ada yang mengenali gue lagi.


Gengsi aja sih kalau teman-teman apalagi karyawan AT tahu bahwa gue belanjanya di Malioboro. Entar mereka julit, "Big Bos gayanya doang selangit, eh belanjanya sama kayak kita juga di Malioboro. Ngejar disconan dan harga murah juga tuh."


Sebelum gue ke rumah Jihan, gue telepon dulu orangnya.


"Hallo, Ji. Gue rumah lo ya."


"Yah, lagi nggak ada di rumah, Mbak. Lagi di rumah Mama."


"Ya udah, aku ke sana. Sherloc ya."


***


Kebetulan sekali Jihan ada di teras rumah mamanya sambil menyiram tanaman. Gue menghentikan laju mobil.


"Assamulaikum, Jihan."


"Eh, Mbak Gisel. Baru pulang kerja?"


"Iya nih. Oh ya, ini tadi nggak sengaja mampir ke Malioboro, eh terus kepengen beliin lu daster bumil." Gue menyerahkan kantong plastik ke Jihan.


Jihan mengintip plastik yang gue kasih. "Makasih banyak loh. Pake repot beliin daster segala."


"Nggak repot kok. Anggep aja ucapan terima kasih karena lu udah nemenin gue di masa terpuruk selama di Bali kemarin." Gue celingak-celinguk mencari sosok Ammar.


"Nyari Mas Ammar ya? Pasti mau ngajakin gibah kan?" tanya Jihan peka.


"Hehehe. Tau aja," jawab gue cengengesan.

__ADS_1


"Ya udah, masuk dulu yuk. Biar enak ngobrolnya."


Gue mengikuti langkah Jihan masuk ke rumahnya. Sekalian lihat bagian dalam rumah Jihan.


__ADS_2