Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XXVIII (Sahrial Pratama)


__ADS_3

2017


Sebagai pengangguran, hal paling berfaedah mengisi bosan di mata aku adalah mengikuti lomba menulis yang bertebaran di sosial media. Yup, aku emang hobi menulis sejak dulu. Namun, baru aku seriusin belajar menulis setelah lulus kuliah.


Sudah banyak lomba menulis yang aku ikutin. Mulai dari lomba cerpen, puisi, fiksi mini, flash true story sampai novelet. Nah, hari ini rencananya aku mau berburu lomba menulis novel. Hitung-hitung mengasah kemampuan.


Aku mencoba buka facebook dulu. Siapa tau ada penerbit mayor atau indie membagikan pengumuman lomba menulis novel.


Di postingan teratas facebook gue ada status dari Nazneen Faiha. Dia owner penerbit indie, Arsha Teen.


Pendaftaran TAT (Tantangan Arsha Teen) season 2 kembali dibuka.


Aturan main sebagai berikut :




Peserta mengirimkan sampel naskah (bisa berupa cerpen atau cuplikan bab 1 novelnya) ke email arsha.teen2014@gmail.com




7 peserta terpilih akan dikirimi outline naskah dari Arsha Teen. Peserta dilarang protes.




Peserta hanya diberi waktu 1 bulan untuk mengerjakan outline dari kami.




Jika peserta mengirimkan naskah lewat dari deadline, maka dikenakan denda sebesar dua juta rupiah.




Peserta tidak diperbolehkan mundur ketika sudah dikirimkan outline. Jika nekat mundur, maka peserta wajib menyerahkan denda sebesar satu juta rupiah.




1 naskah terbaik mendapatkan uang tunai Rp. 2.000.000,- rupiah.




Regards,


Nazneen Faiha.


CEO Arsha Teen.


Aku baca informasi lomba tersebut dengan melongo sambil menelan ludah berkali-kali. Buset, ini lomba menulis atau uji nyali? Horor banget.


Aku mendadak teringat sesuatu. Kata Emak, "lelaki itu ditakdirkan untuk nggak cepat menyerah." Maka dari itu detik ini juga gue bertekad ikut TAT season 2. Hitung-hitung aku mengasah kemampuan menulis sekaligus belajar disiplin. Selama ini novel nggak pernah kelar gara-gara malas dan badmood. Siapa tahu denda selangit ampuh mengusir dua hal itu.


Satu lagi yang membikin aku semangat ikut TAT season 2, hadiahnya lumayan membelikan sesuatu buat Mama. Selama hidup, aku belum pernah memberikan sesuatu ke beliau.

__ADS_1


***


Mataku yang tadinya masih mengantuk gara-gara baru bangun tidur, mendadak melek saat lihat email dari owner Arsha Teen.


Di badan email tertulis, "Hello, Sahrial. Selamat kamu terpilih menjadi 7 peserta TAT season 2. Berikut outline naskah yang harus kamu eksekusi sebaik mungkin. Boleh nambahin konflik, asal nggak terlalu melenceng dari outline. Panjang naskah minimal 60 halaman dan maximal 80 hal. Deadline satu bulan dari sekarang. Jika ada yang belum dimengerti silakan hubungi WA-ku 085654910277. Regards, Nazneen Faihan."


Lebih membikin melek lagi ketika gue baca isi outline-nya.


Outline buat Sahrial


Novel anak. Genre fantasy, dongeng.


Cukup 60 halaman aja


Bab 1


-Anak laki-laki usia 8 tahun (nama dan karakter fisik terserah kamu aja) dia itu super bandel dan maniak game online. Mamanya sendiri sampe pusing ngurus dia.


-Teman si anak laki-laki dating ke rumah, dia nunjukin koleksi game terbarunya. Si anak laki-laki itu tertarik,terus install game itu. Pas mau main game itu, tiba-tiba si anak terlempar ke dunia lain. Dunia game yang ia mainkan.


Bab 2


-Di tengah kebingungan sedang berada dimana, si anak laki2 meliat putrid dalam penjara, putri itu memohon pada si anak laki2 untuk membebaskannya.


-Penjaga kerajaan datang, mereka mengira anak laki-laki itu penyesup alias orang jahat. Dia dibawa ke hadapan raja.


Bab 3


Raja dan ratu kebetulan nggak bisapunya anak, tertarik samasi anak laki2. Mereka berniat menjadikan anak itu sebagai anak angkat mereka. Jadi anak raja? Siapa yangmenolaknya.


-Anak laki-laki diperlakukan secara istimewa


Bab 4


Bab 5


-Anak laki-laki mencari cara agar bisa keluar dari kerajaan ini.


Bab 6


Ending terserah kamu aja, yang penting pesan moral dapet.


Aku disuruh nulis novel anak? Hello, plis deh. Boro-boro punya anak aja belum. Namun, lagi-lagi teringat kata Emak, "Lelaki itu nggak ditakdirkan untuk cepat menyerah."


Alhasil, semangatku kembali muncul. Dengan menyebut nama Allah, mulai besok aku eksekusi outline.


***


Dalam perencanaanku, satu hari satu bab biar ada waktu mengendapkan naskah dan self editin. Nyatanya, realita memang nggak sesuai ekspetasi.


Minggu pertama aku mager. "Ah, deadline masih lama."


Minggu kedua aku masih melongo. Bingung eksekusi outlinenya jadi kayak gimana. Nah, minggu ketiga baru deh kebut kelarin naskah 60 halaman. 1 hari 10 halaman.


Aslinya aku mengerjakannya ngaco. Nggak yakin menang. Kelar terhindar dari denda aja udah syukur alhamdulillah. Menang itu bonus. Namun, kalau emang rezeki menang aku punya nazar membelikan sesuatu ke Mamak. Seumur hidup gue nggak pernah belikan apa-apa ke beliau. Aku merasa seperti anak durhaka nggak pernah balas jasa beliau.


"Abang Rial, kata Emak makan malam udah siap!" Terdengar teriakan cempreng dari luar kamar.


Orang yang teriak itu adalah Sahrani. Adekku satu-satunya. Aku terlahir hanya dua bersaudara.


"Iya, bentar. Nanggung nih kerjaanku."


Perutku sebenarnya sudah keroncongan. Cacing-cacing di dalamnya pada demo minta diisi. Demi deadline 1 hari 10 halaman aku pun mengabaikannya.


Pintu tiba-tiba terbuka. Sahrani kujuk-kujuk masuk ke kamar dan duduk di sebelahku.

__ADS_1


"Bang, kau kerja apa sih? Tumben banget dipanggil makan nggak langsung nyamperin."


"Ini, aku lagi ngerjain naskah lomba novel keren. Deadline seminggu lagi."


"Sejak kapan kau bisa nulis novel? Kau kan sarjana pertanian."


"Yeee ... ngeremehin nih bocah. Gini ya namanya jadi penulis tuh nggak ditentuin dari jebolan sarjana mana. Yang terpenting adalah kerja keras dan mau belajar. Ilmu teknik menulis novel pun sudah bertebaran di Google dan sosial media."


Sahrani sebenarnya sudah berumur 20 tahun. Menginjak bangku perkuliahan. Namun, aku dan keluarga selalu menganggap dia seperti bocah bayi baru lahir. Selain itu, kelakuannya yang super manja, kekanakan, dan suka mengintil gke mana pun aku atau Mamak pergi.


Sahrani manggut-manggut mendengar penjelasan gue. "Oh, gitu. Good luck deh. Buruan makan. Entar Mamak ngomel loh kalau lama."


"Iya, bawel."


Sahrani keluar dari kamarku. Aku juga mau istirahat makan dulu. Sebelumnya, save naskah dan kopi paste ke flashdisk terlebih dahulu biar nggak hilang.


***


Mataku berbinar ketika melihat meja makan penuh dengan pelbagai makanan khas Batak. Ada Ikan Mas Arsik, Daun Ubi Jantung Pisang, Manuk Napinadar dan Kue Lapet. Aku nggak bisa jelasin satu per satu makanan yang aku sebutin, kalau kalian penasaran langsung tanya Mbah Google aja. Yang jelas semua makanan di sini soal rasa nggak pernah bohong. Apalagi masakan Mama. Nggak ada duanya deh.


"Wah, tumben nih Mamak masak banyak. Ada acara apa, Mak? Mamak abis dapat arisan ya?" tanyaku heran.


"Abang Rial lupa kalau hari ini hari Mamak kau ulang tahun?" Sahrani malah balik bertanya.


Seketika aku menepuk jidat. Tradisi setiap ada yang ulang tahun Mamak selalu memasak banyak. Sayang, ulang tahun kayak gini, nggak ada Ayah. Beliau lagi di luar kota.


"Astaga, aku lupa, Mak. Selamat tambah tua Mamakku sayang." Aku langsung memeluk dan mencium pipi beliau. "Bay the way, ada sesuatu yang pengen Mamak beli nggak?"


Mamak menatap gue heran. "Kesambet apa kau? Biasanya tiap aku ultah nggak pernah nanya gitu."


"Gini Mak, Rial lagi ikut lomba menulis hadiahnya dua juta. Nah, kalau menang Rial mau kasih sesuatu ke Mamak. Seumur hidup Rial nggak pernah ngasih sesuatu ke Mamak. Namun, jangan yang mahal-mahal yak."


"Nggak usah. Mending ditabung aja. Atau kau gunakan duit kau buat melamar pacar kau saja."


"Itu udah ada target, Mak. Pasti masih ada sisanya. Makanya mau belikan sesuatu buat Mamak."


"Ya udahlah kalau kau maksa. Mamak lagi pengen beli tupperware biar nggak kalah sama tetangga yang tukang pamer tupperware baru."


"Nah, kalau itu Rial masih sanggup lah. Mohon doanya ya Mak biar Rial menang."


"Soal doa mah tiap hari juga gue pasti doain kau."


"Abang, kalau menang lomba Rani boleh minta dibelikan pernak pernik Super Junior nggak?"


"Mahal nggak harganya?"


"Nggak. Paling seratus ribuan lah."


"Nah, bolehlah kalau seratus ribuan."


"Makasih. Abang Rial baik deh."


Akhirnya kami makan bersama-sama.


***


Begitu berdiri di depan kantor AT Press, aku teringat awal pertama kali ikut TAT. Berawal jadi penulis, melamar jadi layouter dan desain cover begitu Arsha Teen berganti nama jadi AT Press. Lanjut naik jabatan jadi pemimpin redaksi. Sempat resign, tapi kini bisa masuk lagi berkat kemurahan hati Bu Nazneen.


"Loh, Ial, kok bengong di sini? Ayo masuk, kerjaan udah numpuk loh!"


Perintah Bu Nazneen menyadarkanku dari lamunan. Aku langsung salaman dan mencium tangannya. "Bu Nazneen, makasih banyak ya udah sudi menerima saya lagi."


"Walau kamu nyebelin, ngegas mulu kata anak-anak, tapi saya sayang sama kamu. Kerja keras dan kesetiaanmu dari penulis sampai jadi pemred di AT Press patut diapresiasi."


Mataku berkaca-kaca. "Ya ampun Bu Nazneen baik banget. Sekali lagi terima kasih atas kebaikan Bu Nazneen ke saya."

__ADS_1


__ADS_2